Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Tidak Ada Harapan


__ADS_3

Meysa tengah collaps. Sesampainya di rumah sakit, Reza bergegas berlari menuju ruangannya. Mengenakan jas kebesarannya, tak lupa membawa peralatannya sebagai penunjang pemeriksaan.


"Sayang, aku tinggal bentar ya. Telepon Ziya aja kalau bosen. Suruh nemenin," ucap Reza pada wanita yang kini telah menjadi istrinya sembari menyentuh puncak kepalanya.


"Iya, Sayang. Santai aja. Berikan usaha terbaikmu untuk menyelamatkan nyawa orang-orang." Naya memberi semangat pada Reza dengan seulas senyum cantiknya.


"Pasti!" ujar Reza bergegas menuju ruangan Meysa setelah mengecup kening istrinya.


Reza melakukan pemeriksaan ulang, mulai dari kornea mata, denyut nadi, detak jantung. Terdengar hembusan napas berat, ia menggelengkan kepala pada suster yang mendampinginya.


Sementara itu, Arjuna terus meminta kejelasan pada orang tua Meysa. Papa Indra--Papanya Meysa, melangkah mendekatinya. Ditepuknya salah satu bahu Arjuna. Matanya nampak berkaca-kaca.


"Meysa sakit. Sangat sakit," ucap Papa dengan suara bergetar, pandanganya menunduk dan satu tangannya menyeka air mata di kedua sudut matanya.


Arjuna hanya diam, namun tatapannya meminta penjelasan lebih. Meski dentum jantungnya berpacu sangat kuat. Deru napasnya pun terdengar sangat berat.


"Dia mengidap leukimia. Divonis dokter 3 bulan yang lalu. Selama 2 bulan penuh, dia rajin melakukan segala macam pengobatan. Menahan betapa sakitnya kemoterapi dengan berbagai efek samping yang menyerang tubuhnya." Air mata kian membanjiri wajah pria paruh baya itu.


Kedua lutut Arjuna melemas, suara pelan Papa Indra seperti sambaran petir di telinganya. Ia terduduk di lantai, pandanganya kosong. Papa Indra pun turut duduk di sampingnya.


"Namun, satu bulan terakhir Meysa menyerah. Dia bilang tidak sanggup lagi melakukan kemo yang teramat menyakitkan. Meysa sudah tidak punya semangat hidup lagi," sambung Papa Indra menangis tersedu.


Juna menekuk kedua lututnya, ia menangis bertumpu tangan di atasnya. Marah, kecewa, sedih, takut bercampur aduk menjadi satu. Marah dan kecewa karena semua orang menyembunyikan keadaan Meysa. Sedih melihat kondisi Meysa yang terbaring lemah, takut kehilangnnya untuk selamanya.


"Kau anggap aku apa? Kalian anggap aku apa? Kenapa tak satu pun dari kalian yang memberi tahuku?" teriak Juna marah.


"Maaf, semua atas permintaan Meysa," terang Papa tidak berani mengangkat pandangan.


Reza memastikan semua alat penunjang Meysa tengah berfungsi dengan baik. Setelahnya, Reza keluar ruangan. Ditatapnya, satu persatu orang yang ada di depan ruangan tak terkecuali Arjuna yang sedang menahan emosi juga wajahnya memerah berderai air mata. Semua sorot mata penuh harap kini tengah memancar ke arah Reza.


Pria berjas putih itu, berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan di saku celananya. Tatapannya menyendu, berulang kali ia menghela napas panjang.


__ADS_1


"Kak, bagaimana kondisinya?" Juna beranjak dengan cepat tak sabar ingin mengetahui keadaan Meysa. Meski marah, tetap saja khawatir melingkupi dirinya.


Reza sebenarnya bingung, bagaimana Arjuna mengenal pasiennya. Namun ia tidak mau ikut campur. Ia hanya fokus dengan tugasnya sebagai seorang dokter.


"Meysa koma. Entah sampai kapan ia seperti ini. Bisa satu minggu, satu bulan, atau bahkan meninggal dalam keadaan koma."


Mendengar penjelasan itu Juna mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Giginya bergemelatuk, keningnya pun berkedut disertai tatapan nyalang.


"Dalam keadaan koma pun, kankernya bahkan masih menyebar dengan cepat," sambung Reza lagi.


"Kenapa tidak dilakukan transplantasi sumsum tulang belakang?" tanya Arjuna geram.


Tatapan Reza beralih pada kedua orang tua Meysa. Mereka tampak begitu terpukul dengan kabar ini. "Tidak bisa, harus menemukan pendonor yang cocok. Terutama keluarga sedarah atau orang tuanya," jelas Reza.


Juna melempar tatapan tajam pada kedua orang tua Meysa. Seolah bisa membaca kemarahan Juna, Mama Indah menyeka air matanya yang terus berjatuhan. "Meysa bukan anak kandung kami. Kami mengadopsinya dari panti asuhan. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia, Nak," ucapnya semakin terisak.


Dada Arjuna seperti dihantam beban yang sangat berat. Napasnya teramat sesak. Kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri.


"Boleh menjenguknya, maksimal 2 orang. Saya permisi," lanjut Reza melenggang pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dek, buka pintunya," pinta Rio sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Ziya.


Ziya bergeming, masih berusaha menata hatinya, menenangkan diri. Tangannya sibuk menyeka air mata di kedua pipinya. Kedua sudut bibirnya tertarik dengan paksa membentuk senyuman. Lalu beranjak berdiri.


Dibukanya pintu itu dengan perlahan. Rio masih berdiri tegap di sana. "Iya, Kak," ucap Ziya berusaha tertawa.


"Nggak usah pura-pura di depan Kakak," ujar Rio meñatap dalam kedua mata Ziya.


"Ziya enggak apa-apa, Kak. Tuh liat," elak Ziya.


Rio menariknya dalam dekapannya. Membelai lembut rambutnya, "Maafin Kakak enggak bisa jagain kamu."

__ADS_1


Ziya melepaskan pelukan itu. "Kakak enggak salah, kenapa minta maaf?" ujarnya masih tersenyum. Walau sorot mata kesedihan masih terlihat jelas. "Kak, Ziya mau ketemu anak-anak ya," pamitnya pada Rio. Ingin bertemu siapa lagi kalau bukan catuda squad.


"Yasudah, hati-hati. Jangan pulang malem-malem," ujar Rio mengacak rambut Ziya.


"Berarti boleh pulang pagi ya, Kak?" canda Ziya menyengir.


"What?" pekik Rio mendelikkan mata.


"Hehehe ... canda. Serius amat tuh muka, makin jelek tau," ejek Ziya berbalik mengambil jaket, dompet dan menyambar kunci motornya. Ia berlari menuruni anak tangga sampai tak sadar jika ibunya sudah pulang dan tengah sibuk di dapur.


Tak butuh waktu lama, Ziya sudah sampai di pangkalan ojek para sahabatnya itu. Kebetulan mereka belum mendapat penumpang. Bàru menjajakkan kedua kakinya di tanah, Wahyu berteriak menyambutnya. "Woy, Zi? Kemarin ngilang ke mana kamu?"


"Emmm ...." Ziya membuka helm, meletakkannya di spion motor lalu bergabung dengan yang lainnya.


"Iya, ke mana lu, Zi?" timpal yang lainnya.


Ziya menghela napas panjang, "Yang penting kalian puas 'kan?" ucapnya tertawa.


Farid yang lebih peka mengangkat dagu Ziya, menatapnya lamat-lamat. "Kamu habis nangis, Zi? Kenapa? Siapa yang nyakitin kamu?" cecar Farid khawatir.


Ziya menepis tangan pria yang memang menyukainya sedari dulu. "Ah enggak kok perasaan kamu aja," elak Ziya memalingkan muka.


Kelima sahabatnya itu lalu berdiri mengitari Ziya. Seperti membentuk formasi perlindungan. dengan tatapan menginterogasi. Ziya terkejut sekaligus bingung. "Ka ... kalian ngapain?" tanya Ziya memundurkan tubuhnya.


"Iya, lu habis nangis? Siapa yang sakitin lu, Zi? Bilang ke kami. Kami siap mencincangnya lalu digoreng atau bakar," celetuk Edy disambung dengan beberapa kepalan tangan di kepala dan bahunya.


"Lah salah gue apaan? Ziya pan takut sama ikan. Kali aja tuh ikan bikin dia kejer kek gini," sambungnya tidak terima diserang teman-temannya. Ziya hanya menggeleng pelan, namun bicara tentang ikan mengingatkannya lagi pada Arjuna.


"Lah ... lah, nangis lagi dia," cetus Eko.


"Zi? Ngomong dong. Jangan bikin kita khawatir. Kenapa? Ada yang gangguin kamu lagi? Da yang mau macem-macem lagi sama kamu?" cecar Wahyu menyentuh bahu Ziya.


"Lagi?" teriak yang lain kompak.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2