Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Sisi Lain


__ADS_3

Sementara itu, Meysa menangis sepanjang perjalanan di dalam mobil Rio. Air matanya terus luruh tak tertahankan. Jemarinya dengan lincah sambil mengetikkan sesuatu dari ponselnya.


"Mey, kita mau ke mana?" Meysa bahkan tak mengindahkan pertanyaan Rio. Ia masih sibuk berkutat dengan ponselnya sambil sesenggukan.


Rio menginjak rem ketika mereka sampai di rumahnya. Pandangan Meysa beralih ke depan tatkala mobil yang ditumpanginya berhenti.


"Kok kita ke rumah kamu?" tanya Meysa menatap Rio.


"Abisnya dari tadi kamu enggak jawab pertanyaanku. Sibuk mulu sama ponselmu. Udah, kita turun dulu. Tenangin diri kamu. Enggak mungkin 'kan kamu pulang dalam keadaan kacau seperti ini?" jelas Rio mengulurkan tangan ingin menyeka air mata Meysa, namun Meysa memundurkan tubuhnya.


"Maafin aku ya, Yo. Gara-gara aku, kamu jadi sasaran kemarahan Juna. Maaf, aku menyeretmu dalam masalah kami," aku Meysa menundukkan kepala. Kristal bening berjatuhan dari kedua matanya.


Rio mengulas senyum, penolakan tadi membuatnya takut berlaku lebih. "Tidak masalah, ayo turun," ajak Rio membuka seatbelt lalu turun dari mobilnya.


Meysa menatap nanar punggung Rio yang kemudian menghilang di balik pintu. Semua orang turut menghadiri acara Reza. Yang mana rencananya menginap hingga besok. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang masih di rumah.


"Bi, tolong ambilkan es batu. Sekalian kotak P3K," pinta Rio.


"Loh, Den? Kenapa mukanya?" teriak Bi Anik panik menatap Rio.


"Enggak apa-apa, Bi. Anak muda biasalah." Rio menghempaskan tubuhnya di sofa. Merebahkan kepalanya pada sandaran kursi empuk tersebut.


Meysa duduk perlahan mengikuti Rio. Sampai bibi membawakan kotak obat beserta es batu, Meysa menerimanya memberi kode meletakkan telunjuk di bibirnya lalu menyuruh bibi pergi.


"Sekali lagi maaf ya, Yo," ucap Meysa sembari mengobati luka-luka Rio.


Kedua mata pria itu terbuka, "Dunia ternyata sempit," decak Rio singkat mengalihkan tatapannya. "Kenapa nggak terus terang aja sama Juna?"


Pertanyaan Rio membuat gadis di depannya mematung. Tangannya menggantung di udara, tatapan sendu pun tak dapat terelakkan dari wajah cantiknya.


...****************...


"Ck! Aku terlanjur kecewa. Harusnya kalau ada masalah tuh dibicarain baik-baik. Bukan memutuskan secara sepihak kayak gini. Sakit, Zi. Penantianku berbulan-bulan bertemu dengannya, berakhir setragis ini." Arjuna tertawa sumbang. Miris menertawakan nasibnya sendiri.


Wanita yang dibangga-banggakan di depan Papa dan Dika--sahabatnya, telah menghancurkan impiannya. Wanita yang diperjuangkan, hingga mengesampingkan pekerjaan mulia hanya demi mencarinya, ternyata menggoreskan luka dan kecewa yang amat dalam.

__ADS_1


Rasa cinta yang kian dirawat dan dijaga, layu seketika. Impian hidup bahagia bersama hanya tinggal bayangan saja. Ingin menangis, tapi malu.


Ziya sendiri hanya diam mendengar curhatan Arjuna. Ia tidak bisa memberi saran apa pun. Bukan karena tak mau. Namun dia sama sekali tak punya pengalaman apa-apa soal hati. Yang ia tahu saat ini genderang jantungnya kian melaju, ketika bersama Arjuna.


Baru teringat akan keluarganya, Ziya mengambil ponsel dari sling bag yang dibawanya tadi. Ia bermaksud mengabari sang ibu, jika tidak bisa hadir dalam pesta pernikahan kakaknya.


Namun matanya membelalak melihat banyaknya pesan yang baru dibukanya. Jemarinya asyik menscrol pesan-pesan di ponselnya.


Zi, tolong jangan katakan apa pun tentang keadaanku.--Pesan pertama dari Meysa.


Ziya tolong banget, jangan beritahu Arjuna apa pun tentangku.


Aku ingin melakukan yang terbaik untuk Juna. Please, pura-pura enggak tahu apa-apa, Zi.


Deretan pesan-pesan yang dikirim oleh Meysa. Ziya menggigit bibir bawahnya. Feelingnya benar, pasti karena penyakit yang dideritanya. Aku harus gimana? Ziya teramat bingung. Satu sisi, ia turut sakit melihat Arjuna seperti itu. Namun di sisi lain, Meysa sudah memberikan ultimatum padanya.


"Kalau jodoh enggak akan ke mana, Kak. Sekuat apa pun kita menggenggam, jika Tuhan tak berkehendak sudah pasti akan terlepas. Begitu pun sebaliknya, sejauh apa pun kita melangkah, jika Tuhan berkehendak, akan tetap bersatu." Ziya menurunkan kedua kakinya hingga menyentuh sedikit air laut.


"Makanya, jangan mencintai manusia melebihi mencintai Tuhanmu, sang pemilik hidup, yang membolak-balikkan hati setiap manusia," sambung Ziya menghela napas panjang. Matanya menatap lurus ke depan.


"Apaan? Akumah emang gini kali. Kamunya aja yang baru kenal aku setengah-setengah," gurau Ziya melirik dengan senyum mengejek.


"Iya kali," sahut Arjuna. "Makan yuk, laper nih. Tadi pagi belum sarapan," ucap Juna menuruni batu dan berjalan ke tepi pantai.


Ziya pun mengikutinya. "Bukannya tadi pagi di rumah udah makan?" ucapnya lirih. "Mungkin galau membuat otaknya sedikit terguncang. Jadi ada memori yang hilang," celetuknya bergumam sendiri.


Kedua kakinya melompat-lompat dengan riang meninggalkan bekas kaki di pasir putih tersebut. Sesekali tersapu ombak.


"Bocah!" cetus Arjuna menengok ke belakang, mendapati Ziya seperti anak kecil yang kegirangan mendapat mainan baru.


Tiba-tiba dering ponsel dari tasnya membuat gerakan Ziya terhenti. Buru-buru ia mengambil ponselnya, dilihatnya nama pemanggil adalah ibunya. Segera ia berlari menjauh dari pantai agar tak terdengar ombak.


"Assalamu'alaikum, ibuku yang cantik jelita tiada duanya kecuali Ziya," sapa Ziya setelah mengangkat teleponnya.


"Ziya! Kamu ke mana aja? Kenapa enggak keliatan dari tadi?" pekik ibu di seberang telepon.

__ADS_1


Mampus, gara-gara baca pesan Kak Meysa lupa ngabarin ibu.


"Eum ... Ziya ... Ziya sakit perut, Bu. Jadi pulang duluan," bohong Ziya deg-degan. Ia paling takut berbohong pada ibunya.


"Kenapa? Kamu salah makan? Ibu pulang sekarang ya," sahut ibu terdengar panik.


"Eh! Ja--jangan, Bu. Udah ada Kak Juna, kok. Tenang aja. Masa Ibu mau ninggalin Kak Reza sih? Kasian Kakak. Ziya udah mendingan sekarang."


Huh, makin deg-degan deh.


Ia melirik Arjuna yang sudah duduk manis di warung tenda yang menjual bakso, mie ayam, rujak dan aneka makanan ringan lainnya.


"Yaudah, kalau gitu kamu istirahat aja ya. Beneran ibu enggak usah pulang nih?" Masih aja ada nada-nada khawatir di suara ibu.


"Iya, Bu. Salam maaf buat Kak Reza dan Kakak ipar ya," ucap Ziya yang sudah duduk di depan Arjuna.


Ia menutup sambungan telepon lalu meraih es kelapa muda sisa Arjuna, yang dinikmati langsung dari bathok kelapa.


"Aaah, seger banget!" ucap Ziya tanpa dosa menghabiskannya hingga tetes terakhir. Bahkan sampai terdengar bunyi khas sedotan ketika minuman habis.


Arjuna mengernyitkan kening. "Enak ya, dateng-dateng main sambar. Dihabisin pula," seru Arjuna melipat kedua lengannya.


"Salah sendiri enggak dipesenin juga," elak Ziya tak mau salah.


"Iya. Ada kalanya yang waras ngalah," seloroh Arjuna beranjak berdiri memesan minuman lagi.


"Heh? Apa kamu bilang? Aku enggak waras?" pekik Ziya menunjuk hidungnya.


"Bukan aku yang bilang," sahut Juna cuek.


"Iihh ngeselin!" Ziya mengerucutkan bibirnya. Membuang muka, tak mau menatap Arjuna.


Arjuna hanya tertawa melihatnya. Ziya terkejut kala ekor matanya memicing dan melihat tawa dari sang Arjuna. "Eh, udah bisa ketawa dia," gumam Ziya.


bersambung~

__ADS_1


Mohon maaf untuk beberapa bab sebelumnya yang double bahkan triple ya. kesalahan sistem sejak kemarin. 🙏


__ADS_2