
Juna mengerutkan alisnya. Pasalnya tiba-tiba malam-malam begini Ziya telepon. Banyak pertanyaan di benaknya. Namun baru sepersekian detik dingkatnya, sambungan terputus. Bahkan mati ketika ditelepon balik.
"Ada apa, ya? Ah mungkin mau mastiin aja kali lusa aku dateng apa nggak," pikir Arjuna meletakkan kembali ponselnya lalu merebahkan tubuhnya dan tidur.
Sementara itu, Ziya masih gemetaran dipelukan Alvin. Pria itu lalu melepas jaketnya dan dipakaikan pada Ziya. Alvin keluar dari gudang memapah Ziya. Pandangannya mengedar mendapati tas dan seisinya berhamburan di jalan yang amat sepi tersebut.
"Udah, tenang aja. Ada aku, okay?" ucap Alvin menenangkan Ziya. Gadis itu hanya mengangguk, sesekali menyeka air mata yang berjatuhan.
"Jangan tinggal," rengek Ziya ketika Alvin hendak memunguti barang-barangnya.
"Aku mau ambilin tas kamu. Tuh bukunya juga. Bentar, tenang aja. Temen-temenku pasti udah beresin mereka." Alvin menepuk lengan Ziya lalu melenggang merapikan barang-barang Ziya.
Bersamaan itu, Wahyu--salah satu sahabat Ziya mau kembali ke pangkalan setelah mengantar penumpang. Sudah lewat beberapa meter, ia tersadar seperti melihat Ziya. Segera laki-laki itu memutar balik sepeda motornya dan benar yang dilihatnya.
"Ziii?" pekiknya terkejut melihat sahabat terkasihnya dalam keadaan berantakan.
"Ziya!" Wahyu sampai melemparkan motornya begitu saja hingga terjatuh. Ia tak peduli. Segera berlari menangkup kedua pipi Ziya, menatap kedua maniknya yang memerah sehabis menangis bahkan sampai sekarang masih menitikkan air mata.
"Wahyu," gumamnya pelan dengan bibir bergetar.
Laki-laki itu tak kuasa melihat keadaan Ziya. Ia segera membawanya pulang. Dia meraih lengan Ziya, mendirikan motornya lalu memakaikan helm pada Ziya. Gadis itu pasrah aja.
"Hei, siapa kamu? Main bawa anak orang seenaknya." Alvin yang baru selesai dengan barang-barang Ziya kembali menghampirinya.
Ziya menahan dada Alvin saat pria itu emosi melihat kedatangan Wahyu. "Dia sahabatku. Makasih uda nolongin aku tadi, biarkan aku bersamanya. Keluargaku sudah mengenalnya," pinta Ziya dengan lirih.
Berbeda dengan Wahyu. "Kamu, ikuti kami!" ajaknya memaksa menatap Alvin tajam.
Apa mau dikata, Alvin pun mengambil motornya berjalan pelan mengikuti ke mana arah motor Wahyu melaju.
Sampailah mereka di kedai warung kopi. Wahyu menarik lengan Ziya dan mengajaknya duduk lesehan di tikar yang disediakan.
"Bang, teh anget satu, kopi item satu, kamu?" seru Wahyu lalu bertanya pada Alvin.
"Es teh aja," ucap Alvin.
"Es teh satu, Bang," sambung Wahyu lagi. Ia kembali mengalihkan pandangan pada gadis di depannya.
"Apa yang terjadi pada Ziya?" tanya Wahyu tanpa basa basi.
Ziya yang mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu, tak kuasa menahan tangis yang sempat mereda.
__ADS_1
"Ziya hampir dilecehkan. Kalau saja aku dan teman-teman tidak sampai sana tepat waktu." Alvin yang menjawab. Sedang Ziya hanya tertunduk.
"Apa?! Siapa? Di mana? Berani-beraninya dia!" teriak Wahyu menggebrak meja. Tangannya segera menggenggam jemari Ziya, meski napasnya memburu mengontrol emosi.
"Sudah dibereskan sama temen-temen tadi," sahut Alvin.
"Jeblosin ke penjara!" ucapnya bersungut.
Minuman mereka pun telah tersaji. Wahyu segera membantu Ziya minum karena tubuhnya masih bergetar hebat. Satu gelas berukuran besar pun langsung tandas. Ziya merasa lebih baik, ia menghela napas panjang.
"Wahyu, aku masih selamat. Mereka belum sempat ngapa-ngapain aku. Semua berkat pertolongan Alvin dan teman-temannya. Makasih ya, Al," ucap Ziya pelan.
"Sama-sama, Zi. Kebetulan kami mau nongkrong. Eh nggak sengaja lihat motor dan tas kamu di jalan. Aku curiga lalu mencari keberadaanmu. Lain kali, jangan pernah pulang sendiri kalau malam-malam begini ya. Aku siap kok nganterin kamu," ucap Alvin tersenyum lembut.
Ziya mengangguk pelan, "Makasih. Oh iya, Wahyu aku minta tolong banget jangan pernah cerita kejadian ini pada siapa pun. Kamu tahu sendiri lusa acara pernikahan Kak Reza. Aku nggak mau membuat mereka khawatir. Tolong Wahyu," pinta Ziya memohon.
Tampak Wahyu sedang berpikir, lalu ia pun mengiyakan permintaan Ziya. "Baiklah. Ayo aku antar pulang sekarang. Mereka pasti khawatir." Wahyu beranjak membayar minumannya.
"Al, sekali lagi makasih. Dan aku nitip tugas Pak Bimo ya. Besok sepertinya aku nggak masuk," ucap Ziya menyodorkan tugasnya.
"Iya, kamu istirhatlah, aku pulang dulu ya, sampein sama temanmu," pamit Alvin.
Mereka pun berpisah. Wahyu mengantarkan Ziya pulang dan mengatakan pada keluarganya bahwa motor Ziya bocor tertancap paku jadi ia meminta tolong pada Wahyu dan teman-temannya.
Saking sibuknya, mereka lupa bahwa Ziya baru pulang tepat pukul 23.30 WIB. Reza mau memarahinya, namun setelah diberi penjelasan harus menyelesaikan tugas, ia pun mengerti dan lega karena Ziya pulang bersama Wahyu.
...****************...
Arjuna kembali ke kota keraton naik bus antar kota. Pagi-pagi sekali ia berangkat. Dia sengaja datang H-1 sebelum acara. Tentu saja kedatangannya disambut dengan tangan terbuka oleh Reza sekeluarga.
Ia mendarat di salah satu terminal tak jauh dari rumah Ziya. Lalu melanjutkan perjalanan memesan ojol. Yang tak lain sang ojol adalah Wahyu. Ia mengulum senyum kala Wahyu sudah berhenti di depannya.
"Bro, apa kabar? Tambah ganteng aja," celetuk Wahyu menyapa Arjuna.
"Masih inget? Kirain udah lupa," sahut Arjuna setengah menerima helm dari Wahyu.
"Hahaha! Ya masih lah. Aku akui pernah berdosa sama kamu. Mukulin kamu sama temen-temen. Padahal kamu niat nolong eh malah kepentung, haha!"
Keduanya saling berbincang satu sama lain, tak terasa, mereka pun telah sampai di halaman rumah Ziya yang sudah dihias sedemikian rupa untuk acara besok.
__ADS_1
"Eh, Nak Juna udah datang," sapa Ibu Resi dengan senyum mengembang.
"Iya, Bu," ucap Juna mencium punggung tangan Ibu Resi.
Semenjak tragedi pertolongannya dulu, ia memang seakrab itu dengan keluarga Ziya. Mereka sudah menganggap Arjuna bagian dari keluarga. Arjuna yang sudah lama ditinggalkan ibunya, dan selalu kesepian pun sangat bahagia memiliki ibu dan banyak saudara.
"Mari masuk, Nak!" Ibu merangkul lengan Arjuna dan mendudukkannya langsung di meja makan.
Sore itu rumah Ziya sudah sangat ramai dengan sanak saudara yang ikut membantu memasak mempersiapkan acara pernikahan besok.
"Zii! Ambilin makanan buat Juna. Yang banyak, ya," pekik Ibu Resi pada Ziya yang berkutat dengan para tantenya di dapur.
"Eh, Kak Juna udah datang? Iya, Bu segera Ziya antar," sahut Ziya berteriak juga.
"Ibu tahu aja Juna lapar, hehe," cengir Arjuna malu-malu.
"Issh, ya jelaslah, kan abis perjalanan jauh. Capek nggak? Enggaklah ya, kan tinggal duduk selonjoran, sampai deh," gurau ibu.
Tak lama Ziya membawa nasi, piring, dengan lauk pauk, rendang, rames, tak ketinggalan makanan khas Yogya. Apalagi kalau bukan gudeg.
"Silahkan, Kak. Jangan malu-malu," ucap Ziya setelah meletakkan semuanya di hadapan Arjuna.
"Makasih, Zi." Arjuna mengulum senyumnya. Tertangkap netra Ziya yang baru sadar ternyata Arjuna memiliki lesung pipi yang menambah ketampanan pria berkulit putih itu.
'Eh baru tahu, Kak Juna ada lesung pipinya. Ya ampun manis banget sih,' batin Ziya menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Zi, temenin Juna dulu ya. Ibu mau lanjutin masak sama tantemu," ucap Ibu yang tidak didengar oleh Ziya. Hingga senggolan di lengannya baru menyadarkan Ziya.
"Bengong aja. Kesambet loh. Temenin Juna ya," ulang ibu lagi lalu beranjak melenggang pergi.
"I ... iya, Bu."
"Enak, Kak?" tanya Ziya basa-basi.
Arjuna yang makan dengan lahap hanya mengangguk dan mengangkat jempolnya. Membuat Ziya tertawa melihatnya.
"Zi, kamu kemarin malam ngapain nelepon aku?" tanya Arjuna setelah menelan makananny dan meminum beberapa teguk teh hangat.
Bersambung~
__ADS_1