Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Curhat sama KakPar


__ADS_3

"Bodo! Bye semua! Awas jangan ada yang ngikutin. Titik! No debat!"" Ziya berlari menuju parkiran motor setelah memperingatkan teman-temannya yang mau membuka suara, akhirnya terkatup kembali. Ziya teringat jika motornya masih menginap di sekitar sana. Beruntung buka 24 jam.


Tak sedikit pun Ziya menoleh ke arah Arjuna. Pria itu mengusap kasar wajahnya. Lalu berlari menuju kolam yang tampak cukup besar dan dalam itu.


"Ya ampun, Zi," dengkusnya pelan.


Juna melepaskan sepatu dan jaketnya. Mau tidak mau ia harus masuk menjajaki kolam itu. Airnya jernih, tapi berwarna hijau karena pembiasan cahaya matahari pada lumut yang tumbuh di dasar kolam.


Meski tidak terlalu dalam, cukup membuat Arjuna kesulitan mencarinya. Sesekali Juna menenggelamkan kepalanya mencari hingga ke dasar kolam.


"Ketemu nggak?" seru Lily menghampiri. Hanya gadis itu yang tampak peduli. Catuda Squad hanya menonton saja. Mereka tak mau dikira membela Arjuna. Karena itu sama saja menentang Ziya dan siap menerima kemarahan gadis itu. Membayangkan saja membuatnya bergidik ngeri.


"Belum!" jawab Arjuna lemah sembari menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Baju yang dikenakannya pun sudah basah kuyup.


Lily menatap iba, ia menopang kedua lengan pada dinding pembatas turut celingukan membantu mencarinya.


"Istirahat aja dulu, beli yang baru aja kenala sih?" seru Lily setelah matahari semakin menanjak tinggi. Hari sudah semakin siang. Tapi Arjuna tetap kekeuh mencarinya. Wajahnya sudah terlihat memucat.

__ADS_1


Arjuna menggeleng beberapa kali, "Aku harus menemukannya. Di cincin itu ada nama aku dan Ziya."


Lily menghela napas kasar. "Ck! Alay. Tapi maaf, aku harus pergi. Ada jam kuliah sebentar lagi."


"Iya, enggak apa-apa," sahut Arjuna tanpa mengalihkan pandangan dari dasar kolam. "Makasih, Ly," lanjutnya kembali menyelam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang itu ternyata Ziya tidak berangkat kuliah, melainkan mampir ke rumah sang kakak setelah mendapat kabar bahagia dari kakak iparnya. Sebenarnya karena memang hatinya sedang carut marut. Jadi ia malas bertemu dosen siang itu.


"Kak Naya! Kakak!" seru Ziya mengetuk pintu dengan hebohnya.


Namun setelahnya memeluk adik iparnya yang manja itu dengan penuh kasih. Merangkul bahunya lalu mengajak masuk ke rumah.


"Mau minum apa? Kakak ambilin," tawar Naya setelah Ziya duduk di sofa ruang tengah.


"Enggak usah deh, Kak. Nanti aku ambil sendiri. Sini Kakak duduk aja, ibu hamil jangan capek-capek," sergah Ziya sambil mengelus perut Naya yang masih rata.

__ADS_1


"Bisa aja kamu." Naya melanjutkan makan buahnya yang tertunda saat membuka pintu tadi. Sedangkan Ziya membuka-buka toples yang berjajar di meja. Mencari camilan yang sesuai dengan lidahnya.


"Kakak, mmm ...." Ziya menggantungkan ucapannya. Menoleh ke sana ke mari.


"Cari apa sih?" Naya mengikuti gerakan kepala sang adik ipar.


"Kak Reza nggak di rumah 'kan?" tanya Ziya setengah berbisik.


Naya menggeleng, "Enggak, dia ada panggilan operasi darurat tadi. Kenapa?"


Ziya tampak menimang-nimang. Maju mundur ingin bertanya. Jemarinya bahkan saling meremas sambil berpikir.


"Hei, ada masalah?" Naya menepuk bahu Ziya membuat gadis itu terjingkat.


"Eh, enggak kok, Kak. Oh iya, dulu Kak Naya satu rumah sakit 'kan sama Kak Juna dan pacarnya?" Enggan sekali menyebut nama Meysa. Entahlah ia masih cemburu. Perasannya begitu labil.


"Huum. Kadang juga satu meja operasi sama Juna. Eh, dia masih tinggal di rumah ibu nggak sih? Aku denger dia dipecat, lho," ucap Naya.

__ADS_1


Sontak mata Ziya terbuka lebar. Mulutnya bahkan terbuka saking terkejutnya.


Bersambung~


__ADS_2