Jodoh Tak Salah Alamat

Jodoh Tak Salah Alamat
Curhat


__ADS_3

"Zii? Zizi? Ziya?" seloroh Arjuna melambaikan tangan, memanggil Ziya yang lagi-lagi terbengong.


"Eh," Ziya terkejut. Ia pun jadi salah tingkah karena ketahuan menatap Arjuna sedari tadi.


Ziya mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Jemarinya menyelipkan anak rambutnya yang tidak berantakan ke belakang telinga. Ia juga meraih gelas dan minum untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.


"Segitunya liatin aku. Naksir ya?" goda Arjuna melipat kedua lengannya di atas meja, sambil tersenyum lebar pada Ziya. Memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Apaan sih. Tadi, tanya apa, Kak? Maaf lagi nggak fokus," elak Ziya tidak berani menatap manik sang lawan bicara.


"Eemm ... kenapa kemarin malam-malam telepon? Aku telepon balik tapi nggak tersambung," tanya Arjuna kembali melanjutkan makannya.


Ziya terdiam, ingatannya berputar pada kejadian malam itu. Tubuhnya kembali gemetar, keringat dingin tak luput membasahi keningnya.


Juna yang sesekali menatap Ziya pun terkejut. Ia menautkan kedua alisnya bingung. Tanpa sadar, tangannya menggenggam jemari Ziya yang terasa dingin. Menyalurkan rasa aman, tatapannya seolah berkata semua baik-baik saja.


"Kita bicara di teras belakang aja, yuk," ajak Arjuna beranjak berdiri menarik lengan Ziya.


Arjuna melihat seperti ada gejolak batin yang dipendam oleh Ziya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata memerhatikan langkah mereka yang saling berpegangan tangan.


Arjuna melepas pegangan tangannya, Ia mendudukkan Ziya di teras. Juna pun mendaratkan tubuhnya di samping Ziya. Pandangan Ziya lurus ke depan, namun kristal bening di wajahnya tak dapat ditahan.


"Menangislah, menangis sepuas kamu. Setelah itu ceritakan apa yang menjadi beban di hatimu," ucap Arjuna menatap Ziya dengan lembut.


Semakin deras air mata berjatuhan membasahi pipi Ziya. Juna membiarkannya. Ia teringat dengan Meysa, setiap kekasihnya bersedih pasti butuh waktu beberapa menit atau beberapa jam untuk menangis. Barulah Meysa bisa bercerita dengan tenang.


Keduanya pun terdiam, Juna larut dalam bayang-bayang Meysa. Sedangkan Ziya masih menangis tersedu-sedu. Ziya menekuk kedua lututnya, lalu menyembunyikan muka ditopang kedua lengannya.


Satu menit ... dua menit ... hingga 30 menit berlalu. Ziya sudah mengangkat kepalanya. Matanya sembab, hidungnya memerah.


"Udah nangisnya?" ucap Juna menyadarkan Ziya bahwa ia tak sendiri.

__ADS_1


Arjuna menyodorkan tissu di tangan kiri dan jus jeruk di tangan kanannya yang diambil beberapa menit yang lalu. "Minumlah dulu," ucapnya.


Ziya menerimanya, menenggak setengah gelas pada minuman yang dibawakan Arjuna. Lalu mengambil tissu untuk mengelap sisa-sisa air mata beserta ingusnya. "Makasih," ucap Ziya pelan.


Pandangan mereka tanpa sengaja saling beradu, namun Ziya segera memalingkan muka dengan cepat.


"Jadi? Apa yang terjadi?" Arjuna mengembalikan topik pembicaraan.


Helaan napas panjang terdengar hingga telinga Arjuna. Pria itu menyandarkan punggungnya di pot bunga yang berukuran besar di belakangnya. Bersiap mendengarkan keluh kesah Ziya, saudara barunya.


"Malam itu, aku panik. Asal pencet aja dari history panggilan. Gelap soalnya. Kebetulan riwayat panggilan terakhir adalah nomor Kakak." Ziya mengembuskan napasnya dengan kasar. Pandangannya lurus ke depan, menatap hamparan bunga-bunga yang cantik nan terawat oleh sentuhan tangan ibunya.


Ziya pun menceritakan kronologi kejadian naas yang hampir merenggut kesuciannya. Sesekali ia menyeka air matanya yang menetes tanpa permisi.


"Kenapa kamu lewat jalur yang sepi, Zi? Kamu itu perempuan. Kenapa menjatuhkan diri di lubang bahaya?" tanya Arjuna setelah Ziya selesai bercerita.


"Waktu itu enggak kepikiran sampai sana, Kak. Yang ada di otakku cuma pengen cepet-cepet sampai rumah. Enggak enak lah masa di rumah orang-orang pada sibuk akunya nggak keliatan. Jadilah aku motong jalan biar cepet. Enggak tahunya malah sial," cetus Ziya menoleh pada Arjuna.


"Lain kali jangan jalan sendirian malam-malam. Temen-temenmu 'kan banyak tuh. Minta tolong salah satunya 'kan bisa? Untung kamu enggak apa-apa," ceramah Arjuna dengan sorot mata yang tajam.


"Iya, nggak lagi-lagi," gumam Ziya menundukkan kepala. Kedua tangannya memilin ujung baju yang dikenakannya. Matanya kembali berkaca-kaca.


Sadar akan bentakan yang tidak disengaja, Arjuna meraup tubuh Ziya dan memeluknya, "Maaf, jangan sedih lagi. Aku hanya nggak mau kamu terluka," ucap Juna.


Tidak tahu saja kalau dalam posisi seperti ini membuat Ziya sesak napas, dentum jantungnya seperti genderang perang. Meski ia sendiri tidak mengerti gelayar aneh apa yang dirasakannya.


"Zi! Jorok ih. Masa ingusnya diusap pake kaos aku?" gerutu Arjuna menjauhkan tubuhnya.


Ziya hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Udah jangan nangis lagi, besok acara besarnya Kak Reza. Enggak etis kalau adeknya bengkak gini." Arjuna merapikan rambut Ziya.

__ADS_1


Menatap dari jarak yang teramat dekat membuat Ziya salah tingkah. Ia memundurkan tubuhnya, menundukkan pandangan. Selalu berusaha agar tidak melihat manik Arjuna.


"Bagaimana dengan kekasihmu, Kak? Udah ada kabar?" Pertanyaan yang sebenarnya mencubit hatinya, namun Ziya pura-pura baik-baik saja.


Arjuna memutar tubuhnya, menatap lurus ke depan. Membuat Ziya berani mengangkat wajahnya. Dari samping, Arjuna di matanya begitu sempurna. Hidung yang mancung, mata sayu lengkap dengan lesung pipi, menambah kekaguman Ziya pada pahatan makhluk Tuhan satu itu.


"Enggak tahu, Zi. Sebulan ini aku sibuk banget. Istirahat aja kurang, kadang tiba-tiba dapat panggilan darurat. Nanti setelah acaranya Kak Reza aku mau cari lagi." Arjuna menghela napas panjang.


Segitu cintanya kamu sama dia, Kak.


"Apa yang akan kakak lakukan saat bertemu dengannya?" cecar Ziya lagi.


"Tentu aja memeluknya, aku sangat merindukannya. Terus, aku minta penjelasan kenapa tiba-tiba menghilang," jawab Arjuna lesu.


Sakit sih, bibir Ziya memaksa menyunggingkan senyum. Dalam hati ia terus berdoa agar tidak dipertemukan lagi dengan kekasihnya itu.


"Istirahat yuk, Kak. Kebanyakan nangis jadi ngantuk nih, kamu juga pasti capek 'kan habis perjalanan panjang?" Ziya beranjak dari duduknya.


Tanpa melihat ke belakang atau menunggu jawaban, Ziya terus melangkah menuju kamarnya. Diikuti oleh Arjuna yang berjalan menuju kamarnya sendiri. Kamar yang selalu disiapkan untuk Arjuna.


...****************...


Keesokan harinya, semua orang berkutat dengan tugasnya masing-masing, sejak subuh. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju masjid agung yang ditentukan untuk prosesi akad nikah.


Arjuna mengendarai motor mengikuti jajaran mobil iring-iringan pengantin di depannya. Catuda Squad juga ikut mengiring perjalanan Kak Reza yang sebentar lagi melepas masa lajangnya.


"Masih jauh nggak, Zi?" teriak Arjuna pada Ziya yang membonceng di belakannya.


"Enggak, bentar lagi kok," sahut Ziya juga berteriak karena suaranya terbawa angin.


Ya, Ziya memilih naik motor saja. Memang sedari dulu ia jarang sekali naik mobil. Saat mau mengendarai motornya, ibu melarang keras. Sempat berdebat kecil hingga akhirnya Juna mengajak Ziya naik motornya. Ibu pun menyetujui jika bersama Arjuna. Ibu percaya dengan pria itu.

__ADS_1


Dan memang tak lama kemudian, rombongan pengantin pria sampai di pelataran masjid. Ternyata rombongan pengantin wanita sudah sampai duluan. Mereka pun bergegas masuk, ingin menyaksikan acara sakral kakak pertama Ziya.


Bersambung~


__ADS_2