
Euforia dalam benak Ziya seketika membuatnya ingin melompat-lompat saat itu juga. Namun justru sebaliknya, ia tak dapat bergerak sedikitpun. Kedua sudut bibirnya terangkat. Senyum lebar terulas sempurna.
'Cukup, Ziya. Cukup! Ini sudah lebih dari cukup. Menit berikutnya kamu harus siap melihat kenyataan, bahwa pria yang memelukmu ini milik wanita lain,' berontak Ziya pada dirinya sendiri.
"Kamu istirahat dulu di sini. Besok aku jemput. Biar aku yang izin sama ibu ya," ucap Arjuna setelah terdiam beberapa saat.
"Enggak, aku takut sendirian. Boleh ikut? Kak Reza juga pasti di sana 'kan?" elak Ziya masih nyaman di posisinya. "Aku ... juga mau jenguk Kak Meysa," sambungnya menghela napas berat.
Juna mengendurkan kedua lengannya. Kepalanya menunduk, menatap Ziya yang tidak berani mengangkat pandangannya.
"Kamu yakin?" tanya Juna meragu. Dibalas anggukan mantap oleh Ziya.
"Baiklah, ayo." Juna menghapus sisa air mata yang menggenang di pelupuk mata Ziya, juga yang membekas di pipi gadis itu. Ia mengulurkan tangan yang disambut penuh semangat oleh Ziya. Jemari keduanya saling bertaut. Mereka segera keluar dari apartemen Lily menuju rumah sakit.
__ADS_1
Turun dari taksi, dada Ziya berdenyut nyeri. Membayangkan pria di sampingnya akan bermesraan dengan wanita lain. Tapi ini sudah menjadi konsekuensinya. Semakin ia mencoba menekan perasaannya, justru semakin ia mencintai pria itu.
Pria yang begitu hebat di matanya, menyelamatkan nyawa sang ibu, sering membuatnya tertawa dan yang pasti, berada di dekat Arjuna, Ziya merasa sangat nyaman. Kenyamanan yang tidak pernah ia dapatkan dari siapapun. Sekalipun kakak kandungnya.
"Ayo!" Sebuah uluran tangan membuyarkan lamunan Ziya.
Ziya menoleh, "Ah iya." Diraihnya jemari Juna lalu turun dari taksi.
Keduanya menyusuri koridor demi koridor untuk mencapai ruangan Meysa dirawat. Ziya yang berperang dengan pikirannya sendiri tanpa sadar semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Kamu yakin mau masuk?" tanya Arjuna di ambang pintu. Satu tangannya sudah menyentuh handle pintu. Ia berhenti sejenak untuk memastikan Ziya baik-baik saja.
"Heem," sahutnya mengangguk.
__ADS_1
Helaan napas panjang Juna buang dengan kasar. Jantungnya berdegub sembari menarik handle pintu. Mereka masuk beriringan. Dalam ruangan itu, sudah berkumpul keluarga Meysa.
Derit pintu yang terbuka membuat semua pandangan menoleh ke sumber suara lalu turun pada kedua tangan mereka yang masih saling bertaut. Bahkan Meysa pun sempat melihatnya. Keningnya berkerut dengan mata yang menyipit.
Seketika Ziya merasa seperti terdakwa. Matanya menunduk mengikuti pandangan semua orang mengarah. Buru-buru ia melepas genggaman tangan Arjuna.
"Juna, dari mana saja kamu, Nak?" sapa Mama Indah yang memecah keheningan di ruangan itu.
"Emm ... maaf, Ma. Tadi, lagi ada masalah sedikit," sahutnya menggaruk kepalanya, merasa bersalah.
"Yasudah, nggak apa-apa. Sini! Meysa nyariin kamu." Kemudian mata wanita paruh baya itu beralih pada Ziya. Tampak berpikir sebentar, lalu berucap, "Kamu, bukannya adiknya Rio ya? Ziya 'kan?" tanya Mama Indah yang berhasil mengingat siapa perempuan yang berdiri di samping Arjuna.
"I ... iya, Tante," sahut Ziya gugup.
__ADS_1
Ziya dan Juna saling melempar pandang, lalu mengangguk dan mendekati ranjang. Semua orang memberi jalan pada mereka berdua untuk bertemu Meysa.
Bersambung~