
Berita Jaka mengalahkan Guruh Sujiwo ternyata membuat sekte bintang Utara gempar, banyak para murid yang memperbincangkan kebenaran berita itu.
Nawang Sari dan Sapta Darma seakan tidak percaya dengan kabar yang beredar di sekitar sekte itu.
Bukan tanpa alasan mereka kurang mempercayai hal itu, karena mereka sendiri tahu seberapa besar kekuatan yang Jaka miliki.
"Bagaimana menurut mu adik, mengenai berita tentang Jaka mengalahkan Guruh Sujiwo itu"tanya Sapta Darma.
"Uhmm.... sulit untuk di percaya Kakang sebelum kita dengar sendiri dari tetua "ucap Nawang Sari.
"Seandainya berita itu benar berarti kita...
"Jadi Kakang khawatir tentang kejadian waktu itu"ucap Nawang Sari bisa menebak arah pembicaraan Sapta Darma kemana.
"Tentu aku khawatir jika nanti dia balas dendam pada kita,kamu tahu sendiri bagaimana kuatnya Guruh Sujiwo itu Nawang, kalau Jaka dapat mengalahkan dia , bagaimana dengan kita yang kemampuannya sudah jelas di bawah Guruh Sujiwo itu, coba kamu bayangkan"ucap Sapta Darma.
"Kenapa Kakang takut begitu , kalau Jaka itu benar benar kuat kenapa waktu itu dia mau berlutut kepada kita"ucap Nawang Sari.
"Benar juga apa kata mu adik, seandainya dia itu kuat seharusnya dia marah waktu kita menyuruhnya berlutut"ucap Sapta Darma.
"Sebaiknya kalau nanti kita bertemu dengan dia kita langsung hajar dia ,aku masih marah padanya jika teringat kejadian waktu itu "ucap Nawang Sari.
"Kau benar ,kita harus membuat perhitungan dengan dia"ucap Sapta Darma.
Sementara itu di belakang sekte di sebuah halaman yang cukup luas terlihat Terpasura dan Jaka sedang duduk saling berhadapan.
Jika dilihat dari raut muka mereka berdua sepertinya sedang ada pembicaraan yang serius dengan dua orang itu.
"Aku benar benar terkesan dan bangga pada mu Jaka pada kejadian kemarin itu,aku tidak menyangka kau dapat mengalahkan Guruh Sujiwo dengan telak"ucap Terpasura sambil mengelus jenggotnya yang telah memutih.
"Itu cuma kebetulan kakek guru, seandainya pertarungan itu di ulang lagi belum tentu aku bisa mengalahkan Guruh Sujiwo yang terkenal sakti mandraguna itu"ucap Jaka dengan merendahkan diri.
"Hemmm.... aku rasa tidak begitu Jaka,jika melihat dari cara kamu bertarung kemarin aku bisa tahu bahwa kau sudah berpengalaman dalam membaca situasi kapan menyerang dan kapan kamu bertahan"ucap Terpasura.
"Saya belajar semua itu dari guru Dewi kakek guru ,dialah yang selama ini mengajari aku dengan sabar "ucap Jaka dengan mengarang cerita.
"Kalau begitu aku ingin tahu semua jurus yang telah Dewi Pandan Arum ajarkan pada mu,coba kau tunjukkan pada ku satu persatu "pinta Terpasura.
"Cuma beberapa jurus saja kakek guru tidak banyak"ucap Jaka.
"Kalau begitu cepat kau tunjukkan pada ku"desak Terpasura.
Karena didesak begitu mau tidak mau akhirnya Jaka memenuhi permintaan orang tua itu.
Jaka kemudian keluar dari teras lalu melangkah menuju ke tempat yang agak lapang, tanpa menunggu lama ia segera memainkan jurus jurus yang ia pelajari dari kitab langit seribu Guntur pemberian dari Dewi Pandan Arum waktu itu.
Terpasura menatap dengan penuh perhatian pada jurus jurus yang di mainkan Jaka itu.
Tidak ingin mengecewakan orang tua itu Jaka memainkan semua jurus jurusnya dengan serius dan penuh dengan kemantapan.
Terpasura manggut-manggut melihat gerakan Jaka yang sangat cepat dan bertenaga itu,ia benar benar kagum melihat Jaka dapat memainkan semua jurus yang terkandung dalam kitab langit seribu Guntur dengan sangat sempurna.
Tanpa terasa Jaka sudah memasuki jurus yang kedua puluh yaitu jurus badai seribu Guntur.
Angin kencang langsung muncul dengan tiba-tiba ketika Jaka memainkan jurus itu ,udara yang semula terasa sejuk kini berubah menjadi sangat panas menerjang kulit.
Terpasura pun harus di paksa mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya dari pengaruh hawa panas itu.
"pukulan badai seribu Guntur hiaaat.... Jaka melepaskan pukulannya ke udara lalu blaaaar.... blaaaar....... halaman di belakang sekte itu bergetar laksana di sambar Guntur.
Huuuuff... Jaka mengambil nafas panjang untuk memulihkan tenaganya seusai melepaskan pukulan itu,kemudian berjalan menuju ke teras di mana Terpasura berada.
"Sungguh luar biasa Jaka,aku tidak menyangka pukulan badai seribu Guntur dapat kamu kuasai dengan waktu sangat singkat"ucap Terpasura terkagum kagum.
"Tapi saya merasa belum begitu menguasai dengan sempurna kakek guru, makanya saya tidak pernah menggunakan jurus ini dalam pertarungan"ucap Jaka.
"Maksud mu bagaimana Jaka, coba kau jelaskan supaya aku dapat mengerti "tanya Terpasura.
"Begini kakek guru sewaktu saya menggunakan jurus itu seolah olah tenaga dalam saya tersumbat, sehingga terpaksa saya mengerahkan tenaga dalam lebih besar untuk memperlancar pukulan jurus badai seribu Guntur itu kakek guru "ucap Jaka.
"Coba aku periksa aliran darah mu "ucap Terpasura kemudian meraih pergelangan tangan Jaka.
Terpasura kemudian meraba pergelangan tangan Jaka itu, setelah beberapa saat meraba pergelangan tangan Jaka , akhirnya ia pun mengerti permasalahannya.
"Ternyata peredaran darah mu kurang lancar Jaka, sepertinya ada sesuatu yang menghalangi peredaran darah mu itu"ucap Jaka.
"Kenapa bisa begitu kakek guru"tanya Jaka.
"Sepertinya kau pernah terkena pukulan yang cukup keras hingga membuat saluran peredaran darah mu terganggu ,apa benar begitu Jaka"tanya Terpasura.
Mendengar perkataan Terpasura itu Jaka langsung teringat ketika dirinya terkena pukulan tapak iblis milik Sanca Buana beberapa waktu silam.
"Benar kakek guru,aku pernah terkena pukulan tapak iblis , beberapa waktu yang lalu"ucap Jaka.
__ADS_1
"tapak iblis, apakah anak ini pernah berurusan dengan tengkorak iblis sampai ia terkena pukulan itu"ucap Terpasura dalam hati.
Terpasura sebenarnya sangat terkejut mendengar perkataan Jaka yang pernah terkena pukulan tapak iblis itu,tapi ia tidak maun menunjukkan rasa keterkejutannya di depannya.
"Kalau begitu cepat kau balikan badan mu ,aku akan menyalurkan tenaga dalam ku untuk membuka jalan darah mu yang tersumbat itu kalau lama dibiarkan akan sangat berbahaya Jaka"ucap Terpasura.
"memangnya kenapa kakek guru"tanya Jaka.
"Dengar Jaka ,jika hal ini dibiarkan kau akan cepat kehilangan banyak tenaga dan nafas mu akan cepat habis setelah kau melepaskan tenaga dalam yang besar"ucap Terpasura.
"Oh jadi begitu, pantas saja sewaktu melawan Dewi Ganda Arum aku langsung roboh setelah mengeluarkan pukulan pembelah langit ,jadi itu penyebabnya "ucap Jaka dalam hati.
"Sebaiknya kau jangan banyak bertanya lagi,aku akan mulai menyalurkan tenaga dalam ku"ucap Terpasura.
"Baiklah kakek guru "ucap Jaka.
Jaka lalu membalikkan badannya dengan membelakangi Terpasura, setelah itu Terpasura segera menempatkan kedua tangannya pada punggung Jaka, ia kemudian langsung mengerahkan tenaga dalamnya pada tubuhnya.
Hiiiiaaaat...... tenaga dalam Terpasura pun perlahan lahan memasuki tubuh Jaka, Terpasura merasa terkejut merasakan adanya penolakan pada tubuh Jaka sepertinya ada kekuatan misterius yang bergejolak di dalam tubuhnya jaka itu.
"Kekuatan besar macam apa di dalam anak ini , sepertinya ada benteng kuat yang melindungi tubuhnya"batin Terpasura.
Namun ia tidak mau menyerah begitu saja dan melipat gandakan kekuatannya sampai titik kepuncak, keringat dingin pun mulai membasahi tubuhnya dengan deras sampai ia basah kuyup tapi akhirnya usahanya itu tidak sia sia, karena perlahan lahan kekuatan dalam tubuh Jaka mulai mau menerima tenaga dalam yang Terpasura saluran kan.
Jaka merasa rasa hangat di sekitar pusarnya dan rasa hangat itu kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya.
Hingga akhirnya penyaluran tenaga dalam itu pun selesai , Terpasura lalu mengangkat tangannya dari punggung Jaka.
"Sepertinya kau berhasil kakek guru"ucap Jaka seraya membalikkan badannya, namun ia langsung terkejut mendapati Terpasura jatuh terkulai di depannya.
"Kakek guru.... kakek.guru"teriak Jaka kemudian ia meraba denyut nadi orang tua itu.
"Celaka denyut nadinya lemah sekali"ucap Jaka dengan rasa cemas,ia segera mendudukkan Terpasura dan langsung menyalurkan tenaga dalamnya.
Perlahan-lahan Terpasura pun membuka matanya,
"Cukup Jaka aku tidak apa-apa "ucap Terpasura.
"Bagaimana keadaan mu kakek guru, apakah tidak apa apa "tanya Jaka.
"Aku baik baik saja Jaka, aku hanya kelelahan karena terlalu banyak mengerahkan tenaga dalam ku tadi,," ucap Terpasura.
Sebenarnya bukan karena Terpasura terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam, tapi karena tubuh Jaka yang menyedot tenaga dalam Terpasura itu tapi hal itu tidak Jaka sadari.
"Kakek guru cepat telan pil ini supaya kakek guru cepat pulih tenaganya"ucap Jaka.
"Sungguh luar biasa pil yang kau berikan ini Jaka, tiba-tiba tubuh ku merasa segar dan tenaga dalam ku pun pulih kembali"ucap Terpasura.
"Syukurlah kakek guru aku senang mendengarnya"ucap Jaka.
"Dengar Jaka , mulai saat ini sekte bintang Utara ku serahkan pada mu"ucap Terpasura tiba-tiba.
"Apa...!!"ucap Jaka dengan terkejut.
"Aku tahu kau akan terkejut mendengar ini,tapi hanya kau lah satu satunya orang yang bisa melindungi sekte ini setelah kepergian ku nanti "ucap Terpasura.
"Saya kira aku tidak pantas kakek guru , karena masih ada guru Dewi Pandan Arum yang pasti lebih pantas untuk menjadi tetua di Sekte ini"ucap Jaka.
"Aku tahu kau pasti akan berkata seperti itu Jaka,asal kamu tahu Jaka pedang petir Api di dalam tubuh mu menandakan kau pantas menjadi tetua di sekte ini "ucap Terpasura.
"Tapi aku...
"Aku sudah mengerti semua tentang diri mu Jaka ,kau adalah tetua sekte langit dari benua timur "ucap Terpasura.
"Jadi kakek guru sudah tahu semuanya tentang aku"ucap Jaka dengan terkejut.
"Ya, setelah aku mengetahui kau memiliki jurus sepuluh langkah malaikat , lalu aku meminta pada Dewi Pandan Arum untuk menceritakan semuanya tentang kamu "ucap Terpasura.
"Maaf kan aku Jaka aku terpaksa menceritakan semuanya pada guru tentang diri mu yang sebenarnya "ucap Dewi Pandan Arum yang tiba-tiba datang itu.
"Kalau kakek guru sudah tahu aku tetua sekte kenapa kakek guru bersikeras meminta aku menjadi tetua di sekte ini"tanya Jaka.
"Dengar Jaka , sewaktu guru menghukum ku di kurungan batu itu ternyata tujuan dari guru adalah supaya aku mempelajari semua isi dalam kitab langit seribu Guntur dan menjinakkan pedang itu, namun sayangnya pedang Petir tidak mau tunduk pada ku dan dia hanya memilih mu Jaka" ucap Dewi Pandan Arum.
"Benar apa yang di katakan Dewi itu Jaka, kemarin aku sudah menceritakan semuanya padanya tentang tujuan ku menghukum dia di dalam batu itu "ucap Terpasura.
"Jadi sebenarnya kakek guru sudah tahu kalau sebenarnya Dewi Pandan Arum itu tidak bersalah "tanya Jaka.
"Benar Jaka , guru sudah menceritakannya semuanya pada ku kemarin "ucap Dewi Pandan Arum.
"Mengenai permintaan kakek guru soal aku menjadi tetua sekte bintang Utara, aku masih butuh waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu "ucap Jaka.
"Ingat Jaka, walaupun sekarang status mu adalah tetua sekte langit tapi dirimu juga bagian dari sekte ini"ucap Terpasura kemudian pergi meninggalkan Jaka dan Dewi pandan Arum.
__ADS_1
"Sepertinya kakek guru sangat menyukai mu Jaka, jadi ku mohon pada mu kau jangan kecewakan permintaan Kakek guru itu"ucap Dewi Pandan Arum.
"Kau tenang saja Dewi , akan aku lakukan yang terbaik untuk sekte ini"ucap Jaka.
"Baiklah aku percaya pada mu,oh ya Jaka bagaimana kalau kau aku ajari cara melatih ilmu terbang yang pernah aku janjikan kemarin itu"ucap Dewi Pandan Arum.
"Oh ya kenapa aku melupakan hal itu , lalu di mana Dewi akan mengajari aku ilmu terbang itu"tanya Jaka.
"Cepat kau ikut aku"ucap Dewi Pandan Arum ,lalu melesat terbang meninggalkan sekte bintang Utara.
Jaka pun langsung melesat terbang mengikuti Dewi Pandan Arum itu.
Jaka sangat penasaran sekali cara melatih ilmu terbang, makanya ia merasa bersemangat setelah Dewi Pandan Arum mengatakan akan mengajari caranya untuk terbang.
Setelah menguasai teknik terbang itu Jaka berniat untuk mengajarkan kepada seluruh murid muridnya di sekte langit supaya tidak kalah dengan orang orang di benua Utara.
"Sebaiknya kita berlatih di sini saja Jaka , tempat ini sangat cocok "ucap Dewi Pandan Arum setelah tiba di sebuah tempat yang sangat lapang.
"Baiklah Dewi, selain tempat ini lapang dan luas suasananya juga tenang"ucap Jaka.
"Sebelum aku mengajarkan cara untuk terbang pada mu ,aku ingin tahu bagaimana caranya kau bisa terbang sekarang ini "tanya Dewi Pandan Arum.
"Baiklah Dewi akan aku ceritakan pada mu "ucap Jaka.
Jaka lalu menceritakan tentang kejadian di sekte bintang timur, yaitu mengenai sebuah mutiara batu prasasti yang masuk ke dalam tubuhnya,ia menceritakan kejadian itu secara lengkap dari awal sampai akhir.
Dewi pandan Arum termenung mendengar Jaka menyebut mutiara batu prasasti itu, karena mutiara itu tidak asing baginya karena ia pernah mendengar cerita tentang sebuah mutiara dari gurunya.
"Jangan jangan mutiara yang Jaka maksud itu adalah mutiara dewa yang pernah guru ceritakan pada ku"ucap Dewi Pandan Arum dalam hati.
"Baiklah Jaka sekarang kita mulai, pertama tama aku akan menjelaskan pada mu teorinya dulu setelah itu baru aku akan mempraktekkannya"ucap Dewi Pandan Arum.
"Baiklah Dewi aku akan menyimak semua penjelasan Dewi dengan sebaik mungkin"ucap Jaka dengan bersungguh-sungguh.
Kemudian Dewi pandan Arum menjelaskan pada Jaka langkah langkah untuk mempelajari ilmu terbang itu, Jaka pun dengan antusias menyimak semua penjelasan yang Dewi Pandan Arum katakan tanpa ada sedikit pun yang terlewat.
Setelah selesai memberikan penjelasan pada Jaka Dewi Pandan Arum kemudian memberikan contoh pada Jaka dengan mempraktekkannya dan Jaka pun mengikuti gerakan gerakan yang di tunjukkan oleh Dewi pandan Arum itu .
sehingga mereka berdua berlatih sampai malam hari.
Malam itu di kediaman ki Balung Waja sekte Petir api,ia kedatangan sahabatnya dari sekte kobra Hitam dari gunung welirang yaitu Sinjung Wanara yang datang bersama dengan Dewi racun dan Ratu racun.
Ki Balung Waja menyambut gembira atas kehadiran teman lamanya itu, karena sudah hampir dua puluh tahun mereka tidak pernah berjumpa semenjak Ki Balung Waja mengasingkan diri dari dunia persilatan.
"Selamat datang Sinjung Wanara dan nona berdua"ucap ki Balung Waja dengan ramah.
"Maafkan aku tombak iblis,aku bisa sampai di sini hari ini, karena ada urusan yang harus aku selesaikan lebih dulu "ucap Sinjung Wanara, dengan memanggil ki Balung Waja dengan nama julukannya.
"Tidak apa-apa Sinjung Wanara aku tahu kau selalu sibuk dengan urusan mu haaa... haaa.."ucap ki Balung Waja dengan tertawa.
"Kau selalu saja tahu urusan ku itu Balung Waja, oh ya kenalkan mereka berdua adalah istri dan keponakan ku ,ratu racun dan Dewi racun "ucap Sinjung Wanara memperkenalkan mereka berdua.
"hormat kami tuan Balung Waja"ucap Dewi racun dan Ratu racun.
"ya...ya.."ucap ki Balung Waja.
"Menurut surat yang kau kirim kan pada ku sekarang ini guruh Sujiwo dan Arya Lembayung terluka Balung Waja "tanya Sinjung Wanara.
"Benar mereka berdua saat ini sedang terluka tapi sekarang sudah baikan ,mungkin dalam waktu beberapa hari lagi mereka akan pulih "ucap ki Balung Waja.
"Maaf tuan Balung Waja apakah aku boleh melihat keadaan mereka berdua"tanya ratu racun.
"Kenapa tidak,jika kalian mau melihat Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung silahkan mari saya antar "ucap ki Balung Waja.
Keempat orang itu lalu bergegas ke kamar Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung berbaring.
Ratu racun dan Dewi racun terkejut melihat bekas luka yang di derita oleh mereka berdua , karena lukanya sama persis dengan yang ratu racun pernah alami.
"Maaf tentu kalau boleh tahu siapakah orang yang telah melukai mereka berdua"tanya Ratu racun.
"Mereka di lukai oleh seorang pemuda yang bernama Jaka nyai "ucap Ki Balung Waja.
Ketiga orang itu langsung terkejut mendengar perkataan dari ki Balung Waja itu.
"Saya juga pernah di lukai oleh orang yang bernama Jaka itu tuan "ucap ratu racun.
"Benar tuan ,bibi pernah bentrok dengannya dan dia berhasil melukai bibi "ucap Dewi racun.
"Rupanya kalian sudah pernah bertemu dengan orang bernama Jaka itu,ini sungguh kebetulan,aku sengaja mengundang kalian kemari tidak lain adalah untuk membantu membunuh pemuda itu "ucap ki Balung Waja.
"Sekarang di mana pemuda itu tuan,aku sudah tidak sabar lagi untuk membalas dendam kepadanya "ucap Ratu racun.
"Pemuda itu sekarang berada di sekte bintang Utara, dia adalah salah satu murid dari sekte itu"ucap ki Balung Waja.
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu apa lagi ,mari kita ke sana lalu kita ratakan sekte itu sampai rata dengan tanah "ucap Sinjung Wanara.
"Baiklah jika kalian sudah tidak sabar "ucap ki Balung Waja, kemudian ia segera memerintahkan kepada murid muridnya untuk bersiap untuk ikut bersamanya.