Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Kegelisahan Rawa Candra


__ADS_3

Sementara itu di dalam Sekte Kumbang Merah Banjar Samudra dan Sindu tampak terlibat perbincangan yang serius, sepertinya mereka berdua sedang merencanakan sesuatu yang besar yang hanya di ketahui oleh mereka berdua saja.


Banjar Samudra yang merupakan tetua sekte kumbang merah tampak tersenyum setelah mendengar rencana yang di utarakan oleh Sindu itu.


"Bagus...bagus.... tidak salah kau menjadi wakil ku Sindu setiap sesuatu yang kau rencanakan aku selalu suka "ucap Banjar Samudra dengan memuji Sindu.


"Tetua terlalu memuji,aku masih belum apa apa jika di bandingkan dengan kepintaran tetua"ucap Sindu merendahkan diri.


"Haaa....haaa.... tidak Sindu kau pantas mendapatkan puijan itu"ucap Banjar Samudra dengan tertawa senang.


"kapan rencana itu akan di mulai tetua, sebaiknya kita jangan menunda-nunda lagi"ucap Sindu.


"Kau tenang saja ,aku juga sudah tidak sabar untuk menjalankan rencana besar itu"ucap Banjar Samudra.


"Lalu bagaimana dengan Sekte angin berhembus , apakah tidak sebaiknya sekalian di musnahkan saja tetua,aku khawatir mereka akan segera bergabung dengan sekte Elang Putih "ucap Sindu.


" Aku merasa sekte angin berhembus tidak akan menjadi ancaman yang berarti kalau Sekte Elang Putih sudah di musnah,sebaik kita sebar teror dengan pembunuhan di mana mana supaya mereka panik "ucap Banjar Samudra.


"Tetua benar dengan begitu hari hari mereka akan di penuhi dengan ketakutan,yang akan membuat mereka semakin panik haaa....haaa..haaa... "ucap Sindu di sertai dengan tertawa penuh kejahatan.


"Semakin mereka tegang dan waspada ,semakin pula mereka lemah, karena pikiran mereka menjadi tidak tenang"ucap Banjar Samudra.


"Tetua memang cerdas"ucap Sindu dengan memuji Banjar Samudra.


"Sindu jujur saja aku kepikiran dengan orang misterius yang bertarung dengan mu waktu lalu ,aku takut jika orang itu ikut campur dan menggagalkan rencana kita"ucap Banjar Samudra.


"Kita tidak perlu khawatir tetua dengan adanya tetua Jalatunda kekuatan kita akan semakin kuat dengan batuan dari sekte es"ucap Sindu.


"Ya ku harap kakang Jalatunda cepat datang ke sini"ucap Banjar Samudra.


Disaat mereka berdua sedang berbincang bincang itu datanglah Dua Algojo gundul menghadap.


"Ada hal penting apa Dua Algojo"tanya Banjar Samudra.


"Ada yang ingin saya laporkan tetua "ucap Dua Algojo gundul,


"Cepat katakan "ucap Banjar Samudra.


"tetua sekte tombak terbang terbunuh tadi malam tetua "ucap Dua Algojo.


"Apa....!!!!"ucap Banjar Samudra dan Sindu serentak mereka berdua terkejut sekali.


"Siapa yang melakukan itu "tanya Banjar Samudra.


"masih belum di ketahui tetua karena tidak ada yang melihatnya, sepertinya orang yang membunuh tetua sekte tombak terbang berilmu sangat tinggi karena dapat mengelabuhi penjagaan yang sangat ketat"ucap Dua Algojo.


"Kurang ajar rupanya ada yang mau main main dengan kita, Sindu aku ingin kau pergi ke Sekte tombak terbang setelah ini, kita harus bantu mereka untuk mengusut siapa pembunuh itu, karena mereka adalah sekutu baik kita"ucap Banjar Samudra.


"Baik tetua "ucap Sindu.


Banjar Samudra bertanya tanya siapa orang yang sudah mencari masalah dengannya ia juga merasa benar benar cukup heran padahal tetua Sekte tombak terbang bukalah orang sembarangan kenapa dapat di bunuh dengan mudah hal sungguh membuat membuat nya penasaran.


Dengan terbunuhnya tetua tombak terbang maka kekuatan sekte kumbang merah menjadi berkurang sehingga dapat mempengaruhi rencana yang sudah dia buat.


"Dua Algojo lalu bagaimana dengan penyelidikan mu ke Sekte Elang Putih"tanya Banjar Samudra.


"Di sana tampak biasa saja tidak ada tanda tanda mereka mempersiapkan pasukan tetua, sepertinya mereka melupakan kematian tiga tetua sekte yang waktu itu"ucap Dua Algojo.


Banjar Samudra terdiam dan berfikir , "seharusnya mereka waspada dengan kematian tiga tetua Sekte itu, kenapa mereka seolah olah bersikap santai, Apakah mereka sedang melakukan sesuatu tapi dengan cara sembunyi sembunyi "pikir Banjar Samudra.


"Sindu, bagaimana menurut mu tentang sikap sekte Elang Putih, yang seolah olah mengabaikan kematian tiga tetua sekte itu"ucap Banjar Samudra.


"Mmmmm....saya kira mereka tidak seperti itu tetua ,aku yakin mereka saat ini sedang menyiapkan diri, sebaiknya kita harus terus memantau keadaan di sana"ucap Sindu menyarankan.

__ADS_1


"Aku juga berfikir seperti itu Sindu, dua Algojo kalian pantau terus keadaan di sana, kalau ada yang penting segera laporkan "ucap Banjar Samudra.


"Baik tetua kami mohon diri"ucap Dua Algojo kemudian pergi.


"Tetua sepertinya kita tidak perlu minta bantuan tetua agung seperti yang tetua katakan kemarin, karena menurut ku dengan bantuan tetua Jalatunda dari sekte es sudah mampu untuk meratakan kelima sekte itu"ucap Sindu.


"Kenapa kau bisa berfikir begitu Sindu,coba jelaskan alasannya "ucap Banjar Samudra.


"Dari lima sekte itu hanya sekte Elang Putih dan sekte angin berhembus lah yang paling kuat, sedang Sekte macan,sekte awan Hitam dan sekte pedang terbang, bukanlah apa apa setelah di tinggal tetua sektenya masing-masing."ucap Sindu.


"Haaaa.... haaahaaa..... kau benar Sindu kita tidak perlu minta bantuan tetua agung "ucap Banjar Samudra.


"Sindu berangkat lah sekarang ke sekte tombak terbang ,aku ingin tahu ada apa sebenarnya di sana"perintah Banjar Samudra.


"Kalau begitu sekarang juga saya berangkat tetua "ucap Sindu.


"Ya , silahkan "ucap Banjar Samudra.


Sindu lalu berkelebat pergi slaaaap dan menghilang dari hadapan Banjar Samudra.


"Jika aku dapat meratakan kelima sekte itu,maka rencana tetua Agung akan semakin cepat tercapai, dengan begitu pasti sekte kumbang merah akan banyak mendapatkan hadiah dari tetua Agung haaa.....haaa...haaa...."ucap Banjar Samudra dalam hati dengan tersenyum penuh arti.


Di lain tempat.


Rawa Candra yang menerima perintah dari tetua Banjar Samudra untuk mengantarkan surat rupanya sudah sampai di tempat tujuan yaitu Sekte es, melihat kedatangan Rawa Candra penjaga sekte segera menemuinya untuk bertanya apa keperluannya, setelah Rawa Candra menjelaskan maksud kedatangannya itu ,penjaga pun mempersilahkan dia masuk.


Udara dingin menerpa tubuh rawa Candra yang saat itu sedang melangkah kan kaki menuju ke dalam sekte , biar pun matahari bersinar terang tetapi masih saja udara di tempat itu terasa dingin menusuk tubuh pantas saja kalau sekte itu di namakan sekte es karena udara di sekte itu selalu terasa dingin.


Tidak lama kemudian Rawa Candra pun tiba di dalam aula sekte, begitu tiba di sana ia melihat sorang pria yang berjanggut panjang dengan wajah di penuhi brewok memancarkan kekejaman dan kebengisan dengan bertangan satu tidak lain dan tidak bukan dia adalah Jalatunda tetua sekte es,Rawa Candra segera berlutut memberikan hormat padanya.


"Hormat saya pada tetua Jalatunda"ucap Rawa Candra dengan menekuk lututnya.


"Hmmmm......"dengus Jalatunda menanggapi salam hormat Rawa Candra.


"Aku mendapatkan perintah dari tetua sekte kumbang merah untuk mengantarkan surat ini pada tetua "ucap Rawa Candra seraya memberikan surat yang di bawanya itu.


"Bukankah seharusnya Banjar Samudra sudah bisa untuk menghancurkan kelima sekte itu tanpa bantuan ku ,apa maksud dari Banjar Samudra memintaku untuk membantu nya Rawa Candra,"ucap Jalatunda.


"Saya tidak tahu tetua karena tetua tidak pernah mengatakan apa apa pada ku"ucap Rawa Candra.


Apakah kelima sekte itu sekarang bertambah kuat Rawa Candra"tanya Jalatunda.


"Sepertinya tidak tetua, karena dengan terbunuhnya tiga tetua sekte, kelima sekte itu tidak terlalu kuat untuk sekarang ini "ucap Rawa Candra.


"mmm..... baguslah dengan begitu akan semakin mudah bagi kita untuk melenyapkan sekte itu "ucap Jalatunda.


"Ada sesuatu yang perlu tetua ketahui, kemarin muncul seseorang yang menggagalkan rencana ku dan guru Sindu untuk membunuh Brawijaya , seseorang itu ilmunya sangat tinggi dan juga membawa pedang yang begitu sangat mengerikan tetua"ucap Rawa Candra.


"Ini sangat menarik sekali ,coba kau ceritakan lebih jelas Rawa Candra"perintah Jalatunda.


Kemudian Rawa Candra menceritakan semua kejadian yang di alaminya waktunya ia berada di hutan senyap.


Jalatunda tampak antusias mendengar cerita dari Rawa Candra itu karena sangat menarik baginya.


Tidak lama kemudian Rawa Candra pun mengakhiri ceritanya.


"Apakah itu mungkin pedang awan yang selama ini menghilang"ucap Jalatunda dalam hati.


"Rawa Candra apakah gagang pedang itu berbentuk naga "tanya Jalatunda.


"Benar seperti yang tetua katakan "ucap Rawa Candra.


"Kalau begitu benar dugaan ku"ucap Jalatunda sambil memandang tangannya yang sebelah kiri yang terpotong oleh pedang itu.

__ADS_1


"Berarti kalau kita menyerang sekte Elang Putih , orang misterius itu pasti akan datang untuk membantunya , bukan kah begitu Rawa Candra "ucap Jalatunda.


"Kemungkinan begitu kemungkinan tidak tetua, karena sepertinya dia bukan murid dari sekte itu jika di lihat dari jurus jurus yang ia miliki "ucap Rawa Candra, menjelaskan.


"Biar pun begitu aku yakin pasti dia akan datang untuk membantu sekte itu "ucap Jalatunda dengan penuh keyakinan.


"Kau tahu cerita tangan kiri ku ini Rawa Candra "ucap Jalatunda, sambil memperlihatkan tangan kirinya yang buntung.


"Tidak tetua, sebenarnya waktu saya pertama kali bertemu tetua ingin rasanya bertanya soal itu tapi aku tidak berani"ucap Rawa Candra.


"Asal kau tahu Rawa Candra tangan ku ini putus karena pedang itu"ucap Jalatunda dengan mengepalkan tangannya setelah teringat kejadian beberapa tahun silam.


"Apa....!!!,jadi tetua pernah merasakan keampuhan pedang itu "ucap Rawa Candra dengan terkejut bukan main.


"Iya, makanya setelah kau menyebut ciri ciri pedang itu aku semakin yakin itu pasti pedang awan, yang membuat dendam ku kembali berkobar kobar "ucap Jalatunda.


"Rawa Candra secepatnya aku akan berangkat ke sekte kumbang merah untuk menemui adik Banjar Samudra"ucap Jalatunda.


"Baik tetua, karena lebih cepat lebih baik untuk menghancurkan kelima sekte itu "ucap Rawa Candra.


"Rawa Candra sebaiknya kau beristirahat dulu ,kau kembalilah besok, karena berjalan pada malam hari saya kira kurang baik untuk keselamatan mu"ucap Jalatunda.


"Saya akan menuruti apa saran tetua "ucap Rawa Candra.


Tidak lama kemudian malam pun tiba-tiba, di dalam kamar Jalatunda terlihat sedang membaringkan tubuhnya dengan mata menatap ke langit langit kamar itu, dalam pikirannya tergambar bayangan masa lalu tentang ayah dan seluruh orang yang di cintainya tewas akibat penyerangan yang di lakukan oleh lima sekte beberapa tahun silam.


Tampak bayangan Brawijaya di pelupuk matanya dan juga tangisan ibu serta adik adiknya karena melihat kematian ayahnya.


Ingin rasanya ia segera mendatangi sekte Elang Putih untuk membunuh Brawijaya jika teringat kejadian itu supaya hatinya bisa tenang.


"Tidak lama lagi Brawijaya kau akan segera mampus di tangan ku"ucap Rawa Candra dengan mengepalkan kedua tangannya.


Rawa Candra kemudian melangkah keluar untuk mencari angin sekaligus menghilangkan beban pikirannya yang terasa berat itu,ia kemudian mengambil tempat duduk di luar kamarnya sambil memandang langit malam yang saat itu sangat cerah.


Tiba tiba sebuah bayangan berkelebat sangat cepat melintas tidak jauh dari hadapannya, tanpa pikir panjang ia pun segera mengejarnya wuuuuus.....ia melintasi atap atap sekte itu dengan berlari sangat cepat.


Tidak lama kemudian ia pun melihat orang itu sedang bertemu dengan seseorang di sekte itu, kemudian orang itu pun masuk ke dalam bersama dengan orang tadi.


Rawa Candra segera mendekati dengan mengendap endap ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang itu.


Sesaat kemudian Rawa Candra pun sudah dekat dengan ruangan yang di masuki orang tadi.


Rawa Candra segera mengintip mereka dari celah celah dinding yang terbuat dari papan itu,


ia tidak dapat melihat wajah kedua orang dalam ruangan itu, karena pandangannya terhalang oleh tiang penyangga.


Walaupun begitu ia samar samar dapat mengenali suara orang yang satunya.Rawa Candra mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian dari balik dinding dengan penuh kehati-hatian supaya tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.


Betapa terkejutnya dia setelah mendengar apa yang mereka berdua bicarakan karena di sela sela percakapan mereka itu menyebut nama ayahnya dan sekte kalajengking hitam.


Mendengar percakapan dua orang itu ingin rasanya ia masuk ke dalam untuk melihat wajah orang yang menjadi tamu itu, namun ia tidak mau bertindak bodoh dan segera mengurung niatnya


Tak lama kemudian orang itu pun keluar dari ruangan sekte dan melesat pergi, Rawa Candra bermaksud mengejarnya namun orang itu keburu lenyap , akhirnya ia tidak jadi mengejar nya dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


"Apa sebenarnya hubungan orang tadi dengan sekte kalajengking hitam, apakah orang itu teman ayah atau bukan"ucap Rawa Candra sambil mondar mandir di dalam kamarnya.


"Baiklah aku akan tinggal di sekte ini beberapa hari lagi aku ingin tahu ada hubungan apa ayah dengan sekte es ini"ucap Rawa Candra dalam hati.


Malam itu pikiran Rawa Candra di penuhi banyak pertanyaan pertanyaan yang tidak tahu jawabannya, kemudian ia memilih untuk membaringkan tubuhnya dan mencoba untuk melupakannya walau pun untuk sejenak, karena semakin di pikirkan semakin membuat kepalanya menjadi pusing.


Akhirnya Rawa Candra pun tertidur untuk melupakan sejenak masalah yang membebani pikirannya.


Malam semakin lama semakin larut udara di sekte es terasa menjadi sangat dingin hingga membuat tubuh menggigil .

__ADS_1


Namun itu tidak di rasakan oleh para murid penjaga sekte ,karena sudah merasa terbiasa dengan keadaan itu.


Suara binatang malam terdengar bersahutan meramaikan malam , lolongan serigala tampak terdengar melengking di malam itu.


__ADS_2