Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Hancurnya istana Sangguling


__ADS_3

"Haaa.....haaa.... haaa..... mampuslah kalian semua"ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Nyai Konde Mas.


"Nyai kita secepatnya bantu orang orang kita, ketiga orang itu sangat merugikan orang orang kita"ucap Paronwaja yang saat itu bersamanya.


"Baiklah mari kita bumi hanguskan istana Sangguling ini"ucap nyai Konde Mas.


Nyai Konde Mas, Paronwaja, Wardana, Wulung Kuning dan Petung Gede langsung terjun menghadapi Senopati Dewangga, putri Candra Kirana dan Patih Lembu Kanigara.


Melihat kedatangan kelima orang itu timbul kelegaan di hati mereka bertiga karena mereka mengira bantuan datang.


"Untung kalian cepat datang cepat bantu kami untuk menghadapi orang orang itu"ucap Patih Lembu Kanigara.


"Buka mata kalian lebar lebar siapa orang orang itu "ucap Nyai Konde Mas.


"Apa maksud kamu Nyai "tanya Patih Lembu Kanigara.


"Mereka adalah orang orang sekte serigala api,malam ini juga kami akan merebut istana ini"ucap nyai Konde Mas.


"Kurang ajar jadi semua ini ulah kalian "tanya Senopati Dewangga dengan terkejut.


"Benar tetua agung sudah muak dengan raja Dewantara yang terlalu lemah dan tidak bisa di andalkan itu "ucap Paronwaja.


"Jadi kalian mau melakukan makar pada istana ini "ucap putri Candra Kirana.


"Ya dan Kalian lihat sendiri bagaimana nasib istana ini"ucap Nyai Konde Mas sambil menunjuk ke kobaran api.


"Kurang ajar, putri cepat kedalam dan selamatkan Gusti prabu ,kita tidak bisa membendung mereka karena istana ini sudah terkepung"perintah Patih Lembu Kanigara.


"Baiklah Paman"ucap putri Candra Kirana segera masuk ke dalam.


"Jangan biarkan Candra Kirana selamat kita harus bunuh semua orang di istana ini"ucap nyai Konde Mas.


Pertarungan pun segera terjadi, Nyai Konde Mas dan Petung Gede langsung menyerang Senopati Dewangga.


Wulung Kuning segera menghadang Putri Candra Kirana yang mau masuk ke dalam istana itu.


Patih Lembu Kanigara yang berniat membantu putri Candra Kirana harus mengurungkan niatnya begitu Paronwaja dan Wardana menghadangnya.


Mereka berdua langsung menyerang Patih Lembu Kanigara , mau tidak mau Patih Lembu Kanigara pun menghadapi mereka.


"Aku Lawan mu Wulung Kuning"ucap Ki Lawu yang tiba-tiba muncul di samping putri Candra Kirana


"Cepat Gusti putri masuk dan selamatkan Gusti prabu"ucap Ki Lawu.


putri Candra Kirana kemudian berlari menuju ke dalam istana.


Serbuuu....... seraaaaang...... terdengar teriak pasukan tambahan berduyun duyun datang menggempur istana Sangguling.


Pertempuran terus berlanjut hingga tanpa di sadari ternyata peperangan itu sudah melewati tengah malam dan sebentar lagi hari pun menjelang pagi.


Akibat serangan besar besaran itu banyak para Senopati kerajaan Sangguling yang gugur di tangan para pemberontak itu.


Patih Lembu Kanigara dan yang lainnya tampak tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan istana itu, karena jumlah pasukan musuh seakan tidak ada habisnya terus berdatangan.


Di dalam istana putri Candra Kirana ,raja Dewantara dan pangeran Bratadewa tampak sibuk menghadapi para pasukan pemberontak yang berhasil menerobos masuk .


Di antara pasukan yang menerobos masuk itu terlihat Sambar Nyawa, pembunuh emas dan Mawar Kencana.


Melihat ketiga orang yang di kenalnya itu putri Candra Kirana benar benar murka atas penghianatan yang sekte mawar merah lakukan.


"Mawar Kencana kau dan seluruh orang orang Sekte mawar merah harus membayar perbuatan mu hari ini"ucap putri Candra Kirana dengan geram.


"Huh... kalian keluarga kerajaan semua pembohong , omongan kalian tidak dapat di percaya hari ini atas nama tetua Agung kerajaan Sangguling akan di hapuskan dari muka bumi"ucap mawar kencana.


Panas hati dan telinga mendengar perkataan mawar kencana itu, putri Candra Kirana langsung menyerangnya.


"Hati hati adik"teriak pangeran Bratadewa.


Melihat situasi yang tidak menguntungkan itu raja Dewantara bermaksud mengajak kedua anaknya itu untuk segera pergi meninggalkan istana , namun setelah tidak melihat ada jalan untuk lari raja Dewantara pun segera mengamuk dengan membantai para pasukan pemberontak yang masuk ke dalam istana itu.


Dalam sekejap saja para pasukan pemberontak itu pun langsung meregang nyawa.


Melihat sepak terjang raja Dewantara yang membabi buta itu sambar nyawa segera bertindak dengan menyerang raja Dewantara.


Sambar Nyawa langsung melepaskan pukulannya ke arah raja Dewantara wuuuuus..... namun raja Bratadewa dapat dengan mudah menangkisnya.


Merasa serangan jarak jauhnya tidak berguna Sambar Nyawa segera berkelebat mendekat dan pertarungan jarak dekat pun langsung terjadi di antara mereka berdua.


Di depan istana tampaknya Senopati Dewangga dan Patih Lembu Kanigara serta ki Lawu juga tidak akan bertahan lebih lama menghadapi gempuran Nyai konde mas yang di bantu oleh tetua sekte lainnnya.

__ADS_1


"Menyerah lah kalian , karena perlawanan kalian akan sia sia saja"ucap Sanca Buana yang saat itu telah tiba di hadapan mereka.


"Aku sungguh tidak mengira ini semua perbuatan mu Sanca"ucap Patih Lembu Kanigara dengan melotot tajam ke arahnya.


"Haaa...haaa..... dengar Kanigara ini semua demi cita-cita tetua agung yang ingin menyatukan seluruh kerajaan di bawah kakinya jadi menyerang lah dan bergabung dengan kami "ucap Sanca Buana.


"Cuiih.... tidak sudi aku bergabung dengan manusia manusia iblis seperti kalian "ucap Patih Lembu Kanigara.


Sanca Buana memandang tajam ke arah Patih Lembu Kanigara dengan muka penuh dengan kemarahan.


Kemudian slaaaap.....dess..... sebuah pukulan melayang cepat mendarat di perut Patih Lembu Kanigara ia pun langsung terpental beberapa tombak ke belakang.


"Gusti patih....!!!"teriak Senopati Dewangga sambil mengepalkan tangannya karena merasa geram.


"Dewangga bagaimana dengan mu apakah kau juga akan mengikuti jejak Lembu Kanigara "ucap Sanca Buana sambil melirik kepadanya.


"Benar aku akan mengikuti jejak Gusti Patih, lebih baik mati membawa kehormatan dan harga diri dari pada harus hidup menjadi seorang penghianat seperti kalian "ucap Senopati Dewangga dengan tegas.


"Bagus Dewangga sikap mu benar benar membuat aku bangga pada mu"ucap Ki Lawu setelah mendengar perkataan muridnya itu.


"Sangat di sayangkan , kalian rupanya harus mati bersama hancurnya istana ini, nyai Konde Mas dan yang lainnya ku serahkan kedua orang itu pada kalian "ucap Sanca Buana.


"Dengan senang hati tuan sanca"ucap Nyai Konde Mas.


Kemudian Sanca Buana segera pergi menuju ke dalam istana untuk menemui raja Dewantara.


Nyai Konde Mas dan keempat temannya langsung menyerang Senopati Dewangga dan Ki Lawu secara bersamaan dengan serangan yang mematikan.


Menghadapi serangan mereka berlima Ki Lawu dan Dewangga benar benar tidak bisa berbuat banyak di karena tenaga mereka sudah banyak yang terkuras akibat pertarungan tadi,apa lagi kelima lawan mereka itu termasuk para pendekar tanpa tanding sehingga Ki Lawu dan Dewangga hanya bisa pasrah dengan keadaan mereka saat ini.


Senopati Dewangga dan Ki Lawu langsung mengerahkan sisa sisa kekuatan mencoba membendung serangan kelima orang itu namun tetap saja tidak berguna.


Berkali-kali pukulan mereka mendarat di tubuhnya,guru dan murid itu benar benar menjadi bulan bulanan bagi Nyai Konde Mas dan teman temannya.


"Masih belum terlambat jika kalian mau menyerah dan bergabung dengan tetua Agung"ucap nyai Konde Mas.


Namun tawaran nyai Konde Mas itu tidak di hiraukan oleh mereka berdua.


"Akh... keluh Ki Lawu merasakan seluruh badannya remuk redam.


"Dewangga kau pergilah selamatkan diri mu di antara kita harus ada yang hidup supaya dapat membalas dendam kepada mereka"ucap Ki Lawu ,terlihat darah menetes dari sudut bibirnya.


"Tidak guru , suatu kehormatan bagi ku bisa mati bersama mu guru"ucap Senopati Dewangga dengan memegang erat pedangnya.


Ki Lawu segera berdiri kemudian memandangi Lima orang yang berdiri mengelilinginya itu,ia menatap mereka satu persatu dari sorot matanya memancarkan kebencian yang begitu dalam,ia tidak menyangka kalau ini akan menjadi akhir dari hidupnya setelah sekian lama mengasingkan diri.


Melihat guru sudah berdiri Senopati Dewangga pun segera bangkit dengan bantuan pedangnya walau pun dengan keadaan sempoyongan.


Kesetiaan Senopati Dewangga dan guru patut di contoh oleh semua prajurit lainnya, biar pun nyawa di ujung tanduk tapi mereka berdua masih kokoh dengan kesetiaan mereka.


"Sudah saatnya kami mengirim kalian berdua ke neraka"ucap Nyai Konde Mas.


Kelima orang itu bersiap melepaskan pukulannya untuk mengakhiri mereka berdua, namun tiba-tiba lima buah bola hitam meluncur ke arah mereka yang langsung mengeluarkan asap hitam pekat .


"Kurang ajar asap apa ini"teriak Nyai Konde sambil menutup mulut dan hidungnya karena takut kalau asap itu beracun.


"Setan alas aku tidak bisa melihat apa apa "teriak Wardana dengan marah.


Hiiiiaaaat.... Wulung Kuning segera menghantam pukulan ke tanah dan pyaaar.... sebuah angin berhembus menyapu kepulan asap hitam itu.


"Kemana mereka"ucap Nyai Konde Mas setelah melihat Ki Lawu dan Dewangga sudah tidak ada di tempat itu.


"Keterlaluan siapa orang yang telah menolong mereka berdua"tanya Petung Gede dengan rasa geram.


Kelima orang itu segera menyapukan pandangannya ke sekeliling istana itu, namun tidak juga menemukan ada seseorang yang mereka cari.


"Kurang ajar Lembu Kanigara juga sudah tidak ada"ucap nyai Konde Mas dengan mengepalkan tangannya.


"Nyai sebaiknya kita berpencar kemungkinan mereka belum pergi jauh "ucap Wardana.


"Baiklah cepat kita berpencar dan temukan mereka "ucap Nyai Konde Mas, kemudian melesat pergi mengelilingi seluruh istana.


Sementara itu di dalam istana pertarungan Putri Candra Kirana dan Mawar Kencana tengah berlanjut, dalam pertarungan itu tampaknya putri Candra Kirana dapat mendesak mawar kencana, namun sayangnya itu tidak mengubah keadaan sekte sambar nyawa dan pembunuh emas ikut membantu mawar kencana.


Dess....dess.... Putri Candra Kirana kena serangan selendang mawar kencana hingga membuatnya dirinya muntah darah.


"Adik....!!!"teriak pangeran Bratadewa merasa cemas melihat keadaan Candra Kirana.


Raja Dewantara yang saat itu sedang bertarung dengan Sanca Buana merasa gelisah melihat putrinya itu.

__ADS_1


Karena perhatiannya terpecah tiba-tiba sebuah pukulan Sanca Buana mendarat di tubuh raja Dewantara tanpa bisa ia hindari dess....dess....raja Dewantara terpental dengan keras.


Braaak......akh... terdengar dari mulut raja Dewantara menahan sakit.


"Ayah......!!!!"teriak pangeran Bratadewa.


"Tidak akan ku biarkan satu pun dari keluarga kerajaan yang keluar hidup hidup dari istana ini"ucap Sanca Buana dengan tatapan membunuh.


"Aku akan mengadu nyawa dengan mu Sanca Buana keparat"teriak pangeran Bratadewa dengan kemarahan yang meluap luap.


"Heh.... cuma anak ingusan seperti mu apa yang bisa kau lakukan Bratadewa, majulah "ucap Sanca Buana dengan ucapan merendahkan.


"Hiiiiaaaat....... cakar harimau api pangeran Bratadewa berkelebat cepat menyerang Sanca Buana wuuuuus..... rasakan ini.." teriak Bratadewa sambil merentangkan kedua tangannya.


Sanca Buana masih terdiam melihat kedatangan pangeran Bratadewa yang jaraknya tinggal satu tombak.


Wes.... pangeran Bratadewa melancarkan serangannya namun sebelum serangan itu mendarat di tubuh Sanca Buana sebuah pukulan sudah mendarat di perutnya dess...tak ayal pangeran Bratadewa pun terpelanting cukup keras buuuk.... braaak...


Darah kental keluar dari mulut pangeran Bratadewa menandakan luka dalam cukup parah.


Kemudian Sanca Buana menginjak kepala Bratadewa dengan geram.


"Inilah pelajaran yang pantas untuk Bratadewa"ucap Sanca Buana .


"Ka...ka..ng"terdengar suara lemah dari putri Candra Kirana.


Raja Dewantara yang saat itu setengah sadar dan setengah pingsan hanya menatap lemah melihat keadaan putra sulungnya itu.


Mawar Kencana, Sambar Nyawa dan pembunuh emas menatap pangeran Bratadewa dengan penuh hinaan.


Dee....dess... duuuaaarrr..... Mawar Kencana dan Sambar Nyawa serta pembunuh emas dan juga Sanca Buana langsung terpental oleh serangan yang datang tiba-tiba itu.


"Melati dan Ratih cepat bawa pangeran dan raja Dewantara pergi dari sini"perintah Jaka Sambil mengangkat tubuh Bratadewa kemudian memberikan pada melati.


"Bedebah siapa kamu berani ikut campur urusan ku"tanya Sanca Buana.


"Aku Jaka, kalian semua sungguh biadab menganiaya orang yang sudah tidak berdaya"ucap Jaka dengan muka memerah penuh dengan kemarahan.


"Haaa....jadi ini orang yang bernama Jaka yang merupakan tetu Sekte langit itu, sungguh kebetulan hari ini juga akan ku buat kau menyesal telah datang kemari "ucap Jaka.


"Melati, Rati cepat pergi dari sini bawa mereka berdua "ucap Jaka.


"Baik tetua "ucap Ratih.


"Jangan biarkan mereka pergi, kalian bertiga cepat cegah mereka "ucap Sanca Buana kepada Mawar Kencana dan Sambar Nyawa juga pembunuh emas.


"kalian berdua jangan hiraukan mereka cepat pergi "ucap Jaka.


Melihat ketiga orang itu bermaksud menyerang mereka Jaka segera berkelebat cepat dengan jurus sepuluh langkah malaikat nya menyerang ketiga orang des...dess...dess.. ketiga orang itu kembali di buat terpental oleh serangan Jaka yang sangat cepat itu.


Braaak..... braaak.... braaak... mereka bertiga langsung muntah darah karena serangan Jaka kali ini lebih kuat dari serangan yang pertama.


"Kurang ajar "ucap Sanca Buana ketika melihat Mawar Kencana dan dua orang lainnya dapat dengan mudah di kalahkan oleh Jaka.


Sanca Buana melesat cepat slaaaap... menyerang Jaka,traap...traaap... Jaka menangkis serangan cepat Sanca Buana itu.


Jaka dan Sanca Buana pun langsung jual beli serangan, dengan jurus andalannya Sanca Buana mencoba mencabik dan meremas tubuh Jaka, namun Jaka dapat menghindari serangan serangan Sanca Buana itu.


Des...dess...des.. traap... kedua tangan mereka berbenturan bruuuk... keduanya pun sama sama terpental dua tombak ke belakang.


Jaka di buat terkejut merasakan kekuatan besar Sanca Buana itu karena tangannya merasa kesemutan akibat benturan tadi.


"Ternyata bukan omong kosong belaka kekuatan pemuda itu benar benar kuat, pantas dia berani bertingkah di hadapan ku"ucap Sanca Buana yang diam diam juga merasa terkejut .


Sesaat kemudian munculah Nyai Konde Mas, Wulung Kuning, Wardana dan Petung Gede.


Nyai Konde Mas tercekat melihat mawar kencana Putrinya terluka ia pun bergegas menghampirinya.


"Mawar ... mawar...."teriak Nyai Konde mas menggoyang goyangkan tubuh mawar kencana yang pingsan itu.


Nyai Konde Mas kemudian mengalihkan pandangan pada Jaka yang saat itu berdiri tidak jauh dari hadapannya.


"Jaka hari ini juga akan ku kirim kau menemui ayah mu Kelana"ucap Nyai Konde Mas dengan penuh kemarahan.


"Apa maksud perkataan mu itu"tanya Jaka.


"Ayah mu Kelana telah mampus di tangan ku, sekarang adalah giliran yang juga harus mati di tangan ku"ucap Nyai Konde Mas.


"Kurang ajar ,ku kira ayah ku mati di terkam binatang buas ternyata ini semua adalah perbuatan mu "ucap Jaka dengan kencang mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Waktu itu aku juga berniat menghabisi mu dan juga ibu mu namun sayangnya waktu ada ki manggurat yang melindungi kalian"ucap nyai Konde Mas.


"Biadab kau Nyai Konde Mas akan ku bayar semua hutang nyawa ini"ucap Jaka dengan mulut bergetar karena saking marahnya.


__ADS_2