Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Solusi


__ADS_3

BUGH


Sebuah tinju tepat mengenai wajah Rio kala ia lengah memperhatikan adiknya. Rio menyentuh sebelah pipinya, hantaman yang teramat keras menyebabkan salah satu gigi gerahamnya copot. Air liurnya berubah menjadi merah.


"STOP!" teriak Ziya berdiri sempoyongan, lalu mendorong Arjuna.


Ekor mata Juna beralih pada Ziya. Matanya membelalak, kedua tangannya menangkup pipi Ziya dengan penuh rasa bersalah.


"Zi, astaga! Maaf Zi." Ibu jari Juna menyapu darah yang mengalir di sudut bibir Ziya membuat perempuan itu mendesis pelan. Pipinya sedikit bengkak karena hantaman keras lengan Juna tadi. Meysa hanya menatapnya nanar.


Ziya menampik kedua tangan Arjuna. "Udah, aku enggak apa-apa." Tatapannya mengedar, pada kakaknya.


"Kak Rio, Kak Mey, tolong pergi dulu. Dinginkan pikiran kalian. Pikirkan juga hati ibu. Coba bayangkan bagaimana reaksi beliau kalau melihat sifat kekanakan kalian? Pergilah, silahkan instropeksi diri dulu. Baru ambil keputusan, tapi enggak usah pake otot. Pake hati dan otak masing-masing!" cerocos Ziya menatap tajam ketiganya.


Ada benarnya juga ucapan Ziya. Rio mengangguk, hendak mengecek keadaan Ziya tapi disergahnya. Gadis itu meyakinkannya, kalau ia baik-baik saja. Rio bergegas menarik lengan Meysa dan mengajaknya pergi lagi. Juna melihat kepergian mereka dengan tatapan nyalang mengepalkan kedua tangannya. Urat-urat ototnya menyembul keluar.


"Kita juga pergi. Sini kunci, Kakak!" pinta Ziya menengadahkan tangan.


Juna mengernyitkan keningnya. "Kamu bisa naik motorku?" tanyanya meragu. Motor vixion yang dibelinya 3 tahun yang lalu, dengan warna hitam secara keseluruhan, terlalu besar untuk ukuran tubuh Ziya yang mungil. Deru napasnya mulai normal kembali. Meski hatinya masih acakadul, tapi ia berusaha keras menahan emosinya agar tidak membludak.


"Jangan salah, Farid selalu ngajarin aku tiap enggak ada penumpang dulu. Udah enggak usah khawatir. Siniin!" paksa Ziya memeriksa kantong celana Arjuna.


"Wait! Enggak pake raba-raba juga!" gerutu Arjuna memundurkan langkah.


"Ya makanya sini kuncinya," paksa Ziya lagi.


"Tapi luka kamu ...."


"Yang luka muka aku, bukan tangan atau kaki. Makanya jangan emosi yang diduluin," tukas Ziya menyambar kunci dari genggaman Arjuna.


Ia bergegas mengeluarkan motor Juna dan mulai menyalakan mesinnya. Diserahkannya helm full face pada pemiliknya. Sedangkan ia mengenakan helm half face dengan warna senada dengan motor yang dikendarainya.


"Buruan!" ajak Ziya menoleh ke belakang, menatap Arjuna yang masih bergeming.


"Lu yakin, Zi? Nyawaku satu doang. Biarpun lagi sakit hati, aku mah masih pengen hidup," celetuk Arjuna meragu.


"Tinggal nih?" lirik Ziya tajam dengan ekor matanya.

__ADS_1


Mau tak mau, Arjuna pun naik ke jok penumpang. Dalam hati ia terus berdoa agar diberi keselamatan.


"Berat banget sih, Kak. Kebanyakan dosa nih keknya," celetuk Ziya pelan namun masih dapat didengar Arjuna.


Tak terima dengan perkataan Ziya, Arjuna hendak memaki dan menurunkan kaki kanannya ingin memaksa Ziya turun. Namun belum turun sempurna Ziya sudah menarik gas menjalankan motornya.


"Woi! Kalem, Zi!" teriak Arjuna hampir kejengkang ke belakang. Dua tangannya mencengkeram erat pundak Ziya. Gadis itu cekikikan, melihat wajah panik penumpangnya dari pantulan spion.


"Makanya diem aja udah. Nurut sama baginda ratu titisan Nyi Roro Kidul," seloroh Ziya disertai tawa. Beberapa detik kemudian mendesis kesakitan, merasakan nyeri di sudut bibirnya. Balasan Arjuna hanya berdecak malas. Ia pun pasrah mau dibawa ke mana pada akhirnya.


Di bawah terik mentari yang menyengat, keduanya menikmati pacuan kuda besi yang membelah padatnya jalan raya siang itu. Ziya mengendarainya dengan kecepatan sedang. Kendatipun demikian, tetap saja Arjuna masih was-was. Ini kali pertama ia menjadi penumpang seorang wanita.


Helaan napas kelegaan berembus dari hidung dan mulut Arjuna, ketika mereka berhenti di depan sebuah apotik. Arjuna cepat-cepat turun, disusul Ziya tanpa melepas helmnya setelah mematikan mesin motor.


"Tunggu bentar," ucap Ziya berlari masuk.


Tak berapa lama, Ziya kembali menenteng kantong plastik bermerk nama apotik tersebut.


"Mundur, Kak!" seru Ziya setelah sampai di parkiran menemukan Arjuna sudah bersiap di posisi depan.


"Yakin bakal selamat? Awas aja kalau enggak fokus gegara masih mikirin tadi," cebik Ziya mengalihkan tatapan ke samping sembari memicingkan mata.


"Berisik! Cepat naik! Tinggal nih?" ancam Arjuna menyalakan mesin.


"Jangan dong!" Cepat-cepat Ziya naik ke jok belakang. "Berangkat!" seru Ziya bersemangat.


Sesuai petunjuk jalan Ziya, mereka sampai di pantai berpasir putih. Suasana sepi, karena memang matahari sedang berada tepat di atas kepala.


Buru-buru Ziya turun melepas helm juga sepatunya. Berlari ke tepian pantai yang penuh bebatuan besar itu.


"Aaaaaaaa!" teriak Ziya menggelegar membuang rasa sesak di dada yang sedari tadi ditahannya.


Arjuna memperhatikan tingkah Ziya, seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia turut menjajakkan kaki di atas pasir putih itu. Mengikuti apa yang dilakukan Ziya.


Arjuna sedikit membungkuk, mengambil pecahan karang di tepian pantai, melemparkan ke tengah laut sekuat tenaganya. "Meysa Adrina! Gue benci sama lo! Benci sebenci-bencinya!" teriak Arjuna melepas semua rasa kecewanya.


Ziya terpaku, ia menunduk melihat kedua kakinya yang sesekali ditabrak ombak. Sama sekali tak menyangka, bahwa orang yang selama ini dicari oleh Arjuna adalah Meysa. Perempuan yang lumayan dekat juga dengan keluarganya.

__ADS_1


Apa benar Kak Meysa sama Kak Rio punya hubungan? gumam Ziya dalam hati.


Arjuna terus memaki, berteriak melampiaskan amarahnya. Ziya hanya tersenyum miris, ia lalu duduk di atas batu yang sangat besar di hadapannya.


Setelah merasa lebih baik, Juna turut mendudukkan tubuhnya di samping Ziya. Napasnya terengah-engah. Ziya lalu mengulurkan air mineral yang sempat dibelinya di apotik tadi.


"Nih, minum dulu," ujarnya menoleh pada pria di sampingnya.


Segera dibuka segelnya setelah Juna menerima, lalu meneguknya hingga tandas.


"Hei, kamu orang apa onta? Sebotol langsung abis," gerutu Ziya merebut botol yang ternyata udah kosong.


"Thanks ya, Zi. Plong banget ni dada rasanya," ucapnya tak mengindahkan pertanyaan Ziya.


"Sini aku obatin lukamu," pinta Ziya menangkup kedua pipi Juna menghadapkan ke arahnya.


Desiran-desiran halus di seluruh tubuhnya, kala manik mereka saling bersitatap. Mata teduh Arjuna yang menyiratkan rasa sakit.


"Jadi ngobatin, enggak?" gumam Arjuna membuyarkan lamunan Ziya.


"Eh, iya, maaf." Ziya salah tingkah dibuatnya. Entah ke sekian kalinya ia terpergok menatap lamat-lamat wajah tampan Arjuna.


Ziya mulai mengobati luka-luka di wajah Arjuna dengan telaten, meski harus berusaha keras menguasai tubuhnya yang gemetaran berdekatan selama itu dengan pria tampan.


Bodoh! gerutu Ziya dalam hati merutuki dirinya sendiri.


"Kak, aku enggak nyangka ternyata orang yang selama ini kamu cari adalah Meysa," gumam Ziya sembari mengobati wajah Arjuna.


"Kamu kenal udah lama?" tanya Arjuna yang penasaran sejauh mana hubungan mereka.


"Belum sih. Baru beberapa bulan lalu. Tapi sebenarnya aku enggak yakin deh mereka memiliki hubungan khusus," timpal Ziya lagi menurunkan lengannya dan membereskan obat-obatan ke dalam kantong plastik lagi.


Arjuna masih menatap Ziya yang sudah mengalihkan pandangan ke samudra luas di depannya.


Bersambung~


terima kasih banyak yang masih terus baca dan ninggalin jejaknya😘

__ADS_1


__ADS_2