
Setelah Jaka pergi dari istana Sangguling putri Candra Kirana bergegas mengejarnya secara diam-diam, karena Ia masih penasaran kenapa Jaka memasuki kamarnya malam itu.
Namun putri Candra Kirana sudah kehilangan jejak Jaka karena kalah cepat.
"Huuh , menghilang kemana dia"ucap putri Candra Kirana.
"Prajurit apakah kau tadi melihat seorang pemuda lewat kemari"tanya Putri Candra Kirana.
"Tidak Gusti Putri"jawab prajurit itu.
Mendengar perkataan prajurit itu putri Candra Kirana pun segera kembali ke istana dengan rasa kecewa.
Sementara itu Pembebasan para penduduk desa pun berjalan lancar sesuai perintah raja Dewantara, Patih Lembu Kanigara dan Senopati Dewangga serta beberapa prajurit langsung mengawal kepulangan para penduduk desa menuju ke kampung halamannya.
Desa Sekaten adalah desa yang letaknya jauh dari kerajaan Sangguling dan kerajaan Tataran, sehingga desa itu tidak masuk wilayah kedua kerajaan itu.
Nyai Konde Mas yang merasa tidak terima dengan keputusan raja Dewantara yang membebaskan para penduduk desa Sekaten segera melaporkan hal itu panda Sanca Buana yang saat itu kebetulan datang ke sekte mawar merah.
Sanca Buana merasa sangat marah mendengar laporan dari Nyai Konde Mas itu, karena dengan bebasnya para penduduk desa maka pembangunan benteng menjadi terhenti.
"Sepertinya rencana tetua Agung tidak akan berjalan mulus jika seperti ini"ucap Sanca Buana.
"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan Sanca"tanya Nyai Konde Mas.
"Dengan bebasnya para penduduk desa Sekaten berarti rencana untuk membuat benteng sudah jelas gagal, berarti aku harus menjalankan rencana yang kedua "gumam Sanca Buana.
"Lalu mengenai penyerangan terhadap kerajaan Tataran bagaimana tuan, apakah akan di batalkan "tanya nyai Konde Mas.
"Mengenai penyerangan ke kerajaan Tataran,kita masih menunggu keputusan dari Gusti prabu Dewantara Konde Mas "ucap Sanca Buana.
"Oh ,jadi begitu,lalu bagaimana sikap tetua Agung melihat tindakan raja Dewantara yang masih terus menunda penyerangan itu apakah dia tidak mau turun tangan secara langsung "tanya mawar kencana.
"tetua Agung masih melihat situasi dan sikap prabu Dewantara,jika prabu Dewantara masih mengulur waktu kemungkinan tetua agung akan mengambil alih penyerangan itu dan sekaligus menyingkirkan prabu Dewantara "ucap Sanca Buana.
"Nyai Konde Mas besok kau kumpulkan seluruh tetua sekte di sini karena ada pengumuman penting yang harus saya sampaikan "ucap Sanca Buana
"Baik tuan Sanca Buana "sahut Nyai Konde Mas.
"Ingat nyai Konde Mas aku tidak ingin ada tetua sekte satu pun yang tidak hadir nanti"ucap Sanca Buana kemudian pergi meninggalkan Nyai Konde Mas.
Setelah perginya Sanca Buana Nyai Konde Mas segera memanggil Sambar Nyawa dan beberapa orang lain untuk menghadapnya.
"Ada apa tetua memanggil kami berdua "tanya Sambar Nyawa dan pembunuh emas yang saat itu sudah tiba di hadapan nya.
"Sambar Nyawa dan pembunuh emas aku ingin kalian berdua mengantarkan surat surat ini kepada para tetua Sekte"ucap nyai Konde Mas sambil menyerahkan surat surat itu.
"Baik tetua"ucap Sambar Nyawa.
"Pergilah kalian berdua"ucap Nyai Konde Mas.
Tanpa banyak bertanya lagi sambar nyawa dan pembunuh emas pun bergegas pergi dari hadapan Nyai Konde Mas.
"Ibu bagaimana dengan dendam ibu pada anak dari Sari Ningrum itu "tanya mawar kencana yang tiba-tiba datang ke hadapan ibunya.
"Sepertinya kita tidak boleh gegabah mawar, melihat status Jaka yang merupakan tetua sekte langit akan sulit bagi kita untuk membunuhnya"ucap nyai Konde Mas.
"Lalu bagaimana ibu "tanya mawar kencana.
"Kau tenang saja mawar,aku akan menghadap Gusti prabu untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut setelah pertempuran dengan para tetua sekte selesai"ucap Nyai Konde Mas.
Malam itu di Sekte mawar merah sudah banyak tetua sekte yang hadir, mulai dari Sekte kecil hingga Sekte yang besar,para tetua sekte yang hadir malam itu adalah Sekte Sekte yang sudah menjadi sekutu sekte serigala api yang di pimpin oleh tetua Agung.
Karena semuanya sudah hadir Nyai Konde Mas yang menjadi tuan rumah segera berdiri untuk menyampaikan sambutannya.
"Saya ucapkan terima kasih pada semua tetua sekte yang telah hadir di ruangan ini,jika adanya kekurangan dalam penyambutan pertemuan ini harap tetua Sekte dapat memaklumi karena acara ini di adakan secara mendadak, jadi maklumlah jika terdapat banyak kekurangan"ucap Nyai Konde Mas.
"Aku mau bertanya Nyai apakah pertemuan ini tetua Agung juga akan hadir"tanya tetua Sekte macan kumbang yang bernama Wardana.
"Saya tidak tahu soalnya itu karena tuan Sanca Buana tidak mengatakannya"ucap Nyai Konde Mas.
"Sangat di sayangkan jika tetua agung tidak datang padahal aku ingin sekali melihatnya "ucap Wardana.
"Kau benar Wardana sangat di sayangkan jika tetua agung sampai tidak datang aku sangat penasaran dengan tetua agung, sudah lama sekte Alap-alap bergabung dengan Sekte serigala api tapi belum juga tetua agung muncul di hadapan kami"ucap Paronwaja tetua sekte alap alap.
"Aku juga sama seperti kalian, selama bergabung dengan sekte serigala api juga belum pernah sekali pun bertemu dengan tetua Agung"ucap Nyai Konde Mas.
Semua orang yang hadir di ruangan itu tampak bergemuruh mendengar percakapan Nyai Konde Mas dan dua orang tetua sekte itu.
Ternyata banyak para tetua sekte yang belum bertemu dengan tetua Agung , selama ini hanya Sanca Buana yang muncul apa bila ada pertemuan penting.
Semua orang di situ sangat penasaran dengan tetua Agung, karena hanya namanya saja yang selama ini mereka dengar tapi belum pernah sekali pun melihat orangnya.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang satu sama lain tiba-tiba datanglah Sanca Buana.
__ADS_1
Melihat kedatangan Sanca Buana itu tetua sekte segera memberikan hormat padanya dan suasana pun seketika menjadi hening dan mencekam.
"Silahkan tuan Sanca"ucap nyai Konde Mas memberikan tempat untuknya.
Sanca Buana kemudian berdiri di tempat Nyai Konde Mas tadi bicara.
"Aku tahu apa yang sedang kalian perbincangkan, mengenai tidak hadirnya tetua agung di sebabkan karena beliau sedang sibuk menyempurnakan ilmu barunya, jadi aku minta kalian bersabarlah cepat atau lambat kalian pasti akan bertemu dengannya "ucap Sanca Buana.
Semua orang di ruangan itu langsung terkejut mendengar perkataan Sanca Buana itu, bagaimana dia bisa tahu pembicaraan mereka padahal dia baru saja datang.
Dalam pikiran mereka sungguh mengerikan ilmu yang di miliki oleh Sanca Buana itu, karena dapat mengetahui walau pun dari jarak jauh.
"Aku menyuruh nyai Konde Mas untuk mengumpulkan kalian semua di sini adalah untuk menentukan sekaligus memilih siapa yang pantas di antara kalian untuk menjadi Senopati Senopati kerajaan Serigala api "ucap Sanca Buana.
Orang orang itu pun kembali terkejut mendengar Sanca Buana menyebut kerajaan Serigala api karena yang mereka tahu serigala api itu adalah sebuah sekte bukan kerajaan.
"Maaf tuan Sanca Buana bukankah serigala api itu sebuah sekte bukan kerajaan"tanya Paron Waja memberanikan diri.
"Benar yang kau katakan Paron Waja,tapi aku tidak mau menjelaskan hal itu sekarang , karena tujuan ku sini untuk membentuk struktur kerajaan Serigala api yang sebentar lagi berdiri"ucap Sanca Buana.
"Nyai Konde Mas, Wardana,Paron Waja,Wulung Kuning dan Petung Gede Kalian berlima ku pilih menjadi Senopati utama kerajaan Serigala api"ucap Sanca Buana.
Kelima orang itu terkejut karena tidak menyangka Sanca Buana akan menjatuhkan pilihannya pada mereka.
"Terima kasih tuan Sanca telah memilih kami"ucap kelima orang itu.
"Aku memilih kalian bukan tanpa pertimbangan, setelah aku telah melihat kemampuan kalian berlima yang cukup mumpuni jadi pantaslah kalian mengemban tugas ini"ucap Sanca Buana.
"Jabatan yang tuan Sanca Buana berikan kami akan senantiasa laksanakan dengan sebaik-baiknya "ucap kelima orang itu.
"Aku percaya pada kalian dapat mengemban jabatan kalian dengan baik"ucap Sanca Buana.
Pertemuan pun terus berlanjut sampai waktu tengah malam, rupanya tetua agung telah merencanakan sesuatu yang besar sehingga di adakan pemilihan para Senopati.
...----------------...
SATU MINGGU KEMUDIAN
Setelah mendapatkan pengobatan dari Jaka pangeran Bratadewa pun sembuh seperti sedia kala, raja Bratadewa pun sangat senang dengan kesembuhan putra mahkotanya itu.
"Mulai sekarang kau jaga sifat mu dan perilaku mu Bratadewa kalau perlu buang sifat mu yang arogan itu,aku tahu kejadian kemarin bukanlah tetua Jaka yang mulai dahulu"ucap raja Dewantara.
"Jadi ayah sudah tahu mengenai masalah kemarin itu"tanya Bratadewa.
"Siapa yang tidak tahu sikap arogan mu selama ini Bratadewa "ucap raja Dewantara.
"Bagus kalau mengerti Bratadewa, ingat kamu adalah putra mahkota pengganti ku nanti jika sifat mu seperti itu terus,kamu akan mendapatkan banyak masalah di masa depan "ucap raja Dewantara menasehati.
"Gusti prabu benar pangeran, untung tetua Jaka mau berbelas kasih kepada pangeran,jika tidak kami semua tidak tahu apa yang bakal terjadi pada diri pangeran "ucap Patih Lembu Kanigara yang saat itu juga berada di situ.
"Aku benar benar tidak tahu kalau orang semuda itu adalah tetua Sekte langit yang terkenal itu paman Patih, seandainya tahu mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi "ucap pangeran Bratadewa.
"Bratadewa kau jadikan pelajaran kejadian yang kemarin itu "ucap raja Dewantara.
"Baik ayah "ucap pangeran Bratadewa.
"Kakang Patih bagaimana dengan permintaan Nyai Konde Mas yang meminta bantuan kita untuk balas dendam pada sekte langit itu, apakah kita mesti mengabulkan permintaannya itu "tanya raja Dewantara meminta pendapat .
"Ini perkara yang sulit Gusti prabu,jika kita memenuhi permintaan Nyai Konde Mas berarti kita siap bermusuhan dengan sekte itu"ucap Patih Lembu Kanigara***.
"untuk Itulah yang menjadi pertimbangan ku Kakang, jujur saja aku tidak ingin kerajaan ini menyinggung sekte itu"ucap raja Dewantara.
"Jika begitu Gusti prabu katakan saja pada Nyai Konde Mas untuk menyelesaikan sendiri masalah pribadinya "ucap Patih Lembu Kanigara.
"Tapi jika saya lakukan hal itu pasti nyai Konde Mas tidak akan terima Kakang "ucap raja Dewantara.
"Tapi tidak ada pilihan lain Gusti prabu, lebih baik kita menjalin persahabatan dengan sekte langit dari pada harus bermusuhan, karena akibatnya sungguh tidak baik untuk kerajaan ini"ucap Patih Lembu Kanigara.
"Benar apa yang di katakan Paman Kanigara ayah,aku tidak setuju jika kita harus bermusuhan dengan sekte langit "ucap pangeran Bratadewa yang dari tadi menjadi pendengar.
Raja Dewantara mengelus jenggotnya sambil menatap ke langit, sepertinya dia sedang menimbang nimbang baik dan buruknya jika membantu sekte mawar merah untuk balas dendam pada sekte langit.
Dua hari kemudian datanglah nyai Konde Mas menemui raja Dewantara untuk membicarakan masalah yang kemarin terkait dengan sekte langit.
Mendengar keputusan raja Dewantara yang mengingkari janjinya untuk membantu dirinya membalaskan dendam pada sekte langit Nyai Konde Mas merasa sangat kecewa.
Merasa tidak mendapatkan dukungan dari raja Dewantara itu nyai Konde Mas segera beranjak pergi meninggalkan istana Sangguling dengan segudang kekecewaan dan kemarahan dalam hatinya.
Raja Dewantara tidak perduli dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nyai Konde Mas itu, karena bagaimana pun itu adalah keputusan yang terbaik untuk kerajaan Sangguling.
Malam itu langit gelap tidak ada satu pun bintang di langit yang tampak satu pun ,hanya awan hitam yang terlihat beriringan melintas di atas kerajaan Sangguling.
Tiba-tiba seseorang berkelebat cepat sekali menuju ke depan gerbang istana Sangguling, orang itu kemudian berhenti di depan gerbang kemudian melambaikan tangannya.
__ADS_1
Melihat lambaian tangan orang tersebut tidak lama kemudian munculah sekelompok orang berjalan dengan hati hati menghampiri orang tadi.
"Bagaimana keadaannya "tanya orang yang baru datang itu.
"Sepertinya aman aman saja "jawab orang itu.
"Kalau begitu ayo kita masuk "ucap orang yang tadi datang itu.
"Baiklah "jawab orang yang melambaikan tangannya tadi.
Merasa keadaan aman kemudian orang tersebut langsung masuk ke dalam istana dengan melompati pagar.
Melihat dari gerakan mereka yang lincah dan gesit sudah dapat dipastikan kalau mereka adalah orang orang yang berilmu tinggi.
"Siapa di sana teriak "seorang prajurit ketika memperogoki orang orang yang berpakaian serba hitam itu.
"Sialan,aku urus prajurit itu, cepat kau buka pintu gerbang "ucap orang itu memerintahkan temannya.
"penyusup ada penyusup" teriak prajurit itu.
"Kurang ajar rasakan ini"ucap orang tadi kemudian ia melemparkan sebuah pisau kepada prajurit itu.
"Akh.... prajurit itu pun langsung roboh ke tanah.
Mendengar teriakkan itu para prajurit pun segera berdatangan.
Melihat pintu gerbang sudah terbuka orang tadi segera melepaskan panah api ke langit wuuuuus.......
"Cepat laporkan pada Senopati bahwa ada penyerangan dan lainnya bunyikan tanda bahaya..!!!"teriak prajurit itu kepada teman temannya setelah melihat pintu gerbang terbuka.
prajurit yang lain pun bergegas memanggil Senopati dan segera membunyikan tanda bahaya.
"Siapa kalian" tanya prajurit itu.
Namun orang itu tidak menjawab dan langsung menyerang prajurit tadi.
prajurit yang lain pun segera berdatangan setelah mendengar tanda bahaya.
Seraaaaang..... terdengar teriak dari luar pintu gerbang.
segerombolan orang yang jumlahnya ratusan segera memasuki istana setelah pintu gerbang terbuka lebar.
Senopati Dewangga sangat terkejut mendengar laporan prajurit yang tiba-tiba itu.
"Cepat kau bangun Gusti prabu dan yang lainnya"perintah Senopati Dewangga.
"Baik Gusti "ucap prajurit itu kemudian pergi dari hadapan Senopati Dewangga.
Tidak lama kemudian Patih Lembu Kanigara, putri Candra Kirana dan pangeran Bratadewa pun segera berkumpul di Balairung istana.
"Siapa yang telah berani menyerang istana Sangguling ini"tanya raja Dewantara.
"Tidak tahu ayah sepertinya ini sudah di rencanakan "ucap putri Candra Kirana.
"Cepat kalian tumpas para penyerang itu"perintah raja Dewantara.
"Paman Patih mari kita keluar untuk menghadapi orang orang itu aku ingin tahu siapa yang telah berani menyerang istana ini"ucap Senopati Dewangga.
"Aku ikut Paman Senopati "Ucap Putri Candra Kirana.
"Baiklah pangeran Bratadewa tetap di sini bersama Gusti prabu "ucap Senopati Dewangga.
"Baik paman" ucap pangeran Bratadewa sambil menganggukan kepalanya.
Sementara itu di halaman depan istana peperangan telah berkecamuk, banyak para prajurit yang telah tewas .
"Kurang ajar siapa sebenarnya orang orang ini"ucap Senopati Dewangga begitu melihat halaman depan istana penuh dengan mayat para prajurit.
"Mereka banyak sekali ini adalah penyerangan total paman"ucap putri Candra Kirana begitu melihat orang-orang yang berpakaian serba hitam ada di mana.
"Ini tidak bisa di biarkan "ucap Patih Lembu Kanigara segera berkelebat berbaur dengan para prajurit menyerang orang orang itu.
Senopati Dewangga dan putri Candra Kirana pun tidak mau tinggal diam mereka berdua juga langsung menyusul Patih Lembu Kanigara.
Mereka bertiga langsung mengamuk membantai orang orang yang berpakaian serba hitam itu.
Korban pun langsung berjatuhan oleh sepak terjang ketiga pentolan kerajaan Sangguling itu.
"Serang dengan panah api "teriak seseorang yang tidak tahu siapa orang itu yang jelas suara itu adalah suara seseorang wanita.
Panah api pun langsung meluncur deras menghujani istana Sangguling.
Dalam waktu sekejap api pun berkobar di mana mana membakar semua yang ada.
__ADS_1
Peperangan terjadi di seluruh istana Sangguling hampir tidak ada tempat yang lepas dari peperangan itu.
Para prajurit tidak sempat untuk memadamkan api itu , karena sibuk menghadapi pasukan pasukan gelap yang terus berdatangan.