
"Diih!" cebik pria itu kesal lalu meloyor melewati Lily begitu saja.
"Eeeh Dika! Tunggu!" pekik Lily menarik hoodie yang dikenakan Dika hingga langkahnya terhenti.
Dika menghempaskan tangan kurus Lily sambil berdecak kesal. "Apa lagi sih?" ketusnya dengan pandangan mata tak bersahabat. Kesal? Tentu saja. Setiap memandang gadis di depannya itu marah, jengkel dan kesal menyeruak.
"Ehehe, jangan marah-marah mulu dong. Nanti cepet tua. Eh sepertinya udah tua? Oopps," Lily reflek menutup bibirnya yang masih nerocos terus.
Sedang pria itu masih sama menatap dengan dingin dan tajam. Lalu semakin mendekatkan tubuhnya hingga jarak beberapa centi. Bahkan napas keduanya sudah bertumbukan.
Lily memundurkan kepalanya, tubuhnya menegang. Tiba-tiba kaku susah digerakkan kala menatap pancaran netra Dika.
Dengan sigap, Dika merebut ponsel di tangan Lily, kemudian berlalu meninggalkan gadis itu. Seketika Lily tersadar. Segera ia berlari mengejar Dika karena tidak mengetahui di mana ruangan Arjuna berada.
"Tungguin dong! Aku nggak tau di mana ruangan Juna!" panggil Lily mempercepat laju larinya.
"BUGH!"
Kening Lily membentur punggung kekar Dika yang berhenti tiba-tiba. Gadis itu terpental beberapa langkah, meringis sambil mengusap keningnya.
"Iiih, jangan ngerem mendadak juga kali!" sentak Lily mengerucutkan bibirnya.
Dika hanya mendengkus, senyum tipis terukir di bibirnya. Helaan napas kasar pun ia hembuskan. Seolah malas memancing keributan, Dika mengabaikannya. Kembali melanjutkan yang hanya tinggal beberapa meter.
Lily pun menghentakkan kakinya karena diabaikan. Lalu kembali mengekori Dika. Kali ini lebih memelankan langkahnya. Tahu akan memasuki sebuah ruangan yang hanya ada satu-satunya di lorong itu, Lily menyerobot masuk.
Dua makhluk yang selalu berseteru itu bertabrakan saat sama-sama ingin masuk ruangan. Mereka tertahan di pintu, saling menoleh lalu mundur juga bersamaan.
"Iiiiih!" geram keduanya bersamaan.
Ziya dan Juna seketika menoleh, mereka cukup terganggu dengan keributan yang diciptakan sahabat mereka masing-masing. Pelukan mereka pun mengendur.
"Cowok ngalah dong!" cebik Lily kesal.
"Sok atuh!" Dika pun mengalah, meski raut wajahnya masih masam.
"Gitu dong," gumam Lily tersenyum penuh kemenangan.
Namun betapa jahilnya. Kaki panjang Dika terjulur hingga membuat Lily terjungkal dan terjatuh ke lantai.
"Aargh! Dasar psyco!" umpat Lily menengadah dengan tatapan tajamnya.
"Bodo amat, cewek bar-bar." Dika melenggang masuk melalui Lily begitu saja tanpa berniat membantunya.
__ADS_1
"Kalian baru ketemu ribut mulu, kawinin nih," ucap Ziya terkikik berjalan meraih sahabatnya dan membantu berdiri.
"Diihh, aku sama dia?" telunjuknya mengarah pada hidungnya lalu beralih ke Dika. "Cowok datar, lempeng, dingin, enggak peka kayak gitu!" cibir Lily dengan raut tak bersahabat.
Ziya mengerutkan keningnya. Ia saling bertukar pandang dan mengendikkan bahu dengan Arjuna yang tengah merebahkan tubuhnya dengan dibantu oleh Dika.
"Udah sih, baikan. Kalau masih mau ribut sana di luar. Ganggu aja," gerutu Juna.
"Ck! Males. Eh, Bro, jadi ini yang bikin lo klepek-klepek?" tanya Dika berbisik di telinga Juna.
"Yoi, doi cakep banget 'kan? semakin mengenalnya, aku semakin enggak bisa melepasnya. Manjanya, lucunya, ngambeknya, ah semua yang ada pada dia itu menarik banget. Kaya ada magnet-magnetnya gitu," jawab Juna memandang penuh cinta sang pujaan hati.
Dika menghela napas kasar. Ia mengusak rambutnya asal, "Padahal dia yang...."
Juna melihat perubahan raut Dika. Ia pun menebak-nebak, "Jangan-jangan dia gadis yang kamu ceritain?" tukas Arjuna memotong perkataan Dika.
Dika hanya mengangguk lemah. Ia sendiri pun tertarik pada Ziya bahkan sebelum mengenal lebih jauh. "Tapi tenang aja, gue enggak akan mengambil milik orang. Apalagi dari lo, yang udah kayak saudara gue sendiri," ucap Dika tersenyum getir sembari menepuk salah satu bahu Arjuna.
"Semoga dapet ganti yang cantiknya enggak ngalahin Ziya. eh, Lily cocok tuh," tawar Juna menaikkan dagu mengarah pada dua gadis yang tengah berbincang di sofa.
Namun mata Dika justru mengarah pada Ziya. Dan saat Juna berbalik, ia mengusap wajah Dika dengan kasar. "Itu calon bini gue, Bambang!"
"Liat doang ellah," balas Dika mencebik sembari menepis tangan Juna.
Ziya masih ingin berdekatan dengan sang kekasih. Ia pun meminta Dika untuk bertukar posisi.
"Hemm!" jawabnya hanya dengan deheman. Lalu berpindah menyisakan kursi kosong di samping Arjuna.
Merasa aneh, Ziya menautkan kedua alisnya sembari mendudukkan diri di kursi. "Kenapa dia, Kak?" tanya Ziya pada Arjuna.
"Entahlah," Juna mengendikkan kedua bahunya. Ia tahu, bahwa sahabatnya itu tengah berusaha menekan perasaannya. Juna lalu meraih tangan kanan Ziya dan mengecupnya. Satu tangan Juna lainnya menepuk-nepuk puncak kepalanya pelan.
Hanya diperlakukan seperti itu saja pipinya memanas, tubuhnya merasa merinding. "Kakak sakit apa sebenernya? Kenapa sampai dioperasi segala?" Ziya mencoba mengalihkan perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
"Udah sembuh, apalagi ada kamu. Udah enggak sakit lagi," jawab Arjuna tidak mau membuatnya khawatir.
"Iiiss, bisa-bisanya gombal. Cincinnya ...." Ucapannya menggantung, ia ragu menanyakannya.
"Kenapa?"
"Ketemu?" tanya Ziya meragu.
"Heem."
__ADS_1
Juna sengaja menggodanya. Menunggu kalimat Ziya selanjutnya. Ternyata gadis itu menyodorkan jemarinya, sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tawarannya masih berlaku enggak?"
"Tawaran apa?" goda Arjuna pura-pura tidak mengerti.
"Buat nikah sama kamu," ujar Ziya menunduk malu.
Dua insan itu saling menggoda dan malu-malu. Sampai tidak menyadari bahwa di ruangan itu bukan hanya ada mereka berdua. Duo jomblowers, Lily dan Dika sama-sama menopangkan dagu dengan kedua lengan mereka. Menyaksikan drama secara live.
"Jadi?"
"Aku mau," ucap Ziya lirih masih menundukkan kepala.
"Mau apa?"
"Nikah sama kamu."
"Apaan, enggak denger," goda Juna lagi mendekatkan telinganya.
"Iiih Kakak ngerjain aku ya?" gerutu Ziya menepuk dada Juna.
"Awwhhh ssshhh!" Juna meringis dan mendesis membuat Ziya panik seketika.
Gadis itu berdiri, membungkukkan tubuhnya, jemarinya mengusap dada Juna perlahan. "Maaf, maaf, Kak. Mana yang sakit?"
Padahal sebenarnya bukan bekas lukanya yang dipukul Ziya. Pria itu hanya modus saja biar Ziya mendekat padanya. Juna mengecup kening Ziya sekilas, karena memang kening gadis itu sangat dekat dengan bibirnya.
"Woylah! Kira-kira dong. Enggak kesian apa sama jomblo di sini," decak Lily kesal masih menopang dagunya.
"Eehh kalian samaan, ciyeee jangan-jangan jodoh," goda Ziya menunjuk Lily dan Dika bergantian yang masih dalam posisi yang sama sedari tadi.
Mereka saling pandang, dengan cepat merubah posisi bersamaan pula. Semakin membuat Ziya dan Juna meledek mereka berdua.
Hari sudah semakin siang, Juna pun telah selesai dikunjungi oleh dokter yang menanganinya. Lukanya sudah mengering, selang oksigen juga sudah dilepas karena sempat sesak napas akibat alergi obat pasca operasi. Keadaannya sudah jauh lebih baik. Apalagi setelah bertemu dengan Ziya. The power of love, semangat ingin sembuhnya menggebu.
"Ehemm!" Deheman dengan suara berat membuyarkan candaan keempat anak manusia itu. Seketika suasana ruangan itu menjadi hening.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung~
Makasih ya sayang-sayangnya akohh atas dukungannya. Ada yang belum mampir ke sini? 👇
__ADS_1
Seru banget loh... Ditunggu jejaknya yaa.. terima kasih tak terhingga buat kalian semua 🥰🥰😘😘