
Aura pedang Jalatunda seketika merubah tempat pertempuran itu menjadi berkabut dan mencekam.
Mau tidak mau jaka segera meningkatkan kewaspadaannya, karena matanya seakan gelap tidak bisa melihat apa apa akibat adanya kabut itu.
Sementara itu pertarungan Brawijaya dengan Dua Algojo benar benar membuat nya seakan akan di ujung tanduk karena serangan serangan yang Brawijaya lancarkan dapat di patah kan semua oleh dua orang gundul itu, tapi untung lah Melati datang dengan tepat waktu disaat Brawijaya dalam keadaan kritis itu.
"Jika kami kemarin gagal mengirim mu ke neraka hari inilah kami akan mengirim kau ke sana orang tua"ucap Dua Algojo gundul dengan penuh kemenangan.
Kemudian dulu Algojo gundul itu melemparkan tombaknya ke Brawijaya yang jatuh terduduk itu wuuuuus... wuuuuus......
"sial ternyata aku harus mati di sini"ucap Brawijaya dengan penuh kepasrahan sambil memejamkan matanya, namun tiba-tiba traaaaang........ sebuah pedang terbang menangkis dua tombak Dua Algojo itu.
"Apa......!!!!!"ucap Dua Algojo gundul dengan tercekat.
Brawijaya membuka matanya dan melihat orang yang berdiri di depannya itu .
"Nona ,untunglah kau datang tepat waktu"ucap Brawijaya dengan penuh kelegaan.
Dua Algojo menatap melati dengan tatapan nanar penuh kemarahan karena telah menyelamatkan Brawijaya dari serangannya.
"Brawijaya kau menepilah biarkan aku yang melayani manusia gundul ini"ucap Melati.
"Terima kasih nona , hati hati dengan kedua orang itu"ucap Brawijaya.
"Aku tahu "jawab Melati dengan dingin.
"Hai dua setan gundul,mau mampus dengan cara yang bagaimana mana kalian berdua cepat katakan"ucap Melati tentang dan dingin.
"Kurang ajar sombong sekali wanita itu"ucap salah dua Algojo gundul.
"Mari kita cincang cincang dia "ucap Dua Algojo gundul yang satunya.
"Kau benar mari kita cincang cincang dia sampai halus "ucap salah satu temannya.
Hiaaat....dua Algojo gundul langsung menyerang melati dengan tombaknya traaaaang....... namun dengan pedangnya melati menangkis tombak itu.Tangan Dua Algojo gundul bergetar hebat hingga membuat keduanya mundur beberapa langkah ke belakang.
Mereka tidak menduga bahwa wanita di depannya begitu kuat. Kemudian dua Algojo melipat gandakan kekuatannya serta serangan nya.
"Jurus tombak ganda menerjang badai .....!!!"teriak Dua Algojo, angin kencang menerpa Melati wuuuuus...... melati berjumpalikan di udara terkena hempasan angin itu.
Dua Algojo langsung melesat mengejar Melati wes...... melihat dua lawannya ingin menghabisinya Melati langsung mengibaskan pedang nya wes.... secarik sinar keluar dari pedangnya menerjang Dua Algojo gundul wuuuuus.....tak ingin nyawanya terancam kedua Algojo segera memutar tombak dan seberkas sinar pun keluar dari tombak itu kemudian beradu dengan serangan pedang melati wuusss.... duuuaaarrr........., namun tidak membuat Dua Algojo gundul mundur dan terus maju menyerang Melati.
"Ternyata benar kata tetua Dua Algojo gundul tidak bisa di buat main-main "ucap melati dalam hati.
"Baiklah kalian terima ini, pukulan pukulan badai menerjang karang hiiiiaaaat..... wuuuuus... melati melepaskan pukulannya.
Algojo gundul segera memisahkan diri menghindari serangan Melati.
Namun Melati segera bergerak cepat slaaaap......kressss..... duuuaaarrr pukulan melati mengenai ruang kosong , namun harus di bayar dengan nyawa salah satu dari dua Algojo itu setelah pedangnya berhasil menebas kepalanya.
Hap..melati mendarat dengan pedang berlumuran darah.
"Tidaaak..... teriak Salah satu dari dua Algojo setelah melihat temannya roboh dengan kepala terpisah dari badannya.
"Kau harus membayar nyawa temanku dengan nyawa mu"ucap Salah satu dari dua Algojo itu dengan amarah yang meluap-luap.
"Kau lah yang harus menyusul teman mu itu"ucap melati.
Algojo gundul langsung maju menyerang dengan tombaknya, melati langsung menyambut kedatangan algojo gundul dengan pedang terhunus di tangannya,
"Hiaaat......., melati mempercepat langkahnya begitu juga dia algojo gundul juga mempercepat langkahnya wuuuuus.... ketika jarak semakin dekat Melati segera bergerak bersalto di udara wuusss..... kemudian memutar badannya sambil mengarahkan pedangnya ke arah algojo itu dan kress.....jleeeb..... pedang melati berhasil menembus tubuh Algojo itu,dan ia pun terkapar tak bernyawa.
"Huh akhirnya selesai juga, itulah balasan untuk kalian atas kekejaman kalian selama ini"ucap melati, dengan menatap dingin dua mayat Algojo gundul itu.
Brawijaya segera berlari ke arah melati dengan penuh kekaguman.
"Kau tidak apa-apa nona "ucap Brawijaya setelah melati berhasil mengalahkan Dua Algojo gundul itu.
"Aku baik-baik saja"ucap melati.
Sementara itu jauh di belakang melati Rawa Candra tampak bertarung dengan sengitnya melawan Sindu yang merupakan gurunya itu.
blaaaar...... blaaaar..... Sindu menghujani Rawa Candra dengan pukulannya.. namun Rawa Candra bukanlah Rawa Candra yang dulu, setelah menerima warisan jurus dari kakek tua beberapa bulan lalu kini kekuatannya pun sudah semakin tinggi hingga tidak mudah bagi Sindu untuk menghabisinya.
Rawa Candra mengindari gempuran gempuran Sindu yang mengancam jiwanya itu, tanpa menemukan kesulitan apa pun.
Rawa Candra aku benar benar terkejut dengan kemampuan mu yang sekarang,aku tidak menduga sekarang kau sekuat ini"ucap Sindu.
"heh...aku tidak butuh pujian mu "ucap Rawa Candra,lalu menyerang Sindu kembali.
"haaa......haaa....haaa.... majulah kau Rawa Candra akan ku kirim kau menyusul ayah mu"ucap Sindu.
Dengan jurus Elang mencabik malam Rawa Candra menyerang Sindu dengan gencarnya.
Sindu meliukkan tubuhnya menghindari sambaran tangan Rawa Candra sambil menangkisnya.
Walaupun serangan Rawa Candra belum bisa mengenai tubuh Sindu tapi itu sudah cukup membuat Sindu tercekat karena Hawa panas sambaran tangan Rawa Candra seakan akan membakar kulitnya.
__ADS_1
"Anak sialan ini dari mana memperoleh kesakitan semacam ini "umpat Sindu dalam hati.
Hiiiiaaaat.... Sindu menyapu kaki Rawa Candra weees.... namun tidak mengenainya karena ia melompat ke atas.
Plaak..... tendangan kaki Rawa Candra berhasil mengenai leher Sindu hingga membuatnya terguling..
"Akh.... kurang ajar "maki Sindu.
"Rasakan ini"ucap Sindu, langsung melesat cepat dengan telapak tangan yang membara hiiaaaat.. wuuuuus .......
Rawa Candra sempat terkejut melihat Sindu langsung menyerangnya .
"Matilah kau anak sialan"maki Sindu.
"Majulah kau Sindu "ucap Rawa Candra.
Wuuuuus...... pukulan Sindu mengancam tubuh Rawa Candra, namun slaaaap..... slaaaap... Rawa Candra tiba tiba lenyap dari hadapannya.
"Apa....!!!"ucap Sindu dengan terkejut.
"ini balasan mu untuk ayah ku hiiiiaaaat..... jurus elang mencabik malam dess....desss.... pukulan Rawa Candra tepat mengenai punggung Sindu .
"Akh....... Sindu mengerang kesakitan setelah punggungnya berdarah terkena pukulan Rawa Candra tadi.
"keparat kau Rawa Candra"maki Sindu.
Namun Rawa Candra tak menghiraukannya dan kembali menyerangnya.
"ini untuk penderitaaan ibu dan adikku hiiiiaaaat .... Rawa Candra bergerak dengan cepat kreees.... kreees... Sindu tak dapat menghindari gerakan Rawa Candra yang terlalu cepat itu.
"Akh Sindu" mengerang kesakitan,ia pun akhirnya roboh dengan punggung berlubang dan nyawa pun meninggalkan badannya.
"Akhirnya mati juga kau di tangan ku Sindu"ucap Rawa Candra dengan menatap tubuh Sindu yang tergeletak.
Blaaaar..... blaaaar..... terdengar suara ledakan memekik telinga,
Rawa Candra segera membalikkan badannya setelah mendengar ledakan itu.
Rawa Candra langsung memperhatikan pertempuran Jaka dengan Jalatunda di belakangnya.
Wuuuuus... wuuuuus.... Jalatunda menyerang Jaka bertubi tubi dengan pukulannya.
"Bocah kemarin sore mau berlagak di hadapan ku rasakan ini hiiiiaaaat "Jalatunda kembali menyerangnya dengan genjar wuuuuus.... wuuuuus... Jaka berjumpalikan di udara dengan memutar tubuhnya.
"Sialan kabut ini benar benar membuat penglihatan ku tidak bisa melihat gerakannya "maki jaka.
"Pedang awan muncul lah"ucap Jaka, seketika pedang itu pun muncul di tangannya.
Jalatunda dan Rawa Candra terkejut begitu melihat pedang di tangan Jaka, karena sama sama mengenali pedang itu.
"Apa ..!!! pedang awan"ucap Jalatunda dengan tercekat.
"Jadi rupanya dia orang yang berpakaian hitam kemarin di hutan Sunyi itu"ucap Rawa Candra ketika melihat jaka memegang pedang itu
"Kebetulan hari ini juga akan ku rebut pedang itu dari tangannya"ucap Jalatunda .
"Sekarang kita akhiri pertarungan ini Jalatunda"teriak Jaka.
Hiiiiaaaat..... Jaka berlari ke arah Jalatunda wes......ia langsung menyabetkan pedangnya wuuuuus..... traaaaang..... Jalatunda menangkisnya .... Jaka menarik pedangnya kemudian mengayunkan kembali traaaaang..... Jalatunda pun kembali menangkisnya, namun tubuh Jalatunda seketika itu bergetar karena kekuatan ayunan pedang jaka tadi
"Kekuatan macam apa ini"ucap Jalatunda dengan tercekat.
Jaka segera melompat setinggi tombak dan langsung mengirimkan tendangan ke arah Jalatunda dess.... braaak.. Jalatunda pun terpental dua tombak kebelakang.
"Uhuuk .... uhuuk... kurang ajar"umpat Jalatunda, sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Aku akan membalaskan dendam untuk Dewi kebahagiaan pada mu Jalatunda"ucap Jaka.
"Heh....aku tidak akan semudah itu mati di tangan mu"ucap Jalatunda.
Jalatunda segera berdiri lalu menempelkan tangannya pada dadanya , seketika itu juga hawa dingin kembali muncul, namun jaka segera menyerangnya kembali dengan pedangnya wuuuuus......tiba tiba dinding es muncul di depan Jalatunda menghalangi serangan Jaka.
"Jurus tembok es abadi "teriak Jalatunda,
Melihat di dalam es melingkar melindungi Jalatunda, Jaka segera mengerahkan kekuatannya .
"Jika itu yang kamu mau baiklah"ucap Jaka.
"Jurus pedang membelah Langit......!!!!"teriak Jaka sembari melesat ke atas sambil mengayunkan pedangnya hiiiiaaaat......wesss..... braaak.... braaak.. pedang Jaka mengenai dinding es itu hingga membuatnya hancur.
Jalatunda terperangah tidak percaya setelah jurus perisai es hancur.
Jalatunda bergerak cepat slaaaap... untuk menghindarinya .
"Kau mau lari kemana Jalatunda , rasakan ini "ucap Jaka , segera melemparkan pedangnya.
pedang itu pun berputar putar di udara wuusss... wuuuuus... seperti terdengar dengungan lebah....jurus Pencakar langit hiiiiaaaat... wuuuuus..... laju pedang semakin cepat setelah terdorong jurus pencakar langit tadi dan akhirnya kreees.... tubuh Jalatunda pun terpotong menjadi dua setelah terkena sabetan pedang itu.
__ADS_1
Rawa Candra dan semua orang yang melihat itu bergidik ngeri melihat pemandangan itu .
"Untung kemarin aku tidak melanjutkan pertarungan dengan orang itu"ucap Rawa Candra.
Brawijaya dan lainnya benar tercekat melihat Jaka menghabisi Jalatunda dengan begitu dahsyat nya.
Melihat kematian Jalatunda dan Sindu sisa sisa murid Sekte pun segera menyerah dan minta ampun.
Ratih langsung berlari dan bruuk...ia memeluk Jaka.
"Kau baik baik saja Jaka"ucap Ratih.
"ya seperti yang kau lihat Ratih aku tidak apa-apa"ucap Jaka.
"Ratih cepat lepaskan pelukan mu ,apa kau tidak malu di lihat orang banyak "ucap Jaka.
"Aku tidak perduli , Karena aku sangat mengkhawatirkan kamu Jaka"ucap melati, kemudian melepaskan pelukannya.
"Bagaimana dengan yang lainnya paman "tanya Jaka pada Brawijaya.
"Semua baik baik saja tetua "ucap Brawijaya.
"Kalau begitu cepat kita kembali ke sekte dan beri perawatan yang terluka "perintah Jaka .
"Baiklah tetua "ucap Brawijaya
Kemudian Brawijaya segera memerintahkan seluruh muridnya untuk kembali ke sekte .
Rawa Candra dan Banjar Samudra segera menghilang dari kerumunan itu, karena ia tidak ingin bertemu dengan Brawijaya saat ini.
Setelah pertempuran itu berakhir, sesepuh Paksi Darma dan seluruh pasukan yang dipimpinnya pun segera pergi meninggalkan Sekte Elang Putih dan kembali ke sekte Langit.
"Tetua saya sangat berterima kasih atas bantuan tetua menyelamatkan sekte ini dari serangan sekte kumbang merah"ucap Brawijaya.
"Sudahlah paman jangan pikirkan hal itu, seharusnya aku lah yang berterima kasih pada Paman atas kebaikan paman yang sudah membiarkan aku dan ibuku tinggal di sini"ucap Jaka.
"Tapi tetua aku merasa berhutang budi pada tetua yang telah berulang kali menyelamatkan saya "ucap Brawijaya merasa tidak enak.
"Jasa tetua pada kami sungguh begitu besar ,saya ucapkan terima kasih pada tetua "ucap Sanjaya tidak mau ketinggalan.
"Sudah lah paman berdua tidak usah begitu, anggap saja kita semua ini saudara "ucap Jaka.
"Baiklah tetua "ucap Sanjaya.
"Ada sesuatu yang akan saya katakan pada mu Paman "ucap Jaka kepada Sanjaya.
"Apa itu tetua "tanya Jaka.
"Apa boleh kalau saya bawa Sinta ke Sekte Langit untuk berlatih di sana bersama Ratih "ucap Jaka.
Sanjaya langsung tercekat mendengar itu ,ia seolah tidak percaya dengan pendengaran nya .
"Suatu kehormatan bagi sekte angin berhembus jika itu yang tetua minta"ucap Sanjaya dengan penuh kebahagiaan.
Mendengar Sinta kakaknya akan di bawa ke sekte langit Lestari segera maju dan berlutut di hadapan Jaka.
"Maaf tetua , izinkanlah saya untuk ikut dengan kak Sinta ke sekte langit"tanya Lestari.
"Kalau kamu mau silahkan saja Lestari"ucap Jaka.
"Terima kasih tetua"ucap Lestari.
", Ayah tidak keberatan kan kalau aku ikut dengan kakak"tanya Lestari kepada Sanjaya ayahnya.
"Kenapa harus keberatan Tari ,itu suatu keberuntungan bagi ku karena anak anak ku dapat menjadi murid di sana"ucap Sanjaya.
Sanjaya merasa beruntung sekali , karena kedua anaknya dapat menjadi bagian dari sekte Langit, dengan demikian di masa depan posisi sekte angin berhembus akan semakin kuat tidak kalah dengan sekte Elang Putih.
Arini yang dari tadi duduk di samping ayahnya Brawijaya diam diam iri melihat Sinta dan Lestari akan ikut ke sekte langit, Brawijaya yang melihat raut muka Arini tahu apa yang di rasakan oleh anaknya itu.
"Maaf tetua apakah Arini juga boleh ikut ke sekte langit"tanya Brawijaya.
"Jika Arini mau boleh boleh saja paman"ucap Jaka.
"Terima kasih tetua "ucap Arini dengan tiba-tiba.
"Bagaimana dengan mu Bagus Dento "ucap Jaka.
"Jadi tetua juga mengizinkan saya untuk pergi ke sekte langit"tanya Bagus Dento.
"Benar , bagus Dento "ucap Jaka.
"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih tetua "ucap Bagus Dento dengan berlutut.
"Haaa....haaaa... Bagus Dento kau Arini dan Ratih adalah pilar-pilar sekte Elang Putih di masa depan aku senang kalian pergi ke sekte Langit "ucap Brawijaya.
"Baiklah Jika begitu hari ini juga aku minta pamit kepada paman Brawijaya dan paman Sanjaya untuk pergi ke sekte langit "ucap Jaka.
__ADS_1
"Silahkan tetua "ucap Sanjaya dan Brawijaya serempak.
Kemudian berangkatlah jaka bersama kelima orang itu menuju ke sekte langit.