
'Terus ... ayo abisin.' Alvin bersorak dalam hati. Ia tersenyum menyeringai melihat Ziya yang antusias meminum jusnya.
"Ngapain kamu liatin aku kayak gitu? Mana temenmu? Aku mau pulang sekarang!" tegas Ziya melayangkan tatapan tajam.
"Iya bentar lagi, dia udah deket sini," jawab Alvin santai meneguk jus miliknya.
Diletakkannya gelas yang isinya tinggal setengah itu secara perlahan. Tangannya masih menggenggam, dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk gelas kaca tersebut sembari berhitung dalam hati.
Dalam hitungan ke tiga puluh, Ziya nampak amat gelisah. Ia pun meraih minumannya dna menghabiskannya tak bersisa. Tubuhnya merasakan gelayar aneh. Keringat mulai bermunculan di keningnya. Pandangan matanya mulai berkabut.
Ziya mengusap-usap wajahnya untuk mengembalikan kesadarannya. Kedua kakinya terus bergerak, berulang kali Ziya menghela napas panjang.
"Lu kenapa, Zi? Kok gelisah gitu?" tanya Alvin pura-pura tidak tahu.
"Ssshhh! Enggak tahu. Enggak banget badanku," desis Ziya yang merasakan sekujur tubuhnya meremang. Kepalanya juga mulai terasa berat.
__ADS_1
"Istirahat dulu ya. Biar aku nemuin temenku sendiri nggak apa-apa." Alvin memberi alasan.
Debaran dada Ziya kian meningkat, ia mengusap lehernya seperti menahan sesuatu dalam tubuhnya. Ziya menggigit bibir bawahnya. Semakin lama semakin tak tertahankan.
Alvin menyentuh bahu Ziya, "Ayo, istirahat di sini aja. Ada tempat tidur yang nyaman juga kok. Nggak kalah sama hotel." Suara Alvin terdengar samar di telinga Ziya.
Alvin pun beranjak mendekati Ziya. Tubuh gadis itu seperti menggigil, namun keringatnya semakin banyak bermunculan. Wajahnya memucat. Alvin menuntun gadis itu ke kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. Matanya melirik ke kanan, bibirnya tersenyum lebar dengan seseorang di meja sebelahnya.
Bersamaan itu, Arjuna telah sampai di pelataran club yang sama. Ia segera berlari memasuki tempat tersebut, diikuti Lily yang selesai memarkirkan mobil.
Keduanya berpencar menjelajah ruangan itu. Meneliti setiap orang yang sedang asyik menikmati alunan musik, juga menyapu seluruh tempat duduk yang ada di sana.
Arjuna terus berlari menelusuri tempat itu. Lorong demi lorong tak luput dari langkahnya. Sampai dari kejauhan, ia seperti melihat punggung Ziya yang digandeng seorang pria memasuki sebuah kamar.
"Ziya!" teriak Arjuna berlari ke arahnya.
__ADS_1
Namun terlambat, dua orang itu menghilang di balik pintu. Saat Juna mencapainya, terdengar suara pintu dikunci.
"Aaarrggh sial! Ziya! Ziya keluar!" Arjuna berteriak sembari menggedor-gedor pintu kamar itu.
Mendengar keributan, 2 orang keamanan club bergegas mendekati Arjuna. Namun langkahnya harus terhenti karena dihadang oleh Lily. Gadis itu melipat lengan panjangnya. Memainkan kedua alisnya naik turun.
"Hei, kamu! Dobrak saja pintunya! Selametin Ziya. Sisanya urusanku!" Lily bersiap menghadapi dua pria kekar di depannya. Tanpa banyak basa basi, gadis itu langsung memberikan serangan tak terduga yang membuat keduanya kalah telak.
Sedangkan Arjuna berusaha mendobrak pintu kamar di mana Ziya berada. Ia mundur bebeeapa langkah, lalu berlari membenturkan tubuhnya pada pintu tersebut.
Tak cukup satu kali, lengannya sudah merasa nyeri karena sudah melakukannya sebanyak tiga kali. Ia pun berkonsentrasi memusatkan seluruh tenaganya pada lengan dan bahu kirinya. Dan ....
"Bruaaakkk!"
Pintu terbuka. Matanya membelalak dengan apa yang ada di depannya.
__ADS_1
Bersambung~
Jeng jeng jeeng......