Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Hutan sunyi kembali memakan korban.


__ADS_3

Seperti biasa keadaan hutan sunyi begitu tenang dan damai jika di lihat dari luar ,tapi setelah di dalam cerita akan segera berubah.


Di dalam hutan itu tampak empat sosok manusia berkelebat sangat cepat melintasi cabang cabang pohon,empat sosok itu adalah Brawijaya bersama tiga tetua sekte lainnya.


Mereka berempat kemudian berhenti setelah sampai di tempat terjadi pembunuhan kemarin.


"Kita mulai melakukan penyelidikan dari sini kemudian ketempat lain "ucap Brawijaya.


"Baiklah "ucap Gumeleng menuju ketempat di mana muridnya di bantai.


Ia pun segera menjelajahi tempat itu untuk mencari petunjuk pembunuhnya.


"Sebaiknya kita menyebar supaya lebih cepat penyelidikan ini ,aku akan ke arah sana"ucap Jaga Dara kemudian melesat pergi.


"Brawijaya aku akan bersama mu "ucap Santawana.


"Baiklah kita ke arah sana saja"ucap Brawijaya laku melesat ke arah itu.


"Seandainya kemarin aku dapat menangkap dua orang itu , pasti tidak akan repot begini "ucap Gumeleng menyesali dirinya karena kehilangan jejak dua sosok hitam kemarin.


Gumeleng menjelajahi tempat itu dengan hati hati berharap dapat menemukan sebuah petunjuk pembunuhan itu, namun setelah sekian lama di tempat itu ia tetap saja tidak menemukan apa apa.


"Yang pergi biarkan pergi pak tua buat apa kau sesali"ucap seseorang tiba-tiba dari depannya.


"Kurang ajar , berani sekali kau bilang seperti pada ku"ucap Gumeleng dengan menatap tajam pada orang itu.


"Haaahaaa....haaaa... sekarang kau tahu bagaimana rasanya kehilangan para murid mu Gumeleng "ucap orang itu.


"Siapa kamu sebenarnya kenapa bisa tahu nama ku"tanya Gumeleng.


"Siapa yang tidak tahu nama mu Gumeleng yang sekarang tersohor karena keberhasilannya menghancurkan Sekte Kalajengking hitam "ucap orang itu.


"Kurang ajar.... katakan siapa kamu kenapa kamu menyebut sekte kalajengking hitam "tanya Gumeleng penasaran campur marah.


"Dengar baik baik Gumeleng aku adalah Rawa Candra anak dari tetua sekte kalajengking hitam yang telah kau bunuh tiga puluh tahun silam"ucap orang yang mengaku bernama Rawa Candra itu.


"Apa...!!!!"Gumeleng tercekat , karena ia yakin bahwa saat itu sudah tiada ada lagi yang hidup pada tragedi penyerangan itu.


"Sekarang kau dan seluruh tetua sekte lainnya akan menerima balasannya di tempat ini"ucap Rawa Candra.


"Jadi pembunuhan yang terjadi di sini kemarin adalah perbuatan mu"ucap Gumeleng dengan tatapan tajam.


"Kau benar , semua itu perbuatan ku Gumeleng dan sekarang giliran mu untuk mati "ucap Rawa Candra.


"Haaa...haaa..haaa..... kau pikir mampu seorang diri menghadapi kami berempat ", ucap Gumeleng.


"Kau pikir aku datang kemari tanpa persiapan yang matang Gumeleng lihatlah "ucap Rawa Candra sambil menunjuk ke sekeliling tempat itu yang ternyata sudah di penuhi pasukan dalam jumlah yang banyak.


"Kurang ajar rupanya aku dan tetua sekte yang lain masuk jebakan nya"ucap Gumeleng.


"Serang dan bunuh dia "ucap Rawa Candra sambil melambaikan tangannya.


Pasukan Rawa Candra yang berjumlah sekitar dua ratus orang itu segera melepaskan anak panahnya mulai menyerang ,wuuuuus.... wuuuuus.. wuusss...anak panah dengan deras menghujani Gumeleng.


Hiaaat.... Gumeleng mengeluarkan pedangnya dan menangkis anak panah itu hingga membuatnya berjatuhan,tapi anak panah itu terus berdatangan seolah tanpa henti.


"Sialan, tidak ada gunanya jika hanya menghindar dan tidak menyerang balik"ucap Gumeleng sambil menangkis anak panah yang berdatangan.


Walaupun hanya sekitar dua ratus orang tapi anak panah itu seolah-olah tidak ada habisnya, hal itu membuat Gumeleng sangat kesal hingga ia pun mengirimkan sebuah pukulan kepada para pemanah itu wuuuuus..... duuuaaarrr.. duuuaaarrr para pemanah yang terkena pukulan itu pun langsung hangus terbakar.


Melihat usahanya berhasil Gumeleng pun melesat ke atas dan mengirimkan kembali pukulannya duuuaaarrr duuuaaarrr... dalam waktu sekejap pasukan pemanah pun rata dengan tanah.


Huup... Gumeleng mendarat di tanah sambil menatap tajam Rawa Candra yang tidak jauh di depannya.


"Luar biasa,"ucap Rawa Candra memuji kehebatan Gumeleng.


"Sekarang giliran mu Rawa Candra...!!! Teriak Gumeleng , langsung melesat ke arah Rawa Candra wuusss....Rawa Candra tersenyum melihat Gumeleng datang menyerangnya.


Tiba tiba muncul dua sosok orang berkepala gundul dengan membawa tombak di tangannya di samping kiri dan kanannya Rawa Candra.


Gumeleng terkejut sekali melihat kehadiran dua orang yang tiba-tiba itu,


mau menarik kembali serangannya sudah tidak mungkin karena sudah terlalu dekat, akhirnya ia memutuskan untuk meningkatkan serangannya dengan kekuatan penuh,


melihat bahaya yang semakin dekat dua orang gundul itu pun langsung mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyambut serangan Gumeleng hingga benturan tenaga dalam pun tak bisa terhindarkan duuuaaarrr...... Gumeleng terlempar beberapa tombak ke belakang dengan dada terasa sesak.


"Dua algojo ,aku serahkan orang itu pada kalian"ucap Rawa Candra.


"Baik tuan"ucap dua algojo.


"Rupanya dua orang gundul itu sangat kuat , uhuk..uhuk...."ucap Gumeleng setelah benturan tenaga dalam tadi.


Dua algojo langsung melesat menyerang Gumeleng dengan tombaknya .

__ADS_1


Gumeleng segera mengerahkan kekuatannya menyambut kedatangan mereka.


Trang....trang....dua tombak dan satu pedang beradu, Gumeleng menarik pedangnya kemudian menyerang lagi , pertarungan dua lawan satu tak bisa di hindari hiaat dess... deess... tendangan Gumeleng berhasil mengenai dua algojo, namun tidak berpengaruh apa apa ,hal itu membuat Gumeleng merasa heran.


Namun bukan waktunya bagi Gumeleng untuk mengurusi rasa herannya itu karena dua lawan terus menyerang nya.


Gumeleng segera memainkan jurusnya yaitu jurus macan mencabik malam, kedua tangan Gumeleng langsung merah membara.


Merasakan hawa panas jurus Gumeleng itu dua algojo segera meningkatkan serangan dan tenaga dalamnya.


Breet... breeet.... jurus macan Gumeleng berhasil mendarat di punggung dua algojo setelah ia menyerang dengan gerakan salto di udara,tapi sekali lagi ia di buat heran karena tidak berpengaruh apa apa pada dua orang gundul itu.


"bersiaplah terima serangan kami berdua"ucap dua algojo dengan senyum yang menakutkan.


Dua Algojo langsung memainkan tombaknya dengan cepat langsung mengincar kepala, tubuh dan kaki Gumeleng.


Mau tidak mau suka atau tidak suka Gumeleng harus jatuh bangun menghindari tusuk tusukan tombak itu.


Hingga akhirnya salah satu serangan mereka pun berhasil mendarat di perut Gumeleng setelah ia terkecoh dengan gerakan tombak dua Algojo itu.


"Akh...."suara kesakitan pun keluar dari mulut Gumeleng di barengi dengan darah mengucur deras dari perutnya.


"Terima kematian mu orang tua"ucap dua Algojo, segera melayangkan tombaknya wuuuuus....traaaaang..... sebuah pedang menangkis serangan tombak dua Algojo hingga mengubah arah tombak itu.


Jaga Dara kaget mengetahui keadaan Gumeleng yang terluka parah itu.


"Siapa mereka Gumeleng"tanya Jaga Dara.


"Mereka adalah orang orang yang telah membunuh murid murid kita Jaga Dara"ucap Gumeleng.


"Kurang ajar,aku ku bunuh mereka semua"ucap Jaga Dara dengan penuh kemarahan.


"Jaga Dara sebaiknya kau gunakan tanda bahaya supaya Brawijaya dan Santawana tahu keberadaan kita dan dua orang itu tidak bisa di anggap remeh mereka benar orang orang kuat"ucap Gumeleng.


"Baiklah , bagaimana keadaan mu Gumeleng "tanya Jaga Dara.


"Untuk sementara aku tidak bisa membantu mu Jaga Dara tusukkan tombak itu huuueek.... belum sempat menyelesaikan kata katanya Gumeleng langsung muntah darah.


"Luka mu sangat parah Gumeleng sebaiknya kau istirahat ,biar aku urus dua orang itu sambil menunggu Brawijaya dan Santawana datang"ucap Jaga Dara.


Tanpa basa-basi Jaga Dara segera menyerang dua Algojo dengan jurus pedang terbang nya.


Pedang jaga Dara melayang layang di udara di atas kepala dua Algojo gundul untuk mengincar kepala mereka.


Dua Algojo segera melesat bersamaan kearah Jaga Dara, namun Jaga Dara langsung mengirimkan sebuah pukulan ke arah mereka wuuuuus..... duuuaaarrr....tapi serangan itu hanya mengenai ruang kosong kemudian slaaaap..... slaaaap.... blesses....dua tombak bersarang di perut dan leher jaga Dara,ia pun tewas seketika tanpa mengeluarkan suara.


Gumeleng merasa ngeri melihat kekejaman dua orang gundul menghabisi jaga Dara itu.


Tiba tiba dua serangan muncul menghantam dua Algojo wuuuuus.... wuusss....duaaarr.... duuuaaarrr tepat mengenai mereka berdua hingga keduanya terpental jatuh berguling guling, rupanya Brawijaya dan Santawana telah tiba .


"Sialan kita terlambat Brawijaya"ucap Santawana menyesali keterlambatannya.


"Mereka benar benar kejam"ucap Brawijaya setelah melihat bekas luka di tubuh Jaga Dara.


"Brawijaya merekalah yang melakukan pembantaian pada murid murid ku "ucap Gumeleng dengan suara lemah.


"Jangan banyak bicara dulu Gumeleng luka mu sangat parah "ucap Brawijaya.


"Aku merasa ajal ku sudah dekat Brawijaya percuma kau menolongku "ucap Gumeleng.


"Lalu siapa mereka sebenarnya Gumeleng "tanya Santawana.


"Mereka adalah sisa sisa sekte kalajengking hitam yang pernah kita basmi du...lu"ucap Gumeleng lalu meninggal.


Brawijaya langsung menatap tajam ke arah dua Algojo di hadapannya yang baru berdiri itu.


"Santawana berhati-hati lah selain kejam mereka juga kuat "ucap Brawijaya.


"Brawijaya lama tidak jumpa "ucap seseorang menyapanya.


Brawijaya langsung terbelalak ketika melihat orang yang menyapa itu , bagaikan mimpi di siang bolong, begitu juga dengan Santawana tidak kalah kaget.


"Bukankah itu Sindu Brawijaya"ucap Santawana.


"Benar tidak salah lagi dia adalah Sindu adanya"ucap Brawijaya.


"Bukankah dia sudah mati di tangan mu waktu itu"ucap Santawana.


"Bagus kalau kalian masih ingat padaku, hari ini juga kalian berdua harus bayar atas hancurnya sekte kalajengking hitam dengan nyawa kalian "ucap Sindu.


"Jika dulu aku gagal membunuh mu , jangan harap kali ini kau bisa kabur dari ku Sindu "ucap Brawijaya.


"Kau terlalu sombong Brawijaya ,lain dulu lain sekarang , jika dulu kau bisa mengalahkan aku hari ini aku yang akan membunuh diri mu"ucap Sindu.

__ADS_1


"Bagiku dulu sekarang sama saja , dulu kau ku tendang sekarang pun kau akan ku tendang Sindu"ucap Brawijaya.


Panas bukan main hati Sindu mendengar perkataan Brawijaya yang sangat merendahkan dirinya itu.


"Dua Algojo bunuh mereka berdua "perintah Sindu


Dua Algojo pun segera menyerang Brawijaya dan Santawana,trang....trang.... terdengar benturan senjata mereka..


Sindu dan Rawa Candra memperhatikan pertarungan mereka dari atas batu besar sambil melipat tangannya.


Hiaat....dees des.....tendangan Brawijaya berhasil mengenai salah satu dari dua Algojo dan membuatnya tersungkur.


Santawana begerak cepat seperti angin lalu braaak......desss... ia pun membuat orang gundul itu terpental.


"Guru, apa tidak sebaiknya kita turun tangan ,sepertinya dua algojo bukan tandingan mereka "ucap Rawa Candra dengan khawatir.


"Haaa....haaa...... kamu jangan salah Rawa Candra dalam menilai dua algojo itu,kita cukup lihat baik baik dari sini"ucap Sindu dengan penuh ketenangan.


"Ternyata mereka tidak sekuat yang kau katakan Brawijaya "ucap Santawana setelah berhasil membuat mereka berdua terkapar ,


namun tiba-tiba slaaaap.... slaaap blesses....tombak dari salah satu Algojo itu mampir di perut Santawana, sepertinya mereka tidak suka di remehkan.


"Haaah.....!!!!!, Santawana..."teriak Brawijaya , kejadian itu membuat Brawijaya terkejut bukan main.


Terbunuhnya Santawana dalam waktu sekejap membuat Brawijaya seolah tidak percaya dengan pemandangan di depannya.


Hiaaat.....dua Algojo merengsek maju menyerang kembali, tidak mau tanggung tanggung lagi Brawijaya langsung mengerahkan kekuatannya sampai kepuncak batasannya.


Hiiiiaaaat.... Brawijaya maju menyambut kedatangan mereka trang....trang dess....dess...desss...jual beli pukulan tidak terelakan ,berapa lama kemudian hiiiiaaaat....dess.... braaak.... akh... Brawijaya terpental cukup keras braak...dua Algojo pun mengalami nasib yang sama .


"Sialan manusia macam apa dua orang itu, kenapa pukulan ku tak berpengaruh sama sekali"ucap Brawijaya, setelah melihat dua orang gundul itu sudah bangkit kembali dan bersiap menyerang.


Brawijaya segera mengerahkan kembali kekuatannya walaupun dadanya sedikit merasa sesak.


Dua Algojo melesat cepat menyerang Brawijaya , namun duuuaaarrr.... pukulan dahsyat langsung membuat dua Algojo terpelanting cukup keras.


Brawijaya sangat terkejut melihat pukulan dahsyatnya itu ia pun kemudian melihat sosok hitam berdiri di depannya .


"Bukankah itu orang yang kemarin , kenapa ia menyerang dua orang gundul itu"tanya Brawijaya dalam hati.


"Tuan sebaiknya cepat pergi dari sini selagi masih sempat"ucap orang bersosok hitam itu yang tidak lain adalah Jaka.


"Kamu siapa"tanya Brawijaya.


"Tidak penting bagi tuan mengetahui siapa aku cepat tuan pergi aku akan menghalangi mereka"ucap Jaka.


Wuuuuus..... wuusss...dua buah pukulan yang di kirim dua Algojo gundul menyerang Jaka dan dan Brawijaya namun Jaka segera menyambutnya wuuuuus duuuaaarrr....tubuh Jaka bergetar , sedangkan dua Algojo terpental ke belakang.


Brawijaya tercekat melihat kekuatan sosok hitam di depannya itu.


"Tuan cepat pergi, jangan buang waktu"ucap Jaka.


"Tapi bagaimana dengan kamu"tanya Brawijaya ,


"Kau jangan pikirkan aku,aku punya cara untuk kabur dari sini"ucap Jaka.


"Baiklah "ucap Brawijaya,lalu melesat pergi,namun Rawa Candra dan Sindu segera bergerak mengejar Brawijaya,Jaka yang sudah mengetahui itu akan terjadi segera bergerak cepat slaaaap dan sudah di hadapan mereka.


"Kalian mau kemana"tanya Jaka.


"Kurang ajar siapa kamu ikut campur urusan kami"tanya Rawa Candra dengan melotot.


"Aku adalah aku kalian tidak perlu tahu"ucap Jaka dengan tenang.


"Kurang ajar , sudah bosan hidup kau rupanya"ucap Rawa Candra semakin marah.


"Kalau aku sudah bosan hidup , tentunya aku tidak akan datang ke sini melihat cecunguk macam kalian "ucap Jaka.


Rawa Candra langsung menyerang jaka setelah kemarahan nya memuncak,pertarungan pun terjadi wes... wes...wes... Rawa Candra menyerang dengan jurus jurusnya,tapi dapat di hindari dengan mudah oleh Jaka.


. Merasa serangannya gagal Rawa Candra melipat gandakan kekuatannya dan semakin gencar menyerang jaka.


Pertarungan Jaka dan Rawa Candra berlangsung sengit,Jaka meliuk-liuk menghindari serangan serangan mematikan Rawa Candra,hawa panas sambaran jurus Rawa Candra membuat Jaka tidak berani berbenturan langsung dengannya.


"Pukulan tinjau api hiiaaaat"teriak Rawa Candra sembari melepaskan pukulannya itu wuuuuus...... wuusss... tidak mau tubuh jadi ayam panggang jaka segera menghalau pukul itu dengan pukulan bidadari kesunyian hiiaaaat... wuuuuus..... duuuaaarrr.....Rawa Candra terpental hingga menabrak pohon bruuuk....


Darah segar mengalir dari mulut Rawa Candra, sedangkan tubuh jaka hanya bergetar masih tetap berdiri di tempatnya,itu menandakan kekuatan jaka masih jauh di atas Rawa Candra.


Rawa Candra segera bangkit dan menyerang Jaka kembali , tak lama kemudian dua Algojo gundul tiba dan langsung membantu Rawa Candra menyerang Jaka.


Tidak mau meremehkan mereka bertiga Jaka segera mengeluarkan pedangnya,trang....trang.... tangan dua Algojo bergetar hebat begitu tombak mereka berbenturan dengan pedang jaka, sedangkan Rawa Candra segera melompat menjauh setelah merasakan hawa panas sambaran angin pedang itu.


Sindu yang dari tadi memperhatikan pertarungan itu terkejut, begitu merasakan hawa pedang yang mengerikan .

__ADS_1


"Kenapa Hawa pedang ini begitu familiar, sepertinya aku pernah merasakan hawa pedang seperti ini tapi di mana"ucap Sindu dengan penuh tanda tanya .


__ADS_2