Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Kabar


__ADS_3

Hai haii... aku kembali. duuh harusnya aku up ampe end nih... tapiiii ada yg rindu katanya.. hehe.. yaudah 4 dulu nih. jan lupa klik like, komen di setiap babnya loh ya. 😘


...****************...


Kedua manik Ziya terpejam erat, napasnya terengah-engah. Kepalanya serasa berputar-putar. Tangannya menggenggam erat satu tangan Arjuna.


Suara dering telepon memaksa Ziya membuka kedua matanya. Pandangannya masih belum begitu jelas. Hingga ia harus menyipitkan mata untuk memfokuskan pandangan pada pria yang duduk di sampingnya.


Terbesit keraguan dalam benak Juna. Jantungnya berpacu kuat, berkali-kali ia menelan saliva sembari menatap layar HP di tangannya. Hingga akhirnya, ia pun menggeser layar benda datar itu lalu menempelkan di telinganya.


"Ha--halo, Ma," sapa Juna terbata.


Terdengar isak tangis dari balik telepon. Membuat darah Juna berdesir hebat. Pikirannya melayang ke mana-mana. Bahkan tanpa ia sadari genggaman tangannya pada Ziya juga semakin erat.


"Juna, kamu di mana?" Bukan suara Mama Meysa lagi. Melainkan suara papanya. Mungkin Mama Indah tak sanggup bersuara.


"Pa, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Juna penasaran.

__ADS_1


"Meysa sadar! Cepatlah kemari," terang Papa Meysa menggebu.


DEG!


Juna terkesiap, matanya membelalak, bibirnya pun terbuka disertai tubuh yang menegang. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Antara bahagia, namun juga ada rasa tak rela. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri.


Pandangannya memutar, terus bergerak pertanda dia gugup. Hingga manik matanya bertabrakan dengan mata sayu milik Ziya. Dadanya semakin berdenyut nyeri kala menatapnya dalam.


"Jun! Arjuna!" Suara di seberang membuatnya kembali tersadar.


"Zi, gimana keadaan kamu? Mana yang sakit?" tanya pria itu dengan suara lembut. Ingin marah tadinya, karena gadis itu ceroboh dan hampir menyelakai dirinya sendiri. Tapi emosinya menguap ketika mereka saling bersitatap.


Ziya berusah bangkit dari ranjang. Dibantu oleh Arjuna, bersandar di kepala ranjang. Dengan telaten Juna meletakkan bantal di punggung gadis itu agar merasa nyaman.


"A ... aku pusing, mual." Ziya membuang pandangannya. Ia menghindari bertatap dengan Arjuna. Pria yang membuatnya terpesona sekaligus mematahkan perasannya.


"Aku cuma ada 2 kaleng." Lily menerobos masuk kamar dengan tergesa. Kecanggungan dalam kamar itu sedikit mencair.

__ADS_1


"Makasih ya," ucap Arjuna tulus mengulurkan tangan mengambil susu kaleng itu. "Minumlah, Zi. Ini bisa menetralkan obat itu. Tadinya aku mau buat sup juga. Tapi keburu kamu muntah-muntah, aku takut terjadi sesuatu sama kamu," papar Arjuna meletakkan minuman kaleng yang telah dibuka, ke tangan Ziya.


Perempuan itu menurut, setelah menghabiskannya ia merasa lebih baik. Arjuna menoleh pada Lily, "Emm ... boleh aku minta waktu berdua?" ucap Juna pelan pada sang pemilik apartemen.


Kening Lily berkerut, tangannya melipat di dada. "Apa kamu bisa dipercaya?" cibir perempuan itu memicingkan mata.


"Tentu saja. Aku sudah sangat dekat dengan keluarganya. Apalagi dengan ibu. Mana bisa aku macam-macam padanya," ungkap Arjuna kembali menoleh pada Ziya.


Helaan napas berat dihembuskan oleh Lily. Ia mengenakan jaket kulit warna hitam yang sempat dilepasnya. "Oke. Aku percayakan Ziya sama kamu. Aku harus ngurusin cecunguk satu itu. Biar mendekam di balik jeruji besi!" tegas Lily mendekati Ziya.


"Kalau kamu diapa-apain sama dia, langsung hubungi aku," ucap Lily seraya menepuk bahu Ziya dengan mengurai senyum.


Juna menarik gadis itu agar segera keluar dari kamar. "Kamu hutang penjelasan padaku tentang siapa dirimu yang sesungguhnya. Tapi bukan sekarang. Aku akan menagihnya disaat yang tepat," bisik Juna di ambang pintu lalu menutupnya sebelum Lily beranjak.


"Sialan! Ini 'kan apartemen gue! Kenapa gue yang diusir! Haiss!" desis Lily lalu bergegas menuju kantor polisi.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2