Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Perih


__ADS_3

Wajah pucat, dengan masih ditempeli berbagai alat penunjang hidup, kini berusaha merekahkan senyumannya kala melihat Arjuna semakin dekat.


Beberapa orang memilih untuk keluar dari ruang rawat Meysa. Memberikan ruang dan waktu bagi mereka berdua.  Tidak dengan Ziya, yang memilih untuk tetap tinggal. Meski ia tahu sewaktu-waktu akan terluka.


"Juna," lirih Meysa. "Maafin aku," sambungnya nyaris tak terdengar. Suaranya begitu lemah namun mampu menusuk pendengaran bahkan sampai ke hati Juna.


"A--aku yang harusnya minta maaf," ujar Arjuna berkaca-kaca.


Rasa bersalahnya membumbung tinggi. Kala teringat dengan apa yang baru saja dilakukannya. Ia sudah mengkhianati cinta mereka berdua yang telah lama dirajut.


Juna sendiri tidak tahu, sejak kapan dia mampu berpaling. Padahal selama mereka berhubungan, tidak sedikitpun tertarik dengan wanita lain. Entah kenapa, ia merasakan gelombang dahsyat di hatinya kala bersama Ziya.


Perempuan yang menggetarkan hatinya melalui ayat-ayat suci Al-Qur'an yang pernah didengarnya. Perempuan yang menyadarkannya untuk berubah menjadi lebih baik, perempuan yang mampu mengingatkannya untuk bersyukur dan ikhlas.


"Maafin aku, Mey," ucapnya lagi menitikkan air mata. Tangannya menggenggam jemari lemah dan kurus milik Meysa. Ziya masih berdiri mematung. Menjadi penonton pertemuan Juna dan Meysa.

__ADS_1


Hati Ziya terasa tercubit. Tenggorokannya tercekat. Matanya menatap nanar pada genggaman tangan itu. Tangan lebar pria yang baru saja menggenggamnya. Kini beralih menghangatkan tangan wanita lain.


Air mata Meysa meleleh. Terjatuh melalui kedua pelipisnya. "Aku, hanya tidak mau kamu terluka saat kehilanganku nanti. Tapi ternyata, mama bilang kamu sudah tahu semuanya." Meysa menghela napas panjang.


"Karena itu aku ingin minta maaf secara langsung. Agar sewaktu-waktu Tuhan memanggil, aku sudah merasa tenang." Meysa menatap dengan skor matanya.


Ziya memilih mundur beberapa langkah dengan pelan. Agar tak menimbulkan suara. Ia tak sanggup jika mendengar kilas balik kisah mereka. Sedangkan Juna masih terdiam, kepalanya merunduk diikuti beberapa tetes bulir bening dari matanya.


"Juna." Napas Meysa tersengal. Bibir pucat nya bergetar.


Meysa merasa hubungan mereka hambar. Bahkan Juna sudah tidak memanggilnya 'sayang' seperti dulu. Ia tersenyum getir, meski ada setitik kelegaan dalam hatinya. Setidaknya, pria itu tidak akan terlalu sakit jika sewaktu-waktu ia pergi selamanya.


"Maukah kamu menemaniku?" tanya Meysa lemah menatap dengan ekor matanya.


"Iya, tidurlah. Aku akan menemanimu." Juna mengangguk dengan menarik kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


Selang beberapa menit, Meysa memejamkan matanya. Menikmati rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.


Juna memutar tubuhnya. Matanya mengelilingi mencari keberadaan Ziya. Hatinya bergemuruh, ia takut Ziya kembali marah dengannya. Ia takut gadis itu menjauhinya. Namun saat ini, ia juga tidak bisa meninggalkan Meysa begitu saja.


"Tante, Om, semuanya, saya permisi dulu ya. Semoga Kak Meysa cepet sembuh," ucap Ziya memaksa menarik kedua sudut bibirnya. Ia menyalami satu per satu keluarga Meysa.


"Oh iya, Nak. Terima kasih ya, hati-hati," sahut Mama Indah.


Ziya membungkuk lalu memutar tubuhnya dan melangkah menjauh. Langkahnya pelan, pikirannya pun kosong.


Kedua tangannya mengibas-ngibaskan matanya  yang terasa perih. Ia pun berulang kali mengembuskan napas beratnya. Meski masih tak mampu mengurangi sesak di dadanya.


"Ziya!" panggil seseorang yang tak asing baginya saat sampai di pelataran rumah sakit.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2