
Rasa lelah bergelayut di seluruh tubuhnya. Sudah satu bulan dia berkutat dengan pekerjaannya. Keadaan seolah tak mau berpihak padanya. Hingga belum sempat Juna kembali ke Kota Keraton menemukan harapannya.
Dering ponsel yang melekat di saku jas berwarna putih itu, tak kunjung terjawab. Sudah beberapa kali, Ziya terus mencoba menghubungi Arjuna.
"Kok nggak dijawab sih," gerutunya.
Akhirnya Ziya menyerah, ia pun dengan lincah mengetik pesan untuk Juna. Mereka tidak dekat, hanya bertukar kabar jika ada sesuatu yang penting atau mendesak saja.
Setelahnya, Ziya kembali masuk ke kelas. Jam kuliahnya akan segera dimulai. Ya, Ziya akhirnya masuk kuliah mengambil jurusan kedokteran.
Tiga puluh menit berlalu, Arjuna telah selesai dengan operasinya yang berjalan selama 3 jam. Penat menghampirinya, membuat Juna segera melepas jubah operasi dan seperangkatnya. Lalu membasuh muka dan kembali ke ruangan.
Baru menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya, Juna merogoh ponsel yang terus berdering.
"Ya, Pa," ucapnya setelah menggulirkan benda pipih itu dan menempelkannya di telinga.
"Juna, Papa ada dinas di LN. Kemungkinan agak lama di sana. Bisa sampai sebulan atau bahkan lebih. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan neko-neko!" ucap sang papa tegas di balik telepon.
__ADS_1
"Hmmm ... Iya, Pa. Hati-hati. Sampai jumpa," balas Arjuna lalu menutup ponselnya.
Hampir memasukkannya lagi, matanya tertuju pada beberapa panggilan tak terjawab di layar ponselnya.
"Ziya?" gumamnya berkerut kening.
Jemarinya bergulir pada notifikasi pesan. Tampak pesan beruntun dari Ziya mulai terbuka.
Assalamu'alaikum. Hai, Kak Juna. Apa kabar? Lagi sibuk ya? Semoga sehat terus. Oh iya, tanggal 27 bulan ini, tolong datang ke rumah ya. Kak Reza mau ngadain resepsi pernikahannya. Ibu dan Kak Reza sangat berharap, Kak Juna mau meluangkan waktu untuk bisa hadir. Terima kasih😊
Arjuna segera melangkah menuju HRD, untuk pengajuan cuti tahunan. Diserahkan lembaran kertas cuti yang terhitung tinggal 4 hari saja. Usai mengisi semua, ia bergegas menghadap atasannya meminta tanda tangan. Meski dipersulit dan penuh perdebatan, akhirnya ia bisa mendapatkannya.
"Woy, senyam-senyum mulu dari tadi. Abis dapat apaan?" seloroh Dika mengagetkan Arjuna yang kini sudah kembali duduk di ruangannya.
"Akhirnya, aku balik lagi ke Yogya," ucap Arjuna menyandarkan punggungnya sembari menarik kedua sudut bibirnya hingga lesung pipinya terlihat jelas.
"Heh? Mau cari Meimei lagi?" Dika duduk di depan Arjuna menopang dagu dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Arjuna menaikkan sebelah alisnya sembari menghela napas panjang. "Yah, salah satunya," cetusnya mengurai senyum.
Dika meremas rambutnya kasar. "Lu tiap pergi gue yang gila," gerutu Dika mendengus kesal.
"Tenang aja, udah dapet tanda tangan dari professor Haris," jelas Arjuna.
"Yah, gue harap lu balik tepat waktu. Karena ini kesempatan terakhir lo!" ujar Dika memperingatkan.
"Ya ... ya ... ya! Beres, presiden!" gurau Arjuna berdiri tegak dan memosisikan hormat telapak tangan kanannya.
"Presiden apaan?" tanya Dika mendelikkan mata.
"Presiden jomlo lah. Apalagi? Haha!" Arjuna tertawa terbahak-bahak. Membuat Dika melemparkan spidol tepat di kening Juna.
Arjuna meringis kesakitan sembari mengusap keningnya yang memerah. "Sialan! Gue sumpahin jomlo abadi!" desis Arjuna mengumpat kesal pada sohibnya tersebut.
Bersambung~
__ADS_1