Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Tegas!


__ADS_3

Perlahan, tangan Ziya terulur meraih benda kecil itu. Indah, menarik mata dan hatinya. Kedua sudut bibirnya pun ditarik ke atas membentuk senyuman.


Berhasil, ibu jari dan telunjuknya mengapit cincin berwarna putih itu. Tentu saja membuat Arjuna berbinar tak percaya. Teman-temannya bahkan menahan napas melihatnya.


Sampai, benda kecil itu berhasil diraih. Ditatapnya dengan mata sendu. Detik berikutnya, Ziya beranjak berdiri. Melirik Juna dengan ekor matanya yang sudah tertawa lebar.


Namun detik berikutnya, senyum di bibir Ziya memudar. Tatapannya berubah tajam. Ia memutar tubuh lalu melempar cincin itu di tengah kolam air mancur tak jauh dari tempatnya berpijak.


"Ziyaaaa!" pekik teman-temannya tak percaya.


"Apa?" sahutnya santai memutar bola mata malas.


Arjuna terkesiap, mulutnya masih menganga dengan pandangan mengarah pada kolam di tengah taman itu. Denyut jantungnya berubah nyeri. Ia bahkan masih bergeming dalam keterkejutan. Ziya kembali menatap Arjuna, pandangannya menunduk. Pria itu masih duduk tak bergerak sedikit pun.


"Kakak pikir aku percaya gitu aja? Saya butuh bukti bukan cuma tawaran menggiurkan yang membuatku melambung tinggi terus dihempasin gitu aja sewaktu-waktu! Maaf, aku memang bukan pendendam. Tapi setiap hal yang menyakitiku, selalu terekam di memori otakku. Tidak bisa terhapus begitu saja meski terpapar banyak virus!" tukas Ziya mengangkat jari telunjuknya mengarah tepat di depan Arjuna.


Begitu selesai berucap, Ziya berlari ke arah teman-temannya. Menyerahkan beberapa lembar uang ke tangan Wahyu. "Sorry, aku cabut dulu. Ini sesuai janjiku buat kalian makan sepuasnya," ucapnya berusaha menekan amarah. Napasnya tak beraturan.


"Zi, lu yakin? Tega banget sih," ucap Lily memelas merasa kasihan dengan Arjuna.

__ADS_1


Teringat tadi bagaimana paniknya Arjuna menanyakan keberadaan Ziya. Bahkan sampai marah-marah minta segera melacak keberadaan gadis itu.


Flashback


Juna teringat dengan Lily yang pernah menyadap ponsel Ziya. Buru-buru ia menelpon teman Ziya itu. Padahal Lily baru tidur satu jam yang lalu.


"Hemm..." Lily bergumam masih memejamkan mata.


"Kamu di mana, Ly? Jemput aku sekarang juga. Aku kirim alamatnya! Nggak pake lama!" teriak Arjuna mematikan sambungan telepon sepihak. Sebelum mendengar jawaban dari seberang.


Lily berusaha mengumpulkan kesadarannya. Mengucek mata yang masih terasa pedih melihat sang penelpon.


Tak lama sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Disambung pesan yang terkesan memaksa.


"Enggak usah mandi. Ini darurat! Please, nyangkut masa depan aku,"


"Eh seriusan ni anak? Ada apa ya?" gumam Lily beranjak dari kasur. Bergegas ke kamar mandi sekedar mencuci muka dan menggosok gigi.


Terbiasa cekatan, tak butuh waktu lama ia telah sampai di tempat Arjuna berpijak. Keningnya berkerut dalam saat menghampirinya. Karena jelas tampak pria itu gundah gulana.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Lily saat sampai di hadapannya.


"Kamu pasang GPS di HPnya Ziya 'kan?" Lily mengangguk tanpa bersuara.


"Ayo cepat! Antarkan aku padanya sekarang juga. Mana kunci mobil?" Setengah berlari Arjuna mengarah ke parkiran.


Bukan hal yang sulit bagi Lily untuk menyamakan langkahnya. Meski tak mengerti, ia melakukan apa yang Juna minta. Hingga Lily menemukan sebuah titik dimana Ziya berada.


"Ada masalah apa sih? Keknya serius banget," tanya Lily menatap Juna yang tampak tidak baik-baik saja.


Dengan kegusaran, Juna menceritakan singkatnya kejadian pagi tadi yang membuat Ziya salah paham dan berlalu pergi. Sungguh, Lily merasa iba melihat ketakutan dan kegundahan pria itu.


"Kamu tenang aja, Ziya pasti ngerti kok." Lily bahkan tak tahu bagaimana menenangkan pria itu.


Hingga tak terasa, mereka sampai di taman. Mereka mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ziya. Hingga matanya menangkap sosok gadis yang memainkan ponsel sambil menyuapkan makanan duduk di sebuah bangku panjang.


Arjuna membuang napas kasar berkali-kali. Membeli air mineral di pedagang kaki lima, memeneguk hampir setengahnya. Setelah lebih tenang, ia menghampiri Ziya. Sedangkan Lily bergabung dengan kelima sahabat Ziya yang sudah dikenalnya itu.


Flashback end.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2