Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Pesan Terakhir


__ADS_3

Helaan napas berat dihembuskan oleh Ziya. Tangannya mencengkeram erat tali tas yang ada di pundaknya. Ia tengah menguatkan hati apa pun yang akan dilihatnya nanti.


Dengan perlahan, Ziya memasuki gedung bertingkat milik sang kakak. Matanya lurus tanpa menoleh sekitarnya. Menuju ke ruang inap yang pernah membuatnya merasakan sesak.


Yah, Ziya berniat mengunjungi Meysa. Sepanjang jalan, Ziya mencoba menarik kedua sudut bibirnya. Meski sangat kaku, ia berusaha menampilkan senyuman. Entah apa pun yang terjadi nanti.


"Kamu bisa, Zi!" serunya pada diri sendiri saat tangannya sudah menyentuh handle pintu.


Dan setelah mengetuk, ia membuka pintu itu perlahan. Matanya langsung beradu dengan Meysa yang tengah menoleh ke arahnya. Keduanya saling melempar senyum.


"Hai, Kak. Apa kabar?" Ziya semakin mendekat, mengikis jarak di antara keduanya.


Meysa mengulas senyum di bibir pucatnya. Matanya seperti mencari sesuatu di belakang Ziya. "Kok kamu sendirian, Zi?" tanya Meysa dengan lirih. "Juna mana?" sambungnya setelah tak mendapat yang ia cari.


"Hem?" Ziya sedikit terkejut. Pasalnya tujuan utama Ziya ke sini itu untuk mencari Arjuna. Tapi kenapa malah Meysa bertanya seperti itu? Ziya pun berperang batin. Tangannya refleks menggaruk kepalanya.


"Aku ... aku ke sini sendiri, Kak," jawab Ziya yang bingung menjawab apa.


Orang tua Meysa berpamitan untuk bertemu dokter, setelah pemeriksaan beberapa saat yang lalu. Sehingga, hanya ada dua perempuan yang sama-sama mencintai Arjuna di ruangan itu. Keheningan tercipta beberapa saat.


Tangan kurus Meysa mencoba meraih jemari Ziya yang bertumpu di ranjang. Suara monitor detak jantung, menggema dan mendominasi ruangan itu.

__ADS_1


Sontak, Ziya semakin mendekat. Ia duduk di kursi yang tak jauh dari kepala Meysa. Kepalanya menoleh, hingga dua pasang manik mata mereka saling bertemu. Air mata Meysa mulai menetes.


"Kak," sergah Ziya menyeka dengan tangan satunya.


"Zi, Juna alergi udara dingin. Ketika musim hujan tiba, kamu selalu ingetin dia pakai baju yang tebal. Jaketnya juga jangan pernah lupa. Dia suka sekali semua jenis ikan. Baik tawar maupun laut. Tapi yang paling dia sukai ikan hasil mancing sendiri. Katanya ada sensasinya gitu," ucap Meysa perlahan diakhiri kekehan kecil.


Ziya menelan ludahnya kasar. "Ma ... maksud Kakak?"


Tak membalas ucapan Ziya, Meysa melanjutkan ceritanya. "Juna juga pobhia tempat yang gelap. Waktu kecil, pernah terperosok ke galian yang cukup dalam. Ditemukan 2 hari 2 malam setelahnya, dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Karenanya sampai sekarang dia masih trauma tempat yang gelap."


"Kak." Ziya berusaha menyela. Genggaman tangan Meysa semakin mengerat. Meysa menghela napas yang semakin terasa sesak.


"To... long, jaga dia," lanjut Meysa dengan suara bergetar. "Ja ... ngan pernah bohongi, dan ... kecewakan dia. Karena ... sekali dia kecewa, Juna sulit mengembalikan perasaannya seperti sedia kala."


"Cukup! Kak! Jangan bicara lagi. Kakak butuh istirahat," sergah Ziya yang ikut menangis.


"Juna ... sangat mencintaimu, Zi." Kedua bola mata Ziya sontak melebar. "Aku justru bahagia. Karena dia telah bertemu dengan orang yang tepat. Dengan begitu, aku bisa pergi dengan tenang tanpa dibayangi rasa bersalah."


"Apa Kak Juna yang mengatakannya?" tanya Ziya penasaran.


Anggukan lemah masih dengan bibir yang tersenyum. "Tapi... sebelum dia mengatakannya, aku tahu saat kedatangan kalian pertama ke sini."

__ADS_1


Seketika Ziya menundukkan kepalanya. Rasa bersalah menyeruak dalam dada. "Maaf, Kak," ujar Ziya.


"Tidak, jangan minta maaf. Berjanjilah satu hal," ucap Meysa semakin lirih.


Ziya kembali mendongakkan kepalanya. Dua pasang netra yang dilapisi air mata itu saling memancarkan kesedihan.


"Tolong, jaga Juna. Dia pria yang baik, setia dan perhatian dan bertanggung jawab. Aku...."


Ucapannya terhenti. Kepalanya merasakan dentuman hebat yang membuatnya mengernyit kuat. Kerutan dahinya juga semakin dalam, cengkeraman tangannya bertambah kuat.


"Ber ... janjilah, Zi. Terus dampingi Juna apa pun keadaannya," pekik Meysa menahan sakit.


Ziya panik dibuatnya. Ia segera beranjak dari duduknya. "Kak. Kakak kenapa? Tunggu! Aku panggil dokter dulu."


Namun gerakan Ziya tertahan karena Meysa menahan lengannya dengan kuat. "Ber... janjilah."


"Iya, Kak. Aku janji. Aku akan ingat semua pesan Kakak. Bertahanlah, Kak. Aku panggilkan dokter dulu." Ziya menjangkau tombol darurat setelah Meysa melepaskan genggamannya.


"Te ... rima ka ... sih."


Tiiiiiiiiit!

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2