
"Hai, kamu udah sadar. Kenalin, aku Ziya," sapanya dengan seulas senyum lalu mengulurkan tangannya.
Namun Arjuna cuma memicingkan mata melihatnya. Ia bahkan tidak membalas uluran tangan Ziya. Arjuna beranjak duduk, Ziya ingin membantunya, namun tangannya ditepis oleh Arjuna.
Mata pria itu mengeliling menyapu sekitarnya. Ruangan berwarna serba putih, lalu melihat tangannya diinfus dapat disimpulkan bahwa saat ini ia berada di rumah sakit atau sejenisnya.
"Kenapa aku bisa di sini," gumamnya mendesis merasakan nyeri-nyeri pada sekujur tubuhnya.
"Hah? Kamu nggak ingat kejadian kemarin? Lalu, kamu inget nggak siapa namamu? Atau jangan-jangan kamu amnesia. Tapi kepalamu nggak terbentur atau kena benda tumpul, bagaimana bisa amnesia?" cerocos Ziya tanpa jeda sambil mondar-mandir seperti setrikaan.
Mata Arjuna refleks mengikuti gerakan gadis itu. Dan itu membuatnya geram. "Woi! Diem nggak? Tambah pusing aku liatnya!" gerutu Arjuna memijat keningnya.
"Aku panggilin Dokter ya, Bang. Tunggu di sini! Jangan kemana-mana!" ucap Ziya mengacungkan jari telunjuk di depan Arjuna.
"Heh! Bang, Bang! Kamu pikir aku Abang tukang bakso apa?" sentak Arjuna menghentikan langkah Ziya.
Gadis itu berbalik, mendekati Arjuna lagi. "Lah terus mau dipanggil apa? Tadi diajak kenalan malah amnesia," cebik Ziya merasa kesal.
__ADS_1
'Ni orang kagak ada rasa terima kasihnya, ganteng sih ganteng. Tapi attitude zonk!' gerutu Ziya dalam hati.
"Siapa yang amnesia? Aku 'kan cuma mengingat-ingat kenapa bisa sampai di sini. Bukan amnesia. Dasar Lampir," elak Arjuna seenaknya sendiri mengatai Ziya.
Ziya semakin dibuat naik darah. Ia berkacak pinggang, kepalanya mendongak dengan mengetatkan gerahamnya. "Apa kamu bilang? Lampir? Dasar gila, udah ditolongin bukannya terima kasih malah ngata-ngatain orang seenaknya!" pekik Ziya.
"DUAR!"
Ziya menendang nakas di samping Arjuna, membuat pria itu terjingkat karena terkejut. Ia mengelus dadanya yang berdetak kuat.
"Bar-bar banget sih jadi cewek! Aku sumpahin jadi perawan tua! Mana ada laki-laki yang mau sama cewek galak kayak kamu!" Lagi-lagi Arjuna tak henti menggoda Ziya.
Mendengar keributan rekan-rekannya bergegas masuk ke ruangan. Tadinya mereka hendak pulang, namun saat suara Ziya terdengar melengking di luar ruangan, membuat mereka mengurungkan niatnya. Takut terjadi apa-apa dengan perempuan yang sangat disayangi mereka. Buru-buru mereka masuk ruangan serentak.
"Ziya, ada apa?"
"Zii ... Lu nggak apa-apa?"
"Ziya, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Kenapa teriak-teriak, Zi?"
Ucap mereka bergantian karena khawatir dengan keadaan Ziya. Apalagi melihat Ziya yang seolah ingin menelan orang hidup-hidup.
"Tau tuh si Bambang. Udah ditolongin nggak tau terima kasih malah ngata-ngatain! Mana nyumpahi pula. Tau gitu kita biarin aja kemarin biar tergeletak di pingging jalan. Terus dipatokin ama burung dara! Iih ngeselin. Dahlah aku pulang," gerutu Ziya melangkah keluar.
Kelima sahabat Ziya mengitari ranjang Arjuna. Jari jemarinya saling bertautan dan bergemelatuk. Leher mereka pun di gerakkan patah-patah, wajah mereka tampak tak bersahabat.
"Woy woy jangan main kroyokan dong! Apa-apaan nih!" Arjuna menyandarkan punggungnya terasa terintimidasi.
"Lu ngata-ngatain sahabat kita sama aja ngatain kita! Lu ngehina dia sama aja ngehina kita! Dan Lu mau ngelawan dia, sama aja Lu ngelawan kita!" tutur Sofyan menunjuk-nunjuk wajah Arjuna.
"Kalau nggak ada Ziya kamu pasti udah mati kemarin dihabisi preman kampung itu!" Wahyu menimpali.
"Yup, dan kalau bukan karena Ziya kami juga nggak bakal sudi nolongin Lo!" imbuh Wahyu melipat kedua lengannya.
'Ebuset komplotan cewek bar-bar itu banyak banget. Jadi bener dia nolongin aku? Oh iya ya, aku baru inget kemarin dikeroyok sama preman-preman. Tapi abis itu nggak tau lagi. Tunggu! Aku juga sempat melihat Meysa. Lalu di mana dia sekarang?' Arjuna nampak berpikir keras bergumam dalam hatinya.
Bersambung~
__ADS_1