
Arjuna pun tersentak, ia menatap titik berwarna biru yang bergerak melalui garis-garis peta pada benda pipih di depannya itu. Keningnya mengernyit, "Kamu yakin? Itu Ziya?" tanyanya ragu menatap gadis itu.
Lily menggeram karena Arjuna terlalu banyak bicara. Gadis itu mendorong tubuh Arjuna, "Keluar sana biar aku sendiri yang kejar. Kita makin jauh tauk! Buang-buang waktu aja!" Tatapan tajam dilayangkan pada Arjuna.
"Oke! Oke! Aku ikutin!" Arjuna menyerah dengan gadis penuh teka-teki di sampingnya. Meski penasaran kini bersarang di benaknya. Buru-buru diinjaknya pedal gas setelah siap melaju. "Kamu yang ngarahin aja biar aku fokus," sambung Arjuna menatap lurus ke depan.
Lily menggesekkan jari telunjuk dan ibu jari pada layar ponselnya. Gambar lebih besar dan jelas. Ia mengarahkan jalan sesuai dengan maps yang terus bergerak di ponselnya.
"Mereka berhenti!" pekik Lily tiba-tiba setelah kesunyian di dalam mobil selama beberapa saat.
"Di mana?" tanya Juna bersemangat.
"Ck! Sudah kuduga," sahut Lily misterius. Ia menoleh pada pria di sampingnya. "Mereka berhenti di Diamon Club ujung kota perbatasan," jelas Lily sedikit panik.
Ciiiitt!
Arjuna mengerem mobil mendadak saking terkejutnya. Darahnya berdesir disertai jantung yang berdenyut hebat sampai dadanya terasa nyeri. Pendingin mobil tidak bisa menampik bulir keringat di dahinya.
__ADS_1
"A ... apa? Club?" ulang Arjuna terperangah mendelikkan mata. Tubuhnya gemetar, buru-buru ia mengambil ponsel di saku celananya menghubungi seseorang.
Setelah itu ia kembali menginjak pedal gas, mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Berhubung sudah tahu lokasinya, Juna memilih jalan tol agar tidak terjebak macet.
Jemarinya menggenggam kuat kemudi, giginya bergemelatuk. Dia yakin, pria yang membicarakan Ziya tadi sore bermaksud buruk pada Ziya.
'Tidak! Aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Jika terjadi sesuatu pada Ziya,' gumam Arjuna dalam hatinya.
Ia terus fokus mengemudi, tatapannya lurus ke depan meski dadanya bergemuruh, pikirannya berkabut. Tenggorokannya kering, serasa kehabisan saliva. Menelan berkali-kali tetap serasa kering.
"Fokus!" teriak Lily dipenuhi amarah.
Beruntung hanya lecet sedikit dan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Lily mengambil alih kemudi, ia mengambil air mineral yang masih tersegel di jok belakang.
"Aku aja yang nyetir. Minum!" perintah Lily dengan wajah datar tanpa menoleh. Ia menyodorkan air mineral lalu diserahkan pada Juna. Setelah meneguk setengah, ia masuk ke kursi penumpang. Mempercayakan sisa perjalanan pada Lily.
Gadis itu begitu lincah dan lihai dalam mengemudi. Ia sangat teliti, fokus dan berhati-hati. Arjuna terkagum melihatnya. Namun dalam sekejap, pikirannya kembali pada Ziya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, Ziya melebarkan kedua bola matanya saat mobil yang dikendarai oleh Alvin berhenti di pelataran club. Ia melirik Alvin yang sudah bersemangat membuka sabuk pengamannya.
Pria itu berlari membukakan pintu untuk Ziya, namun perempuan itu bergeming. "Katanya mau nonton? Ngapain kamu ngajak aku ke sini?" pekik Ziya menjauhkan tubuhnya dari pintu.
"Mampir sini bentar ketemu temen. Ayolah bentar doang. Kamu kalau sendirian di sini nanti diculik sama Sugar Daddy gimana? Mau?" cetus Alvin setengah mengancam.
Ziya bergidik membayangkannya. "Ya nggak mau lah!"
"Makanya ayo turun. Jangan jauh-jauh dari aku," modus Alvin mengulurkan tangan.
Dengan ragu-ragu Ziya menerima uluran tangan itu. "Sebentar aja loh ya! Jangan lama-lama." Ziya memperingatkan.
Alvin tersenyum sambil mengangguk dalam hati ia bersorak ingin berteriak berhasil membawa gadis itu masuk ke tempat tersebut.
Bersambung~
__ADS_1