Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Maafin aku


__ADS_3

Sementara itu, Arjuna menghela napas berat. Melepaskan handle pintu lalu berbalik. Ia melangkah mengikis jarak pada Ziya. Gadis itu menunduk, tangannya menarik selimut hingga pahanya.


Juna mendudukkan dirinya di tepi ranjang, membuat gadis itu menggeser tubuhnya. Namun kedua lengan Juna bertumpu di antara kedua lengan Ziya. Tubuh mereka sangat dekat, membuat jantung keduanya berdegub tak karuan.


"Ziya." Suara berat Arjuna menelusup gendang telinga Ziya. Napas hangatnya pun turut menyapu wajah gadis itu. Hingga membuatnya menahan napas sejenak. Rongga dadanya seolah ingin meledak saat itu juga.


Satu tangan Juna mengapit dagu Ziya, mengarahkan wajah gadis itu tepat di hadapannya. Tangan lainnya membelai lembut kepala Ziya.


"Maaf, sungguh. Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkan kamu. Aku hanya tersulut emosi setiap melihat Rio. Tapi sungguh, Zi. Aku tidak berniat sedikitpun menyakitimu, juga mempermainkanmu. Semua yang aku katakan bohong," ucap Arjuna tulus dengan nada rendah.


Bulir bening mulai berjatuhan di kedua pipi Ziya. Ia juga turut andil dalam sakit hatinya. Perempuan itu tidak bisa menekan perasaan yang tidak seharusnya ada. Bahkan setiap hari justru rasa itu semakin tumbuh.


Meski ia tahu, mencintai sendirian itu sakit. Sadar jika Arjuna sudah melabuhkan cintanya pada wanita lain. Otak dan hatinya tidak sinkron bahkan berbenturan. Otaknya menyuruh untuk berhenti mencintai pria di depannya. Namun hatinya menolak dengan keras. Justru semakin hari semakin gencar menumbuhkan benih-benih itu.


"Sudahlah, aku nggak apa-apa. Pergilah, Kak. Kak Meysa udah nungguin 'kan?" Ziya mencoba mengalihkan pembicaraan. Meski sendirinya merasa sesak jika bibirnya menyebutkan nama wanita lain.

__ADS_1


"Aku nggak akan pergi sebelum kamu maafin aku," tegas Arjuna menatap dalam kedua manik hitam Ziya.


Ziya menepis kedua lengan Arjuna. Ia memalingkan wajahnya, menghapus air mata yang menerobos paksa keluar dari sarangnya.


"Please, maafin aku, Zi. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkanku?" rengek Juna. Ia tak kuasa diabaikan dan didiamkan oleh gadis itu. Gadis yang akhir-akhir ini memberi warna dalam hidupnya.


Diam, tak ada jawaban apapun yang terlontar dari bibir gadis itu. Ziya benar-benar bingung, apa yang harus dilakukannya. Sementara Juna semakin dilanda frustasi.


Lagi, ponsel Arjuna berdering. Juna menjauhkan tubuhnya membuat Ziya bisa bernapas dengan lega.


"I ... iya, Ma." Ternyata Mama Indah yang menghubunginya. Kali ini suaranya lebih tenang.


Ziya mendengar semua percakapan mereka. Ia menggigit bibir bawahnya menahan agar perasaannya tidak meledak saat itu juga.


"Baik, Ma. Juna perjalanan," tukas Arjuna mengakhiri panggilan.

__ADS_1


Ia memasukkan ponsel pada kantong celana. Lalu kembali meraih kedua tangan Ziya. "Zi, please. Maafin aku ya. Ucapanku tempo hari benar-benar nggak dari hati. Aku hanya ...."


"Iya! Sudah sana pergilah. Temui kekasihmu," tukas Ziya memangkas ucapan Juna dengan menekankan kata kekasih. Memberi warning pada hatinya sendiri, juga pada Arjuna agar tidak memberinya harapan yang lebih.


Dilema kini dirasakan Arjuna. Satu sisi ia ingin segera ke rumah sakit. Di sisi lain harus meredakan amarah Ziya yang tengah merajuk. Bisa saja dia membiarkan Ziya seperti itu, tapi hatinya berat melakukannya.


"Aaaarrghh! Bodoh!" Pria itu menjambak rambutnya frustasi. Merutuki kebodohannya sendiri. Ia berdiri menendang tembok sambil berkacak pinggang. Lalu tangannya terkepal memukul-mukul tembok.


Terdengar suara dentuman, Ziya pun berbalik. Ia menoleh ke sumber suara. Matanya membelalak.


"Kak Juna apa-apaan sih?" sergah Ziya berusaha berdiri. Meski sempoyongan, ia berusaha menggapai pria itu. Menarik kaosnya dari belakang, bermaksud menghalangi Arjuna yang terus merutuki dirinya sendiri.


"Hentikan, Kak. Jangan seperti ini!" pekik Ziya memeluk Arjuna dari belakang. Tak ada jarak di antara mereka. Kepala Ziya menempel pada punggung kekar Arjuna, sambil terus menangis. Tangan kurusnya melingkar di perut laki-laki yang telah mencuri hatinya.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2