Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Misi balas dendam bagian 2


__ADS_3

Sementara itu ,di saat yang bersamaan Gandaroma dan seluruh pasukannya pun sudah terlihat berangkat menuju ke benua timur.


Di ujung barisan paling depan terlihat Liang Pamungkas memimpin para pasukan itu.Dalam keberangkatannya itu Gandaroma juga ikut serta.


Keikutsertaan Gandaroma , karena ia tidak ingin ada kegagalan lagi dalam menyerang sekte langit yang kedua kali ini.


Para pendekar dan senopati tangguh andalannya pun ia kerahkan semua supaya kemenangan dapat cepat ia raih.


Dari ujung depan sampai ke ujung belakang terlihat para pasukan bersenjata lengkap, mulai dari pasukan bertombak sampai dengan para pasukan yang membawa panah.


Melihat begitu lengkap senjata pasukan itu sudah dapat dipastikan pastikan bahwa Gandaroma akan melakukan penyerangan secara besar besaran kepada sekte langit.


Hiya hiya... terdengar suara hiruk-pikuk bersahutan dari para pasukan penunggang kuda.Debu debu berterbangan di saat kaki kuda melewati tanah kering berdebu tebal.


Dalam iring iringan pasukan itu ternyata ada empat pasang mata yang mengawasi pergerakan mereka..


keempat pasang mata itu adalah para pasukan pengintai dari sekte langit yang di tugaskan Jaka untuk mencari informasi tentang keadaan di bukit tengkorak iblis.Rupanya sebelum sampai di sana mereka melihat iringan rombongan pasukan itu.Sehingga kedua orang itu pun segera menghentikan perjalanan dan mengawasi pergerakan mereka.


Mereka berdua sangat terkejut setelah melihat begitu banyaknya para pasukan tengkorak iblis yang sedang berjalan beriringan itu ,tanpa berfikir panjang lagi, mereka segera melesat pergi meninggalkan tempat itu untuk segera melaporkan kepada jaka. Namun pergerakan mereka dapat di ketahui oleh sicaping bambu yang ada di ujung barisan paling belakang.


Sicaping bambu segera bergerak ke arah depan dengan ilmu ringan tubuhnya, untuk melaporkan hal itu kepada Liang Pamungkas.


Sejurus kemudian sicaping bambu pun sudah ada di samping Liang Pamungkas.Melihat kedatangan sicaping bambu yang mendadak itu Liang Pamungkas segera menegurnya.


"Ada apa sicaping bambu"


"Lapor tuan ,saya merasa kita telah di mata matai ,jadi saya mohon ijin untuk mengejar mata mata itu "ucap si caping bambu.


"Apa ,di mana mereka "tanya Liang Pamungkas.


"Di sebelah sana tuan "jawab sicaping bambu.


"Kalau begitu cepat kau kejar mereka dan cepat bawa kemari"perintah Liang Pamungkas.


"Baik tuan "Jawab sicaping bambu, kemudian melesat pergi mengejar mata mata itu.


Dengan ilmu ringan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan sempurna tidak kesulitan bagi si caping bambu untuk mengejar dua orang yang itu.Dan dalam waktu yang singkat saja ia sudah sampai di belakang mereka.


"Berhenti kalian..!!!"teriak sicaping bambu.l dengan suara lantang.


"Sialan kita ketahuan"Maki salah satu orang itu seraya menghentikan langkahnya.


"Apa boleh buat kita hadapi dia"ucap temannya.


"Aku tahu kalian berdua pasti dari sekte langit"ucap sicaping bambu.


Kedua orang itu saling pandang, karena suara orang itu tampak tidak asing bagi mereka.


"Kalau benar kau mau apa"ucap orang itu dengan melotot tajam.


"Kebetulan"jawab sicaping bambu, kemudian mengambil sesuatu dari balik bajunya yang ternyata adalah sebuah gulungan,kemudian melempar benda itu ke arah mereka.


"Apa ini"tanya salah satu orang itu.


"Berikan saja gulungan itu kepada tetua kalian"ucap sicaping bambu kemudian melesat pergi meninggalkan mereka.


Kedua orang itu pun saling pandang, karena tidak apa maksud dari orang tadi itu.Tidak mau lama berpikir mereka langsung pergi melanjutkan perjalanannya.


Para pasukan tengkorak iblis terus berjalan tanpa istirahat hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di kota wilayah kota Toba.


Liang Pamungkas yang berjalan paling depan segera menghentikan kudanya, karena di kota itulah mereka akan beristirahat.


Liang Pamungkas segera turun dari kudanya dan segera menghadap kepada raja Gandaroma.


"Lapor Gusti prabu, kita sudah tiba di kota Toba.Untuk memulihkan tenaga sebaiknya kita beristirahat di sini"ucap Liang Pamungkas.


"Baiklah segera cari penginapan untuk aku beristirahat Liang Pamungkas"perintah raja Gandaroma.


"Baik Gusti prabu"ucap Liang Pamungkas.


Orang orang kota Toba merasa terkejut melihat adanya pasukan yang begitu banyaknya singgah di kota mereka.Tidak mau kenapa napa mereka segera masuk kedalam rumah mereka masing masing karena takut di tanyai yang macam macam.

__ADS_1


Liang Pamungkas sendiri segera mencari penginapan terbaik untuk tempat istirahat raja Gandaroma.


"Datuk Perlis dan Nyai Saroja cepat perketat penjagaan, malam ini kita akan bermalam di sini"perintah Liang Pamungkas.


"Baik tuan"jawab Datuk Perlis.


Datuk Perlis segera memberikan komando kepada para senopati untuk segera mengatur para pasukannya membuat penjagaan.


Tidak berapa lama kemudian matahari pun memerah di ufuk barat,para pasukan tengkorak putih tampak mengambil sikap siaga untuk menghindari dari hal hal yang tidak mereka inginkan.


Si mata iblis bersama Barakasura terlihat berjalan memeriksa para pasukannya, mereka berdua ingin memastikan kalau para pasukan tidak lengah dalam melakukan penjagaan.


"Barakasura bagaimana dengan pasukan mu"tanya si mata iblis.


"Saya sudah merapikan semua pasukan ku , sebagian berjaga dan sebagian lagi saya suruh istirahat"ucap Barakasura.


Simata iblis mengangguk mendengar jawaban dari Barakasura itu, kemudian mereka berdua mengambil tempat duduk di sebuah teras penginapan dekat pasukan mereka.


"Sebaiknya kita tetap ikut berjaga-jaga Barakasura,aku tidak ingin ada apa apa malam ini"ucap simata iblis.


"Kau tidak perlu terlalu khawatir mata iblis ,saya yakin akan baik baik saja malam ini"sahut Barakasura.


"itu yang aku harapkan "jawab si mata iblis.


Datuk Perlis dan Nyai Saroja yang saat itu juga sedang memeriksa pasukannya , segera berjalan menuju kearah mereka berdua begitu melihat simata iblis dan Barakasura sedang mengobrol mereka berdua pun segera menghampirinya.


"Apakah kalian berdua tidak merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang begitu lama, kenapa kalian tidak beristirahat"tanya Datuk Perlis.


"Tentu saja kami juga lelah Datuk,kami hanya ingin memastikan kalau malam ini aman aman saja "jawab si mata iblis.


"Kalau tidak keberatan bagaimana kalau kami berdua temani kalian "ucap Nyai Saroja.


"Kenapa harus keberatan, silahkan saja kalau Datuk dan Nyai mau menemani kami"ucap Barakasura.


Keempat orang itu kemudian duduk dan mengobrol bersama, walaupun Datuk Perlis dan Nyai Saroja adalah pendatang baru,tapi mereka sudah dapat mulai akrab dengan simata iblis dan Barakasura.


...----------------...


Sementara itu Jaka dan pasukan terus bergerak , rupanya mereka juga sudah memasuki wilayah kota Toba.


"Sebaiknya kita beristirahat saja malam ini, cepat bagi tugas ada yang mendirikan tenda ada juga yang mencari kayu bakar "teriak Narantaka memberikan perintah.


Setelah mendengar teriakkan dari Narantaka itu, beberapa orang pasukan langsung melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Narantaka itu.


"Huh... kenapa tetua belum sampai di sini, kemana dia"ucap Ariani sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"tetua pasti sedang dalam perjalanan kemari, sebaiknya kita istirahat saja Arini "Sahut Sinta, sambil mengambil tempat duduk di sebuah batu dekat Arini berdiri.


"Benar apa kata kak Sinta,aku yakin tetua sebentar lagi pasti sampai di tempat ini"ucap Lestari.


Baru saja mereka selesai membicarakan hal itu, tiba-tiba ada beberapa orang berkelebat yang berhenti di tempat itu.Mereka adalah Jaka, Rawa Candra, Pranaraja dan Banjar Samudra.


Arini dan Sinta merasa lega setelah melihat kedatangan Jaka bersama dengan Rawa Candra, Pranaraja dan Banjar Samudra.


"Bagaimana keadaan di sini"tanya Jaka kepada Arini.


"Sepertinya di sini aman aman saja tetua dan sangat cocok untuk tempat kita beristirahat"jawab Arini.


"Baguslah kalau begitu,Rawa Candra malam ini kita beristirahat di sini"ucap Jaka.


"Baik tetua"ucap Rawa Candra.


Tak lama kemudian hari pun berganti malam,para pasukan segera membuat api unggun kecil untuk menerangi tempat itu sekaligus untuk menghangatkan badan mereka.


Malam itu Jaka segera mengumpulkan orang orang penting seperti Narantaka, Arini,Sinta, Bagus Dento, putri Candra Kirana dan yang lainnya.


Jaka mengumpulkan mereka karena malam itu berencana akan menyusun rencana sebelum melakukan penyerangan.


"Karena semua sudah berkumpul ,saya akan mulai saja"ucap Jaka.


"Dalam penyerangan ini aku akan membagi pasukan menjadi tiga bagian, pasukan pertama akan di pimpin oleh Paman Narantaka dengan di bantu oleh Kemala Sari dan putri Candra Kirana.Untuk pasukan kedua akan dipimpin oleh Arini dengan di bantu oleh Sinta ,bagus Dento , Kusumawati dan Arya Lembayung.

__ADS_1


Sedangkan pasukan yang ketiga akan di pimpin oleh Paman Ranapati dengan di dampingi oleh Dewi pandan Arum, sedangkan sisanya seperti sesepuh Pranaraja,Rawa Candra, Banjar Samudra, sesepuh Balung Waja dan Sesepuh Jaya Kusuma dan saya sendiri akan berada di garis paling belakang untuk mengamati keadaan sambil menunggu orang orang terkuat dari mereka muncul"ucap Jaka menerangkan.


"Bagaimana apa semua sudah jelas "tanya Jaka kemudian.


"Jeles tetua"ucap Narantaka.


Di saat Jaka sedang mengadakan rapat kecil itu tiba-tiba datanglah dua orang pasukan mengintai menghadapnya.


"Lapor tetua , ternyata para pasukan tengkorak iblis sudah bergerak menuju kemari dan sepertinya malam ini mereka sudah sampai di kota Toba"ucap salah satu dari pasukan pengintai itu.


Jaka dan yang lainnya pun langsung terkejut mendengar berita yang di sampaikan oleh pasukan pengintai itu.


"Kurang ajar berapa jumlah mereka"tanya Jaka.


"Sangat besar tetua, sepertinya dua kali lipat dari pasukan kita"jawab pasukan pengintai itu.


Jaka langsung terdiam setelah mengetahui banyaknya pasukan tengkorak iblis itu, begitu pula dengan semua orang yang sedang berkumpul di tempat itu.


"Tetua jangan khawatir bukan ada pasukan ku"ucap Ranapati memecah keheningan.


"Benar tetua,jadi kita tidak perlu khawatir dengan jumlah pasukan mereka"ucap Balung Waja.


Jaka mengangguk mendengar mendengar perkataan dari Ranapati dan Balung Waja.


"Lalu apa lagi yang ingin kalian sampaikan "tanya Jaka kepada kedua pasukan pengintai itu.


"Tadi siang kami sempat bertemu dengan salah satu dari orang tengkorak iblis dan dia memberikan gulungan ini pada tetua"ucap pasukan pengintai itu.


Jaka segera menerima gulungan itu kemudian segera membukanya,ia merasa terkejut setelah melihat isi dalam gulungan itu dan bercampur dengan rasa gembira.


Semua orang di tempat itu merasa sangat penasaran dengan isi gulungan itu mereka tidak sabar ingin segera tahu.


"Dengar semua saat ini pasukan tengkorak iblis sudah berada di kota Toba , bagaimana kalau kita beri serangan dadakan pada mereka "ucap Jaka.


"Maaf tetua , bagaimana kalau itu hanya jebakan mereka karena kita tidak tahu siapa orang yang memberikan gulungan itu "sahut Narantaka.


"Kau tidak perlu khawatir paman , kalian pasti mengenal benda ini "ucap jaka sambil menunjukkan sebuah Jarum bercabang dua.


"Itu....itu...kan senjata rahasia milik Melati tetua "ucap Narantaka.


"Benar, saat ini melati sedang berada di dalam pasukan itu , sebelum matahari terbit kita harus segera bergerak ke sana"ucap Jaka.


"Baiklah,itu rencana yang bagus "ucap Narantaka dengan bersemangat.


"Baiklah saya sudah rapat kecil ini, sebaiknya kalian semua cepat beristirahat"perintah Jaka mengakhiri pertemuan.


Semua orang pun segera membubarkan diri mereka untuk segera beristirahat,di tempat perapian itu hanya tinggal Jaka dan Rawa Candra.


Jaka mengadahkan pandangannya ke langit, sambil memikirkan tentang keberadaan Ratih yang entah di mana sekarang ini.Ia merasa sangat bersalah kepada ayah dan ibunya jika sampai terjadi sesuatu kepada Ratih.


"Tetua sepertinya kita akan bertempur habis-habisan besok pagi"ucap Rawa Candra memecahkan lamunan Jaka.


"Kita tidak boleh kalah Rawa Candra, bagaimana pun kita harus memenangkan pertempuran ini"ucap Jaka.


"Terus terang saja aku sudah tidak sabar tetua dan secepatnya ingin segera menyerang mereka "ucap Rawa Candra, teringat akan kematian para muridnya.


"Aku tahu perasaan mu Rawa Candra,tapi tenangkan lah diri mu jangan sampai kita di kendalikan oleh kemarahan kita yang akhirnya hanya akan merugikan kita sendiri"ucap Jaka memberikan nasihat.


"Baik tetua, pesan tetua akan selalu saya ingat "sahut Rawa Candra.


Malam pun semakin lama semakin dingin, suara serigala malam sayup-sayup terdengar di kejauhan.Sementara itu para pasukan sekte langit sudah tertidur lelap karena kelelahan,hanya beberapa orang yang terlihat masih terjaga.


Jaka dan Rawa Candra pun sudah beranjak dari perapian untuk segera pergi beristirahat, hingga suasana di tempat itu semakin bertambah sunyi.


Di dalam tendanya di saat semua orang sudah tertidur lelap, Jaka membuka gulungan yang selama ini di simpannya.


Ia memperhatikan peta itu dalam dalam,ia masih tidak tahu kenapa semua orang dunia persilatan begitu bernafsu ingin mendapatkan peta itu.Bahkan kakek gurunya sampai rela mati matian melindunginya.


"Sepertinya aku harus cepat cepat memecahkan isi dalam peta ini,supaya hilang rasa penasaran ku "ucap Jaka.Kemudian segera menyimpan kembali gulungan itu.


Jaka duduk termenung sambil menyilangkan kedua kakinya,pikirannya beralih kepada sosok Gandaroma dan pasukan tengkorak iblis yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi kalangan dunia persilatan.

__ADS_1


Jaka merasa yakin kalau saat ini pasti Gandaroma sudah bertambah semakin kuat.Jaka berfikir demikian setelah melihat sepak terjang tiga senopatinya yang mampu menghancurkan tiga sekte dalam waktu yang bersamaan.


Di dalam hatinya ia bertekad akan bertarung habis-habisan walaupun harus nyawa taruhannya.


__ADS_2