
Langkah Ziya terhenti, memutar tubuh menatap sang pemilik suara. "Kak Rio. Mau ngapain?" tanya Ziya.
"Jenguk Meysa. Udah sadar katanya," balas Rio dengan santai.
Ziya mendengkus, ia berjalan mendekat lalu menggamit lengan pria itu. "Nggak usah deh. Pulang yuk, Kak," ajak Ziya menarik Rio.
"Kakak mau lihat Meysa dulu," serah Rio menepis tangan Ziya. Perempuan itu semakin mengeratkan lilitan tangannya.
"Nggak usah. Dia udah ada pawangnya. Ayolah, Kak. Nanti dicariin ibu. Udah malem ini," rengek Ziya menghentakkan kakinya. Masih tidak mau melepaskan tangannya.
Rio pun tak tahan dengan rengekan adik kecilnya itu. "Iya, iya. Lah motor kamu mana?" tanyanya sambil melangkah kembali ke parkiran.
'Mampus! Motorku di mana ya?' gumam Ziya dalam hati.
"Zi?" seru Rio lagi setelah lama tidak mendengarkan sahutan dari adiknya itu.
"Emm... itu, di rumah temen. Iya, di rumah temen," jawab Ziya terbata.
Rio mengernyitkan keningnya. Tentu saja itu menaruh curiga. Matanya memicing, mengamati Ziya dengan seksama. "Itu baju siapa yang kamu pake?" tanya Rio membuka kunci mobil. Karena jaraknya sudah dekat.
__ADS_1
"Baju temen aku, Kak," sahut Ziya memasuki mobil sang kakak.
Rio pun mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi. Mengenakan sabuk pengaman dan mulai melakukan mobilnya perlahan.
"Siapa? Perasaan temenmu laki semua," seru Rio tidak percaya.
"Namanya Lily. Entar kapan-kapan aku kenalin. Dahlah! Kakak nanya mulu kek dora," gerutu Ziya dengan kesal. Ia membuang pandangannya keluar jendela. Sedang Rio hanya mencebikkan bibirnya.
Perjalanan mereka terasa sunyi. Tidak biasanya Ziya diam seperti itu. "Kamu kenapa sih? PMS? Biasanya juga nyerocos mulu." Rio masih fokus menatap jalan.
"Ck! Bisa diem nggak sih? Bikin makin badmood aja," seru Ziya disertai tatapan tajam.
Sampai di rumah, Ziya hanya menyalami sang ibu yang ada di ruang tengah langsung masuk ke kamarnya.
"Kamu apain adekmu, Yo?" tanya ibu lembut ketika Rio mencium punggung tangannya.
"Rio nggak ngapa-ngapain, Bu. Mungkin lagi PMS," sahut pria itu santai.
"La kamu kok udah balik? Katanya mau jenguk Meysa?"
__ADS_1
"Enggak jadi, Bu. Itu anak bontot maksa balik. Yaudah Rio ke kamar ya, Bu. Besok harus berangkat pagi. Ada meeting," sambung Rio berpamitan ke kamarnya.
Di dalam ruangan bernuansa serba putih, Ziya melempar tubuhnya di atas ranjangnya hingga terpental beberapa kali. Tubuhnya telungkup, wajahnya pun terbenam dengan sempurna di bantal.
Otaknya sedang bekerja keras memutar kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya. Jantungnya kembali berdegub kencang kala mengingat ciuman pertama yang dicuri oleh Arjuna.
Kedua kakinya terus bergerak-gerak sambil berteriak. Namun suaranya masih tertahan bantal.
"Gini amat ya rasanya. Dadaku sampe sakit banget. Ya Allah, jangan biarkan hamba mencintai manusia melebihi cintaku padaMu," gumamnya menghela napas panjang.
Teringat belum menunaikan salat isya' gadis itu pun segera beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menunaikan salat.
Kedua tangannya terangkat, air matanya kembali menetes. Dalam doa ia terus beristigfar, menangis, ingin sekali menolak perasaan yang bersemayam di hatinya.
"Ya Allah, jika Kak Juna memang yang Kau tulis dalam takdirku, dekatkanlah kami. Namun jika bukan jodohku, jodohkanlah kami. Karena hanya Engkau Sang Maha pemilik hati yang sesungguhnya," ratapnya dalam hati dengan tubuh yang gemetar, tak lupa jantung yang berdenyut nyeri setiap mengucap nama Arjuna. Air mata tak luput dari kedua netra bulatnya.
Dering ponsel menghentikan sesi curhatnya dengan Sang Pencipta. Ia mengakhiri doanya lalu melipat mukena. Menyeka sisa-sisa air matanya juga ingusnya. Barulah mengangkat panggilan tersebut.
Bersambung~
__ADS_1
bambang Jun dihujat mulu.. wkwkwkwk.