Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Kedatangan sesepuh Paksi Darma


__ADS_3

Perjalanan tetua Sanjaya dan seluruh murid sekte angin berhembus ke sekte Elang Putih tidak menemui halangan atau pun rintangan hingga dalam waktu yang singkat saja mereka sudah sampai di sekte Elang Putih.


Brawijaya yang tidak tahu sebelumnya sangat terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba tiba itu.


Namun Ratih segera menjelaskan pada ayahnya bahwa dia di perintah oleh tetua sekte Langit untuk membawa seluruh murid sekte angin berhembus ke Sekte Elang Putih.


Tapi Brawijaya masih belum yakin kalau sekte langit memberikan perintah itu pada Ratih putri nya itu,ia berfikir seharusnya dirinyalah yang di beri tahu oleh tetua sekte Langit bukannya ratih, karena dirinya merupakan tetua sekte Elang Putih.


Kemudian Brawijaya segera menegur Ratih dan minta penjelasan darinya.


"Ratih kau jangan main main mengaku mendapat perintah dari tetua sekte Langit aku lebih tahu dia dari pada kamu"ucap Ayahnya dengan tidak percaya sama sekali dengan keterangan Ratih.


"Mana mungkin aku berani main main ayah"ucap Ratih ucap Ratih membelah dirinya.


"Kapan kamu bertemu dengan tetua langit katakan, ayah ingin tahu karena sangat tidak mudah untuk bertemu beliau"ucap Brawijaya.


"Setiap hari aku bertemu dengannya bahkan aku juga sering memukulnya karena kebodohannya,ayah"ucap Ratih seraya mengambil air minum.


"Ayah bicara serius Ratih ,ini keadaan gawat kau jangan bercanda"ucap Brawijaya agak marah.


"Aku tidak bercanda dan aku juga serius dengan perkataan ku ayah "ucap Ratih.


"Ratih kamu jangan berkata yang tidak masuk akal kalau kau pernah memukul tetua sekte langit "ucap Arini dengan tidak percaya sama sekali pada ucapan adiknya itu.


"Benar Ratih tetua sekte itu bukan orang sembarangan mana mungkin kau berani memukulnya "sahut Sanjaya yang juga ikutan tidak percaya.


"Kalau kalian tidak percaya ya sudah ,aku tidak memaksa kalian untuk percaya pada ku "ucap Ratih sambil menyilang kan kedua tangannya dengan sikap acuh.


Brawijaya menggelengkan kepala melihat sikap Ratih itu ,begitu juga dengan Sanjaya.


"Kalau begitu bagaimana Brawijaya apakah aku harus pulang lagi , tapi menurut orang yang di bawa Ratih ini memang mengatakan bahwa sebentar lagi sekte kumbang merah akan melakukan penyerangan ke sini"ucap Sanjaya .


Brawijaya langsung terkejut mendengar perkataan Sanjaya itu dan langsung menanyakan tentang sekte kumbang merah pada orang yang di bawa Ratih itu.


"Jika demikian keadaannya kalian semua tidak perlu kembali ke sekte angin berhembus Sanjaya, karena dengan begini keadaan kita akan menjadi lebih aman"ucap Brawijaya, setelah mendengar penjelasan dari orang tadi.


"Baiklah "ucap Sanjaya.


Sinta yang duduk di dekat ayahnya terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu, rupanya dia sedang mencari keberadaan Jaka di tempat itu, namun ia tidak menemukannya, karena penasaran ia segera bertanya pada Ratih yang merupakan tempat dekatnya


"Ratih Jaka di mana kok dari tadi ia tidak kelihatan"tanya Sinta,


"Biasanya dia sedang membelah kayu , cobalah kak Sinta cari di belakang"ucap Arini segera menjawab pertanyaan Sinta.


"Baiklah aku ke sana dulu Ayah "ucap Sinta pamit pada Sanjaya ayahnya.


"Baiklah Sinta"ucap Ayahnya.


Brawijaya merasa heran dengan sikap Sinta yang selalu mencari jaka saat di Sekte Elang Putih, memangnya Jaka punya kelebihan apa sehingga membuat Sinta begitu ngebet ingin selalu bertemu dengannya.


"Sanjaya apa kau tidak keberatan Sinta dekat dengan Jaka si tukang kuda itu "tanya Brawijaya.


"tidak Sanjaya Jaka adalah hidupnya Sinta, aku tidak keberatan jika Sinta dekat dengan jaka "ucap Sanjaya.


"Aku tidak mengerti dengan kata-kata mu yang mengatakan bahwa Jaka adalah hidupnya Sinta "ucap Brawijaya, dengan heran.


"Haaa....haaa....haaaa....apa kau belum pernah mengetahui tentang kehebatan Jaka yang mampu mengobati penyakit Sinta, Brawijaya"ucap Sanjaya.


"Jaka si tukang kuda itu bisa mengobati penyakitnya Sinta,ini tidak mungkin Sanjaya dia hanyalah seorang tukang kuda dan tukang kayu selain itu tidak bisa apa-apa lagi"ucap Brawijaya merasa lebih tahu tentang Jaka dibandingkan Sanjaya.


"Ayah, kenapa sih ayah selalu menyebut Jaka sebagai tukang kuda apakah nanti ayah tidak takut menyesal "ucap Ratih mengingatkan ayahnya.


Mendengar perkataan Ratih itu Arini merasa langsung tersinggung, karena berani mengancam ayahnya..


"Jadi kamu juga mau menantang ayah bertarung Ratih "ucap Arini dengan rasa tidak suka.


"Tidak ,,aku cuma mau mengingatkan pada ayah, untuk jangan memanggil jaka tukang kuda itu saja"jawab Ratih dengan entengnya.


Brawijaya merasa kesal dengan perdebatan kedua putrinya itu yang slalu meributkan perihal jaka.


"Sudah... sudah kalian berdua jangan mulai lagi, baiklah ayah tidak akan menyebut jaka tukang kuda lagi " ucap Brawijaya,mengalah pada Ratih.


"Kalau kak Arini bagaimana "tanya Ratih.


"Itu terserah aku,mau panggil dia tukang kuda,tukang kayu atau pun tukang sapu suka suka aku Ratih "ucap Arini dengan sinis karena merasa kesal.


"Apa kak Arini tidak takut menyesal"ucap Ratih,


"Maksud mu ,kamu ingin mengajak ku berkelahi lagi begitu"ucap Arini dengan perasaan jengkel.


"Tidak , siapa yang mau berkelahi,aku cuma takut kalau kak Ratih nanti menyesal"ucap Ratih.


"Lapor tetua ada yang ingin bertemu "ucap salah satu muridnya.


"Suruh masuk "ucap Brawijaya.


"Baik tetua"ucap murid itu.


"Siapa kira kira ayah"ucap Arini.


"Nanti kita akan tahu setelah orang itu tiba di sini"ucap Brawijaya.


Tidak lama kemudian orang di pertanyakan Arini pun muncul di depan pintu.


Brawijaya dan Sanjaya pun langsung terkejut melihat siapa yang datang itu.


"Tetua.."ucap Brawijaya dan Sanjaya secara bersamaan, begitu melihat orang yang di kenalnya datang di hadapan mereka.


Brawijaya dan Sanjaya segera menyuruh anak anaknya serta yang lainnya untuk memberi hormat pada orang itu.


"Arini, Ratih dan Bagus Dento cepat berlutut beri hormat pada tetua"ucap Brawijaya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Sanjaya langsung menyuruh anaknya untuk berlutut memberi hormat kepada orang itu.


Namun Ratih tidak menuruti perkataan ayahnya itu,ia malah langsung menghampiri orang itu dan menggandeng tangannya,lalu menuju ke tempat duduknya.


Brawijaya, Sanjaya dan semua orang yang ada di situ merasa heran melihat kelakuan Ratih itu yang begitu berani itu.


"Ratih jangan kurang ajar pada tetua sekte Langit"bentak Brawijaya ketika melihat Ratih menggandeng tangan orang itu yang tidak lain adalah sesepuh Paksi Darma.


"Tenang lah Brawijaya jangan marah pada Ratih seperti itu"ucap sesepuh Paksi Darma.


Diam diam Ratih merasa sangat heran melihat sikap adiknya itu, kenapa ia begitu berani bersikap tidak sopan pada tetua sekte langit.


"Kenapa Ratih tampak akrab dengan tetua sekte langit"ucap Arini dalam hati.


"Kenapa sesepuh datangnya lama sekali"tanya Ratih.


"Maaf maaf tadi di jalan ada rintangan sedikit yang membuat perjalanan ku jadi terlambat "ucap sesepuh Paksi Darma.


"Tetua sekte Langit di panggil sesepuh dan minta maaf pada Ratih apa aku tidak bermimpi"ucap Brawijaya, Sanjaya dan semua orang yang di situ benar benar kaget dan merasa jantungan melihat sikap Ratih yang dinilai sembrono itu.


"Ayah kenapa Ratih begitu berani dengan tetua sekte langit"ucap Arini dengan berbisik,ia merasa ragu kalau orang di depannya kalau dia beneran tetua sekte langit.


"Aku juga tidak tahu Ratih, mungkinkah ini mimpi , Karena setahu ku tetua Paksi Darma biasanya tidak pernah bersikap lembut seperti itu"ucap Brawijaya.


"Tidak ayah ini tidak mimpi,ini nyata"ucap Arini.


"Bangun lah kalian semua"ucap sesepuh Paksi Darma.


Kemudian Brawijaya dan lainnya pun segera bangun.


"Maaf tetua ,kenapa tetua begitu akrab sekali dengan Ratih"tanya Arini yang dari tadi menahan rasa herannya itu.


"Iya benar tetua ,saya lihat tetua akrab sekali dengan Ratih"sambung Brawijaya.


"Tentu saja kami akrab dia kan murid sekte Langit Brawijaya"jawab sesepuh Paksi Darma.


"Apa.....!!!!!"jadi Ratih sudah menjadi murid sekte Langit"ucap Arini terkejut bukan main, begitu pula Brawijaya dan yang lainnya.


"Pantas saja kemampuannya meningkat begitu tinggi "ucap Arini.


"Dan perlu saya ingatkan pada kalian semua jangan panggil aku tetua lagi "ucap sesepuh Paksi Darma memberi tahu.


"Maksud tetua , apakah tetua sudah tidak menganggap kami lagi"ucap Sanjaya.


"bukan begitu maksud ku, Ratih cepat panggil tetua kemari biar tidak salah paham "perintah sesepuh Paksi Darma.


"Baik sesepuh "ucap Ratih kemudian pergi ke belakang mencari Jaka.


Disaat Ratih mau menyusul Jaka,secara kebetulan jaka dan Sinta sedang menuju ke tempat pertemuan itu.


"Sinta cepat beri hormat pada tetua Paksi Darma"ucap Sanjaya ketika melihat putrinya ke situ.


"Kamu tukang kuda cepat beri hormat pada tetua Sekte langit"bentak Arini.


"Brawijaya siapa gadis bermulut tajam dan tidak sopan ini"tanya sesepuh Paksi Darma dengan raut muka menunjukkan rasa ketidaksukaan pada Arini.


"Oh, dia anak ku tetua "ucap sesepuh Paksi Darma.


"Lancang sekali mulut nya, apa kau tidak pernah mendidik dia dengan benar Brawijaya "ucap sesepuh Paksi Darma dengan marah.


Brawijaya langsung terkejut melihat Paksi Darma tiba-tiba marah seperti itu.


"memangnya kenapa tetua,apa kesalahan yang di perbuat Arini "tanya Brawijaya.


Melihat Jaka sudah ada di situ Paksi Darma dan Ratih segera memberikan hormat padanya.


"Hormat saya tetua "ucap sesepuh Paksi Darma dan Ratih bersamaan.


Melihat sesepuh Paksi Darma memberi hormat pada Jaka, Arini pun terbelalak matanya, begitu juga dengan Sanjaya ,Sinta, lestari terlebih lagi bagus Dento dan Brawijaya yang langsung terkejut bukan main.


"Bangunlah sesepuh Paksi Darma"ucap Jaka.


"baik tetua "ucap Paksi Darma.


"Kenapa kalian tidak memberi hormat pada tetua Sekte langit"bentak Paksi Darma dengan suara keras .


Mendengar itu Brawijaya dan yang lainnya pun segera berlutut memberi hormat pada Jaka.


"Hormat kami tetua sekte langit "ucap mereka serempak.


"tidak perlu seserius itu, bangunlah kalian semua "ucap Jaka.


Bagus Dento merasa gemetar lututnya begitu mendengar sesepuh Paksi Darma menyebut tetua pada Jaka.


"Inilah tetua sekte langit yang baru dan kalian jangan memanggil aku tetua lagi, panggil saja aku sesepuh seperti Ratih memanggil ku "ucap sesepuh Paksi Darma, kembali mengingatkan.


"Dan ingat kalau ada yang memanggil tetua sekte langit dengan tukang kuda,akan ku robek mulut nya "sambung sesepuh Paksi Darma dengan penuh ancaman.


Arini pun langsung gemetar mendengar ucapan sesepuh Paksi Darma itu,Bagus Dento pun lebih gemetar lagi,jika teringat kata katanya yang pernah ia lontarkan pada jaka bahwa ia akan memakannya hidup hidup waktu itu.


"Maafkan aku tetua jika selama ini aku telah menyinggung perasaan tetua"ucap Arini dengan perasaan menyesal.


Bagus Dento segera lari menubruk kaki jaka sambil menangis.


"Aku benar benar tidak tahu kalau kamu adalah tetua Sekte langit ,maaf aku tetua Jaka, maafkan aku"ucap Bagus Dento dengan cucuran air mata.


Jaka menggelengkan kepalanya melihat sikap Arini dan Bagus Dento itu.


"Sudah... sudah tidak perlu sampai begini aku maafkan kalian berdua"ucap Jaka.


Melihat Arini dan Bagus minta maaf,tanpa malu malu Brawijaya segera berlutut di hadapan Jaka dengan rasa menyesal.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf tetua Jaka atas sikap ku selama ini,aku bersedia menerima hukuman dari tetua"ucap Brawijaya.


"Sudahlah tetua jangan seperti itu aku sudah maafkan kok"ucap Jaka.


"tetua jaka jangan panggil aku tetua lagi, mulai sekarang panggil saja aku paman"pinta Brawijaya.


"Baiklah,aku sudah maafkan kamu paman"ucap Jaka.


"terima kasih tetua"ucap Brawijaya ,begitu juga dengan Arini dan Bagus Dento juga mengucapkan terima kasih atas kebaikan Jaka.


"Ayah dulu pernah di tolong oleh orang yang berpakaian serba hitam kan, waktu di hutan Sunyi itu "tanya Ratih kemudian.


"Benar Ratih siapa dia"jawab Brawijaya.


"tetua Jaka lah orang nya ayah"jawab Ratih.


"Apa....!!!! "ucap Brawijaya dengan tersentak kaget.


"Aku benar benar orang tidak tahu diri , sekali lagi maafkan kesalahan ku selama ini tetua"ucap Brawijaya, merasa menyesal dan berhutang budi pada jaka.


"Sudahlah jangan begitu paman "ucap Jaka merasa tidak suka di perlukan begitu.


"Jangan jangan dua orang yang menolong saya waktu itu kamu dan tetua Jaka Ratih "tanya Lestari.


"Memang benar "ucap Ratih.


"Dasar Ratih ikut ikutan gila seperti mereka "ucap Jaka sambil menggelengkan kepalanya.


"Saya ucapkan terima kasih tetua, untuk pertolongan yang waktu itu "ucap Lestari.


"Cuma masalah sepele lestari tidak perlu terima kasih segala,lagian kamu pernah mentraktir aku dan Ratih anggap saja kita impas"ucap Jaka tidak memperpanjang soal waktu itu.


Ratih kemudian mendekati Arini yang merupakan kakak perempuannya itu dan membisikkan sesuatu ke telinganya.


"bagaimana kak Arini dengan tukang kudanya ,apa masih berani memanggil dia dengan nama itu"ucap Ratih menggoda kakaknya.


"Awas nanti kamu , akan aku cubit sampai nangis "ucap Arini merasa malu pada dirinya sendiri.


"Sesepuh bagaimana dengan pasukan yang ku minta"tanya Jaka.


"Semua sudah siap tetua, melati sudah mengatur semuanya bersama Narantaka "ucap sesepuh Paksi Darma.


"Bagus,lalu bagaimana dengan persiapan tetua san....


"Paman tetua , panggil saja aku paman jangan tetua"ucap Sanjaya langsung memotong perkataan Jaka.


"Bagaimana dengan persiapan pasukan paman Sanjaya apakah sudah siap" tanya Jaka.


"Sudah menantu eh .... maksud saya tetua"ucap Sanjaya.


"Dasar Sanjaya mentang mentang anak gadisnya dekat dengan tetua jaka langsung sebut menantu dasar tak tahu malu "ucap Brawijaya dalam hati dengan rasa tidak suka


"Lalu dengan pasukan paman Brawijaya sendiri bagaimana"ucap Jaka.


"Paman.... paman.."ucap Jaka berulang karena Brawijaya terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu.


"Juga su.....dah siap tetua Jaka"ucap Brawijaya tergagap.


"Baguslah kalau semua sudah siap,melati bagaimana dengan hasil penyelidikan mu saat ini"tanya Jaka.


"Untuk saat ini masih belum ada tanda-tanda kedatangan mereka tetua "jawab Melati.


"Kalau begitu kalian,semua bisa beristirahat untuk memulihkan tenaga kalian,aku tahu kalian merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh, Melati istirahat kan pasukan mu", Perintah Jaka.


"Siap tetua " ucap Melati.


Arini benar benar kagum melihat Jaka kali ini, karena ia begitu tegas dan berwibawa, Arini memperhatikan Jaka dalam dalam tanpa sepengetahuan semua orang yang ada di situ.


"Oh ya,Jaka bagaimana dengan kayu-kayu yang kau belah ,apakah sudah terbelah semuanya "ucap Ratih.


" Sedikit lagi Ratih, setelah ini akan aku bereskan " Ucap Jaka.


Jantung Brawijaya seakan meledak mendengar perkataan Ratih itu ,apa lagi bicaranya di depan sesepuh Paksi Darma,ia takut sesepuh Darma tersinggung mendengar Ratih memanggil Jaka dengan tukang kayu.


"Bagus Dento cepat suruh Darmo untuk membelah kayu...!!!!"perintah Brawijaya.


"Baik tetua"ucap Bagus Dento kemudian pergi.


"Haaa.....haaa... Ratih ini memang tidak berubah selalu saja begitu pada tetua Jaka "ucap Brawijaya menutup kecemasannya.


"Tidak apa-apa Brawijaya biarkan saja, tetua dan Ratih memang suka bercanda begitu "ucap sesepuh Paksi Darma.


Lega lah hati Brawijaya mendengar perkataan dari sesepuh Paksi Darma itu.


"Untung Ratih yang bicara seperti itu,kalau Arini atau yang lain aku tidak tahu nasibnya bagaimana "ucap Brawijaya dalam hati sambil mengelus dadanya.


"Sesepuh Paksi Darma aku keluar dulu bersama Ratih "ucap Jaka.


"Baiklah tetua"sahut sesepuh Paksi Darma.


"Aku ikut tetua"ucap Sinta.


"Aku juga ikut tetua"ucap Lestari.


"Baiklah"ucap Jaka.


"kakak Arini tidak mau ikut"ucap Ratih.


"mmm... tidak Ratih,aku lagi tidak enak badan"ucap Arini, Sebenarnya ia ingin sekali ikut dengan mereka,tapi merasa tidak enak sendiri sama Jaka.


Setelah mengetahui status Jaka yang sebenarnya , mulai saat itu berubahlah sikap orang orang sekte Elang Putih, yang tadinya bersikap kasar dan merendahkan sekarang tidak lagi.

__ADS_1


Arini di kamarnya mondar mandir tidak jelas,ia memaki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia bersikap kasar pada Jaka selama ini.


__ADS_2