Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Kota pertarungan Makarsari


__ADS_3

Setelah raja Gandaroma memerintahkan kepada seluruh para pasukannya untuk meningkatkan kemampuannya , jalardana, Lamting dan Lintar mulai berlatih kembali, padahal ilmu mereka bertiga sudah cukup tinggi sudah mencapai tingkatan pendekar tanpa tanding bahkan diatasnya.Karena merasa ilmu yang mereka miliki sudah tinggi ketiga orang itu hanya melakukan latihan ringan saja.


Sementara itu si mata iblis dan Barakasura juga tidak ketinggalan mereka berdua pun segera melakukan latihan latihan berat agar mereka tidak tertinggal dengan yang lainnya.


Dengan di awasi oleh guru mereka yang bernama Blaraktaji,si mata iblis dan Barakasura terlihat berlatih dengan serius sekali untuk mencapai titik puncak dari ilmu yang mereka pelajari.


Blaraktaji menatap lembut pada kedua muridnya itu,ia tidak tahu sekuat apa musuh mereka itu sehingga raja Gandaroma memerintahkan mereka berdua berlatih kembali.


Blaraktaji duduk bersila di hadapan kedua muridnya, kemudian ia memejamkan matanya menemani mereka berdua yang sedang duduk bersemedi itu.


Sementara itu di dalam istana tengkorak iblis Liang Pamungkas terlihat sedang menghadap raja Gandaroma bersama dengan kedua tamunya Datuk Perlis dan Nyai Saroja.


Raja Gandaroma dapat merasakan kalau kedua tamunya itu mempunyai kekuatan yang cukup besar.Ia dapat mengetahui hal itu ketika melihat gelang berbandul taring harimau yang di pakainya bergoyang goyang beberapa kali.


Raja Gandaroma menatap dalam dalam pada dua orang yang sedang duduk bersila di depannya sambil menganggukkan kepalanya berkali kali.


Datuk Perlis dan Nyai Saroja juga bisa merasakan kalau orang yang duduk di singgasana itu memiliki kekuatan yang cukup besar, hingga mereka berdua tidak kuat melihat matanya saat beradu pandang dengan orang itu.


"Saya ingin memperkenalkan mereka berdua kepada Gusti prabu dan saya harap Gusti prabu memberikan izin kepada mereka untuk tinggal di disini"ucap Liang Pamungkas.


Raja Gandaroma tersenyum sambil mengangguk angguk, mendengar perkataan Liang Pamungkas itu.


"Aku menyambut baik kalau kalian berdua mau tinggal di sini, karena saat ini aku sedang mengumpulkan orang orang kuat seperti kalian ini untuk memperkuat pasukan perang ku"ucap Gandaroma.


" Saya Datuk Perlis dan Nyai Saroja dari negeri sabah sangat berterima kasih pada Gusti prabu yang mau bermurah hati menerima kami berdua di kerajaan ini"ucap Datuk Perlis sambil memberikan hormat padanya, begitu pula dengan Nyai Saroja yang juga memberikan hormat pada raja Gandaroma.


"Ku harap kalian dapat bekerjasama dengan Liang Pamungkas dan jangan pernah mengecewakan aku"ucap Gandaroma mengingatkan.


"Gusti prabu tidak perlu merasa khawatir soal itu, tentu saja kami akan setia pada Gusti prabu dan mengikuti semua perintah tuan Liang Pamungkas dengan patuh"ucap Nyai Saroja.


"Bagus dengan adanya kalian berdua maka kekuatan kerajaan tengkorak iblis ini menjadi semakin kuat, perlu kalian berdua ketahui bahwa sebentar lagi aku berencana akan melakukan penyerangan ke sekte langit, aku ingin tahu sekuat apa kalian berdua "ucap Gandaroma, seakan memuji mereka berdua.


"Kami berdua akan membuktikan pada Gusti prabu bahwa pilihan tuan Liang Pamungkas itu tidaklah salah dalam memilih kami berdua"ucap Nyai Saroja sedikit tersulut jiwa kependekarannya mendengar raja Gandaroma yang masih meragukan kemampuan dirinya.


"Saya mau melaporkan pada Gusti prabu, bahwa dalam beberapa hari lagi, kita akan kedatangan beberapa orang pendekar dari gunung Tidar yang berniat bergabung dengan kita Gusti"ucap Liang Pamungkas memberi tahu.


"Apakah sekte langit itu begitu kuat sehingga Gusti prabu harus repot repot mengumpulkan banyak pendekar untuk menyerang mereka"tanya Datuk Perlis.


"Benar, setelah adanya beberapa sesepuh sekte yang bergabung di sana , sekte itu menjadi semakin kuat dan menurut perhitungan, kekuatan kita saat ini belumlah cukup untuk menghadapi mereka.Bagaimana kemampuan mereka, apakah sesuai dengan yang aku butuhkan pamungkas"tanya Gandaroma.


"Gusti prabu tenang saja,aku tidak pernah berani merekrut pendekar yang kemampuannya belum teruji dengan pasti Gusti prabu"jawab Liang Pamungkas menerangkan.


"Baiklah, mulai sekarang aku ingin kau mengumpulkan para pendekar lebih banyak lagi karena aku berniat memberikan kejutan besar kepada sekte langit.Jika para pendekar itu bisa menghancurkan sekte langit aku tidak akan segan segan memberikan hadiah yang besar kepada mereka semua "ucap Gandaroma.


Datuk Perlis dan Nyai Saroja langsung terbangkit semangatnya mendengar perkataan Gandaroma itu.


"Gusti prabu tenang saja kami para pendekar pasti akan berhasil untuk mengemban tugas itu dengan baik"ucap Datuk Perlis dengan bersemangat sekali.


"Kali ini aku jamin pasti sekte langit akan rata dengan tanah Gusti prabu"tambah Liang Pamungkas.


"Bagus...aku cukup senang dengan kepercayaan diri kalian yang begitu tinggi itu "ucap Gandaroma


Setelah memperkenalkan Datuk Perlis dan Nyai Saroja serta di tambah dengan pembicaraan pendek,Liang Pamungkas kemudian segera mohon diri dari hadapan raja Gandaroma.


Keesokan harinya Liang Pamungkas segera memerintahkan Datuk Perlis dan Nyai Saroja untuk pergi ke kota Makarsari untuk mencari beberapa para pendekar pilih tanding sesuai dengan yang raja Gandaroma perintahkan, sementara dirinya akan menyambut beberapa pendekar yang mungkin akan tiba hari ini.

__ADS_1


Kota Makarsari adalah kota yang terletak di sebelah barat kerajaan tengkorak iblis dan di sebelah timur kota Toba.


Makarsari adalah surganya kota para petarung karena setiap harinya di kota itu selalu menggelar pertarungan yang di ikuti oleh para pendekar baik itu wanita ataupun pria.


Pagi menjelang siang suasana di kota Makarsari sudah mulai tampak ramai, banyak orang berduyun-duyun yang mulai berdatangan di kota itu.


Kedai kedai pun terlihat penuh sesak di padati oleh banyak pengunjung, hampir setiap hari seluruh kedai di kota itu tidak pernah sepi dari para pengunjung baik pengunjung yang datang untuk sekedar melihat pertarungan atau pun para pengunjung yang akan menuju ke kota Toba atau yang lainnya


Setelah menempuh perjalanan lumayan lama Datuk Perlis dan Nyai Saroja pun tiba di kota Makarsari, untuk mengisi perut sekaligus beristirahat sejenak mereka berdua memutuskan untuk singgah dulu di sebuah kedai.


Kedai yang mereka masuki itu lumayan besar dan cukup ramai dan kebetulan masih menyisakan dua tempat duduk untuk mereka .Tidak pikir lama mereka berdua langsung menduduki kursi kosong itu.


Datuk Perlis segera memesan makanan dan minuman kepada pelayan kedai, sambil menunggu makanan datang kedua orang kemudian terlibat perbincangan.


"Ternyata negeri ini tidak kalah ramai dengan negeri kita Nyai, lihat begitu banyaknya orang yang berdatangan ketempat ini"ujar Datuk Perlis sambil mengamati banyaknya orang yang berlalu lalang di jalanan.


"Kau benar,aku perhatikan semua kedai di seluruh tempat ini pun tidak ada yang sepi,lihatlah itu menandakan bahwa kota ini memang menarik"sahut Nyai Saroja.


"Sepertinya mereka juga punya tujuan yang sama dengan kita Nyai, untuk melihat para pendekar bertarung "ucap Datuk Perlis.


"Apakah tuan dan nyonya mau ikut andil dalam pertarungan itu, hadiahnya lumayan bisa untuk bekal perjalanan kalau bisa menang"ucap seseorang dengan tiba-tiba.


Datuk Perlis dan Nyai Saroja segera menoleh ke samping kirinya dan mendapati seorang pemuda yang berpenampilan serba tertutup dari kepala hingga kakinya.


"Tidak tuan ,kami hanya ingin melihat lihat saja untuk sekedar mencari hiburan"jawab Datuk Perlis.


"Saya dengar tadi tuan menyebut negeri saba, apakah kalian berdua ini berasal dari negeri seberang"tanya pemuda tadi.


"Benar sekali ,kami memang berasal dari negeri jauh tuan, kebetulan pengembaraan kami sampai di tempat ini"ucap Datuk Perlis berbohong.


"Kalau boleh kami tahu siapakah tuan ini, apakah tuan juga akan ikut dalam pertarungan itu"tanya Nyai Saroja.


Datuk Perlis dan Nyai Saroja sama sama melemparkan pandangannya mendengar ucapan si caping bambu,jika orang itu mempunyai kemampuan yang cukup tinggi mereka berdua berminat untuk merekrutnya.


"Aku Datuk Perlis dan ini teman ku Nyai Saroja"ucap Datuk Perlis memperkenalkan dirinya.


Si caping bambu mengangguk sambil terus melanjutkan makannya, menanggapi perkataan Datuk Perlis itu.


Tidak lama kemudian si caping bambu berdiri dan bermaksud meninggalkan kedai itu karena makanan di mejanya sudah habis.


"Tunggu tuan"seru Datuk Perlis.


Si caping bambu tidak jadi melangkah, mendengar panggilan dari Datuk Perlis itu.


"Ada apa Datuk memanggil saya"tanya di caping bambu.


"setelah pertarungan selesai nanti di manakah kami berdua bisa bertemu dengan tuan caping bambu lagi "tanya Datuk Perlis.


"Tuan bisa cari aku di tempat ini "jawab si caping bambu ,lalu melangkah pergi meninggalkan kedai.


Tak lama kemudian makanan dan minuman mereka pesan pun tiba di meja ,tanpa banyak bicara lagi mereka berdua pun langsung menyantap makanannya,mereka berdua sangat lahap , karena sudah merasa kelaparan dan kehausan sejak tadi.


Di tengah kota Makarsari di sebuah gedung yang cukup besar suara riuh para penonton terdengar menggema sampai ke sudut sudut ruangan itu ,para penonton sudah penuh sesak memenuhi setiap pinggir gelanggang pertarungan setelah mereka membayar satu keping uang emas kepada penjaga pintu masuk.


Teriakan mereka makin lama semakin riuh begitu melihat seseorang berwajah brewok atau yang lebih di kenal dengan nama si brewok naik ke atas panggung, mereka merasa senang sekali karena pertarungan akan segera di mulai.

__ADS_1


"Dengar penonton semua, hari ini kita akan menyaksikan pertarungan yang cukup seru, karena pertarungan ini akan menghadirkan beberapa Pendekar tingkat atas yang akan bersaing untuk memperebutkan hadiah yang cukup besar, yaitu tiga ratus keping uang emas sebagai hadiah untuk pemenang pertarungan ini "ucap si brewok .


Para penonton begitu tercekat mendengar hadiah pertarungan itu,tiga ratus uang emas itu bukanlah jumlah yang sedikit karena dengan uang itu mereka sanggup membeli apa pun yang mereka mau,ini baru pertama kalinya pihak penyelenggara berani menyediakan hadiah yang begitu besar, karena biasanya hanya lima puluh sampai delapan puluh uang emas saja.


"Seandainya aku mempunyai ilmu tinggi, sudah pasti aku akan ikut memperebutkan hadiah itu"celetuk seorang penonton karena begitu tergiur dengan hadiah yang di tawarkan itu.


"Pantas saja ,harga masuk untuk melihat pertarungan ini mahal sekali satu keping uang emas"ucap penonton yang lain.


"Kau benar, hasil kerjaku dalam satu bulan langsung habis untuk melihat pertarungan ini"sahut temannya.


Pada masa itu satu keping uang emas setara dengan dua ratus lima puluh keping uang perak , maka tidak heran jika para penonton menganggap harga itu terlalu mahal bagi mereka sebagai pekerja rendahan.


"Dalam pertarungan ini cuma ada satu peraturan siapa pun yang jatuh keluar arena ini lebih dulu dia di nyatakan kalah dan tidak ada batasan senjata apa pun bagi peserta boleh menggunakan senjata apa pun yang mereka miliki, bahkan mereka boleh membunuh lawannya sampai mati"ucap si brewok menerangkan.


Para peserta yang terdiri dari delapan orang itu terlihat manggut-manggut mendengar ucapan si brewok itu,


kepercayaan diri yang tinggi tampak di wajah para peserta,mereka masing masing menganggap dirinya lah yang paling kuat diantara peserta lainnya,kecuali ada satu orang yang bersikap tenang dan biasa-biasa saja.Dia adalah si caping bambu yang berdiri di barisan paling ujung sebelah kanan.


"Baiklah kita mulai saja pertarungan ini,saya persilahkan kepada tuan Boma yang terkena dengan julukan pendekar mata satu dan tuan Suryadipa atau yang lebih di kenal dengan nama pendekar seribu pedang untuk segera naik ke atas panggung"seru si brewok.


Suara riuh tepuk tangan para penonton kembali terdengar sangat ramai menyambut kehadiran dua pendekar yang akan bertarung itu.


Pendekar mata satu melesat dengan ilmu ringan tubuhnya hingga dalam waktu singkat saja sudah sampai di atas panggung, melihat mata satu begitu pamer dengan ilmu ringan tubuhnya, Suryadipa si pendekar seribu pedang juga tidak mau kalah ,ia juga menggunakan ilmu ringan tubuhnya untuk naik ke atas panggung yang tingginya sekitar dua tombak itu.


Para penonton merasa tercengang melihat kehebatan dua pendekar tersebut, karena sungguh luar biasa menurut mereka.


Melihat kedua petarung sudah saling berhadapan si brewok pun segera turun dari panggung.


Boma tersenyum menyeringai saat melihat Suryadipa di hadapannya.


"Suryadipa aku sarankan lebih baik kau menyerah saja karena kalau tidak, aku tidak akan segan segan untuk membunuh mu"gertak Boma (pendekar mata satu).


"heeh...aku tidak butuh belas kasih mu Boma,biar pun aku mati aku tidak akan menyesalinya"sahut Suryadipa.


"Baiklah akan ku buat kau menyesali keputusan mu Suryadipa"


"maju kau boma "teriak Suryadipa.


Pertarungan pun langsung terjadi , mereka berdua sama sama maju menyerang traaaaang....!!!!


Kedua senjata mereka saling beradu hingga membuatnya sama sama terpental ke belakang.Lalu dengan cepat keduanya langsung menyerang kembali.


"Matilah kau.. suryadipa" Boma meluncur deras ke arahnya dengan pedang terhunus di tangan kanannya, sementara di tangan kirinya ia sudah siap dengan pukulan mematikannya, traaaaang.... suara pedang beradu kembali terdengar,di saat itu pula boma langsung melepaskan pukulannya hiiiiaaaat..... matilah kau Suryadipa ,di saat pukulan itu hampir mengenai tubuh Suryadipa ,namun tiba-tiba ia lenyap begitu saja dari hadapannya.Hal itu membuat boma sangat terkejut sekali.


Datuk Perlis dan Nyai Saroja tercekat melihat kecepatan yang ditunjukkan oleh Suryadipa itu.


"Luar biasa padahal pukulan itu cuma tinggal sejengkal saja mengenainya, namun ia masih dapat menghindarinya"ucap Nyai Saroja dengan berdecak kagum.


"Kau benar Nyai ,tapi kemana perginya orang itu"ucap Datuk Perlis.


Nyai Saroja mengedarkan pandangannya matanya berputar mencari keberadaan Suryadipa.


",Datuk lihatlah ke atas"seru Nyai Saroja dengan mulut ternganga.


", Datuk Perlis sangat terkejut ketika mendongakkan kepalanya ke atas.

__ADS_1


Boma masih mencari di mana keberadaan Suryadipa sambil memasang kewaspadaan tinggi.


"Boma sudah saatnya kau di keluarkan dari panggung ini"ucap Suryadipa.


__ADS_2