
Langkah kaki tanpa suara, dengan pandangan lurus ke depan, senyum yang tak lepas dari bibirnya menyapa siapa saja orang yang dikenalnya.
Ziya Thalia, perempuan tegas dan tidak bisa feminim seperti wanita pada umumnya, mulai menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan. Namun ia benci pada pria yang agresif dan terang-terangan mendekatinya.
Baru saja memarkirkan motor matic dan melepaskan helm, seseorang menepuk bahunya. Sontak Ziya memutar pandangan menatap sang pemilik tangan.
"Ih, apaan sih Al pegang-pegang! Bukan muhrim tahu!" tandas Ziya pada Alvin--teman satu kelasnya, sembari menepis tangan pria itu.
"Yaelah, Zi jangan galak-galak napa sama Abang," ujar Alvin terus menggodanya.
Ziya memutar bola matanya malas. Kalau saja teman-temannya kuliah juga, sudah tak berbentuk tuh muka. Malah, bisa jadi rata kali dihabisi para Catuda.
'Hemm ... jadi rindu kalian,' gumam Ziya melangkah masuk kelas.
Walau dicuekin, Alvin tak gentar untuk terus mendekati Ziya. Gadis yang mencuri hatinya sejak pertemuan pertamanya sewaktu ospek. Kebetulan mereka berdua terkena hukuman akibat telat saat ospek hari pertama. Dari sanalah keduanya saling berkenalan. Semakin mengenal Ziya, Alvin semakin gencar mendekatinya. Yang justru membuat Ziya ilfeel.
"Aw! Ngapain sih Al buntutin aku?" cetus Ziya saat Alvin menabrak Ziya hingga maju beberapa langkah.
Tatapan tajam dari Ziya sama sekali tidak dipedulikan. Cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala saja balasan Alvin.
"Dasar muka tembok," cibir Ziya masuk ke toilet.
Tanpa sadar, Alvin ikut masuk. Ziya berhenti kala melihat bayangan laki-laki itu dari cermin besar di depannya. Segera ia berbalik, mendelikkan mata. "Al! Ini toilet cewek! Bisa baca nggak sih?" pekik Ziya berkacak pinggang.
"Oh, salah ya. Maaf ... maaf," ucap Alvin berbalik keluar.
Tak butuh waktu lama, Ziya keluar dari toilet dengan wajah lebih fresh sebahis mencuci muka. Ia berjalan sembari mengoperasikan ponselnya. Bibirnya menyunggingkan senyum karena ternyata mendapat balasan dari Arjuna.
"Iya, aku pasti datang." Begitulah isi pesannya. Sebuah jawaban yang mantap 'kan?
Tiba-tiba ... Brug!
Gadis itu terperanjat ketika menabrak seseorang. Kepalanya mendongak, ternyata Alvin tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Iiih! Alvin! Ngapain sih?" gerutu Ziya melototkan matanya.
__ADS_1
"Nungguin kamu," ucapnya memamerkan deretan giginya.
"Emang aku balita apa? Kalau ke toilet harus ditungguin?" jawabnya ketus lalu melenggang pergi meninggalkan Alvin sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
Langkah Ziya bersemangat memasuki kelas. Tak banyak kenalan Ziya di kelasnya. Karena ia memang tipe orang yang tertutup dan susah berteman. Tapi sekali mengenal baik, dia akan menunjukkan sifat aslinya. Humble, periang, care dan masih banyak sifat yang ia sembunyikan.
Ziya pun mendudukkan tubuhnya di kursi kosong. Alvin turut duduk di sampingnya. Laki-laki itu terus mengajaknya berbicara, namun tak pernah ditanggapi. Ziya menyibukkan diri membaca buku yang ada di hadapannya.
Hingga 2 minggu berlalu, Alvin masih gencar untuk terus mendekati Ziya. Walau diabaikan, tak dianggap, dicuekin sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia tetap tak gencar ingin mendapatkan Ziya.
Hari ini, Ziya harus pulang malam. Karena tadi ada jadwal kuliah di jam siang. Dan harus mengumpulkan tugas dari dosen esok harinya.
"Dasar dosen nggak ada rahang, bisa-bisanya kasih tugas dadakan. Dia pikir tahu bulat apa yang digoreng dadakan di mobil. Iiih kesel deh, padahal di rumah lagi rame-rame buat acara lusa. Haisst!" gerutu Ziya keluar dari tempat fotocopy untuk penjilidan.
"Bang, makasih ya udah bantuin." Ziya berteriak sambil mengenakan sepatu talinya.
Baru berdiri dan bersiap melangkah, si abang fotocopy berteriak. "Woi, Neng!" Melambaikan tangan kanannya.
Ziya menghentikan langkah, membalikkan badan. "Udah malem, Bang. Pamit dulu! Bye!" Melanjutkan langkahnya mengenakan helm.
Ziya menepuk dahinya, ia berbalik. "Kok enggak bilang sih, Bang!" ucapnya terbahak. Kemudin merogoh dompet pada tas ranselnya.
"Lah tadi siapa yang ngomong, Neng? Setan?" gerutu Kang Fotocopy.
"Situ sendiri ye yang ngomong," celetuk Ziya tertawa sembari menyerahkan uang 20 ribuan. "Nih, kembaliannya buat abang aja," sambungnya bersiap pergi.
"Lah, kek mana ada kembaliannya? Orang totalnya 30 rebu. Print doang 20 rebu, Neng. Jilidnya 10 rebu!" jelasnya menempelkan uang dari Ziya di keningnya sambil geleng-geleng kepala.
Kepalang malu diapun menarik kembali 20 ribunya, mengganti dengan 50ribuan. "Salah, Bang. Maaf ya. Ini maksudnya. Dah makasih, pamit dulu!"
Dengan cepat Ziya pun berlari dan menstater motornya. Bermaksud memotong jalan agar lebih cepat sampai, ternyata ia melaju di jalur yang teramat sepi. Apalagi waktu sudah hampir menunjukkan pukul 9 malam.
"Eh! Eh! Kenapa nih?" Ziya merasakan motornya menggelayar. Ia pun berhenti, turun dari motor dan mengeceknya.
Ziya menemukan ban depannya kempes. Ia meraba sambil menyoroti dengan senter dari ponselnya mencari sumber petaka itu. Sampai pada akhirnya, jemarinya merasakan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
"Ebuset, paku sialan! Ngapain lu nancep di ban motor? Bikin susah aja," gerutunya berdiri menendang ban motornya.
Ziya meraih ponsel di dalam tas. Baru menscroll riwayat panggilan ia dikejutkan dengan tiga orang preman bertubuh tinggi dan kekar. Matanya membelalak, ia pun susah menelan ludah.
"Si ... siapa kalian?" tanyanya gugup.
Satu orang yang tumbuh brewok berhasil mencekal kedua lengannya. Ziya memberontak, jemarinya asal pencet tanpa bisa melihat layarnya.
"Lepasin! Mau apa kalian?" teriak Ziya berusaha melepaskan diri.
"Hahaha! Mari bersenang-senang gadis manis," ucapnya tertawa menyeringai.
"Tolong! Tolong!" teriak Ziya meminta pertolongan. Namun naasnya, Ziya berada di jalan yang memang sangat sepi. Juga lumayan jauh di perkampungan. Dalam hatinya ia merutuki diri sendiri karen melalui jalan tersebut.
"Lepasin, tolong." Suaranya melirih. Percuma melawan, ia kalah tenaga. Dia juga sama sekali tidak punya ilmu bela diri. Disaat seperti ini penyesalan pun tak berguna. Air matanya pun mulai meleleh. Saat memberontak tadi, ponselnya terpelanting jauh dari tubuhnya. Ketakutan luar biasa kini bergelayut di hatinya.
"Halo! Halo!" Pria di seberang telepon kebingungan, karena tak ada sahutan dari Ziya.
Para preman itu tertawa terbahak-bahak. Mereka pun menyeret Ziya ke sebuah gudang tak jauh dari motornya berhenti.
"Tolong! Tolong!" Ziya terus berteriak sambil menangis. Berharap ada malaikan penolongny saat ini. Ponselnya sudah tidak tahu di mana.
"Berteriaklah manis, sebentar lagi kamu juga akan berteriak akan kenikmatan yang kami berikan. Hahaha!" seru salah satu pria disertai tawa yang diikuti dengan teman-teman lainnya.
"Enggak! Jangan. Ibuuuu!" teriak Ziya ketakutan dengan tubuh gemetar.
Tubuh Ziya didorong hingga ia terjengkang di tanah, seseorang sudah menindihnya dengan mencengkeram kedua lengan kecil Ziya ke atas.
"BRAK!"
Dengan penuh emosi, seseorang membabi buta menendang orang yang menindih Ziya. Ia tak sendiri dibantu beberapa temannya berhasil melumpuhkan preman-preman tersebut.
"Ziya! Ziya! Kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu membangunkan Ziya.
Ziya memeluk pria itu dengan erat, menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Bersambung~