
Rencana raja Dewantara untuk mencari sisa-sisa orang kerajaan Sangguling pun ternyata tidak sesuai harapan.
Karena Sanca Buana tidak membiarkan ada satu orang pun Senopati atau prajurit Sangguling yang hidup,hal itu Sanca Buana lakukan untuk mengantisipasi ada penghianatan di kemudian hari.
Merasa usahanya tidak membuahkan hasil ,raja Dewantara akhirnya membicarakan masalah itu untuk meminta bantuan pada Rawa Candra guna merebut kembali istana Sangguling.
Rawa Candra pun tidak menolak dengan permintaan raja Dewantara itu, karena dirinya juga punya kepentingan dengan kerajaan serigala Api tersebut.
"Aku bersedia membantu Gusti prabu merebut kembali istana itu,tapi kita juga harus meminta bantuan dari sekte langit dan yang lainnya Gusti prabu,sebab Kalau hanya sekte bintang timur saja kekuatan kita pasti kalah jauh dari kerajaan Serigala api saat ini"ucap Rawa Candra.
"Ya kau benar tetua Rawa Candra, secepatnya juga aku akan mengutus seseorang untuk pergi ke Sekte Langit dan pergi ke sekte api untuk meminta bantuan dari mereka "ucap raja Dewantara.
"Oh ya Gusti prabu saya sarankan Gusti prabu juga harus minta bantuan pada sekte Elang Putih dan sekte angin berhembus untuk menambah kekuatan kita "ucap Rawa Candra.
Raja Dewantara tidak langsung menanggapi saran dari Rawa Candra itu,sebab dia tahu bahwa hubungan sekte Elang Putih tidak terlalu baik dengan kerajaan Sangguling, begitu juga dengan sekte angin berhembus.
"Sepertinya kedua sekte itu akan menolak jika aku minta bantuan pada mereka tetua,sebab selama ini mereka adalah pendukung kerajaan Tataran"ucap raja Dewantara.
"Saya kira Gusti prabu terlalu cepat mengambil kesimpulan seperti itu tentang mereka "ucap Rawa Candra.
"terlalu cepat mengambil kesimpulan bagaimana maksud tetua "tanya raja Dewantara tidak mengerti.
"Begini Gusti prabu,saat ini kerajaan Tataran nasibnya tidak beda dengan kerajaan Sangguling yaitu di hancurkan Sanca Buana, menurut saya kedua sekte itu pasti menyimpan kemarahan pada Sanca Buana dan kerajaan Serigala apinya dengan begitu pasti mereka akan bersedia membantu Gusti prabu"ucap Rawa Candra menjelaskan.
Raja Dewantara menyimak ucapan Rawa Candra itu dengan penuh perhatian,ia pun membenarkan perkataan Rawa Candra itu.
"Tetua benar kenapa saya tidak memikirkan hal itu dari tadi, baiklah secepatnya akan aku coba hubungi mereka "ucap raja Dewantara.
"Saya ingin bertanya sesuatu pada Gusti prabu "ucap Rawa Candra.
"Silahkan tetua Rawa Candra mau tanya tentang apa pada saya "jawab raja Dewantara.
"Apakah Gusti prabu tahu tentang orang yang bernama tetua Agung itu"tanya Rawa Candra.
"Benar tetua aku tahu orang itu adalah tetua dari sekte serigala api "ucap raja Dewantara.
"Apakah Gusti prabu pernah melihat dan berjumpa dengan tetua Agung itu "tanya Rawa Candra.
"Belum tetua, sampai saat ini saya cuma dengar namanya saja dan sama sekali belum pernah melihatnya "jawab raja Dewantara.
"Ini aneh sekali Padahal Gusti prabu pernah menjalin hubungan lama dengan sekte itu.
"Tetua benar, pernah suatu kali aku menyuruh Sanca Buana untuk menghadapkan aku pada tetua Agung,tapi katanya tetua agung sedang tidak ada di tempat begitu katanya"ucap raja Dewantara.
"Atau jangan jangan Sanca Buana sendiri tetua Agung itu "ucap Rawa Candra menebak.
"Bisa juga begitu tetua, sulit bagi saya untuk menebaknya "ucap raja Dewantara.
"Kenapa begitu misterius orang itu"gumam Rawa Candra.
"Apakah tetua punya urusan dengan tetua sekte serigala Api itu"ucap tanya raja Dewantara.
"Iya Gusti prabu secara tidak langsung dia telah mengambil nyawa seluruh keluarga ku, aku selalu menunggu kemunculannya"ucap Rawa Candra sambil mengepalkan tangannya.
"Cara satu satunya membuat orang itu muncul adalah dengan menghancurkan kerajaan Serigala api tetua, setelah kerajaan itu kita serang aku yakin cepat atau lambat pasti di akan muncul"ucap raja Dewantara, berpendapat.
"Baiklah , sekarang juga aku akan menyuruh pasukan pengintai untuk menyampaikan pesan pada Sekte langit bahwa sekte bintang timur akan melakukan penyerangan ke sana"ucap Rawa Candra.
"Saya juga harus cepat cepat mengambil tindakan tetua "ucap raja Dewantara.
Raja Dewantara kemudian memerintahkan Senopati Dewangga pergi ke Sekte api, Patih Lembu Kanigara ke sekte Elang putih dan pangeran Bratadewa pergi ke sekte angin berhembus sedangkan yang pergi ke sekte langit adalah pasukan pengintai dari sekte bintang timur.
Di tempat lain.
Sementara itu di kerajaan Serigala api Batara Jaya juga sedang merencanakan penyerangan terhadap sekte sekte yang selama ini di anggap bisa mengancam ketenangan kerajaan Serigala api dan sekte yang akan mereka serang dulu adalah sekte angin berhembus dan sekte Elang Putih.
Sanca Buana tampak bersemangat mendengar rencana raja Batara Jaya itu, begitu juga dengan para Senopatinya juga menyambut antusias terhadap rencana penyerangan itu.
"Aku ingin penyerangan pada dua sekte berjalan dengan cepat seperti kita menaklukkan kerajaan di seluruh benua selatan ini"ucap Batara Jaya di tengah tengah pertemuan itu.
__ADS_1
"Gusti prabu tenang saja apa sulitnya untuk menghancurkan kedua Sekte itu, mereka adalah sekte kecil yang lemah jadi Gusti prabu tenang saja kita pasti mudah menghancurkan mereka"ucap Sanca Buana dengan sesumbar.
"Benar apa kata tuan Sanca Gusti prabu, kita pasti akan menaklukkan mereka tanpa kesulitan yang berarti"ucap Nyai Konde Mas dengan meremehkan kedua sekte itu.
"Aku sangat senang mendengar ucapan kalian yang penuh dengan rasa percaya diri itu"ucap Batara Jaya.
"Lalu kapan kita akan bergerak Gusti prabu"tanya Wulung Kuning.
"Rupanya kalian sudah tidak sabar untuk menyerang kedua sekte itu, baiklah Sanca Buana kau lah yang bertugas mengatur rencana penyerangan itu, sementara aku akan menghadap kepada tetua agung"ucap Barata jaya, kemudian pergi dari hadapan mereka.
"Nyai Konde Mas, bagaimana kalau penyerangan ini di pimpin saja oleh sambar nyawa dan pembunuh Perak saja, aku rasa mereka berdua sudah cukup untuk menghadapi Brawijaya dan Sanjaya yang merupakan orang terkuat di kedua sekte itu "ucap Sanca Buana.
"Tidak masalah tuan ,saya juga berfikir seperti itu "ucap Nyai Konde Mas setuju dengan usul Sanca Buana itu.
"Tuan sanca sekte Alap-alap juga harus ikut andil dalam penyerangan itu sebagai bentuk pengabdian pada tetua agung "ucap Paronwaja.
"Begitu juga dengan sekte bambu kuning tuan Sanca, sekte ku juga tidak boleh ketinggalan "ucap Wulung Kuning.
"Lalu bagaimana dengan sekte kalian berdua apakah juga akan mengirimkan pasukan "tanya Sanca Buana kepada Wardana dan Petung Gede.
"Tentu Saja sekte macan kumbang juga tidak boleh ketinggalan dalam penyerangan ini"ucap Wardana.
"Begitu juga dengan sekte ku tuan Sanca "ucap Petung Gede.
"Kalau begitu kalian cepat siap pasukan dari sekte kalian masing-masing , karena besok pagi kita harus segera memberangkatkan mereka "ucap Sanca Buana.
"Baik tuan "ucap kelima orang itu.
Kelima Senopati kerajaan Serigala api tampaknya sangat merendahkan kekuatan sekte Elang Putih dan sekte angin berhembus, namun tanpa mereka sadari ada berbagai pasang mata yang ternyata mengawasi gerak gerik mereka yaitu pasukan pengintai dari sekte langit yang terus memantau pergerakan mereka.
Pagi harinya di depan istana serigala api sudah berkumpul pasukan dari berbagai sekte mulai dari sekte mawar merah, Sekte Alap, Sekte bambu kuning, sekte macan kumbang dan sekte beruang hitam.
Dalam penyerangan kali ini kerajaan Serigala api sepertinya harus mengistirahatkan para prajuritnya karena penyerangan itu sudah di ambil alih oleh para pasukan dari lima sekte itu.
Sambar Nyawa dan pembunuh emas terlihat sudah duduk dengan gagah di atas kudanya, begitu juga dengan Kalawika,si muka codet,kala Murti dan Sendang Galuh yang juga sudah terlihat gagah di atas kudanya masing-masing.
Mereka adalah pemimpin pasukan dari masing masing Sekte yang di percaya untuk memimpin penyerangan itu, Kalawika dari sekte Alap alap,si muka codet dari sekte macan kumbang,kala Murti dari sekte bambu kuning, Sendang Galuh dari sekte beruang Hitam, sedangkan dari sekte mawar merah di pimpin oleh sambar yang di dampingi oleh pembunuh emas.
Kelima tetua sekte seperti Nyai Konde Mas dan yang lainnya menatap kepergian mereka dengan penuh percaya diri bahwa mereka akan membawa kemenangan.
"Sebentar lagi kita akan mendengarkan berita kehancuran kedua sekte itu "ucap Wardana.
"Aku yakin sambar nyawa lah yang akan membawa kepala Brawijaya kemari"ucap Nyai Konde sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Tidak bisa nyai sudah tentu Kalawika"ucap Paronwaja waja.
"Kita lihat saja nanti siapa yang berhasil membawa kepala Brawijaya dan Sanjaya kemari"ucap Wardana seraya berjalan menuju ke dalam istana dengan di ikuti oleh Wulung Kuning dan Petung Gede.
"Kurang ajar sombong sekali kau Wardana"ucap nyai Konde segera menyusul mereka.
...----------------...
Mendapatkan laporan dari pasukan pengintai itu Jaka sangat terkejut setelah mengetahui bahwa pasukan serigala api akan melakukan penyerangan ke kedua sekte itu.
Jaka segera melakukan rapat darurat di aula sekte bersama para sesepuh dan yang lainnya untuk membahas masalah ini.
Ratih ,Arini, Sinta dan Lestari sangat terkejut mendengar berita yang datang tiba-tiba itu.
Jaka yang sudah kenal betul dengan kekuatan sekte Elang Putih dan sekte angin berhembus segera memerintahkan melati untuk menyiapkan pasukan pembunuh untuk menghadang mereka.
"melati aku ingin kau menyiapkan pasukan pembunuh untuk menghadang mereka,sebisa mungkin cegah mereka untuk memasuki wilayah kedua sekte itu"ucap Jaka.
"Baiklah tetua "melati langsung pergi untuk menyiapkan pasukan.
"Kurang ajar berani beraninya mereka mau menyerang sekte Elang Putih, tidak akan aku ampuni mereka semua"ucap Ratih dalam hati.
"Ratih kau ikut bersama melati dan yang lainnya ke tim pasukan pembunuh "ucap Jaka.
"Baik tetua "ucap Ratih.
__ADS_1
"Sepertinya mereka tidak menyerang dengan kekuatan penuh tetua karena nyai Konde Mas dan tetua sekte lainnya tidak ikut "ucap sesepuh Paksi Darma.
"Benar sesepuh menurut laporan dari pasukan pengintai seperti itu"ucap Jaka.
"Sepertinya mereka sudah tahu kekuatan dari kedua sekte tetua sehingga para tetua sekte tidak perlu ikut "ucap sesepuh Paksi Darma.
"itulah kesalahan fatal mereka sesepuh aku ingin para pasukan pembunuh memberikan kejutan pada para tetua Sekte itu dengan mengirimkan kembali kepala pasukan itu ke kerajaan Serigala api "ucap Jaka.
"Pasukan pembunuh sudah siap tetua"ucap melati melaporkan.
"Segara berangkat kan melati"ucap Jaka.
"Baik tetua"ucap melati.
Akhirnya para pasukan pembunuh yang selama ini jarang di tugaskan segera berangkat di bawah pimpinan Melati, walau pun sekarang melati bukan bagian dari pasukan itu, tetapi Jaka menganggap melatilah yang paling cocok untuk memimpin nya.
"Jaka bagaimana kalau aku ikut bersama mereka untuk membantunya"ucap Dewi Pandan Arum.
"Tidak perlu Dewi saya rasa sudah cukup dengan adanya melati , Ratih, Arini dan yang lainnya"ucap Jaka.
"lapor tetua ada utusan dari Sekte bintang timur yang ingin bertemu dengan tetua"ucap seorang pasukan penjaga tiba-tiba.
"Cepat bawa ke sini "perintah Jaka.
"Baiklah tetua "ucap pasukan itu.
"Sepertinya akan ada sesuatu yang penting Jaka "ucap Dewi Pandan Arum.
"Kemungkinan begitu Dewi "ucap jaka.
Tidak lama kemudian utusan sekte bintang timur pun tiba di hadapan Jaka.
"Hormat saya tetua"ucap utusan itu.
"Ada apa Rawa Candra mengutus mu kemari"tanya Jaka.
"Saya di perintahkan tetua Rawa Candra untuk mengirimkan surat ini tetua"ucap utusan itu sambil memberikan sebuah gulungan kepada Jaka.
"Baiklah kau boleh istirahat dulu"ucap Jaka.
"Terima kasih tetua"ucap utusan itu lalu beranjak pergi.
Jaka segera membuka gulungan itu dan membacanya,
"Baiklah ini sangat kebetulan kalau Rawa Candra mau melakukan hal itu"ucap Jaka setelah membaca surat itu kemudian menggulung kembali surat itu seperti semula.
"Ada apa Jaka tampaknya serius sekali"tanya Dewi Pandan Arum.
"Sepertinya peperangan sesungguhnya akan segera di mulai Dewi"ucap Jaka.
"Peperangan yang sesungguhnya apa maksud mu Jaka "tanya Dewi Pandan Arum tidak mengerti dengan maksud ucapan Jaka itu.
"Rawa Candra dan raja Dewantara berniat melakukan penyerangan ke kerajaan Serigala api,ini sungguh suatu kebetulan karena saya juga mempunyai rencana yang sama untuk menyerang kerajaan itu"ucap Jaka.
"Apa kau memerlukan bantuan dari sekte bintang Utara Jaka "tanya Dewi Pandan Arum.
"Sepertinya untuk saat ini belum Dewi"ucap Jaka, kemudian segera menulis surat balasan untuk Rawa Candra.
Sementara itu perjalanan pasukan kerajaan Serigala api sudah mendekati wilayah sekte Elang Putih, rupanya mereka akan menyerang Sekte Elang Putih terlebih dahulu setelah itu baru menyerang sekte angin berhembus.
Kelima pemimpin pasukan tampaknya penuh semangat dalam menjalankan tugas itu ,mereka terlihat seperti saling berlomba untuk cepat cepat sampai ke sana.
Sambar nyawa dan pembunuh Perak berkali-kali memacu kudanya dengan cepat seakan takut di dahului pemimpin lainnya.
Kalawika dan Sendang Galuh langsung mempercepat lari kudanya begitu melihat sambar nyawa dan pembunuh emas jauh di depan.
hiyaa....hiyaa... terdengar suara riuh parah pasukan memacu kudanya.
Bruuuk.......tiba tiba sebuah kayu besar tumbang dan menghalangi jalan para pasukan itu.
__ADS_1
Sambar Nyawa dan pembunuh emas segera menarik tali kekang nya, seketika kaki kuda yang di tunggangi nya itu terangkat ke atas ,
"Sialan"maki sambar nyawa dengan rasa marah.