Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
pengejaran.


__ADS_3

Melihat rumahnya digeledah dan di obrak abrik oleh tim pemburu penduduk desa yang tidak mempunyai keahlian apa apa itu hanya bisa pasrah dengan keadaan yang mereka itu.


Perbuatan tim pemburu pada penduduk desa benar benar sudah kelewatan,jika ada orang yang berani menolak rumahnya untuk di geledah , pukulan langsung mereka berikan pada mereka bahkan para pasukan pemburu tidak segan segan untuk membunuhnya.


Namun orang yang mereka cari itu tidak dapat mereka temukan walau pun mereka sudah melakukan penggeledahan di setiap rumah penduduk.


Tim pemburu pertama itu segera mengumpulkan para penduduk di balai desa untuk di mintai keterangan.


Para penduduk desa yang tidak tahu apa apa itu hanya bisa menuruti apa yang mereka perintah kan itu dari pada kena hajar.


"Aku ingin bertanya pada kalian semua, Apakah di antara kalian ada yang melihat orang dari kerajaan Sangguling datang kemari"tanya salah satu orang dari tim pemburu itu dengan suara keras.


Para penduduk yang memang tidak tahu apa apa itu hanya saling berpandangan tidak mengerti maksud dari pertanyaan orang orang itu.


"Kami tidak tahu apa maksud dari pertanyaan tuan tadi "jawab salah seorang penduduk desa itu.


"Dengar kan baik baik kalian semua , kedatangan kami ke sini adalah untuk mencari orang yang berhasil kabur dari kerajaan Sangguling , apakah kalian pernah melihat orang asing yang masuk ke desa ini"tanya pasukan pemburu itu.


"Sepengetahuan kami tidak ada orang asing yang datang kemari tuan "ucap orang tadi.


"Apa yang di katakan oleh teman kami itu benar tuan memang kami tidak melihat adanya orang asing yang datang kemari "ucap "ucap temannya.


"Awas kalau di antara kalian ada yang ketahuan berbohong, kalian semua akan terima akibatnya "ucap orang itu, kemudian segera pergi untuk melaporkan hal itu kepada Kamandaka.


"Lapor Jenderal mereka tidak ada di sini,kami sudah menggeledah semua rumah para penduduk tapi tidak menemukan adanya mereka, bahkan semua penduduk desa sudah kami mintai keterangan namun tidak ada satu pun dari mereka yang melihatnya "ucap pasukan pemburu itu.


"Kita tunggu laporan dari tim kedua sebelum kita mengambil langkah selanjutnya "ucap Kamandaka dengan dingin.


Tidak lama kemudian tim kedua pun datang untuk melapor.


"Lapor Jenderal kami menemukan bekas obat obatan di rumah yang terletak di pinggir hutan sana"ucap tim kedua itu.


"Cepat kita ke sana untuk memeriksanya lebih lanjut"ucap Kamandaka segera melarikan kudanya ke tempat itu.


Melihat para pasukan berpakaian serba hitam itu pergi lega lah hati para penduduk desa.


Sesampainya di tempat itu Kamandaka segera turun dari kudanya dan kemudian bergegas masuk ke dalam rumah itu.


Di dalam rumah itu terdapat banyak bekas obat obatan dan bekas darah yang telah kering pada sebuah kain.


"Sepertinya raja Dewantara dan yang lainnya pernah menempati rumah ini ,lalu meninggalkan tempat ini setelah mereka mengetahui kedatangan kita"ucap Kamandaka.


"Cepat kalian cari petunjuk lain aku ingin tahu lari kemana mereka semua"perintah Kamandaka.


Para anak buahnya pun bergegas memeriksa tempat itu lagi dengan seteliti mungkin.


"Lapor Jenderal kami menemukan bekas roda kereta yang terhapus dan sepertinya mereka menuju ke arah timur"ucap salah satu pasukan itu.


"Ternyata begitu mereka ingin menghilangkan jejak,sepertinya yang membawa lari raja Dewantara itu cukup cerdik juga orangnya, ayo cepat kita cepat kejar mereka,aku yakin mereka belum jauh"ucap Kamandaka .


Mendengar perkataan Kamandaka itu para pasukan tim pemburu pun segera bergerak pergi menuju ke arah timur.


Ternyata benar perkataan dari Kamandaka itu perjalanan melati dan rombongannya ternyata belum jauh karena jalan yang di lalui kereta itu begitu licin sehingga harus pelan pelan untuk melintasinya.


Jika mereka memaksakan mempercepat lari kereta tidak mustahil jika kereta itu bakal oleng atau terbalik.


"Sialan jika berjalan seperti ini pasti pasukan pemburu itu akan dapat mengejar kita"ucap Ratih dengan gusar.


"Kau benar nona , tapi yang penting kita harus terus berjalan walau pun pelan "ucap Rawa Candra mengerti perasaan Ratih khawatir itu.


Tiba-tiba kraak.... terdengar bunyi berderak dari bawah kereta rupanya jalan yang di lalui kereta itu amblas karena tidak dapat menahan beban kereta yang terlalu berat tak ayal kerta pun langsung dalam posisi miring hampir roboh.


Melati dan yang lain sangat terkejut melihat kejadian yang terjadi tiba-tiba itu.


"Jaka....!!!"teriak Ratih bergegas turun dari kudanya dan segera melihat semua penumpang yang ada di dalam kereta itu.


Begitu pula melati dan yang lainnya pun segera turun dari kudanya untuk melihat semua penumpang yang ada di dalam kereta itu.


"Cepat kalian angkat kereta ini"teriak melati.


Rawa Candra dan Banjar Samudra pun bergegas turun dari kudanya membantu para pasukan sekte langit untuk mengangkat kereta itu.


Tidak menunggu lama kereta itu pun akhirnya dapat di angkat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mereka Ratih "tanya melati setelah melihat Ratih ada di dalam kereta.


"Luka Jaka terbuka melati akibat goncangan tadi"teriak melati.


"Apa...!! lalu bagaimana dengan yang lainnya Ratih "tanya melati .


"Yang lainnya baik baik saja melati"ucap Ratih.


"Kita berhenti dulu sebentar ,aku akan memperbaiki balutan luka tetua "ucap melati bergegas masuk ke dalam kereta.


Luka di dada Jaka yang semula akan mengering kini harus berdarah lagi akibat goncangan tadi.


Melihat luka Jaka berdarah itu melati bergegas menaburkan obat serbuk kepada lukanya kemudian membalutnya kembali.


Melati pun memberikan obat tidur pada Jaka dan yang lainnya agar tidak banyak bergerak supaya luka tidak terbuka.


Dari arah belakang terlihat rombongan para pasukan tim pemburu sudah terlihat mendekati mereka.


"Celaka mereka datang"ucap Banjar Samudra ketika melihat pasukan berkuda mendekat.


"Gawat nona melati mereka datang...!!!"teriak Banjar Samudra.


"Ratih kau dan tuan Rawa Candra tetap lanjutkan perjalanan aku dan tuan Banjar Samudra dan pasukan lainnya akan berusaha menghadang mereka di sini"ucap Melati.


"Tapi melati... jumlah mereka terlalu banyak sebaiknya kita jangan melayani mereka dulu"ucap Ratih.


"Tidak bisa Ratih mereka tidak akan melepaskan kita begitu saja, cepatlah kau bawa tetua dan yang lainnya pergi dari sini kau jangan perduli kan keselamatan ku , karena sudah menjadi tugas ku untuk melindungi keselamatan tetua, percaya lah aku pasti bisa mengatasi mereka semua"teriak melati,


sebenarnya melati merasa sangat bersalah melihat Jaka sampai terluka seperti itu,ia merasa gagal menjalankan tugasnya untuk melindungi tetua sekte.


ia merasa tidak punya muka lagi jika bertemu dengan sesepuh Paksi Darma nanti.


"Nona Ratih pergilah ,aku akan tinggal di sini untuk menghadang mereka "ucap Rawa Candra tiba-tiba.


"Cepatlah nona Ratih kita tidak punya banyak waktu karena pasukan pemburu itu sebentar lagi sampai di sini "ucap Banjar Samudra.


Mendengar perkataan dari ketiga orang itu Ratih dengan berat hati segera berjalan meninggalkan Melati.


Melati, Rawa Candra dan Banjar Samudra menatap tajam ke arah para pasukan pemburu yang sudah semakin dekat itu.


"Maaf telah merepotkan kalian berdua"ucap melati kepada Rawa Candra dan Banjar Samudra.


"Nona melati tidak perlu sungkan begitu,aku sudah berjanji pada diriku sendiri, semua orang orang sekte serigala api sudah aku anggap sebagai musuh ku setelah sekte kalajengking hitam ayah ku di hancurkan oleh tetua Agung"ucap Rawa Candra.


"Benar nona aku pun juga demikian, setelah pengkhianat Sanca Buana aku juga sudah sejalan dengan Rawa Candra"ucap Banjar Samudra.


"Jika demikian mari kita tumpas mereka sebanyak banyaknya "ucap melati.


"Tangkap mereka....!!!"teriak Kamandaka.


Para pasukan segera mencabut pedangnya dan bergerak cepat menyerang melati dan yang lainnya.


Melati langsung melemparkan tiga bola hitamnya sekaligus wes...wess...wesss asap hitam pun langsung mengebul memenuhi tempat itu.


Melati langsung melesat masuk ke kepulan asap hitam itu dan dengan cepat memainkan pedangnya wess... kreees.... kreees.... pasukan pemburu yang ada di dalam asap itu pun segera berjatuhan dalam sekejap oleh tebasan pedang Melati.


"Kurang ajar siapa sebenarnya wanita itu"umpat Kamandaka , kemudian melepaskan pukulannya ke gumpalan asap hitam itu wuuuuus..... duuuaaarrr..... namun melati dengan cepat menghindarinya.


Asap hitam itu pun lenyap seiring dengan ledakan tadi.


Kamandaka sangat marah setelah melihat banyak pasukan yang tewas dalam kepulan asap hitam tadi.


"Cepat habisi mereka"teriak Kamandaka seraya melesat maju.


"Dia bagian ku"ucap Rawa Candra ketika melihat Kamandaka maju menyerang.


Banjar Samudra dan pasukan sekte langit lainnya langsung bergerak menyerang pasukan pemburu yang datang ke arahnya.


pertarungan sengit pun langsung terjadi di tempat itu Banjar Samudra langsung mengamuk dengan pedang di tangannya ,para pasukan pemburu yang terkenal cukup kuat itu pun tidak mampu menghadang laju pedang milik Banjar Samudra yang terus bergerak mencari mangsa.


Melati bergerak dengan sangat cepat slaaaap..... slaaaap..... slaaaap.. dalam sekejap satu.... dua.... tiga....dan selanjutnya para pasukan pemburu pun harus terkapar tak bernyawa setelah kepala mereka lepas dari badannya.


Rawa Candra dan Kamandaka tampak beradu kesakitan melayang di udara, pukulan pukulan mematikan Kamandaka menyerang Rawa Candra secara bertubi-tubi,

__ADS_1


namun itu belum cukup untuk mengurung atau pun mendesak Rawa Candra, karena setelah mewarisi jurus dari kakek tua beberapa bulan yang lalu kini kesakitan Rawa Candra bisa di sejajarkan dengan para tetua Sekte besar lainnya.


Kamandaka mempercepat gerakan pedangnya untuk menebas Rawa Candra wesss.....wessss.....wess... tapi Rawa Candra masih tetap bisa menghindarinya.


Rawa Candra bersalto melewati kepala Kamandaka menghindari sabetan pedangnya kemudian memutar badannya dan mengirimkan tendangan keras padanya deess.... weesss.... Kamandaka pun langsung jatuh ke bawa gedebuuuk..... braaak....Rawa Candra langsung mengirimkan pukulan ke arahnya wuuuuus.... duuuaaarrr... meledak lah tempat Kamandaka tadi jatuh.


"Hiiiiaaaat.....matilah kau..."ucap Kamandaka yang tiba-tiba sudah ada di belakang Rawa Candra.


Kamandaka segera mengayunkan pedangnya untuk menebas tubuh Rawa Candra wesss....tapi tanpa di duga oleh Kamandaka Rawa Candra langsung menghilang dari hadapannya slaaaap.....


"Apa....!!! "ucap Kamandaka dengan tersentak.


"Kemana dia...."ucap Kamandaka seraya mencari cari keberadaannya.


"Hiiiiaaaat.......deeeg.....desss...Rawa Candra langsung memberikan tendangan yang cukup keras pada Kamandaka begitu dia muncul tiba-tiba di belakangnya.


Kamandaka pun terlempar cukup jauh dan cukup keras braaak......bruuuk.


Sementara itu pertarungan Melati dan Banjar Samudra menghadapi pasukan pemburu terus berlanjut ,


bagi melati dan Banjar Samudra kemampuan pasukan pemburu memang cukup merepotkan di bandingkan dengan prajurit biasa tapi biar bagaimana pun Banjar Samudra yang merupakan bekas tetua sekte kumbang merah kemampuannya tidak bisa dianggap remeh,


apa lagi dengan kemampuan melati yang sudah jelas statusnya sebagai anggota pasukan khusus pengawalan tetua sekte juga tidak bisa di buat main-main,


maka wajarlah jika sepak terjang kedua orang itu sangat sulit untuk di bendung oleh para pasukan pemburu itu yang kemampuan bertarung masih di bawa mereka berdua.


"Akh.... kurang ajar ,mengapa terdapat banyak orang orang kuat di sini, menurut laporan kemarin hanya satu orang yang terlihat berilmu tinggi tapi kenapa sekarang bertambah menjadi tiga "ucap Kamandaka seperti menyesali dirinya.


Ternyata waktu pasukan serigala Api menyerang desa Sekaten kemarin itu hanya Ratih lah yang terlihat dalam pertarungan itu sedangkan melatih lagi pergi mencari obat ,


yang kemudian bertemu Rawa Candra dan Banjar Samudra , pantas saja hal ini membuat Kamandaka begitu terkejut karena mereka bertiga tidak masuk hitungan oleh pasukan serigala api yang kabur itu.


"Apa cuma begini kemampuan pasukan tim pemburu yang terkenal itu, sungguh mengecewakan ternyata hanya omong kosong belaka kalau kabarnya mereka terkenal kuat"ucap Rawa Candra.


Kamandaka kemudian berdiri dan menatap tajam ke pada Rawa Candra,


"Kau jangan merasa menang dulu orang sialan, akan ku tunjukkan kekuatan ku yang sebenarnya pada mu"ucap Kamandaka kemudian mengambil sebutir pil dari balik bajunya lalu ia menelan pil itu.


Pil yang di telan Kamandaka adalah pil kekuatan atau di sebut juga dengan pil pembakar jiwa, karena setelah orang menelan pil itu kekuatannya langsung bertambah dua kali lipat namun efeknya adalah akan kehilangan nyawa bagi yang makan pil itu setelah efek sampingnya hilang,maka tidak heran jika kegagalan adalah kematian bagi pasukan khusus.


Hiiiiaaaat........ dalam sekejap saja aura kekuatan Kamandaka langsung meningkat pesat memancar dari tubuhnya.


"Apa..... kenapa kekuatan langsung meningkat drastis, bagaimana ini bisa terjadi"ucap Rawa Candra dengan keterkejutan.


Kamandaka menatap tajam Rawa Candra yang berada di depannya,lalu slaaaap.....dess......dess....dess..... Kamandaka memukul Rawa Candra secara bertubi-tubi tanpa bisa Rawa Candra hindari.


Bruuuk.... Rawa Candra terjatuh cukup keras hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.


"uhuuk... kecepatan gerakannya sangat sulit untuk di hindari"ucap Rawa Candra.


Hiiiiaaaat.... wuuuuus.... sebuah pukulan meluncur ke arah Rawa Candra yang masih dalam keadaan terjatuh itu.


"celaka"ucap Rawa Candra .


Duuuaaarrr..... tempat Rawa Candra terjatuh itu pun langsung meledak seketika.


"Hampir saja"ucap Rawa Candra setelah berhasil menghindar dari pukulan itu.


Namun tiba-tiba sebuah pukulan melayang menghantam wajahnya dess.....dess...dess... Kamandaka yang mengetahui Rawa Candra dapat lolos dari pukulannya itu langsung memberikan pukulannya kembali.


Aaaaaa...... braaak......Rawa Candra pun kembali terpental untuk yang kedua kalinya .


"Haaa....haaaa....haaa.....mana tadi kesombongan mu , kenapa sekarang hilang begitu saja"ucap Kamandaka bergantian mengejek.


"Heeh.... kekuatan mu itu masih belum cukup untuk mengalahkan ku"ucap Rawa Candra sambil mengusap darah yang mengalir di bibirnya.


"Kurang ajar masih berani besar mulut kau di depan ku setelah melihat perbedaan kekuatan di antara kita"ucap Kamandaka dengan melotot tajam.


"Matilah kau....!!!"teriak Kamandaka seraya melesat cepat ke arah Rawa Candra sambil menyiapkan pukulan untuk membunuh Rawa Candra.


Hiiiiaaaat........ Kamandaka langsung mengirimkan pukulannya ke arah Rawa Candra,namun tiba-tiba tendangan kilat petir hiiiiaaaat...."teriak Rawa Candra.


Tendangan petir milik Rawa Candra kemudian bertemu dengan pukulan milik Kamandaka lalu akhirnya duuuaaarrr...... duuuaaarrr .....Kamandaka terpental melayang ke belakang weees......, Rawa Candra tidak mau memberikan kesempatan pada Kamandaka ia langsung melesat mengejarnya Wuuuuus....... wuusss...... wuusss...

__ADS_1


__ADS_2