
"ini tidak bisa dibiarkan tetua"ucap melati.
"Kamu benar melati secepatnya kita harus bertindak untuk membebaskan para penduduk yang di tawan oleh sekte mawar merah itu"ucap Jaka dengan mengepalkan tangannya.
"Sekarang saudara boleh pergi , terima kasih untuk informasinya"ucap Jaka dengan sopan.
"Baik tuan"ucap pemuda itu segera berlalu dari hadapan jaka dan Melati.
"Kurang ajar Darsiman tega teganya dia menjual warga desa ini pada Sekte mawar merah"ucap Jaka.
"Sekarang langkah apa yang harus kita ambil tetua"tanya melati minta saran.
"Kita langsung sambangi rumah Darsiman, aku ingin tahu di bawa ke mana para penduduk desa ini"ucap Jaka dengan kemarahan yang tertahan.
Jaka dan Melati segera menuju ke kediaman Darsiman,bagi Jaka tidak sulit untuk menemukan rumah Darsiman itu, karena ia sudah tahu di mana rumahnya itu.
Jaka benar benar marah pada pamannya itu,dulu ia dan ibunya di usir kini penduduk desa yang tidak tahu apa apa malah di jadikan korban untuk kepentingan sekte mawar merah .
Dengan menggunakan ilmu ringan tubuhnya Jaka dan Melati melesat cepat menuju ke rumah Darsiman dan hingga tidak lama kemudian mereka berdua pun sampailah di sana.
Jaka berdiri mematung memandang lurus ke rumah yang cukup besar yang ada di depannya itu di mana di rumah itu terdapat kenangan bersama kedua orang tuanya yang kini telah tiada keadaan kini sekarang berbeda karena sekarang terdapat beberapa penjaga dengan bersenjata pedang yang menjaga rumah itu.
Jaka segera melangkah masuk ke dalam rumah itu, tapi tiba-tiba seorang penjaga maju menghentikan langkahnya.
"Berhenti.....!!kamu siapa dan mau apa datang ke sini"tanya penjaga itu dengan kasar serta garang.
"Aku punya urusan dengan Darsiman,saya minta kamu jangan coba coba halangi saya"ucap Jaka dengan wajah penuh kemarahan.
"Kurang ajar,apa kamu tidak tahu ini rumah siapa"tanya penjaga itu.
"Tentu saja aku tahu, ini adalah rumah iblis Darsiman yang sudah menjual warga desa pada sekte mawar merah"ucap Jaka dengan suara bergetar karena saking marahnya.
"lancang bicara mu .. rupanya kau sudah bosan hidup ya.!!!"ucap penjaga itu.
"Darsiman keluar kau...!!!"teriak Jaka tanpa memperdulikan penjaga di depannya itu.
Melihat orang yang di hadapannya itu berteriak memanggil nama tuannya seenaknya sendiri, penjaga itu pun langsung marah dan menyerang jaka,tapi belum apa apa penjaga itu seketika roboh, setelah Melati dengan cepat menghantamnya.
Melihat temannya di jatuhkan dalam sekejap penjaga yang lainnya pun segera berdatangan.
"Siapa kalian mengapa berani membuat keributan di kediaman tuan Darsiman "ucap salah satu penjaga yang baru datang tadi.
Jaka hanya tersenyum pahit mendengar pertanyaan konyol dari penjaga itu.
"Ku peringatkan pada kalian, cepat minggir dari hadapan ku kalau tidak ingin nyawa kalian melayang dari badannya "ucap Jaka.
Mendengar ancaman Jaka itu para penjaga bukannya takut,tapi malah mengepung Jaka dan Melati.
"Sebaiknya tetua cepat ke dalam,para cecunguk ini biar aku yang urus "ucap Melati.
Jaka menoleh ke arah Melati seraya menganggukkan kepalanya kemudian melesat pergi kedalam rumah Darsiman itu.
"Darsiman keluar kau....!!!!"teriak Jaka begitu sampai di dalam.
"Darsiman.... Darsiman.... Darsiman..."teriak Jaka berkali kali, namun tidak juga ada jawaban.
"Darsiman......
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan dari ruangan dalam yang makin lama makin keras.
"Aku sungguh kagum dengan keberanian mu yang masuk ke tempat ku ini"ucap seseorang dari dalam yang tidak lain adalah Darsiman.
Jaka menatap tajam kepada pria yang baru muncul di depannya itu, amarahnya seketika memuncak jika teringat perilaku orang itu pada ibunya serta dirinya beberapa tahun yang lalu,apa lagi di tambah dengan adanya masalah dengan penduduk desa Sekaten yang di jadikan budak oleh sekte mawar merah , walau pun pamannya Jaka tidak pandang bulu siapa yang berbuat jahat tetap harus di tumpas.
"Kau masih ingat aku Darsiman"ucap Jaka.
Mendengar namanya di sebut oleh pemudanya di depannya, Darsiman pun terkejut karena dirinya tidak merasa mengenal pemuda itu,tapi rasanya akrab sekali dengan tatapan mata pemuda di depan nya itu.
"Siapa kamu sebenarnya kenapa aku merasa familiar dengan tatapan mata mu itu"ucap Darsiman.
"Aku adalah anak dari Sari Ningrum, yang dulu kau usir dari rumah ini beberapa tahun silam"ucap Jaka dengan kemarahan yang tertahan.
Mendengar nama Saraswati di sebut oleh pemuda di depannya itu Darsiman langsung tercekat karena mengenal orang yang punya nama itu.
"Kamu ... Jaka..anak dari kakang Kelana dan Sari Ningrum "tanya Darsiman dengan tercekat.
"Benar , hari ini aku akan minta pertanggung jawaban mu atas tindakan mu yang menjadikan warga desa sebagai budak untuk kepentingan sekte mawar merah"ucap Darsiman.
"Haaa.....haaa.....haaa .....ku kira orang gila mana yang tiba-tiba datang ternyata anak kakang Kelana dan Saraswati,kau bisa apa cuma seorang diri mau menghentikan aku dan sekte Mawar merah haah...!!!"ucap Darsiman.
"Hari ini akan ku kirim kau ke neraka Darsiman "ucap Jaka sambil mengacungkan jari telunjuk kepadanya.
"Aku penasaran sekali dengan ucapan mu itu Jaka, kalian keluarlah dan ringkus orang ini"ucap Darsiman memerintahkan para pengawalnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian munculah sekitar sepuluh orang dari dalam dengan memegang pedang masing masing di tangannya dan mereka langsung mengepung Jaka.
"Kalian cepat bunuh dia"ucap Darsiman dengan sinis.
Kesepuluh orang tadi langsung bergerak menyerang Jaka, namun sebelum mereka sempat menyerang Jaka tiba-tiba sebuah gerakan cepat datang tanpa di sadari oleh para orang-orang yang mengepung Jaka itu dan kress.....kress....kress lima orang pun seketika roboh ke tanah dengan nyawa melayang dari badannya.
Darsiman langsung terbelalak melihat lima orang pengawalnya tumbang dengan cepat sekali di depan matanya.
Sisa lima orang yang mengepung Jaka tadi seketika mengambil jarak setelah melihat lima temannya tewas.
"Siapa kau dan apa hubungannya dengan Jaka"ucap Darsiman ketika melihat seorang wanita berdiri di hadapannya.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, karena sebentar lagi kau akan ku buat menyusul mereka "ucap melati dengan dingin.
"Darsiman cepat katakan kau bawa kemana orang orang desa, jika kau tidak mau mengatakan akan ku buat nasib mu sama seperti mereka"ucap Jaka dengan nada penuh ancaman.
Darsiman mengepalkan tangannya mendengar ucapan Jaka itu, ia menatap tajam ke arah Jaka dengan gigi gemertakan saking marahnya.
"Aku tidak akan mengatakannya pada mu "ucap Darsiman.
"tetua aku akan paksa dia untuk mengatakannya"ucap melati .
"Kalian cepat ringkus wanita itu"perintah Darsiman kepada lima orang pengawalnya.
Kelima orang pengawal tadi langsung menyerang melati, hiiaaaat...wes... pedang kelima orang itu mencoba menebas tubuh melati namun dengan gerakan yang cepat slaaaap.... slaaaap.... slaaaap... melati langsung membuat kelima orang itu roboh seketika.
"kurang ajar gerakannya cepat sekali"ucap Darsiman dalam hati.
"Sekarang giliran mu tua bangka"ucap Melati.
Darsiman langsung meluncur menyerang melati yang berada di depannya itu.
Hiaaat..... dengan pedangnya Darsiman mencoba menusuk melati,tapi dengan cepat melati menggeser badannya dua langkah kebelakang menghindarinya, Darsiman menarik cepat pedangnya kemudian menyabetkan ke tubuh melati, tidak mau tubuhnya terpotong Melati menekuk badannya kebelakang,lalu mengirimkan tendangan ke punggung Darsiman dukh..Darsiman pun sempoyongan ke depan.
Lalu dengan gerakan yang cepat melati langsung menodongkan pedangnya ke leher Darsiman.
"Cepat katakan kau bawa kemana orang orang itu"ucap Melati.
"Paman sebaiknya jangan keras kepala cepat katakan"ucap Jaka.
"Baiklah , orang orang itu sekarang sudah berada di sekte mawar merah"ucap Darsiman.
"Mengapa sekte mawar merah menangkap orang orang desa apa tujuan mereka sebenarnya"tanya Jaka, ia ingin memastikan apakah sama dengan perkataan pemuda tadi yang dia temui dengan perkataan pamannya itu.
"Mereka akan dipekerjakan untuk membuat benteng di bawah pengawasan sekte mawar merah atas perintah kerajaan Sangguling"ucap Darsiman.
"Cecunguk mana yang berani berbuat onar dengan orang orang anggota sekte mawar merah"ucap seseorang tiba-tiba.
Darsiman merasa lega ketika mengenali suara orang itu.
"Tetua Sambar nyawa kau akhirnya datang juga"teriak Darsiman.
Jaka mengamati sekitar tempat itu namun ia tidak melihat siapa pun di sana.
"Melati sepertinya kita kedatangan tamu yang tidak biasa"ucap Jaka.
"Benar tetua aku merasakan getaran tenaga dalamnya cukup besar"ucap melati.
Slaaaap.... slaaaap..... tiba-tiba muncul tiga orang di tempat itu yang berpenampilan sangat aneh dari ketiga orang itu satu bermuka perak dan satunya lagi mukanya berwarna emas. Sedangkan orang yang di depan berambut putih dengan alis putih memanjang serta sorot matanya setajam elang dia lah Sambar nyawa orang terkuat kedua di sekte mawar merah setelah nyai Konde Mas.
Suasana pun tiba tiba berubah serius dan mencekam setelah kehadiran ketiga orang itu
"Tuan Sambar nyawa,tolong aku"teriak Darsiman.
"Pembunuh Perak cepat kau ringkus dua tikus itu"perintah Sambar nyawa.
Pembunuh Perak langsung melesat cepat menyerang melati dengan mengirimkan pukulan nya wuuuuus...... namun melati dengan cepat slaaaap... menghindari serangan pembunuh Perak duuuaaarrr.... pukulan pembunuh Perak tadi mengenai ruang kosong.
Melati kemudian muncul di belakang pembunuh Perak langsung menyerang dengan pedang wesss.... namun pembunuh Perak dapat menangkis serangan itu dengan pedangnya traaaaang..... melati kemudian mengirimkan tendangan wes.... pembunuh Perak mengelak ke samping lalu memutar badannya seraya menyabetkan pedangnya ke arah melati,tak ingin kepalanya hilang melati membungkukkan tubuhnya sehingga luput dari ancaman pedang pembunuh Perak itu.
Samber nyawa diam diam terkejut melihat kemampuan wanita di depannya itu, karena biasanya serangan pembunuh Perak tidak pernah meleset.
Pertarungan terus berlanjut serangan demi serangan terus mereka berdua tunjukkan.
Hingga tanpa terasa pertarungan mereka mencapai jurus ke dua puluh ,namun belum juga kelihatan tanda-tanda yang akan kalah dari keduanya .
Tapi jika di lihat secara cermat Melati masih lebih unggul dari pembunuh Perak, karena tampaknya melati belum mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya.
Samber nyawa yang melihat pembunuh Perak tampak kewalahan segera memerintahkan pembunuh emas membantunya.
"Melati bagaimana keadaan mu"ucap Jaka ketika melihat pembunuh emas turun tangan.
"Tetua jangan khawatirkan aku , cuma mereka berdua aku masih bisa menangani nya"ucap melati.
__ADS_1
Jaka pun lega setelah mendengar jawaban dari melati itu.
Pertarungan kembali terjadi , melati menari nari dengan pedang di tangannya menghadapi dua lawan tangguh sekaligus.
pembunuh emas mencecar Melati tanpa ampun dengan serangan serangan ganasnya begitu juga dengan pembunuh Perak yang juga melibatkan gandakan serangan.
Melati bergerak lincah dan gesit menghindari sabetan sabetan dua lawannya itu.
Rupanya pertahanan melati masih kokoh menghadapi dua lawan tangguh itu.
Sambaran pedang pembunuh Perak dan pembunuh emas bagaikan ular yang sedang mencari mangsanya, jika salah sedikit saja melati bergerak tak ayal tubuhnya pun akan tercincang oleh tebasan tebasan pedang mereka, namun melati adalah pendekar yang sudah malang melintang dan berpengalaman jadi dalam keadaan apa pun dia akan bersikap tenang
Kekesalan terlihat di wajah kedua lawannya itu karena sudah hampir ratusan jurus tapi masih belum juga menghabisi nyawa lawannya itu.
kemudian pembunuh Perak dan pembunuh emas menyerang melati dengan tenang dalamnya wuuuuus.... wuuuuus...... ,melati segera meluncur ke atas menjebol atap braaak..... duuuaaarrr pukulan kedua orang hanya itu menghancurkan dinding rumah itu.
Melihat lawannya mencoba kabur dua pembunuh Perak dan emas segera melesat mengejar Melati.
Tidak mau terjadi apa apa pada melati Jaka segera berkelebat menyusulnya.
Begitu juga dengan Sambar nyawa langsung melesat keluar untuk melihat kedua bawahannya itu.
"Apa cuma begini kemampuan kalian "ucap melati dengan kata-kata yang merendahkan mereka berdua, dia sengaja memancing kemarahan kedua lawannya itu.
"Jangan sombong kau wanita ****** perak mari kita tunjukkan jurus gabungan kita"ucap pembunuh emas.
"Baiklah ,kita buat dia menyesal"ucap pembunuh Perak.
Kedua pembunuh Perak dan emas segera menyatukan tangan mereka lalu kemudian berputar seperti gasing yang makin lama mereka berputar semakin cepat.
"Hmmm... kurang ajar bisa bisa pembunuh Perak dan pembunuh emas di paksa sampai ke titik ini, ternyata dia bukan lawan yang sembarangan, apa lagi dengan pemuda itu pasti kekuatannya tidak kalah dengan wanita itu"batin Samber sambil memperhatikan Jaka.
wuuuuus.... wuuuuus..... perputaran pedang pembunuh Perak dan pembunuh emas berdengung seperti gasing yang berputar.
Mau tak mau melati harus berkali-kali menggunakan ilmu ringan tubuhnya untuk menghindari serangan itu.
Namun ilmu ringan tubuh saja ternyata tidak mampu menghindari serangan kombinasi itu, karena mereka terus mengejar kemana melati pergi.
Braaak.... braaak... braaak... pohon pohon pun tumbang akibat terkena sabetan pedang mereka .
"Apakah kau baik baik saja melati..!!!"teriak Jaka.
"tetua tenang saja ini hanyalah mainan anak kecil"jawab Melati sambil terus berlari menghindari serangan dua pembunuh Perak dan emas itu.
Melati melesat cepat slaaaap... slaaaap ia jauh dari dua lawannya itu dengan jarak sekitar tujuh tombak.
Melihat melati jauh di depan nya dua lawannya itu segera mengejar dengan berputar cepat ke arah melati.
"Baiklah aku ingin tahu seberapa kuat kalian"ucap melati ,sambil menunggu dua lawannya itu mendekat diam diam melati mempersiapkan pukulan badai menerjang karang.
"Apa yang akan di lakukan wanita itu, kenapa dia hanya diam saja apakah dia kehabisan tenaga "gumam Sambar nyawa.
Ketika jarak tinggal sekitar dua tombak Melati segera melepaskan pukulannya dua kali wuuuuus....... wuuuuus........ duuuaaarrr...... duuuaaarrr... Dua pembunuh Perak dan emas pun langsung terpental dengan terpisah.
Melihat usahanya berhasil melati tersenyum penuh arti kemudian slaaaap...ia melesat cepat dan kreees..... pembunuh Perak pun menemui ajalnya.... kemudian ia melirik ke pembunuh emas dan berniat menghabisi , namun tiba-tiba wuuuuus..... sebuah pukulan melesat ke arah duuuaaarrr...... ternyata Sambar nyawa yang menyerang melati itu.
"Rasakan itu wanita ******"ucap Sambar nyawa merasa berhasil membunuh melati.
Asap tebal menyelubungi tempat di mana melati berada, namun betapa terkejutnya Sambar nyawa setelah tahu wanita yang di serangnya sudah tidak ada lagi.
"Apa ....!!!!! bagaimana bisa ia menghindari pukulan penghancur ku"ucap Sambar nyawa dengan terkejut.
Sambar nyawa mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, kemudian ia melihat wanita yang di serangnya tadi sedang bersama dengan seorang pria temannya yaitu Jaka.
"Haiii Sambar nyawa tindakan mu benar benar sangat memalukan , hanya seorang pengecut lah yang biasanya menyerang dari belakang "ucap Jaka dengan menatap tajam ke arahnya.
Sambaran Nyawa langsung terbakar amarahnya mendengar ejekan Jaka itu, namun ia tidak berani bertindak gegabah, setelah melihat kemampuan wanita yang bersama dengan jaka itu,ia mempertimbangkan untung dan ruginya jika harus bertarung sekarang dengan pemuda di hadapannya itu.
"Baiklah kali ini aku mengaku kalah tapi lain kali jangan harap kalian bisa lolos dari cengkraman ku"ucap Sambar nyawa, kemudian ia pergi dengan membawa pembunuh emas yang terluka itu.
"Tetua kenapa dia di biarkan pergi"tanya melati.
"Kita Jangan buru buru melati, tenang saja cepat atau lambat kita akan temukan mereka"ucap Jaka.
"Terimakasih atas pertolongan tetua tadi, kalau tidak mungkin aku sudah terluka parah"ucap melati.
"Dengar melati,kalau tadi kamu sampai terluka oleh serangan orang itu ,maka apa gunanya aku sebagai tetua sekte langit yang tidak bisa melindungi kamu, jadi simpan lah rasa terima kasih mu itu"ucap Jaka.
"Baik tetua "ucap melati.
"Kau pulihkan dulu tenaga mu setelah itu kita kembali ke sekte langit "ucap Jaka.
Melati pun segera bersemedi untuk memulihkan tenaganya yang terkuras setelah menjalani pertarungan tadi.
__ADS_1
Setelah melati selesai memulihkan tenaga dalamnya, Jaka pun segera mengajak Melati pergi meninggalkan desa Sekaten dan kembali ke sekte langit.