Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Tamu tidak di undang


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pertarungan itu Jaka dan seluruh pasukannya pun masuk ke dalam sekte.


Melihat Bagus Dento terluka parah Jaka langsung memberikan pil kepadanya untuk mengobati lukanya itu.


"Maafkan aku tetua, karena tidak becus melawan merepotkan sehingga merepotkan tetua"ucap Bagus Dento, merasa tidak enak dengan Jaka.


"Kau tidak usah merasa bersalah begitu Bagus Dento ini semua salah orang orang itu, sebaiknya kau beristirahat supaya keadaan cepat membaik "ucap Jaka.


"Baik tetua "ucap Bagus Dento.


"Aku ingin tahu ada apa orang orang itu datang ke sini"tanya Jaka kepada semua orang yang ada di situ.


Melati dan Ratih kemudian menceritakan padanya tentang tujuan orang orang itu datang ke sekte langit .


Tiga hari kemudian


Setelah mendengar penjelasan singkat dari melati dan Ratih tentang maksud kedatangan orang orang benua Utara itu Jaka langsung bertindak cepat guna menghindarkan sekte langit dari bahaya selanjutnya agar kejadian itu tidak terulang kembali.


Jaka tidak mengira kalau peta yang di berikan oleh kakek gurunya itu sekarang menjadi incaran banyak orang.


"Aku yakin cepat atau lambat pasti orang orang sakti lainnya akan berdatangan ke sini tetua untuk mengincar peta itu"ucap Paksi Darma.


"Benar sesepuh,tapi yang membuat aku heran siapa orang yang telah menyebarkan berita itu , kenapa mereka bisa tahu kalau peta itu ada pada ku"ucap Jaka sambil berfikir.


"Aku juga merasa heran Jaka, padahal peta itu yang tahu hanya kau dan aku , kenapa sekarang beritanya sudah menyebar ke mana mana "ucap Dewi Pandan Arum.


"Dewi, Melati dan Ratih bawalah beberapa orang pasukan untuk pergi ke sekte bintang Utara , untuk membangun kembali seluruh bangunan di sekte yang telah rusak itu"perintah Jaka.


"Baik tetua"ucap melati.


"Kalian bertiga sekarang juga harus cepat berangkat dan aku akan menyusul belakangan"ucap Jaka.


"Tapi kamu harus cepat bergegas ke sekte bintang Utara Jaka"ucap Dewi Pandan Arum.


"Tentu Dewi secepatnya aku akan menyusul kalian "ucap Jaka.


Dewi pandan Arum, Melati dan Ratih segera pergi dari hadapan Jaka, mereka segera memerintahkan tiga ratus orang murid yang laki-laki untuk ikut bersamanya .


Setelah semuanya sudah siap melati pun segera memberangkatkan seluruh pasukannya itu untuk menuju ke benua Utara.


Sepeninggalan Dewi Pandan Arum Jaka melanjutkan pembicaraannya dengan sesepuh Paksi Darma karena ada hal penting yang harus di tanyakan padanya.


"Oh ya sesepuh ada yang ingin aku tanyakan pada mu sesepuh"ucap Jaka.


"Apa itu tetua"tanya Paksi Darma.


"Apakah sesepuh tahu mengenai orang yang bernama tengkorak iblis"ucap Jaka.


Paksi Darma langsung terkejut bagaikan di sambar petir siang itu mendengar jaka menyebut nama tengkorak iblis.


"Tadi tetua bilang tengkorak iblis"ucap Paksi Darma mengulangi perkataan Jaka tadi.


"Iya tengkorak iblis, sesepuh"ucap Jaka.


"Apa yang sebenarnya terjadi hingga tetua sampai bertemu dengan orang itu"tanya Paksi Darma.


"Aku belum pernah bertemu dengan orang itu sesepuh aku cuma mendengar nama itu dari seseorang sewaktu aku bentrok dengan orang orang yang tidak aku kenal di sebuah hutan"ucap Jaka ,teringat pertarungan dengan orang orang yang berpakaian serba hitam waktu Dewi Pandan Arum sedang sakit.


"Uhmmm.....aku akan menjelaskan pada tetua mengenai siapa tengkorak iblis itu,dia adalah manusia setengah siluman yang mempunyai kesaktian sangat tinggi.


Aku pernah bentrok dengannya beberapa kali dan kami imbang dalam pertarungan itu,tapi pertarungan itu terjadi sudah lama sekali sekitar empat puluh tahun yang lalu,kalau sekarang aku yakin dia sudah bertambah kuat lagi tetua"ucap Paksi Darma.


"Rupanya begitu,apakah orang itu mempunyai pukulan tapak iblis sesepuh"ucap Jaka.


"Benar sekali tetua , pukulan tapak iblis adalah salah satu pukulan andalannya selain itu ada masih ada lagi yaitu pukulan badai neraka"ucap Paksi Darma.


"kalau begitu dia pasti mempunyai hubungan dengan Sanca Buana dan Dewi Ganda Arum sesepuh"ucap Jaka.


"Bisa jadi begitu , karena Sanca Buana juga mempunyai pukulan itu, tapi apa yang di perbuat orang itu sehingga tetua kelihatannya tertarik sekali dengan tengkorak iblis"ucap Paksi Darma.


"Dia yang telah membunuh tetua sekte bintang Utara dan membantai seluruh para murid di sana sesepuh,aku yang sekarang ini bagian dari sekte itu mempunyai kewajiban untuk menuntut balas atas kematian kakek guru Terpasura "ucap Jaka.


"Apa...!!!"jadi sekte bintang Utara saat ini sudah musnah begitu tetua"tanya Paksi Darma dengan terkejut sekali.


Jaka mengangguk pelan mendengar pertanyaan dari Paksi Darma itu.


"Jangan jangan tujuan dari tengkorak iblis itu juga peta itu tetua"ucap Paksi Darma.


"Tidak salah sesepuh aku yakin dia juga mengincar peta itu"ucap Jaka.


"Sebaiknya tetua harus hati-hati terhadap orang yang satu ini"ucap Paksi Darma memperingatkan.


"Memangnya kenapa sesepuh , kenapa sesepuh kelihatan begitu khawatir dengan orang yang bernama tengkorak iblis itu "tanya Jaka merasa di buat penasaran dengan sikap Paksi Darma itu.


"Karena aku mempunyai firasat bahwa orang itu sangat berbahaya dan menakutkan dan aku takut tetua bukan tandingan orang itu"ucap Paksi Darma.


"Kau terlalu berlebihan sesepuh, bukan kah sesepuh pernah bilang setinggi tingginya gunung masih bisa di daki juga "ucap Jaka .


"Benar tetua tapi gunung yang satu ini....


"Sesepuh kau merasakan sesuatu "ucap Jaka tiba-tiba.


"Benar tetua ,aku merasakan sebuah pancaran tenaga dalam yang begitu kuat sedang menuju ke mari "ucap Paksi Darma.


"Lebih dari satu orang sedang menuju kemari,aku ingin tahu siapakah mereka itu "ucap Jaka segera berlari keluar.


Paksi Darma juga tidak mau ketinggalan ia segera berlari menyusul Jaka menuju ke arah depan , karena ia juga ingin tahu siapakah orang orang itu.

__ADS_1


Makin lama tenaga yang Jaka rasakan pun makin besar tampaknya para tamu yang tidak di undang itu semakin dekat.


"Pasti kedatangan orang orang itu karena peta ini"ucap Jaka , sambil menatap ke arah langit di depannya.


"Sepertinya tamu kita kali ini ,lebih kuat dari orang orang yang kemarin tetua"ucap Paksi Darma setelah merasakan kekuatan yang begitu kuat.


"Kau benar sesepuh ,kita tunggu saja siapa para tamu itu"ucap Jaka.


Baru saja jaka berkata seperti itu tiba-tiba terdengar suara tawa yang cukup hingga menggema keseluruhan sekte.


Arini, lestari dan Sinta langsung berhamburan keluar setelah mereka mendengar suara tawa itu.


Haaa....haaa......haaa..... Paksi Darma lama tidak jumpa, terdengar suara menyapa Paksi Darma yang saat itu sedang berdiri di samping Jaka.


"Siapa orang itu sesepuh seperti dia sangat mengenal mu"tanya Jaka.


"Rupanya orang itu,dia adalah ki Lukito tetua atau yang lebih di kenal dengan sebutan setan tua dari gunung Lawu"ucap Paksi Darma.


Orang orang yang di tunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba juga, tampak empat orang yang berdiri depan Jaka dan Paksi Darma, mereka adalah Ki Lukito, Racun Barat,Ki ringin dan Dewi rambut ular.


Paksi Darma langsung terkejut begitu melihat dan mengenal orang orang yang datang itu, mereka semua adalah tokoh tokoh dunia persilatan yang namanya sudah cukup di kenal.


"Aku tidak menyangka hari ini mendapatkan kunjungan dari setan tua dan Racun Barat "ucap Paksi Darma.


"Haaa.... haaaa..... ternyata kau masih mengingat kami berdua Paksi Darma "ucap racun barat di sela sela tawanya.


"Gerangan apa yang membuat racun barat dan Setan tua datang kemari "ucap Paksi Darma.


"Haii....Paksi Darma rupanya kau tidak mengenali kami berdua "ucap Dewi rambut ular langsung menyahut karena merasa di pandang sebelah mata oleh Paksi Darma.


"Rupanya setelah kau menjabat sebagai tetua sekte langit kau sudah lupa sama kami Paksi Darma"ucap Ki ringin.


Paksi Darma terdiam mendengar perkataan dua orang itu ,ia kemudian mengingat ingat siapa kedua orang itu, setelah lama berfikir akhirnya ia pun tahu siapa dua orang itu.


"Tentu saja aku tidak lupa pada kalian berdua Dewi rambut ular dan Ki ringin"ucap Paksi Darma.


"Oh iya perlu kalian berempat ketahui , bahwa tetua sekte langit yang sekarang bukanlah aku "ucap Paksi Darma.


"Apa kamu bilang sekarang kamu bukan tetua sekte langit lagi , padahal kedatangan kami berempat ke sini ada hubungannya dengan dengan tetua sekte ini Paksi Darma"ucap Ki Lukito.


"Paksi Darma cepat kau beritahu pada tetua sekte ini bahwa kami ada perlu dengannya "ucap Racun Barat .


"Buka mata kalian lebar lebar pemuda yang ada di samping ku inilah tetua sekte langit yang sekarang "ucap Paksi Darma sambil menoleh ke arah Jaka.


Keempat orang itu langsung terbelalak matanya melihat seorang pemuda yang di tunjukkan oleh Paksi Darma itu,mata mereka tidak percaya kalau tetua sekte langit sekarang hanyalah seorang pemuda ingusan.


"Kau jangan main main dengan kami Paksi Darma, apakah kau takut berhadapan dengan kami sehingga kau mau menunjuk orang lain sebagai tetua sekte ha..h!!"ucap Ki Ringin dengan tidak percaya.


Jaka hanya diam saja mendengar ucapan ki Ringin itu,ia malas menanggapi pembicaraan yang tidak penting itu.


"Dengar Ki ringin dalam hidup ku tidak mengenal istilah takut pada kalian berempat jadi terserah kalian mau percaya atau tidak "ucap Paksi Darma.


"Haiii anak muda apakah benar kau tetua di sekte ini"tanya racun barat untuk memastikan.


", Mengenai siapa aku itu tidak penting,aku ingin tahu apa maksud kedatangan tuan ke sini"tanya Jaka malah balik bertanya.


"Kurang ajar beraninya kau tidak menjawab pertanyaan ku, sudah bosan hidup kau rupanya"ucap Racun Barat langsung naik darah dengan ucapan Jaka itu.


"Dengar orang tua urusan mati dan hidup ku bukan di tangan mu"ucap Jaka.


"Anak sialan rasakan ini hiiiiaaaat... Racun Barat langsung melepaskan pukulannya ke arah Jaka, namun Jaka menangkis serangan itu dengan satu tangannya dan pukulan itu pun berubah arah dan meledak di udara blaaaar.....!!!.


Racun barat terperanjat melihat pemuda di depannya dapat menghalau serangan dengan sangat mudah.


"Kurang ajar kau racun barat beraninya kau menyerang tetua sekte langit seperti itu"ucap Paksi Darma dengan geram.


Melihat Jaka di serang itu Arini, Ratih dan Sinta pun langsung bergerak maju menghampiri Jaka.


"Siapa orang tua jelek ini tetua, tidak sopan sekali"ucap Arini.


"Izinkan saya memberikan pelajaran pada orang itu tetua"ucap Sinta.


"Tunggu Sinta , kalian semua mundurlah jangan ada yang bertindak tanpa ada perintah dari ku"ucap Jaka.


Mendengar perintah dari Jaka itu mereka bertiga pun langsung segera mundur dan memperhatikan dari jarak jauh.


"Aku benar benar terkejut, ternyata sekte langit sekarang mengangkat seorang pemuda yang masih ingusan sebagai seorang tetua"ucap Ki Lukito.


"Setan tua kalau begitu dialah orang yang telah membunuh orang orang itu "tanya Racun Barat.


"Ya dialah orangnya"ucap ki Lukito.


"Kalau begitu cepat kau serahkan peta harta Karun itu pada kami"ucap Racun Barat.


"Haiii anak muda sayangi nyawa mu jangan buat kami marah "sahut ki Ringin.


"Maaf seribu maaf,peta itu bukan hak kalian , jadi jangan harap kalian bisa mendapatkannya "ucap Jaka dengan tegas.


"Kurang ajar sekali kau, rupanya kau belum tahu siapa kami berempat ini"ucap Dewi rambut ular merasa tersinggung dengan perkataan Jaka itu.


"Heh.... kalian berempat cuma orang yang senang merebut milik orang lain,bagi ku kalian tidak lebih dari seorang perampok rendahan"ucap Jaka.


"Kurang ajar tajam sekali mulut mu,aku tidak akan puas sebelum merobek robek mulut mu itu "ucap Dewi rambut ular,ia benar benar merasa tersulut emosinya mendengar ucapan Jaka yang baginya terlalu merendahkan itu, tanpa banyak kata lagi Dewi rambut ular langsung menerjang Jaka yang ada di hadapannya itu.


weees..... Dewi rambut ular menyabetkan tongkatnya ke arah Jaka, sambaran tongkat itu menimbulkan deru angin yang begitu kencang, hingga memaksa jaka harus menggunakan ilmu ringan tubuhnya dengan melayang ke belakang,


Jaka menatap tajam wanita separuh baya yang menyerangnya itu, dalam hatinya jaka berniat akan memberikan pelajaran padanya.

__ADS_1


"Sesepuh Paksi Darma dan yang lain mundur kalian semua biar kan aku saja yang menghadapi orang orang itu"perintah Jaka.


"Tapi tetua..."ucap Paksi Darma


"Sesepuh jangan banyak bicara turuti saja perintah ku"ucap Jaka.


Karena tidak ada pilihan lain, Paksi Darma akhirnya menuruti perintah dari Jaka itu ,ia langsung mundur ke tempat yang agak jauh karena sebentar lagi akan ada pertarungan di antara mereka.


"Kau terlalu sombong anak muda,apa kau merasa sanggup untuk menghadapi kami berempat sendirian heh.."ucap Dewi rambut ular.


"Ini bukan masalah menyombongkan diri nyai tapi selama masih ada aku di sini aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka "ucap Jaka.


"Biar pun begitu sama saja kau merendahkan kami"ucap Dewi rambut ular ia pun langsung menyerang Jaka kembali.


Jaka bukan tanpa alasan berkata seperti itu karena dia tahu bahwa kekuatan Arini dan yang lainnya masih jauh di bawah para dedengkot dunia persilatan itu.


"Setan tua , apakah kita harus mengeroyok pemuda itu "tanya racun barat.


"Kita lihat saja pertarungan di antara mereka jika Dewi rambut ular tidak mampu mengalahkan pemuda Jaka itu,baru kita bertindak "sahut ki Lukito.


Kibasan tongkat Dewi rambut ular kembali menerjang Jaka, hawa panas pun Jaka rasakan begitu sambaran tongkat itu lewat di samping mukanya.


Tidak ingin hanya terus menghindar Jaka mengepalkan tangannya dan menghantam ujung tongkat itu dengan pukulan badai menerjang karangnya dess.....dess.... ujung tombak itu pun melayang ke atas, lalu Jaka bergerak cepat dengan jurus sepuluh langkah malaikatnya dan memberikan pukulan padanya dess.... Dewi rambut ular pun terhuyung huyung ke belakang sambil merasakan sakit pada bagian perutnya.


"Akh..sialan...pemuda kurang ajar"maki Dewi rambut ular sambil memegangi perutnya.


Jaka hanya tersenyum masam mendengar ocehan tidak jelas dari wanita itu.


"Itu baru pukulan peringatan saja Nyai,saya harap Nyai berubah pikiran dan segera pergi dari sini"ucap Jaka.


"Kalian bertiga kenapa hanya diam saja, cepat bantu aku membungkam mulutnya"teriak Dewi rambut ular pada ketiga temannya itu.


"Biar aku saja yang membantu dia"ucap Ki Ringin pada racun barat dan Ki Lukito.


Ki Ringin langsung melesat menghampiri Dewi rambut ular yang sedang merasakan kesakitan itu.


"Mari Nyai kita hajar pemuda itu"ucap Ki Ringin.


Kedua orang itu segera menyerang kembali, melihat lawannya bertambah dua orang Jaka segera menyiapkan pukulan Guntur seribu nya.


Dewi rambut ular langsung menerjang Jaka kembali , dengan rasa marah ia berniat membalas padanya atas pukulannya tadi.


Ki Ringin melayangkan tinjau dan tendangannya pada Jaka wes...wes... secara bertubi-tubi, tapi tidak satu pun dari serangannya itu yang mengenainya.


Menghadapi dua orang yang di rasa cukup kuat itu jurus sepuluh langkah malaikat pun langsung Jaka gunakan.


Kecepatan serangan Ki Ringin dan Dewi rambut ular masih kalah jauh dengan pergerakan Jaka yang menggunakan jurus sepuluh langkah malaikat itu.


Ki Ringin memperhebat serangannya dengan jurus andalannya namun masih saja tidak bisa menjangkau tubuh Jaka.


Dewi rambut ular kembali menerjang Jaka


Weesss....... sambaran tongkatnya lewat tipis di samping Jaka,


"Pukulan ular beracun "teriak Dewi rambut ular sebuah cahaya warna hitam langsung melesat ke arah Jaka,


melihat Dewi rambut ular melepaskan pukulan andalannya , Jaka langsung menggunakan pukulan Guntur seribunya untuk menyambut pukulan itu.


Blaaaar..... blaaaar...... blaaaar....


Dewi rambut ular terpental dalam adu pukulan itu braaak ia terjatuh dengan cukup keras, sedang Jaka hanya mundur beberapa tindak ke belakang.


Belum sempat Jaka memperbaiki sikap berdirinya dengan baik ,tiba-tiba wuuuuus


... wuuuuus.... sebuah serangan meluncur ke arah nya.


Tapi dengan refleks yang begitu cepat Jaka langsung memutar badannya menghindari serangan itu, hingga serangan ki Ringin pun lewat tipis kira kira sejengkal dari tubuhnya.


Blaaaar... blaaaar... serangan ki Ringin akhirnya hanya mengenai ruang kosong.


Dengan gerakan cepat Jaka langsung mengirimkan pukul badai menerjang padanya wuuuuus.... tapi pukulan itu dapat di tangkis dengan mudah oleh Ki Ringin.


Jaka sedikit tersenyum melihat ki Ringin berhasil menghalau pukulannya itu, karena hanya jebakan saja.


"Rasakan ini hiiiiaaaat dess..... duuug.... telapak tangan Jaka dengan tepat mengenai punggung orang tua itu dan gedebuuuk.... Ki Ringin pun terjatuh dengan keadaan telungkup.


Rupanya setelah melepaskan pukulan badai menerjang karang, Jaka kemudian bergerak cepat dengan jurus sepuluh langkah malaikat nya dan tiba-tiba muncul di belakang orang tua itu tanpa disadarinya.


"Akh panas...panas...panas.."teriak ki Ringin kepanasan setelah terkena serangan itu.


Racun barat dan Ki Lukito terkejut melihat dua temannya terjatuh itu mereka berdua langsung menghampiri ki Ringin untuk menolongnya.


Tapi mereka segera terkejut setelah melihat bekas luka di tubuh Ki Ringin itu ,sebab mereka berdua tahu pukulan apa yang di gunakan oleh Jaka itu.


"Pukulan pencakar langit"ucap racun barat dengan mata terbelalak.


"Percuma dia tidak bisa tertolong lagi"ucap ki Lukito langsung memukul ki Ringin yang sedang sekarat dengan tangannya buuug.....ki Ringin pun langsung mati seketika.


"Ternyata dia benar benar tetua sekte langit racun barat kita jangan lagi meremehkannya"ucap Ki Lukito setelah melihat ki Ringin tewas terkena pukulan pencakar langit yang Jaka gunakan.


Mereka berdua kemudian melihat ke arah Dewi rambut ular yang sedang tergeletak , kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Jaka.


"Aku sungguh terkesan dengan kemampuan mu Jaka, tapi apa kau sanggup menghadapi kami berdua"ucap Ki Lukito.


"Kalau kau penasaran majulah "ucap Jaka.


Ki Lukito berdiri tegak sambil memandang Jaka dengan tatapan tajam, tiba-tiba duuuaaarrr...... meledaklah tempat di mana Jaka berdiri, hingga membuatnya terpental ke belakang ia melayang di udara kemudian mendarat dengan tubuh sempoyongan.

__ADS_1


"Serangan macam apa itu kenapa tidak terlihat"ucap Jaka.


__ADS_2