Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Tiada Kabar


__ADS_3

Melihat reaksi ibu dan kakaknya, Ziya semakin menunduk, menggenggam erat sendok di tangannya. Apalagi hubungan Juna dengan Rio masih belum begitu baik.


"Ck! Jangan mau dibodohi lagi. Sudah jelas-jelas dia cuma mau mempermainkan kamu!" seru Rio menatapnya tajam.


"Jangan bicara begitu, denger dulu penjelasan adikmu," sela ibu menengahi.


"Tapi, Bu. Juna memang waktu itu mengatakan seperti itu. Bahkan...."


"Tidak, Kak!" tukas Ziya dengan cepat. Pandangan mereka kembali fokus pada Ziya.


Acara makan malam akhirnya menjadi perdebatan merekaibunya berdua. Dimana sang ibu diam mendengarkan. Ziya tak tahan kakaknya terus menerus memojokkan Juna di depan ibunya.


"Cukup, Kak! Kak Juna enggak seperti itu," sergah Ziya tidak terima.


"Helleh, jangan-jangan kamu udah kena bujuk rayunya. Mata kamu dibutakan sama cinta. Makanya terus belain dia. Kamu inget nggak Meysa itu kekasihnya?" papar Rio mencemooh.


"Mantan, Kak. Mereka udah putus," tekan Ziya.


Rio berdecak mendengar adiknya terus menerus membela Arjuna. Menurutnya pria itu tidak pantas untuk adiknya. Tak mau berlarut-larut, Ziya membeberkan segala hal yang dilakukan oleh Juna padanya. Namun tidak memaparkan tentang Meysa.

__ADS_1


"Dia sudah melakukan banyak hal, Kak. Apa itu nggak cukup membuktikannya? Aku bisa liat dan merasakan ketulusan dia," ucap Ziya merasa frustasi karena kakaknya terus menolak.


Pria itu menghempaskan sendok pada piring yang masih dipenuhi makanan. Lalu berdiri dari kursinya. "Terserah kamu! Kalau terjadi sesuatu sama kamu, Kakak enggak mau tahu dan enggak peduli!" tandasnya lalu meninggalkan meja makan.


Ziya menatap nanar punggung Rio hingga menghilang di ujung lantai atas dan masuk ke kamarnya. Pria yang selalu membela dan melindunginya kini berubah mengabaikannya. Rasanya sesak sekali tidak mendapat dukungan.


Ibu menggenggam jemarinya dengan lembut. Membuat Ziya menatap wanita yang telah melahirkannya, "Kamu mencintainya?" tanya ibu dengan lembut.


Ziya mengangguk yakin, diiringi air matanya yang menetes. Bibir ibu tertarik di kedua sudutnya, membentuk senyuman.


"Ibu yakin, Juna anaknya baik. Jika memang dia benar-benar mencintaimu, suruh datang kemari bersama keluarganya," ucap ibu masih dengan senyum di bibirnya.


"Ibu setuju?" tanyanya dalam dekapan sang bunda.


"Demi kebahagiaan anak gadis ibu, kenapa enggak? Lagian ibu sudah mengenalnya dengan baik selama ini." Belaian tangan ibu membuat Ziya semakin menangis haru.


"Terima kasih, Bu," tuturnya..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sudah satu minggu berlalu, Arjuna masih tidak bisa dihubungi. Puluhan pesan sudah dikirimkan namun hanya bercentang satu. Ziya bahkan sampai membawa ponselnya ke toilet. Takut jika Juna menghubunginya atau membalas salah satu pesannya.


"Zi, Juna sudah bisa dihubungi?" tanya ibu saat ia hendak berangkat kuliah.


Sebuah gelengan lemah hanya menjadi jawabannya. Rio yang berdiri di belakangnya pun semakin memojokkannya.


"Ck! Apa aku bilang? Dia itu bukan pria yang baik. Kamu sih terlalu polos jadi cewek. Enggak bisa liat mana yang tulus mana yang modus!" sembur Rio dengan sinis.


"Rio! Jangan semakin membuat adikmu sedih."


"Terus aja bela anak kesayangan ibu! Rio berangkat." Pria itu mengulurkan tangannya mencium punggung tangan sang ibu. Sekalipun dalam keadaan jengkel, ia tetap mencium tangan ibunya sebelum keluar rumah. Ziya bergeming, berjuta pertanyaan bersarang di otaknya.


'Apa benar yang dikatakan Kak Rio? Kak Juna kamu di mana? Datanglah, patahkan semua anggapan Kak Rio. Aku yakin kamu enggak seperti itu,' jerit Ziya dalam hati.


"Zi, jangan dimasukin hati ucapan kakakmu. Ibu yakin Juna enggak seperti itu. Sabar ya, dia mungkin sedang sibuk," ujar ibu pelan menyentuh tangannya.


Ziya menyeka air mata yang berjatuhan tanpa diminta. Ia mengangguk, lalu berpamitan pada sang ibu.


Di tengah perjalanan, Ziya membelokkan sepeda motornya, berhenti di sebuah area parkiran yang luas. Ia menjajakkan kedua kakinya di sana sambil menatap bangunan tinggi dan luas di depannya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2