
Arjuna berhenti seketika, ia terkesiap sembari mengatur napasnya yang tersengal. Pandangannya menunduk, menatap kedua lengan Ziya yang melingkar erat.
"Cukup, Kak. Jangan sakiti diri Kakak sendiri," isak Ziya masih bertahan di posisinya.
Segera Juna membalikkan tubuhnya. Merengkuh kedua bahu Ziya dengan mata memerah, "Maafin aku, Zi," ucapnya tulus.
Ziya menatap kedua bola mata pria di hadapannya. Ia melihat ketakutan dan penyesalan yang terpancar dari sorot mata itu. Keringat pun turut membasahi wajah pria itu.
Tak ada yang terucap, Ziya hanya menganggukkan kepala seiring jatuhnya air matanya. "Iya, Kak. Iya, udah jangan kayak gini lagi, bodoh emang!" Satu pukulan kecil di dada Arjuna.
"Iya, aku bodoh. Maaf ya, Zi." Arjuna menarik gadis itu dalam dekapannya. Menghirup aroma shampo yang menguar.
Degub jantung keduanya saling bertalu. Irama yang berdendang kuat seolah memukul rongga dada mereka. Ziya memejamkan mata, meski awalnya terkejut, perlahan ia membalas pelukannya. Hangat, nyaman, dan dia satu-satunya pria yang bisa menggetarkan jiwa raganya.
"Kak," lirih Ziya yang suaranya terbenam di dada Arjuna.
__ADS_1
"Hemm?"
"Kak Meysa ...." Ucapannya menggantung, dadanya sesak kala berucap. Ia berusaha menekan lagi perasaannya. Cukup, seperti ini saja ia sudah bahagia. Karena Ziya dapat melihat dan merasakan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Hanya saja, takdir memang belum berpihak padanya.
Tubuh Arjuna menegang. Ia mengendurkan pelukannya. Kebingungan kian melandanya. Bola matanya terus bergerak ke sana ke mari menghilangkan kegugupannya.
"Maafin aku, Zi. Sepertinya, lagi-lagi ... aku menyakitimu," ucapnya menundukkan kepala.
Ziya mengulum senyum manisnya. Tangannya meremat jemari Arjuna dengan lembut. "Aku baik-baik saja," ujarnya perlahan masih mempertahankan senyumannya.
"Aku pernah baca buku, jika wanita bilang dia baik-baik saja itu artinya sebaliknya," sahut Arjuna semakin menunduk tak berdaya.
'Apakah aku masih merasakan debaran jantung yang sama saat di dekat Meysa. Apakah masih ada cinta untuknya. Oh Tuhan, kenapa Engkau berikan rasa ini? Jika pada akhirnya akan menyakiti dua hati perempuan sekaligus,' batin Arjuna bergejolak.
Arjuna mengangkat pandangannya, membalik tubuh Ziya dan mengungkungnya di tembok. Tanpa aba-aba, pria itu semakin mendekatkan kepalanya. Sedangkan Ziya membelalakkan mata, melihat wajah Arjuna yang hanya berjarak beberapa inch saja dari wajahnya.
__ADS_1
Tubuhnya menegang, napasnya seolah terhenti, jantungnya serasa ingin melompat keluar dari sarangnya. Dan, Juna menempelkan bibirnya pada bibir Ziya. Membenamkannya perlahan, mereguk manisnya bibir Ziya.
Gadis itu gemetar, seperti tersengat aliran listrik. Ini adalah kali pertama ia mendapat ciuman dari pria. Hanya diam membeku, tidak mengerti bagaimana membalasnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Juna menjauhkan kepalanya. Ibu jarinya mengusap bibir Ziya yang basah karena ulahnya.
"Bernapas, Zi," ucapnya terkekeh melihat Ziya yang masih memejamkan matanya erat sambil menahan napas.
Perlahan, Ziya membuka matanya. Dadanya meledak-ledak di dalam sana. Mata bulatnya masih membeĺalak.
"Maaf, aku egois. Tapi aku mencintaimu. Aku tahu ini salah, aku sendiri tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Bahkan ...."
Arjuna menghela napas, tangan lebarnya menangkup pipi Ziya, "Rasa ini lebih besar jika dibandingkan saat aku bersama Meysa. Maaf, Zi," gumamnya pelan tak berdaya.
"A ... aku ...." Ziya sendiri menjadi lebih gugup.
__ADS_1
"Maaf, aku mencintaimu," ulang Arjuna sekali lagi. Dan kembali memeluk Ziya.
Bersambung~