Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Perasaan terpendam seorang gadis


__ADS_3

Ki Lukito terkejut melihat serangannya tidak berpengaruh sama sekali pada pada Jaka.


Padahal selama ini tidak ada satu orang pun yang dapat lolos dari kematian jika ia menggunakan pukulan bayangan Sukmanya,tapi kali ini ia harus melihat kenyataan bahwa salah satu pukulan andalannya kehilangan pamor di hadapan Jaka.


Ki Lukito melesat cepat menerjang Jaka kembali dengan tongkat kepala naganya.


Jaka menghindari sambaran tongkat itu dengan jurus sepuluh langkah malaikat nya, duuuaaarrr..... duuuaaarrr....dan meledaklah tempat dia berpijak setelah sambar ujung tongkat itu gagal mengenainya


Ki Lukito kemudian memutar tongkatnya dengan cepat sekali sehingga perputaran tongkat itu menimbulkan deru bunyi yang berdengung.


kemudian melesat lah gumpalan cahaya dari tongkat itu yang langsung menerjang Jaka blaaaar.... blaaaar... blaaaar.... mendapati serangan yang begitu ganas Jaka kemudian mengerahkan tenaga dalamnya untuk membentengi dirinya.


Tidak mau didesak secara terus menerus seperti itu ,ia kemudian melepaskan pukulan Guntur seribunya wuuuuus.... pukulan itu menghalau setiap serangan tongkat naga itu dan blaaaar.... blaaaar.... halaman sekte langit tergoncang hebat begitu dua pukulan itu bertemu.


Ki Lukito merasa sangat penasaran dengan kekuatan yang Jaka miliki, karena tiap kali serangannya selalu dapat di patahkan nya.


Tidak mau hanya diam saja Racun barat langsung melesat maju menyerang Jaka dengan pedangnya hiiaaaat....wees... pedang itu melayang deras di atas kepala Jaka .


Merasakan sambaran pedang itu Jaka segera bergerak dengan cepat menghindarinya dan sabetan pedang racun barat pun hanya mengenai ruang kosong.


Jaka merasakan hawa panas lewat sambaran pedang racun barat itu, ternyata sambar pedang tadi juga tidak kalah hebatnya dengan tongkat naga milik ki Lukito karena sama sama mengeluarkan hawa panas yang dapat membakar kulit.


Di saat Jaka sedang sibuk menghindari serangan racun barat itu, tiba-tiba sebuah pukulan yang tidak kasat mata langsung menerjang kearahnya wuuuuus..... duuuaaarrr... duuuaaarrr..!!


Jaka pun di buatnya sampai terpental dan braaak....ia pun terjatuh akibat dari serangan dadakan itu.


Melihat Jaka dalam keadaan terjatuh itu racun barat langsung mengambil kesempatan itu untuk menyerangnya.


"Terima ini hiaaat ...., racun barat mengirimkan pukulan pada Jaka yang belum sempat berdiri itu wuuuuus.... duuuaaarrr..... blaaaar... tempat Jaka berada langsung meledak seketika setelah terkena pukulan itu.


Paksi Darma dan yang lainnya pun merasa khawatir dengan keselamatan Jaka,ia ingin membantunya tapi langsung teringat dengan perkataan Jaka tadi, hingga ia pun akhirnya mengurungkan niatnya .


"Aku yakin tetua bisa mengatasi mereka berdua, jadi sesepuh tidak perlu khawatir"ucap Arini dengan penuh keyakinan.


"ya aku juga merasa yakin kalau tetua bisa mengalahkan mereka, karena tetua itu orang penuh kejutan "ucap Sinta sependapat dengan pemikiran Arini.


Walau pun Arini dan Ratih berkata seperti itu, tapi rasa kekhawatiran di wajah Paksi Darma masih terlihat, karena ia hafal benar dengan kekuatan orang orang itu.


Sementara itu racun barat dan Ki Lukito menatap tajam pada kepulan asap di depannya, mereka merasa yakin kalau pukulannya tadi dapat dengan telak mengenainya.


Ki Lukito dan racun barat saling beradu pandang kemudian kedua mengalihkan kembali pandangannya pada kepulan asap tadi.


Setelah beberapa saat kemudian kepulan asap pun hilang sedikit demi sedikit, samar samar dari kepulan asap itu terlihat bayangan seseorang yang berdiri tanpa kurang suatu apa pun,hal itu membuat kedua tokoh tua dunia persilatan itu langsung terkejut bukan main.


"Bagaimana bisa ia selamat dari pukulan ku, padahal batu sebesar gajah pun tak mampu menahannya "ucap racun barat.


"Dua kali sudah pukulan bayangan Sukma ku dapat dia tahan , seberapa kuat pemuda itu sebenarnya "ucap ki Lukito semakin bertambah rasa penasarannya.


"Racun barat kita bekerja sama untuk menjatuhkan dia, bersetan dengan masalah kehormatan karena mengeroyok orang yang masih muda, tapi kita akan lebih malu lagi jika sampai kalah olehnya ,nama besar kita akan hilang jika sampai hal itu terjadi "ucap Ki Lukito.


"Baiklah setan tua,aku juga tidak terima jika harus kalah dari orang semuda itu "jawab racun barat.


Sementara itu dengan tatapan tajam Jaka memandang ke arah kedua orang tua itu,bagi Jaka serangan tadi sungguh luar biasa karena dapat membuat dirinya tewas seketika, tapi untung tadi dia sempat mengeluarkan pedangnya sehingga pukulan mereka dapat dia redam dengan pedang pusakanya itu.


"Mulai sekarang aku harus perhatikan benar benar setan tua itu , karena serangannya tidak bisa di tebak kedatangannya "ucap Jaka.


Tak lama kemudian kedua orang itu pun bergerak kembali maju menyerangnya.


"majulah kalian "bisik Jaka melihat saat melihat mereka bergerak ke arahnya.


Jaka pun langsung melesat maju menyambut kedatangan mereka dan akhirnya traaaaang.... traaaaang.... terdengar bunyi senjata saling beradu.


Pertarungan di udara itu pun berlangsung cukup lama , perpaduan tongkat dan pedang terus menyambar nyambar seperti petir mencari sasaran.


Racun barat dan Ki Lukito mengerahkan seluruh jurusnya dan kekuatannya untuk sesegera mungkin dapat menjatuhkan Jaka,


Merasakan kekuatan lawannya semakin meningkat Jaka langsung menggunakan jurus pedang Pembelah Langitnya hingga membuat mereka berdua tersentak karena senjatanya seperti membentur dinding tebal berlapis besi .


sehingga dalam suatu kesempatan di saat mereka dalam keadaan terkejut itu jaka langsung mengirimkan serangannya hiaaat...dess... dess... tendangan Jaka berhasil mengenai mereka berdua, hingga mereka berdua terjatuh gedebuuuk.... dengan cukup keras.


Jaka segera mendarat setelah melihat kedua lawannya terjatuh.


Ki Lukito merasa sakit pada bahunya setelah menerima serangan dari Jaka itu, hal yang sama juga di rasakan oleh Racun Barat.


Kedua orang tua itu segera berdiri tegak dengan tidak menghiraukan rasa sakit yang di deritanya.


"Racun barat kamu tahu apa yang harus Kamu lakukan untuk mengalahkan dia"ucap ki Lukito dengan kesal.


"Baiklah aku tahu maksud mu itu setan tua,kamu siap kan diri aku akan segera mulai"ucap Racun Barat , rupanya mereka berdua merencanakan sesuatu.


Racun barat langsung mengerahkan tenaga dalamnya hiiiiaaaat...... hiiiiaaaat... seketika itu juga membara lah kedua telapak Racun Barat.


"Rupanya mereka akan mengakhiri pertarungan ini baiklah"ucap Jaka dengan sikap waspada.


"Terima pukulan ku ini hiiiiaaaat..... racun barat langsung melepaskan pukulannya wuuuuus...... wuuuuus.... wuusss....!!!


Jaka langsung terbang kembali menyambut pukulan pukulan racun barat itu dengan pedang nya hiiiiaaaat duuuaaarrr..... duuuaaarrr... duuuaaarrr... duuuaaarrr... meledak semua serangan racun barat itu.

__ADS_1


Racun barat menyunggingkan senyumnya melihat Jaka dapat menghalau pukulannya itu,


Tiba-tiba sebuah bayangan melesat di samping Jaka tanpa ia sadari yang ternyata adalah ki Lukito,"pukulan kematian hiiiiaaaat...dess.....dess....bruuug... Jaka pun langsung meluncur ke bawah dan terjatuh gedebuuuk...!!! tempat jatuhnya Jaka pun sampai berlubang karena begitu kerasnya pukulan Ki Lukito tadi.


"Akh....akh.. ternyata pukulan tadi hanya pancingan saja"ucap Jaka sambil meringis menahan sakit.


Hooeekk..... hooeekk....darah kental langsung keluar dari mulutnya,


"Haaa.....haaaa....haaaa.... sebentar lagi akan aku kirim kau ke neraka anak muda "teriak ki Lukito di sertai tawa penuh kemenangan.


Racun barat langsung mendekat ke arah ki Lukito yang sedang terbuai oleh kemenangan itu.


"Cepat kau serahkan peta itu , mungkin kami bisa mengampuni mu"ucap Racun Barat.


"Tetua "teriak Paksi Darma .


ia langsung melesat menyerang kedua orang itu, namun ki Lukito langsung bergerak cepat menyambutnya dees.... wesss.... Paksi Darma pun langsung terpental seketika sampai membentur pohon braaak....!!


"Kau jangan ikut campur Paksi Darma, tunggu giliran mu"ucap ki Lukito


"Kalian semua juga jangan ikut ikutan "ucap racun barat kepada Arini dan teman temannya.


"Kurang ajar kalian berani menyakiti tetua aku akan mengadu jiwa dengan mu"teriak Arini.


"Mari kita bertiga serang kedua orang tua keparat itu "ucap Sinta.


"Aku tidak takut mati kakak, kalau bukan karena pertolongan tetua waktu di hutan sunyi mungkin sekarang aku tidak bisa berdiri di sekte langit ini "ucap lestari.


"Aku juga begitu lestari andai saja tetua tidak menyembuhkan penyakit ku aku juga tidak mungkin bisa berdiri di sini"ucap Sinta.


"Kalian benar kita berada di sini berkat tetua, jadi mari kita berkorban untuk tetua dan sekte ini"ucap Arini.


"Dengar orang tua bersiaplah menghadapi kami bertiga "teriak Arini dengan keras.


"Haaa.....haaa...haaa... hanya sekumpulan orang orang lemah yang berlagak sok pahlawan, majulah kalian bertiga akan langsung aku kirim kalian ke neraka"ucap racun barat.


"Racun barat mereka bertiga bukan tandingan mu, jangan pikir kalian berdua sudah menang "ucap Jaka tiba-tiba.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi bukankah dia sudah terkena pukulan kematian dari setan tua "ucap racun barat dengan mulut ternganga ketika melihat Jaka berdiri dalam keadaan baik baik saja.


"Rupanya Berkat mutiara batu prasasti luka ku dapat sembuh secara cepat "gumam Jaka.


"Kurang ajar ternyata dia masih bisa berdiri dan luka lukanya pun bisa langsung sembuh dengan cepat, manusia macam apa dia sebenarnya"ucap ki Lukito dengan tidak percaya pada penglihatannya.


"Sekarang terima serangan dari ku Racun Barat"teriak Jaka


Dia langsung bergerak cepat slaaaap.... pukulan pencakar langit hiiiiaaaat... deess....


"Racun barat.......!!!!"teriak Ki Lukito begitu melihat racun barat terdiam.


Ia segera melesat menghampiri racun barat yang masih dalam keadaan berdiri itu.


"Racun Barat..... Racun Barat"ucap ki Lukito.


Begitu ki Lukito menyentuh tubuhnya ,racun barat pun langsung roboh ke tanah, ternyata dia sudah tewas akibat dari pukulan pencakar langit jaka tadi.


"Racun Baraaaaat...!!!!"teriak Ki Lukito.


"Kau harus membayar kematian racun barat dengan Nyawa jaka"teriak Ki Lukito dengan penuh kemarahan.


"Majulah kau setan tua akan segera aku lunasi beserta bunganya hutang ku pada mu, karena kau sudah melukai sesepuh Paksi Darma berarti hanya kematian yang pantas untuk mu"ucap Jaka.


"Bedebah..kau"umpat Ki Lukito.


Hiiiiaaaat.... wuusss.....Ki Lukito mengirimkan serangannya ke arah Jaka duuuaaarrr.... duuuaaarrr..... duuuaaarrr....!!!


"Setan tua dengan jurus dan Pukulan yang sama kau tidak bakalan bisa mengalahkan ku, karena jurus jurus mu aku sudah tahu kelemahannya"seru Jaka.


"Apa..., tidak mungkin kau jangan membual Jaka kau hanya anak kemarin sore mana bisa menggertak ku"ucap ki Lukito.


Serangan dahsyat pun terus ia lancarkan pada Jaka, blaaaar..... blaaaar.... blaaaar... blaaaar....!!


"Sudah aku bilang percuma saja serangan mu itu setan tua"ucap Jaka.


"Bagaimana mungkin bisa seperti ini"teriak Ki Lukito.


Ternyata dengan jurus sepuluh langkah malaikat Jaka menghindari serangan ki Lukito itu, pantas saja semua serangan itu tidak mengenainya.


Hiiiiaaaat...... wuuuuus.... blaaaar....!!!


ledakan pun makin lama makin dahsyat yang menerpa Jaka, hingga tempat Jaka berada di penuhi dengan kepulan asap yang begitu tebal.


Dari balik asap itu kemudian melesatlah tiga buah pedang yang meluncur deras ke arah Ki Lukito.


"Apa...!!!"ucap Ki Lukito begitu melihat tiga pedang meluncur ke arahnya.


Ki Lukito langsung memutar tongkatnya untuk menghalau pedang pedang itu, traaaaang.... traaaaang... traaaaang...,

__ADS_1


"Kurang ajar....!!!"teriak ki Lukito ,merasa kesal karena setiap serangannya tidak berpengaruh pada pedang pedang itu.


"Pukulan pembelah langit hiiiiaaaat.... wuuuuus..... sebuah tenaga yang cukup besar meluncur ke arah pedang pedang itu , mendapatkan dorongan tenaga ketiga pedang itu pun meluncur semakin cepat dan bleeesss ..... duuuaaarrr.... ketiga pedang pun menancap dengan disertai ledakan besar.


Tamatlah riwayat ki Lukito alias si setan tua setelah terkena pukulan pembelah langit itu.


"Maaf setan tua terpaksa aku membunuh mu"ucap Jaka.


Jaka menatap tajam kepada setan tua yang sudah menjadi abu itu, sebenarnya ia tidak mau membunuhnya tapi karena dia sudah berani menyerang Paksi Darma , Jaka pun tidak mempunyai pilihan lain selain membunuhnya.


"Tetua tidak apa apa"tanya Arini.


"Aku baik baik saja bagaimana keadaan sesepuh di mana dia"tanya Jaka.


"Aku tidak apa apa tetua"sahut Paksi Darma dari bawah pohon.


"Baguslah kalau begitu"ucap Jaka dengan lega.


Jaka kemudian menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon di halaman sekte karena badannya terasa lelah setelah setelah bertarung tadi .


"Benar tetua tidak apa apa"tanya Sinta begitu melihat Jaka kelelahan.


Jaka hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Sinta itu.


"Aku tidak bisa melihat sekte langit terus terusan di serang begini, kemarin orang orang dari benua Utara, lalu datang racun barat dari benua barat dan Setan tua, sesepuh aku ingin kau sebarkan bahwa peta itu sekarang ada di benua Utara dengan demikian orang orang tidak akan ada yang datang kemari lagi "ucap Jaka.


"Tapi bagaimana dengan melati dan yang lainnya tetua jika orang orang tahu bahwa peta itu di benua Utara"tanya Paksi Darma.


"Sesepuh tidak perlu khawatir tentang hal itu aku sudah memikirkan semuanya, jadi lekas kerjakan saja perintah ku"ucap Jaka.


"Baiklah tetua"ucap Paksi Darma segera berlalu dari hadapan Jaka.


"Arini dan Sinta aku ingin tahu bagaimana dengan kemajuan ilmu kalian saat ini, sekarang aku minta pada kalian berdua untuk memukul lonceng itu"perintah Jaka.


"Baik tetua "ucap Arini dan Sinta .


Mereka berdua bergegas menghampiri lonceng besar berwarna hitam yang tergantung di samping halaman sekte, lonceng itu dulu di jadikan sebagai pemilihan murid baru tapi setelah Jaka menjadi tetua sekte langit hal itu tidak berlaku lagi karena sangat menyulitkan bagi para calon murid baru.


Tidak lama kemudian mereka pun sudah sampai di tempat lonceng hitam itu berada, Arini dan Sinta tidak tahu apa maksud Jaka yang sebenarnya memerintah mereka untuk memukul lonceng itu,apa benar untuk menguji kekuatannya atau mungkin ada maksud yang lain.


"Sekarang mulailah , Arini kau lebih dulu silahkan pukul lonceng itu sampai berbunyi"perintah Jaka.


"Baiklah tetua"ucap Arini.


"Semangat kak Arini kau pasti bisa"ucap Lestari memberikan semangat pada Arini.


Arini kemudian mengerahkan tenaga dalamnya sampai ke titik puncak, hiiaaaat..... tubuh Arini bergetar beberapa kali menandakan tenaga dalamnya sangat kuat.


Arini kemudian melepaskan pukulannya ke arah lonceng wuuuuus...... wuuuuus... lonceng langsung bergetar dan teng..... lonceng itu berbunyi sekali.


Jaka menganggukkan kepalanya melihat Arini dapat membuat lonceng itu berbunyi walau pun satu kali.


"Sekarang giliran mu Sinta"ucap Jaka.


Sinta kemudian maju dan berdiri di depan lonceng hitam itu dan segera mengerahkan kekuatannya.


Tubuh Sinta langsung bergetar begitu ia mengerahkan tenaga dalamnya rupanya ia dan Arini mempunyai kekuatan yang setara,


Hiiiiaaaat... wuuuuus Sinta melepaskan pukulannya ke arah lonceng hitam di depannya lonceng itu pun bergetar dan teng..... terdengar satu kali lonceng itu berbunyi.


Jaka kembali menganggukkan kepalanya melihat Sinta berhasil memukul lonceng itu sampai berbunyi.


"Aku cukup senang melihat kalian berdua berhasil membunyikan lonceng itu dan mulai sekarang kalian sudah pantas untuk memimpin sekte kalian masing-masing"ucap Jaka.


Arini dan Sinta pun langsung terkejut mendengar perkataan Jaka itu, karena mereka tahu maksud dari Jaka itu.


"Apakah tetua bermaksud mengusir kami berdua dari sini sehingga tetua berkata seperti itu"tanya Sinta.


"Apakah tetua tidak senang kepada kami"ucap Arini.


"Kalian jangan Salah paham seperti itu, bukannya aku mengusir kalian atau tidak suka pada kalian tapi sekte Elang Putih dan angin berhembus saat ini membutuhkan tenaga kalian, Paman Brawijaya dan Sanjaya sudah tua sekarang sudah saatnyalah bagi kalian untuk menggantikan kedudukan mereka "ucap Jaka.


Dalam hatinya Arini dan Sinta merasa tidak siap jika harus meninggalkan sekte langit karena mereka begitu senang tinggal di sekte langit saat ini tapi mereka juga membenarkan perkataan Jaka itu bahwa sektenya membutuhkan tenaga mereka.


"Aku ingin kalian merenungkan ucapan ku yang barusan itu dengan baik,"ucap Jaka.


Jaka kemudian meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri bagaikan patung itu.


Malam harinya Sinta dan Arini sama sama tidak bisa memejamkan matanya, mereka berdua masih teringat dengan perkataan Jaka tadi siang itu.


Sinta yang dalam hatinya memendam perasaan pada Jaka terasa berat baginya jika harus meninggalkan sekte langit, semenjak Jaka menyembuhkan penyakitnya Sinta sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdikan seluruh hidup pada Jaka hal itulah yang membuat dirinya menjadi bimbang dan ragu jika harus kembali sekarang ke sekte angin berhembus.


Malam itu Sinta dibuat harus memilih tetap tinggal di Sekte langit atau kembali ke sekte angin berhembus.


Arini yang sebenarnya diam diam juga punya perasaan suka terhadap Jaka tidak kalah bimbangannya jika saat ini harus meninggalkan sekte langit, walau pun dirinya pada Jaka tidak sedekat Ratih dan Melati tapi dalam hatinya ia mempunyai perasaan yang begitu dalam padanya.


Arini kemudian teringat saat saat dirinya di sekte Elang Putih dan bagaimana sikapnya terhadap Jaka yang sering memusuhinya bahkan tidak segan-segan untuk memukulnya jika ia sedang kesal, bayangan itu sekarang melintas dalam benaknya.

__ADS_1


Arini terkadang memaki maki dirinya jika teringat akan semua kejadian itu, untungnya Jaka tidak pernah dendam padanya bahkan mengizinkan dirinya untuk berlatih di tempat pribadinya hal itulah yang membuat dia semakin suka pada Jaka.


Tanpa terasa malam pun semakin lama semakin larut sedangkan Arini dan Sinta masih bergelut dengan perasaannya masing-masing hingga akhirnya mereka pun terlelap dan terbuai mimpi dengan sendirinya.


__ADS_2