Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Meet up


__ADS_3

Jeng jeng jeng .... aku deg deg' an ☺


...****************...


Ziya bersemangat turun dari motor Arjuna. Ia mengenakan kebaya berwarna peach dengan celana berbahan satin berwarna senada. Rambutnya digerai dan hanya diikat beberapa helai ke belakang. Riasannya pun sederhana, kalau tidak dipaksa sang ibu, dia malas melakukannya.


"Eh, mau ke mana?" tanya Juna menarik lengan Ziya.


"Mau masuk lah, Kak. Acaranya 'kan di dalam," tunjuk Ziya ke arah masjid.


Arjuna turun dari motornya dan melepas helm yang dikenakannya. "Masuk masjid pake helm?" decak Arjuna tertawa terbahak.


"Eh!" Ziya meraba-raba kepalnya lalu menyengir kuda. Segera ia lepas helm lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan melalui kaca spion motor Juna.


"Nih, Kak. Makasih ya," ujar Ziya mengulurkan lengannya.


Langkah Ziya pun semakin dipercepat, tak sabar menjadi saksi kebahagiaan kakak pertamanya. Mungkin karena mengenakan flat shoes, makanya ia mudah berlari.


"Zi!" panggil catuda squad, minus si Eko. Ia harus menggantikan ibunya berjualan, karena sang ibu sedang sakit.


"Ayo, buruan!" seru Ziya tak dapat menyembunyikan kebahagiaan sekaligus ketidak sabarannya.


Arjuna sudah menyamakan langkah dengan Ziya beserta kawan-kawannya. Segera mereka duduk di barisan belakang Kak Reza. Belum nampak pengantin wanita. Setelah ijab qabul, barulah pengantin didudukkan saling bersisihan.


Arjuna mengernyitkan keningnya kala melihat mempelai wanita menuruni anak tangga satu per satu.


"Seperti kenal," gumam Arjuna pelan menatapnya intens. Pikirannya melayang ke mana-mana. Ke mana lagi kalau bukan berlabuh pada Meysa. Ia membayangkan kala dirinyalah yang ada di posisi Reza dan bersanding dengan sang kekasih.


Lambaian tangan berulang di hadapannya, membuat Arjuna memecahkan lamunan indahnya. Matanya beralih pada sang pemilik lengan.


"Apasih, Zi. Ganggu aja," gerutu Arjuna dengan kesal.


"Iih ngelamun aja. Awas kesambet. Noh dipanggil Kakak, mau diajak fotbar," tunjuk Ziya ke luar masjid.


Ternyata lamunan Arjuna begitu lama. Ia mengedarkan pandangan, sudah tidak ada orang selain mereka berdua. Semua orang berada di pelataran masjid menuju gedung resepsi.


"Enggak usah, kamu aja sana. Aku malu," ucap Arjuna beranjak berdiri lalu berjalan keluar.

__ADS_1


"Juna!" Suara mempelai wanita mendayu di telinga Arjuna. Pria itu mengangkat kedua alisnya kala namanya dipanggil.


"Kamu nggak ngenalin aku?" sambung wanita itu lagi. Tangannya melingkar erat di lengan Reza.


Arjuna berpikir sejenak. Ia memang seperti pernah melihat wajah cantik yang terbalut make up tebal itu.


"Kak Naya bukan? Maaf kalau salah," ujar Arjuna melebarkan senyum sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Hahaha ... iya ini aku. Kok kamu bisa di sini?" tanya Naya balik.


"Yaampun, jadi Kakak yang jadi istrinya Kak Reza? Pangling aja liatnya. Cantik banget sih, selama ini 'kan Kakak jarang banget dandan," jawab Arjuna tidak menjawab pertanyaan Naya.


"Ehm, lanjut nanti aja ngobrolnya. Udah makin panas nih. Kita harus segera ke hotel," cetus Reza dengan wajah datarnya.


"Ah, iya, Sayang. Ayo Jun ikut," ajak Naya berjalan menuju mobil pengantin menggandeng sang suami.


"Siap, Kak. Kami kawal sampai lokasi. Kalau perlu sampai kamar," celetuk Arjuna mendapat cubitan di pinggangnya.


"Awsshh! Sakit, Zi!" desis Juna berbalik menatap Ziya.


Gadis itu memberi isyarat menggerakkan kepalanya ke arah Reza yang menatap tak suka dengan gurauan Arjuna. Tapi pria itu sama sekali enggak peka.


"Gengs, kalian ikut nggak?" seru Ziya bertanya pada teman-temannya.


"Ikut dong. Tapi abis makan langsung pulang. Nyari duit, haha," celetuk Wahyu jujur segera ditampol kepalanya oleh Farid.


"Jujur banget sih ngomongnya, jaim dikit kek," sergah Farid setengah berbisik.


Ziya tertawa melihatnya, "Udah udah, jangan gelut di sini. Let's go! Makan enak! Abis itu boleh cabut kok," ucap Ziya mengangkat jarinya membentuk huruf O.


"Asyik, lu emang the best, Zi, tau aja isi perut kami," puji Edi mengacungkan kedua jempolnya.


"Eleh, muji kalau ada maunya aja. Yoklah, capcuz!" timpal Ziya tertawa sambil mengenakan helm lalu naik ke boncengan Arjuna.


Sepanjang jalan, Ziya bertanya bagaimana ia bisa mengenal kakak iparnya. Dia saja hanya sekali bertemu dengan Naya sewaktu lamaran.


"Kak, kok kamu bisa kenal sama Kak Naya sih?" tanya Ziya penasaran.

__ADS_1


"Kepo!" jawab Arjuna singkat atas pertanyaan Ziya, tanpa embel-embel apa pun.


"Ishh ngeselin," cebik Ziya mendengus kesal dengan segudang kekepoannya, tak melanjutkan percakapan lagi. Alhasil mereka pun tak bersuara kecuali deru mesin motor Arjuna dan lalu lalang kendaraan lainnya.


Ziya turun dengan kesal, menyerahkan helm dengan kasar. Ia pun berjalan dengan menghentakkan langkah kakinya, meninggalkan Arjuna dan kawan-kawan.


Catuda Squad melangkah dengan bersemangat tak sabar memasuki ballroom hotel bintang lima, tempat diselenggarakannya resepsi pernikahan Reza. Apalagi kalau bukan makanan yang mereka incar.


"Labil," gumam Arjuna menggelengkan kepalanya.


Ia hendak menyusul Ziya dan teman-temannya. Sebelumnya merapikan jas yang dikenakan, memastikan wajah dan tatanan rambutnya.


"Masih rapi," ucapnya meninggalkan pelataran hotel tempatnya parkir.


Baru beberapa langkah, sebuah mobil berwarna hitam menghadang langkahnya, membuat Juna bersabar menunggu sang pemilik mobil keluar.


Ternyata Rio, kakak kedua Ziya. Juna tersenyum kala bersitatap dengan manik Rio. Ia baru sadar kalau tadi sewaktu akad, Rio memang tidak kelihatan.


"Hai, Jun," sapa Rio berlari ke pintu seberang sambil menepuk bahu Arjuna.


"Hai, baru kelihatan," jawab Arjuna masih tersenyum.


"Iya, jemput seseorang," sahut Rio membuka pintu mobil.


Sepasang kaki jenjang dengan heels berwarna cokelat menapak di lantai yang sama dengan Arjuna. Sebenarnya ia bukan tipe orang yang kepoan, tapi entah kenapa Juna masih mau berlama-lama berdiri untuk menunggu mobil Rio menyingkir. Padahal mudah saja ia melanjutkan langkah melalui mobil tersebut. Namun dia urung melakukannya.


Senyum yang sedari tadi terulas di bibir Arjuna seketika menghilang ketika Rio bergeser, tak lagi menghalangi pandangannya. Matanya membelalak, jantungnya berpacu dengan kuat, tubuhnya pun gemetar hebat.


"Mey ...." Tak kuasa melanjutkan ucapannya. Tenggorokan Juna tercekat. Matanya menatap nanar pada gadis di hadapannya. Meysa yang kini berdiri dengan make up natural, namun teramat cantik di mata Juna. Balutan dress berlengan pendek berwarna mocca, tampak sangat cocok di kulit putih Meysa.


Meysa terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia mengangkat pandangan, dan benar saja. Orang yang selama beberapa bulan ini dijauhi, ternyata berdiri di hadapannya.


Tanpa disangka, ia dipertemukan lagi dengan Arjuna. Entah disebut apa mereka sekarang. Mantan, tapi belum pernah ada kata perpisahan. Kekasih, tapi rasanya sudah teramat lama mereka berpisah tanpa kabar satu sama lain.


Ia hanya ingin menghilang tanpa menggoreskan luka yang dalam untuk Arjuna. Padahal, yang terjadi sebaliknya. Perpisahan itu justru amat menyakitkan bagi Arjuna.


Menghilang tanpa jejak, tanpa tahu apa kesalahan yang pernah ia perbuat. Meysa membeku di tempat. Tubuhnya terpaku, untuk bergerak saja rasanya tak mampu.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2