Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Dendam


__ADS_3

Dua kelopak Ziya mulai terbuka sepenuhnya. Mengerjap beberapa kali, hingga kembali tersadar, bahwa saat ini ia tengah menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung maupun karyawan di danau tersebut.


Matanya membulat, mulutnya menganga. Semua tingkahnya tak luput dari tatapan elang Arjuna. Pria itu menunduk, melirik Ziya yang tingginya hanya sebatas bahunya. Jumpsuit yang tadi menggantung, melorot dari kedua bahunya.


Mereka seolah terpaku, sama-sama sulit meneguk saliva. Malu? Sudah pasti. Jangan tanyakan bagaimana rasanya. Ziya bahkan ingin tenggelam saat itu juga.


"Zi, buruan ke belakang aku," bisik Arjuna masih tak memalingkan muka dari Ziya.


"Hah?" Ziya tak mengerti.


"Buruan ke belakang aku!" imbuh Arjuna lagi dengan menekan nada bicaranya. Meski masih berbisik.


Tak juga beranjak, masih linglung. Akhirnya Juna menarik lengan Ziya tepat ke punggung Arjuna. Gadis itu tampak menghilang ditelan tubuh Arjuna. Meski kebingungan, Ziya tetap menurut. Kepalanya bahkan menunduk dalam.


Keduanya melangkah ke tepian danau hingga mencapai tempat semula mereka. Arjuna mengambil jaketnya dan menangkupkan di tubuh Ziya bagian depan.


"Warna hitam yang sexy," bisik Arjuna setelah menyampirkan jaketnya sambil menahan senyumnya.


Ziya mengerutkan keningnya, kedua alisnya tampak saling bertaut, lalu melempar tatapan pada pria yang kini tengah membuka kaosnya yang basah sebagian. Memperlihatkan otot-otot kekar yang membuat kaum hawa menjerit histeris meski dalam hati.


Sepersekian detik, kedua mata Ziya membelalak. Kedua tangannya cepat-cepat menutup mulutnya yang menganga lebar. "Iiihhh Kak Junaa! Jahaaaat! Huaaaa!"


Teriakan tepat di telinga Arjuna hingga pendengarannya berdenging. Ziya hampir memukul dada Juna, namun sadar pria itu telah membuka kaosnya, membuatnya merinding. Juna sendiri tertawa terbahak, tadinya mau marah, tapi keadaan berbalik hingga membuatnya urung.


Ziya menghentakkan kedua kakinya lalu berbalik dan duduk di tepian danau menyembunyikan wajah di antara lututnya yang ditekuk.


Malunya bertumpuk-tumpuk. BH hitam yang dikenakannya terlihat kontras dengan kaos warna putihnya. Ingin rasanya wanita itu menangis. Ah bukan ingin, tapi matanya sudah memerah.


Arjuna meletakkan kaosnya di atas kursi kayu yang ada di sana. Panas matahari yang menyengat berharap bisa mengeringkannya. Ia lalu mengeksekusi ikan tangkapannya yang tinggal seekor.


Lima belas menit berlalu, Ziya masih menenggelamkan wajahnya. Ia bergeming, sama sekali tak mengubah posisinya.


"Tadaaa ...." Arjuna menyodorkan ikan bakar di atas piring plastik yang dibawanya tadi. Ziya masih tidak mau mengangkat kepalanya.


"Zi? Kamu marah?" tanya Juna masih menggantungkan tangannya. Ziya hanya menggelengkan kepala. "Terus? Ini udah jadi ikan bakarnya," sambung Arjuna lagi.


"Yaudah, aku makan sendiri nih." Juna duduk di samping Ziya, mulai mencubit sedikit daging ikan yang masih hangat itu, dan memakannya. "Wah, mantep banget rasanya. Emang beda ya rasanya, ikan yang baru nangkep sama ikan beku. Kamu lepas satu sih, 'kan sayang."

__ADS_1


Ziya mulai tergoda, aroma ikan bakar sudah menyeruak di hidungnya. Kepalanya mulai terangkat, menarik piring yang dipegang Juna. "Pakai baju sana! Risih tau liatnya," ujar Ziya tanpa menoleh. Ia fokus pada santapan di depannya.


Juna segera beranjak, kembali mengenakan kaosnya yang sudah mengering. Ziya pun makan dengan lahap. Sewaktu kembali ke sisi Ziya, Juna melongo.


"Ya ampun, Zi. Aku yang nangkep, yang masak, baru makan satu cubitan sekarang tinggal kepala sama duri doang?" Arjuna mengambil dan mengayunkan hasil jerih payahnya dengan tatapan sendu.


"Ya maap. Enak sih," celetuk Ziya terkekeh seolah tanpa dosa mengecap jari-jarinya.


"Iyalah enak. Tinggal makan doang!" gerutu Arjuna kesal.


Ziya menoleh, lalu memamerkan deretan giginya. "Aku traktir deh. Yuk cari makan. Etapi bentar deh. Belum kering semua nih."


"Ya, biar tu BH enggak ...."


Ziya segera menyekap mulut Arjuna. Menoleh sekitar masih lumayan lah beberapa orang berlalu lalang. Wajah yang teramat dekat, saling bertukar pandang membuat Ziya terhanyut. Bola matanya mengarah kiri dan kanan bergantian. Ia merasakan debaran jantung yang sangat keras.


"Ehm! Jangan diperjelas. Bikin malu!" ancam Ziya mendelik tajam setelah berdehem menenangkan diri.


"Warna hitam yang sexy," goda Juna menaik turunkan alisnya sembari menarik kedua sudut bibirnya. Hingga kedua lesung pipi pria itu terlihat jelas.


"Weii! Udah dong ah!" Ziya memukul bahu Juna sambil mencebikkan bibir.


Dirabanya pakaian Ziya yang sudah mengering. Ia pun mengembalikan jaket Juna sambil berdiri. "Ayo, Kak. Udah kering nih. Kita cari makan, laper banget," ajak Ziya.


"Lah, ikan sepiring dihabisin masih bilang laper. Apa kabar aku?" gerutunya pelan namun masih didengar Ziya.



"Hehe! Maaf. Dahlah ayo aku traktir," ajak Ziya tertawa menatap Arjuna.


"Dasar Kang Makan! Zi, warna item sexy," goda Juna lagi sambil mengacak rambut Ziya lalu berlari meninggalkannya.


"Arjuna!" pekik Ziya marah dengan wajah memerah. "Padahal tadi sudah lupa. Tapi diingetin mulu!"


Juna segera membereskan perlengkapan yang tadi dibawanya. Memasukkan kembali ke dalam tas ransel dan bergegas meninggalkan danau sebelum Ziya semakin murka.


Tak lama berkendara, Ziya meminta berhenti di sebuah kafe. Yang mana, di kafe tersebut diperbolehkan meracik kopi sendiri. Masih kesal sih, tapi mau gimana lagi. Rencananya makan dulu baru marah lagi.

__ADS_1


Sambutan hangat dari pelayan kafe, lalu dipersilahkan meracik kopi sendiri dengan didampingi barista handal. Juna lalu mengenakan apron dan memilih kopi yang ia inginkan. Sedangkan Ziya mencari tempat duduk, memesan makanan terlebih dahulu.


Percobaan pertama langsung jadi. Juna tersenyum puas menatap hasil karyanya. "Zi, lu mau juga enggak?" tanya Juna menatap Ziya yang menyandarkan kepalanya di meja.



Tangannya melambai, bermaksud menolak tawaran Juna. Pria itu segera melepas apron dan menghampiri Ziya.


"Liat nih, keren banget, Zi. Kok sayang mau diminum," ucapnya menatap cangkirnya lamat-lamat setelah duduk berhadapan dengan Ziya.


"Yaudah bawa pulang sono. Laminting sekalian, terus cantolin pintu kamar buat kenang-kenangan," desah Ziya masih malas mengangkat kepala.


"Kenapa sih sensi amat? Dateng bulan ya?" ucap Juna berbisik mendekatkan kepalanya. Sontak Ziya pun memundurkan tubuhnya.


Mau membalas, tapi makanan mereka sudah keburu datang. Jadilah Ziya lebih memilih makan.


Setelah makan mereka memutuskan untuk pulang. Sepanjang jalan mereka tak saling bertegur sapa maupun berbicara. Sesampainya di rumah, ternyata Rio tidak berangkat bekerja.


Mendengar deru mesin motor berhenti di depan rumah, Rio bergegas turun dari kamarnya. Hari sudah menjelang sore. Ziya buru-buru melangkah masuk menuju kamarnya.


Saat Arjuna hendak masuk, lengannya ditahan oleh Rio. Tatapan keduanya saling beradu. Satu tatapan sendu milik Rio, satu lagi tatapan tajam milik Juna.


"Ikut aku. Ada hal penting yang harus kamu tahu," ucap Rio tepat di telinga Juna. Rio melangkah ke belakang rumah. Diikuti oleh Juna.


"Sebelumnya aku mau peringatin. Jangan pernah kamu permainin Ziya," ucap Rio setelah duduk di kursi taman belakang rumah.


"Ck! Cuma mau bilang gini doang? Kirain apaan," cebik Juna memutar bola matanya malas.


"Mungkin bagi kamu memang enggak penting. Tapi penting banget bagiku dan Ziya. Jangan sangkut pautkan Ziya dengan masalah kita!" tegas Rio mengangkat telunjuknya di depan wajah tampan Arjuna.


Rio takut jika adik perempuannya menjadi sasaran empuk kemarahan Juna, setelah pengakuan Meysa.


"Hahaha! Ya. Kalau emang gue permainin adek lo, mau apa? Cukup setimpal 'kan dengan sakit hati gue!" seru Arjuna tertawa.


"BUGH!" Rio menghantam perut Juna dengan tendangan kaki sampai membuatnya tersungkur di lantai.


Bersamaan dengan suara pecahan gelas yang menggelegar di ambang pintu.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2