Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
One step closer (2)


__ADS_3

Lagu yang berjudul a thousand years mulai mengalun indah diikuti gerakan lambaian tangan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dan dari hadapannya, Ziya menangkap sesosok laki-laki tinggi, mengenakan pakaian senada dengannya. Semuanya serba putih.


Pria itu melebarkan senyumnya, memamerkan deretan gigi putihnya, hingga kedua lesung pipinya tercetak jelas sembari berjalan semakin mendekati Ziya. Mengikis jarak di antara mereka berdua.


Antara terkejut, bahagia, terharu bercampur aduk di hati Ziya. Tangannya mulai gemetar, hampir saja menumpahkan air matanya namun ditahan, malu banyak orang yang melihatnya. Akhirnya, ia tak kuasa menarik kedua sudut bibirnya, membalas senyuman pria yang selama ini ia rindukan.


Pria yang mengobrak abrik hati dan pikirannya selama ini. Pria yang ia pikir telah dinikahkan dengan wanita lain hanya karena asumsinya sendiri.


Tapi ternyata, semua pemikirannya telah dipatahkan. Juna berlutut di depan Ziya mengeluarkan kotak yang ada di sakunya. Sebuah cincin bermata berlian yang pernah dibuang oleh Ziya, kini berkilau di matanya.


"Ziya, kamu adalah alasanku tersenyum. Kamu adalah semangatku mencapai kesuksesan. Segala yang kulakukan adalah tentang kamu. Jangan buat aku hancur dengan menolakku malam ini. Jadilah istriku. Jadilah matahari di dalam rumahku selamanya," ucap Juna lantang menatap kedua manik bulat Ziya.


Ziya mencengkeram erat buket bunga di tangannya sembari menggigit bibir bawahnya. Jangan tanyakan bagaimana dengan denyut jantungnya. Degubannya semakin tak beraturan.


"Kebanyakan orang berkata bahwa obat jatuh cinta adalah menikah. Dan sekarang aku sedang jatuh cinta. Kamu mau 'kan menjadi obat jatuh cinta ku ini?" lanjut Juna lagi masih dengan posisinya.


Ziya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tangannya mengulur dan dengan segera Juna memakaikan cincin itu di jari manisnya. Matanya berkaca-kaca, tenggorokannya tercekat tidak bisa sekedar mengucapkan kata iya.


Akhirnya impiannya terwujud. Memberikan momen engagement yang terbaik untuk Ziya. Yang tentunya, tidak akan bisa ia lupakan seumur hidup mereka. Belajar dari kegagalan dan penolakan dari sebelumnya.


"Yeeeeaaaayyy!!!" sorak soraki semua orang yang hadir di tempat itu. Tepuk tangan dan jeritan bahagia menggaung saat itu juga.


"Woy! Juned sold out!" teriak Dika paling heboh sambil melompat kegirangan.


Juna berdiri dan memeluknya dengan erat. Ziya akhirnya tidak mampu menahan air matanya. Ia menumpahkannya di pelukan Arjuna. Kelopak mawar mulai berhamburan di atas kepala mereka. Semua berteriak bahagia atas suksesnya lamaran yang entah ke berapa ini.


"Mereka cocok ya. Semoga Ziya bahagia selalu," ucap Rio menopangkan sikunya di bahu Lily.


"Hmm ... iya. Aku seneng liat Ziya seneng gitu." Lily terus menatap ke depan.


"Ziya!" teriak beberapa pria membuatnya mengendurkan pelukannya.


Ziya mengedarkan pandangannya. Ia melihat satu per satu orang yang berdiri di sana. Baru sadar jika di sana ada Dika, Papa Andreas, Ibu Resi, Lily, Rio, Reza dan istrinya, Gandhi bersama keluarganya serta beberapa rekan Arjuna lainnya.


Ziya tak pernah menyangka akan mengalami hal seindah ini. Pandangannya kembali pada Arjuna, pria itu masih setia menatapnya penuh cinta. Lalu mengulurkan jemarinya, menyeka air mata yang berjatuhan di kedua pipi Ziya.


"Terima kasih, Kak," ucapnya di tengah isakannya. "I love you," ujarnya malu-malu.


"Love you more, Sayang," jawab Juna kembali mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aaahh sosweet banget." Chaca berkomentar.


"I love you, Sayang," bisik Gandhi merengkuh pinggang istrinya dan memberikan kecupan di pelipisnya. Cinta keduanya yang tak pernah pudar meski berbagai ujian dan cobaan menerjang mereka.


"Dulu, aku juga romantis 'kan waktu lamar kamu?" tanya Gandhi.


Chaca memutar tubuhnya, sedikit mendongak menatap mata suaminya. "Iih romantis apaan, orang ngelamarnya di rumah sakit," cebik Chaca mengerucutkan bibirnya.


"Mau diulang lagi kayak gitu?" goda Gandhi menopangkan dagu di bahu Chaca.


"Iih apaan sih? Udah tua kita, Mas. Enggak usah aneh-aneh deh. Tuh nanti diketawain twins," elak Chaca tertawa menepuk sebelah pipi suaminya.


"Biarpun udah tua, cintaku tetap sama seperti dulu. Nggak akan pernah berubah sampai kapan pun. Hanya saja sekarang harus terbagi."


Chaca mendelik, ia menyiku perut Gandhi dengan keras. "Berani ya?" serunya disertai pelototan tajam.


"Awwh! Ya harus dibagi untuk anak-anak kita dong, Sayang," ringis Gandhi menekan perutnya.


Chaca merasa bersalah, ia menghadap suaminya dan mengecup pipinya. "Makasih, Mas. Maaf ya, hehee... I love you," ucapnya merasa bersalah.


"Ziya! Kita kapan acara makannya!" teriakan yang sama seperti sebelumnya.


"Kalian di sini juga?" seru Ziya setelah menoleh sumber suara.


"Iyalah, kita-kita nih yang bantuin bikin surprise, calon laki lo nggak ngotak minta ini itu dalam waktu satu 2 jam aja," dengus Wahyu dengan kesal.


Juna hanya tertawa mendengarnya. Lalu mengangkat lengan kirinya, "Thanks, Bro. Ayo makan sepuasnya," seru Juna.


Resto itu telah dibooking oleh Arjuna beberapa hari yang lalu. Sehingga hanya tamu undangan yang hadir. Namun baru menyiapkan konsep dadakan beberapa jam yang lalu. Dan ia mengumpulkan catuda squad untuk merepotkannya menyiapkan seluruh acara agar dibuat seromantis mungkin.


"Asyiikk. Udah laper dari tadi tahu!" seru kelima sohib Ziya dengan kompak.


Dan makan malam pun telah tersedia dengan lengkap di setiap meja pada semua gazebo restoran out door itu. Juna menggandeng tangan Ziya menuju sebuah gazebo yang sudah ada keluarganya.


Ibu Resi, Papa Andreas, juga kedua kakak Ziya sudah duduk di sana. Ziya langsung menghambur ke pelukan sang ibu.


"Putri kecil ibu sudah makin dewasa. Sebentar lagi, tanggung jawab ibu sudah selesai," ucap Ibu Resi membelai puncak kepala Ziya.


"Ziya nggak mau jauh dari ibu nantinya," bisik Ziya.

__ADS_1


"Kita makan malam saja dulu, nanti kita lanjut untuk pembahasan selanjutnya." Suara Papa Andreas menginterupsi.


Ziya melepas pelukannya, menghapus air mata dan duduk dengan tegak. "Maaf, Om," ujar Ziya menunduk. Takut jika calon mertuanya itu marah.


"Kamu mirip sekali dengan ibumu. Selalu menunduk dan takut sama saya. Padahal saya mah emang begini orangnya, haha!" ujar Andreas meraih coffe late lalu menyesapnya.


Ziya mengerutkan keningnya, "Om kenal sama ibu?" tanya Ziya lebih santai.


"Tentu saja. Ibumu 'kan mantan terindah saya. Makanya saya sempat terkejut pertama lihat kamu. Wajahmu langsung mengingatkanku pada Resi," jelas Papa Andreas lagi.


Ziya terperangah, ia beralih menatap Arjuna yang tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Hah?" Rasanya masih sulit dipercaya.


"Dunia sangat sempit," gumam Ziya.


"Ahahaa! Jodoh enggak akan salah alamat. Selama setahun saya jagain jodoh orang. Kita jodohnya jadi besan ya, Res," ucap Papa Andreas lagi.


"Iya, Mas," sahut Ibu Resi tersenyum.


"Sudah, sudah. Ayo kita makan biar cepet istirahat. Supaya besok lancar acaranya dan nggak terlalu capek," sambung Papa Andreas meraih piringnya.


"Memang besok acara apa, Om?"


"Pah?" Juna mendelik, menyenggol kaki papanya.


"Lho kamu enggak tahu? Besok 'kan acara pernikahan kalian?"


"Apa?" pekik Ziya membelalakkan mata.


"Papah!" seru Juna mendelik. Pasalnya ia ingin memberi kejutan pada Ziya.


Bersambung~


Ilustrasi lamarannya di sini ... mampir cobaa 😄😄 iseng sih..wkekwk



Eheheheee... dah lega kan? enggak gantung..wkwkwk


besok mgkn chapt terakhir yaa..

__ADS_1


Dan untuk Khansa~Leon up nya seminggu sekali tapi langsung 10 bab. ini lagi proses typing. Ditunggu ya, semoga jemariku makin lentur biar makin lancar ngetiknya 🤣🤣


__ADS_2