Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Di kedai


__ADS_3

Di sebuah kedai yang begitu besar terdengar suara hiruk-pikuk sendok dan piring berdentang.Pelayan kedai tampak kewalahan melayani pesanan dari para pelanggannya.


Maklumlah karena kedai itu sudah berdiri cukup lama , selain makanan yang di sajikan juga enak harganya pun ramah di kantong baik rakyat biasa maupun pejabat kerajaan , yang juga sering mampir di kedai itu.


Di antara sekian banyaknya pengunjung kedai itu di sudut belakang terlihat dua orang muda mudi yang tidak lain adalah Jaka dan Melati yang sedang asik menyantap makanan yang mereka pesan.


Rupanya dalam perjalanan menuju sekte Langit Jaka memutuskan untuk mampir di kedai itu untuk mengisi perutnya.


Di tengah asyiknya Jaka dan Melati makan tiba tiba datang lima orang dengan penampilan serba mewah , wajah nya bersih dan juga tampak berwibawa melihat siapa yang datang itu para pengunjung kedai lainnya segera berhamburan keluar, karena mereka tidak ingin celaka jika tetap di kedai itu.


Kelima orang itu tidak lain adalah pangeran Bratadewa dan keempat pengawalnya sedang dalam perjalanan menuju ke sekte langit.


Rupanya di kalangan rakyat kerajaan Sangguling pangeran Bratadewa begitu terkenal sepak terjangnya sehingga wajar lah kalau orang orang pengunjung kedai itu memilih keluar sebelum menghabiskan makanan nya.


Melihat orang orang keluar Bratadewa segera masuk ke dalam kedai itu , namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat dua orang tengah makan tanpa memperdulikan kehadirannya orang itu adalah Jaka dan Melati.


Melihat kedua orang itu tidak beranjak pergi, keempat pengawalnya pun segera bertindak untuk mengusir mereka, namun Bratadewa segera mencegahnya.


"Biarkan mereka , cepat kau pesan makanan untuk kita"perintah Bratadewa.


"Baik pangeran"ucap pengawal itu.


"Pelayanan cepat sajikan makanan yang paling enak untuk pangeran Bratadewa"ucap pengawal itu dengan suara keras, bertujuan agar Jaka dan Melati mengetahui siapa orang yang baru datang itu.


Kemudian pengawal tadi menoleh ke arah Jaka dan Melati untuk melihat reaksi mereka, namun betapa terkejutnya dia setelah melihat reaksi mereka tidak berubah.


"Kurang ajar mereka berdua, benar benar tidak menghiraukan dengan pangeran Bratadewa"batin pengawal itu.


"Selamat datang pangeran Bratadewa sungguh suatu kehormatan bagi kedai ini atas kunjungan pangeran"ucap pemilik kedai itu dengan ramah.


Bratadewa dewa tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan pemilik kedai itu.


Tidak lama kemudian pesanan yang di minta oleh pengawal tadi pun tiba di meja mereka.


"Silahkan makan pangeran"ucap pengawal tadi menawarkan makanan yang telah tersedia itu.


"Sepertinya nafsu makan ku berkurang sujiwo"ucap Bratadewa kepada pengawal tadi yang rupanya bernama Sujiwo.


"Memangnya kenapa pangeran ,apa karena dua monyet itu"ucap Sujiwo sambil menoleh ke arah Jaka dan Melati.


"Yah, siapa lagi "ucap Bratadewa, jujur saja ia tidak senang kepada Jaka dan Melati yang tidak menghormati dirinya.


Mendengar perkataan kata Sujiwo itu seketika kemarahan melati berkobar, kemudian ia bangkit dari duduknya bermaksud menampar muka orang itu, tapi Jaka dengan cepat mencegahnya.


"Sudahlah kau usah perdulikan omongan monyet itu"ucap Jaka dengan dengan suara keras sambil melanjutkan makannya.


Mendengar perkataan Jaka yang terlalu berani itu Sujiwo langsung marah dan tidak terima karena di katakan monyet .


"Pangeran orang itu terlalu merendahkan kita,ini tidak bisa di biarkan pangeran"ucap Sujiwo.


"Benar pangeran ini adalah penghinaan secara langsung kepada kita ucap pengawal yang lain.


"Hai orang rendahan siapa yang tadi kau bilang monyet,apa kamu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa "teriak Sujiwo.


"Aku tahu sedang bicara dengan siapa"ucap Jaka dengan acuh sambil terus makan.


"Kenapa tidak berlutut, kalau kau tahu siapa kami"ucap Sujiwo dengan mata melotot.


"Masak aku harus berlutut pada monyet, seharusnya para monyet yang berlutut pada ku"ucap Jaka.


Melati tersenyum mendengar kata kata Jaka itu,beda dengan pangeran Bratadewa dan Sujiwo serta ketiga pengawal lainnya yang mulai terlihat kepanasan.


"Kurang ajar, benar benar kelewatan kalian berdua"ucap Bratadewa langsung bangkit berdiri dengan wajah memancarkan kemarahan.


"Tetua sepertinya kita akan bermain main kali ini"ucap Melati seraya mengambil pedangnya.


"Yah ... apa boleh buat mari kita beri pelajaran pada manusia manusia gila hormat itu"ucap Jaka seraya meneguk minumannya.


"Kalian berempat cepat tutup mulut dua orang tidak tahu diri itu"perintah Bratadewa.


Mendengar perintah dari Bratadewa dewa itu keempat pengawal pun langsung bergerak menghampiri Jaka dan Melati.


Jaka dan Melati segera keluar meninggalkan kedai karena mereka tidak ingin kedai itu rusak akibat dari pertarungan .


"Tunggu mau lari kemana kalian berdua..!!"teriak Sujiwo.

__ADS_1


"Siapa bilang kami akan lari, jangan kira kami takut pada orang orang macam kalian"ucap melati.


"Sepertinya menutup mulut kalian saja tidak cukup, baiknya orang bermulut tajam seperti kalian harus di bungkam selamanya "ucap Bratadewa.


"Melati setelah saya pikir pikir, sebaiknya kamu minggir biarkan aku yang memberikan pelajaran pada kelima orang sombong itu "ucap Jaka.


"Jika itu yang tetua inginkan, baiklah "ucap Melati, kemudian pergi agak menjauh.


Keempat pengawal pangeran Bratadewa yang terdiri atas para Senopati perang kerajaan Sangguling itu segera maju dan bersiap menyerang Jaka.


Sujiwo segera melesat wes... diikuti oleh ketiga temannya.


"Kau harus pertanggung jawabkan perkataan mu tadi orang tidak tahu diri"ucap Sujiwo.


Kemudian Sujiwo langsung menyerang jaka sementara tiga orang teman lainnya memperhatikan dari jauh, karena akan memalukan jika ada orang tahu bahwa Senopati kerajaan Sangguling mengeroyok pemuda ingusan.


Pertarungan Jaka dan Sujiwo pun sudah berlangsung, dengan mengusung kemarahan di dada Sujiwo segera menekan Jaka dengan jurusnya.


Sambaran tangan dan kaki Sujiwo terus menyerang Jaka tanpa henti, Jaka mengelak dengan lincah menghindari gempuran serangan Sujiwo itu.


"Kurang ajar rupanya pemuda ini punya kemampuan juga"batin Sujiwo.


Dess....dess.....Jaka menangkis serangan serangan Sujiwo yang menghujam deras kepadanya.


Pangeran Bratadewa dan ketiga Senopati lainnya tampak terkejut melihat pemuda di hadapannya itu mampu bertahan dari gempuran gempuran Sujiwo yang merupakan Senopati andalan kerajaan Sangguling itu.


"Hiiiiaaaat ajian gelapkan ngampar wuuuuus........Sujiwo melepaskan pukulannya , Jaka yang mengetahui lawannya bukan orang sembarangan itu segera menangkis pukulan Sujiwo itu dengan pukulan badai menerjang karang nya dan benturan dua pukulan pun tak terhindarkan duuuaaarrr....... hempasan dari ledakan itu menyapu daun daun kering hingga berterbangan.


Sujiwo tersulut satu tombak ke belakang, sedangkan Jaka hanya terjajar saja dan masih berdiri di tempatnya setelah beradu pukulan tadi.


"Apa...!!! ternyata pemuda itu sanggup menangkis ajian andalan Sujiwo"ucap pangeran Bratadewa dengan terkejut.


Sujiwo benar benar tidak menduga bahwa pemuda di depannya itu bukanlah orang sembarangan ia baru mengetahui lewat benturan tenaga dalam tadi.


"Kalian bertiga cepat bantu Senopati Sujiwo,aku ingin kalian tangkap orang itu hidup atau mati"ucap pangeran Bratadewa.


Ketiga Senopati itu segera bergerak dan langsung menyerang Jaka dengan jurus jurus andalannya.


Udara di sekitar pertarungan itu seketika berubah menjadi panas laksana tungku perapian akibat jurus jurus yang mereka keluarkan, keringat pun mulai menjalar di seluruh tubuh orang di pertarungan itu.


Pertarungan Jaka dan keempat Senopati Sangguling itu berlangsung sengit , kedua pihak sama sama menggunakan jurus andalannya masing masing, namun tampaknya jurus keempat Senopati itu belum cukup untuk membobol pertahanan Jaka yang kokoh laksana batu karang itu.


Gempuran gempuran pedang mereka menari nari menghujani tubuh Jaka, dari serangan pedang mereka Jaka dapat mengetahui bahwa keempat lawannya itu adalah orang yang sudah cukup berpengalaman dalam bidang pertempuran itu terlihat dari cara mereka bertahan dan menyerang.


"Matilah kau..,!! teriak Sujiwo dengan menusuk Jaka dari belakang , Jaka segera memutar badannya dan menyentil ujung pedang Sujiwo itu dan langsung mengirimkan tendangan nya pada Sujiwo des.... wuusss braaak Sujiwo pun terpental hingga menabrak pohon.


Melihat Sujiwo dapat di jatuhkan ketiga orang itu semakin deras menyerang Jaka, namun serangan serangan mereka itu dapat dengan mudah Jaka mentahkan . Ketiga teman Sujiwo itu mulai gusar setelah semua serangannya tidak berarti apa-apa di depan pemuda belasan tahun itu.


Sujiwo kemudian bangkit kembali membantu ketiga temannya menyerang Jaka, namun kali ini Jaka tidak ingin berlama-lama lagi ia segera menggunakan salah satu jurus andalannya.


"Jurus sepuluh langkah malaikat, dengan gerakan yang sangat cepat slaaaap..... slaaaap..... slaaaap...... slaaaap jaka memukul mereka satu persatu dess.....dess.. dess...dess... braaak.... mereka berempat pun terpental dan berjatuhan hingga tidak berdaya.


Pangeran Bratadewa mengepalkan tangannya dengan sangat marah begitu melihat para pengawalnya dapat di jatuhkan oleh jaka dalam satu pukulan.


Ia pun segera maju untuk menyerang Jaka yang saat itu sedang berdiri menatap keempat lawannya yang sudah terjatuh itu.


Pangeran Bratadewa berkelebat cepat dengan pedang di tangannya hiiaaaat....ia mencoba menebas tubuh jaka, namun traaaaang...... Jaka langsung menangkis sabetan pedang itu dengan pedang awan miliknya.


Traaang...... pedang milik pangeran Bratadewa pun seketika patah menjadi dua, karena tidak kuat menahan benturan.


Pangeran Bratadewa tercekat melihat pedang kebanggaannya patah itu.


"Kurang ajar kau harus membayar dengan nyawa mu untuk mengganti pedang ku ini"pangeran Bratadewa membuang pedangnya kemudian menyerang Jaka dengan jurus jurus simpanannya.


Pangeran Bratadewa merentangkan kedua tangannya dan tiba-tiba dari jari jarinya muncul asap yang mengandung hawa panas itulah jurus cakar harimau api.


"Ayo keluar kan semua jurus jurus andal mu manusia sombong "ucap Jaka dengan menyiapkan jurus pencakar langit nya.


Hiiiiaaaat..... pangeran Bratadewa melompat dan menukik tajam menyerang Jaka, kedua tangan pangeran Bratadewa langsung menerjang Jaka wes......jaka memiringkan badannya kesamping kemudian menundukkan kepalanya,ia merasa hawa panas akibat sambaran jurus pangeran Bratadewa itu,namun hawa panas itu tidak sedikit pun berpengaruh terhadapnya karena dirinya sudah di lindungi oleh jurus pencakar langit.


Tap....tap.... kedua tangan mereka berbenturan satu sama lain, kedua tangan mereka bergetar akibat beradu tenaga dalam.


Pangeran Bratadewa merasa tercekat melihat lawannya itu dapat menahan jurusnya yang selama ini ia andalkan.


Hiiiiaaaat..... pangeran Bratadewa mengerahkan tenaga dalamnya sampai kepuncak.

__ADS_1


pangeran Bratadewa kembali menyerang dengan ganasnya... gerakan cepat dan mematikan di keluarkan oleh Bratadewa untuk menghabisi Jaka.


Kali ini sambaran jurus pangeran Bratadewa jauh lebih ganas dari yang pertama, namun gerakan cepat pangeran Bratadewa itu masih dapat di imbangi Jaka dengan menggunakan jurus sepuluh langkah malaikat.


"Sialan manusia macam apa dia , kenapa gerakannya sangat sulit di ikuti mata ku"umpat pangeran Bratadewa dengan sangat geram.


Melihat gerakan Jaka yang secepat angin itu kemudian pangeran Bratadewa menyerang Jaka dengan melepaskan pukulannya ke segala arah dengan membabi buta karena saking marahnya.


wuuuuus...... wuuuuus.... wuuuuus..... blaaaar.... blaaaar..... blaaaar..... namun tidak satu pun dari serangannya itu mengenainya.


"Kurang ajar"umpat pangeran Bratadewa, melihat tak satu pun dari pukulan itu mengenai sasaran.


Hiiiiaaaat..... pangeran Bratadewa kembali melepaskan pukulannya itu lebih deras lagi.. wuusss... blaaaar..... blaaaar... duuuaaarrr... seluruh tempat itu menjadi porak poranda tidak karuan akibat kemarahan dari pangeran Bratadewa itu.


"Serangan mu masih terlalu lambat pangeran"ucap Jaka yang tiba-tiba sudah di depannya dengan jarak dua jengkal.


"Apa....!!!!!"pangeran Bratadewa tercekat melihat Jaka yang tiba-tiba itu.


Hiiiiaaaat.....desss....dess..... pangeran Bratadewa terpental kebelakang dan braaak....ia pun terjatuh dengan menabrak dinding kedai setelah menerima pukulan jurus pencakar langit jaka tadi.


Keempat Senopati yang mengawalnya itu sangat terkejut melihat pangeran Bratadewa dapat di kalahkan oleh pemuda itu.


"Pangeran.....!!!! teriak Sujiwo segera berlari menghampirinya.


"Apakah kalian akan melanjutkan pertarungan ini "ucap Jaka begitu melihat ketiga orang itu sudah bangun kembali dan menatap padanya.


"Tunggu saja pembalasan dari Gusti prabu Dewantara "ucap salah satu dari ketiga pengawal itu, kemudian mereka segera menyusul Sujiwo,bagi mereka melanjutkan pertarungan sama dengan bunuh diri.


"Bagaimana keadaan pangeran Bratadewa Sujiwo "tanya salah satu Senopati itu.


"Lukanya sangat parah lihatlah "ucap Sujiwo sambil menunjuk dada pangeran Bratadewa yang hitam legam terkena pukulan jurus pencakar langit jaka tadi.


"Gawat, terpaksa kita membatalkan perjalanan kita ke sekte langit dan kembali ke istana "ucap salah satu Senopati itu.


"Tunggu....dulu!!!"teriak Jaka.


"Ada apa apakah kamu takut tadi mendengar nama Gusti prabu Dewantara "tanya Sujiwo.


"Bukan itu maksud ku,aku dengar kalian tadi menyebut sekte langit ,ada hubungannya apa kalian dengan sekte langit "tanya Jaka.


Sujiwo mengira Jaka akan takut setelah mendengar nama sekte Langit kemudian ia mengatakan tujuan dari pangeran Bratadewa itu.


"Tujuan kami tadi mau ke sana adalah untuk mengajak sekte langit bergabung dengan kerajaan Sangguling "ucap Sujiwo dengan penuh keyakinan.


Jaka dan Melati terkejut begitu mendengar ucapan Sujiwo itu.


"Huuh.....sebaiknya kalian tidak usah bermimpi untuk mengajak sekte langit bergabung dengan kerajaan Sangguling,saya pastikan tetua sekte tidak akan setuju bergabung dengan kerajaan Sangguling yang di penuhi oleh orang orang sombong macam kalian "ucap Jaka.


"Kurang ajar, kenapa kau bisa berkata seperti itu memangnya kamu siapa "tanya Sujiwo.


"Aku Jaka salah satu murid dari sekte itu"ucap Jaka membohongi mereka dengan tidak mengatakan yang sebenarnya pada mereka siapa dirinya.


"Apa...jadi kamu murid dari sekte langit"ucap Sujiwo dengan terkejut, begitu juga dengan ketiga temannya.


"Baiklah ku anggap pernyataan mu itu sebagai perwakilan dari sekte langit bahwa Sekte itu menolak ajakan dari kerajaan Sangguling "ucap Sujiwo kemudian pergi dengan membawa pangeran Bratadewa yang tengah terluka itu.


"Melati secepatnya kau kembalilah ke sekte langit , sementara aku akan pergi ke kerajaan Sangguling untuk mencari tahu apa yang telah mereka rencanakan "ucap Jaka setelah kepergian mereka.


"Tapi tetua, bukan kah itu akan sangat berbahaya kalau tetua ke sana mereka pasti akan membunuh tetua karena telah melukai pangeran Bratadewa itu "ucap melati.


"Kamu tenanglah aku sudah punya cara untuk mengatasi hal itu ,oh ya melati bawah lah orang secukupnya untuk menyerang sekte mawar merah bagaimana caranya penduduk desa Sekaten harus segera di bebaskan"ucap Jaka.


"Baiklah "ucap Melati akhirnya menyetujui perintah Jaka itu.


Setelah melati pergi menuju ke sekte langit lalu Jaka kembali masuk ke dalam kedai.


Melihat Jaka di dalam kedai pemilik kedai itu segera mendekati Jaka.


"Sebaiknya tuan segera pergi dari sini , karena cepat dan atau lambat para orang orang dari kerajaan Sangguling pasti akan datang ke sini untuk mencari tuan"ucap pemilik kedai itu.


"Kenapa paman begitu ketakutan pada mereka"tanya Jaka.


"Karena kami tidak ingin terkena imbas dari kejadian tadi tuan"ucap pemilik kedai itu.


Jaka akhirnya pun mengerti dengan sikap mereka itu, kemudian ia meninggal beberapa keping uang setelah itu ia segera meninggalkan kedai itu.

__ADS_1


Jaka melanjutkan langkahnya ke selatan menuju ke arah kerajaan Sangguling.


Angin semilir siang itu mengiringi langkah Jaka yang seorang diri itu.


__ADS_2