
Sementara itu di tempat lain
Seekor kuda putih tampak tengah dipacu dengan cepat memasuki daerah perbatasan Sekte Petir Api. Penunggangnya seorang laki‐laki berusia sekitar lima puluh tahun. Dia berpakaian indah yang terbuat dari bahan sutra halus dan bersulam benang emas. Rambutnya panjang terurai bebas yang meriap tertiup angin.
Orang itu menggebah kudanya lebih kencang lagi, hingga debu‐debu yang mengepul oleh kaki‐kaki kuda itu bertambah banyak yang beterbangan du udara.
Tidak sedikit pun dia memperlambat lari kudanya meskipun sudah memasuki pusat kota yang ramai.
Hal itu tentu saja sangat menarik perhatian semua orang yang memadati jalan utama yang menuju ke sekte petir api itu. Tapi nampaknya tidak seorang pun yang berani menegur, apalagi sampai menghentikannya laju kuda orang itu, yang tidak lain adalah Guruh Sujiwo tetua sekte petir api.
Kuda itu berlari seperti terbang karena saking cepatnya.
"Cepat buka pintu" seru Guruh Sujiwo, ketika kudanya hampir sampai di pintu gerbang yang kira kira jaraknya tinggal dua puluh tombak.
Mendengar teriakkan keras dari Guruh Sujiwo itu penjaga pintu gerbang pun buru buru segera membuka pintu yang terbuat dari kayu jati yang tebal dan keras itu.
Bunyi bergerit terdengar saat pintu gerbang itu terbuka. Dan tanpa memperlambat lari kudanya, Guruh Sujiwo langsung menerobos masuk ke dalam wess...., Sedangkan dua orang penjaga pintu gerbang hanya bisa menggeleng‐gelengkan kepalanya saja melihat tingkah tetua sekte mereka itu.
"Huuup.....!!!"
Laki‐laki berusia sekitar lima puluh tahun itu langsung melompat turun dari punggung kudanya begitu dia sampai di depan teras rumah yang berukuran besar dan luas.
Di sekitar halaman itu tampak beberapa orang yang berseragam dan membawa tombak panjang langsung berdiri berbaris dan memberi hormat kepada Guruh Sujiwo.
Guruh Sujiwo terus melangkah dengan tergesa‐gesa menaiki anak‐anak tangga yang menuju serambi depan yang luas dengan pilar‐pilar besar menyangga atap.
Langkahnya terus terayun melintasi serambi yang berlantai batu pualam putih berkilat.
Arya Lembayung merasa heran dengan tingkah ayahnya yang tampak terlihat seperti orang yang tidak waras itu.
"Di mana Ayah lembayung?" tanya Guruh Sujiwo dengan napas tersengal memburu.
"Kakek sekarang berada di halaman belakang ayah "ucap Arya Lembayung.
"Ada apa ayah kenapa buru buru sekali"teriak Arya Lembayung .
Guruh Sujiwo tidak sempat menjawab pertanyaan anaknya itu, tanpa berkata apa‐apa , Guruh Sujiwo langsung melangkah ke dalam semakin mempercepat jalannya.
Dengan langkah lebar dan tergesa‐gesa Guruh Sujiwo
melintasi ruangan dalam yang lebar dan sangat luas itu dengan raut muka penuh ketegangan.
Tak lama kemudian ia pun sampai di halaman belakang di mana Balung Waja ayahnya berada.
"Ayah...."teriak Guruh Sujiwo.
Balung Waja yang sedang bersemedi itu segera membuka matanya begitu mendengar teriakkan dari guruh Sujiwo itu.
Guruh Sujiwo segera mendekat menghampiri ayahnya itu dan segera duduk di sampingnya.
"Ada apa Sujiwo kenapa kamu seperti orang kesetanan seperti itu"ucap Ayahnya Ki Balung Waja dengan penuh rasa heran.
Guruh Sujiwo menarik nafas panjang beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan ayahnya itu.
"Ada dua kabar penting ayah"ucap Guruh Sujiwo dengan nafas masih memburu.
"Kabar apa itu Sujiwo lekas katakan"tanya Ki Balung Waja dengan tidak sabar.
"Ayah pasti tahu dengan Racun Barat dan ki Lukito yang mempunyai julukan setan tua dari gunung Lawu itu kan"ucap guruh Sujiwo.
"Tentu saja siapa yang tidak tahu tentang mereka berdua seorang tokoh sakti yang namanya sudah tersohor di seluruh benua itu, memang nya kenapa dengan mereka berdua "ucap Ki Balung Waja.
"Mereka berdua sudah tewas lima hari yang lalu ayah dan yang....
"Tidak mungkin kau jangan mengarang cerita Sujiwo,aku kena betul dua orang itu mereka bukan orang sembarangan ,asal kau tahu sulit bagi siapa yang menandingi kesakitan dua toko tua itu "ucap Ki Balung Waja benar benar tidak percaya dengan perkataan Guruh Sujiwo itu.
"Dengar dulu penjelasan ku ayah, menurut berita yang aku dengar sewaktu di sebuah kedai mereka berdua tewas di tangan tetua sekte langit "ucap Guruh Sujiwo.
"Tewas di tangan tetua sekte langit, maksud mu mereka berdua tewas di tangan Jaka begitu "ucap tanya Ki Balung Waja.
"Siapa lagi kalau bukan dia"ucap guruh Sujiwo seakan malas mulutnya menyebut nama Jaka karena ia masih menyimpan dendam padanya.
"Sulit di percaya dua dedengkot tokoh dunia persilatan yang terkenal sangat sakti itu tewas di tangan seorang pemuda yang masih ingusan itu"ucap Balung Waja sambil menggelengkan kepalanya.
"Semula aku juga tidak yakin begitu yakin ayah tapi setelah di mana mana tempat orang membicarakan hal itu aku menjadi bertambah yakin kalau kedua orang itu benar benar sudah tewas "ucap guruh Sujiwo.
"Mmmm... sepertinya saat ini Jaka akan menjadi ancaman sekaligus tantangan bagi tokoh tokoh hitam papan atas"gumam ki Balung Waja.
__ADS_1
"Lalu mengenai berita yang kedua apa itu Sujiwo "tanya Ki Balung Waja.
"Ini mengenai tentang peta itu ayah, menurut rumor yang beredar peta itu sekarang sudah berada di sini di benua ini dan saya berencana untuk ikut memburunya"ucap guruh Sujiwo.
"Mustahil, bagaimana bisa peta itu sekarang berada di benua ini Guruh Sujiwo, katakan dengan jelas "ucap ki Balung Waja.
"Mengenai bagaimana peta itu ada di sini aku tidak tahu banyak ayah, tapi menurut kabar yang aku dengar memang begitu adanya kalau peta itu sungguh ada di benua "ucap guruh Sujiwo.menyakinkan ayahnya.
Ki Balung Waja tampak terdiam sejenak ,ia sedang mencerna ucapan dari Guruh Sujiwo itu, menurutnya sangat tidak masuk akal kalau tiba-tiba peta itu sekarang ada di benua Utara.
"Sujiwo bagaimana menurut mu tentang kabar itu benar atau tidak, kalau menurut ku itu tidak mungkin "tanya ki Balung Waja.
"Menurut ku itu bisa saja benar ayah, karena Jaka itu juga merupakan murid dari sekte bintang Utara,jadi kemungkinan dia datang ke sini karena lokasi yang ada dalam peta itu ada di sekitar daerah ini ayah"ucap guruh Sujiwo menjelaskan pada ayahnya tentang pemikirannya itu.
Ki Balung Waja tampak manggut-manggut mendengar perkataan anaknya itu.
" memang masuk di akal juga kalau peta itu ada di benua Utara ini menilik Jaka ada murid dari sekte bintang Utara "gumam ki Balung Waja dalam hati.
" Tapi percuma saja sujiwo jika peta itu masih ada di tangan jaka kita tidak bisa berbuat apa-apa,kau masih ingat tentang kejadian di sekte langit kemarin itu bagaimana Sinjung Wanara dan Ratu racun tewas di tangannya ,aku masih beruntung dapat secepatnya kabur dari tempat itu kalau tidak pasti nyawa kita sudah melayang"ucap ki Balung Waja teringat akan kejadian waktu itu.
Guruh Sujiwo hilang semangatnya seketika mendengar ucapan ayah itu, memang benar selama peta itu masih ada di tangan Jaka maka mustahil bagi dirinya untuk merebut peta itu dari tangannya.
"Apa benar tidak ada cara lain untuk merebut peta itu sekaligus untuk balas dendam pada Jaka itu ayah "tanya guruh Sujiwo sambil berfikir.
Ki Balung Waja mengambil nafas panjang, mendengar perkataan Guruh Sujiwo itu, sebenarnya Ki Balung Waja sudah tidak memikirkan dendam lagi setelah barusan mendengar racun barat dan Setan tua mati di tangan Jaka,tapi demi Guruh Sujiwo terpaksa ia mengobarkan lagi api dendam itu.
"Huh.. Dengar sujiwo dengan kemampuan kita berdua memang tidak mungkin bagi kita untuk menandingi Jaka,itu sudah terbukti pada waktu itu, jalan satu satunya agar kita bisa membalas dendam adalah dengan meminta bantuan Ranapati Sujiwo"ucap Ki Balung Waja.
"Maksud ayah kita meminta bantuan dari paman Ranapati yang sekarang sedang bertapa di gunung Kemukus itu "tanya Guruh Sujiwo.
"Ya kau harus minta bantuan pada dia itulah jalan satu-satunya "ucap ki Balung Waja.
"Saya ragu ayah , apakah paman Ranapati mau membantu kita"ucap guruh Sujiwo dengan rasa ragu.
"Kenapa tidak bukan kah Arya Lembayung adalah keponakan satu satunya dan kesayangannya, aku yakin dia pasti mau membantu kita kalau dia tahu Arya Lembayung pernah terluka parah karena jaka"ucap ki Balung Waja.
Guruh Sujiwo terdiam seribu bahasa mendengar saran dari ayahnya itu,rasa ragu dan bimbang melintas dalam benaknya .
ia merasa tidak yakin kalau pamannya Ranapati mau membantunya sebab pamannya itu sudah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan.
Setelah berfikir demikian akhirnya Guruh Sujiwo pun percaya bahwa Ranapati pasti mau membantunya untuk balas dendam kepada Jaka dan kesempatan untuk meraih peta itu menjadi semakin nyata.
"Baiklah secepatnya aku akan pergi ke gunung Kemukus untuk menemui paman ayah"ucap Guruh Sujiwo segera bangkit dan masuk ke dalam.
"Ingat Sujiwo ajak serta Arya Lembayung karena dia adalah kunci keberhasilan mu"pesan ki Balung Waja sambil menatap kepergian anaknya itu.
"Aku tahu itu ayah"sahut Guruh Sujiwo.
...----------------...
Sementara itu di sekte bintang Utara.
Suasana di sekte bintang Utara terlihat sangat sibuk,para murid sekte Langit yang di utus Jaka tampak sedang sibuk bergotong royong membangun dan memperbaiki setiap rumah rumah yang rusak karena di bakar api.
Ada yang menebang pohon ada yang memikul kayu, ada yang sedang mengikat kayu, macam macam sajalah kesibukan mereka itu.
Melati dan Dewi pandan Arum pun juga tampak di situ untuk menjaga keamanan para murid murid yang sedang bekerja, mereka selalu siap siaga kalau tiba-tiba ada serangan yang datang.
Ratih yang merasa jenuh tidak melakukan apa-apa itu ia memilih pergi ke sungai untuk mengusir rasa bosannya itu.
Hampir seharian penuh Ratih duduk merenung di atas batu di pinggir sungai. Sebagian kakinya terayun-ayun ke dalam sungai, mempermainkan riak air yang mengalir jernih dari sumbernya di puncak gunung. Sejak matahari terbit tadi, sampai senja sekarang ini dia masih terlihat betah duduk merenung di atas batu yang menjorok ke tepi sungai. Pandangannya lurus menatap dasar sungai yang berbatu.
Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan oleh gadis itu karena sudah beberapa hari ini ia terlihat murung dan tidak ceria seperti biasanya.
"Ratih...."terdengar suara memanggilnya.
Ratih menoleh saat mendengar namanya dipanggil ke arah datangnya suara itu.
“Ada apa melati "tanya Ratih.
“Dari pagi tadi aku mencari mu Ratih aku tidak tahu kalau kau berada di sini "ucap melati.
"Aku merasa bosan saja melati makanya aku ke sini"ucap Ratih.
"Ya aku juga merasa sedikit bosan juga di tempat ini, tapi demi menjalankan perintah tetua bosan tidak bosan ya harus mau"ucap melati.
"Kau benar melati tapi kenapa sampai saat ini Jaka belum juga sampai di sini Melati aku merasa khawatir"ucap Ratih dengan tatapan ke bawah sungai.
__ADS_1
"Kemungkinan tetua ada halangan di jalan Ratih, apa lagi saat ini orang orang sedang gempar mencari peta itu "ucap Melati.
"Jangan jangan terjadi apa apa pada Jaka saat ini melati "ucap Ratih.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tetua Ratih ,kalau pun ada halangan tetua pasti bisa mengatasinya "ucap melati dengan tenang.
"Biar pun begitu aku tetap tidak bisa tenang Melati sebelum jaka ada di sini "ucap Ratih.
Melati mengambil nafas panjang,ia tahu kalau hubungan Ratih dan Jaka begitu dekat,jadi dia bisa maklum kalau Ratih selalu mengkhawatirkannya.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua ternyata ada dua pasang mata yang sedang mengawasi mereka itu dari jauh dan dua pasang mata itu adalah Sapta Darma dan Nawang Sari.
Dengan sangat hati-hati mereka berdua mengawasi gerak gerik melati dan Ratih yang sedang asik mengobrol itu.
"Siapa mereka kira kira Sapta Darma rasanya aku belum pernah melihat mereka"ucap Nawang Sari.
"Sepertinya mereka orang dari jauh Nawang ,aku juga belum pernah melihat dua gadis itu sebelumnya"ucap Sapta Darma.
Nawang Sari dan Sapta Darma terus mengawasi mereka berdua,diam diam Sapta Darma mengagumi kecantikan Ratih dan melati sehingga tatapan mata terus menatap tajam tanpa berkedip.
"Sapta Darma apakah kita akan terus maju mendekati mereka"tanya Nawang Sari.
tapi Sapta Darma tidak langsung menyahut perkataan Nawang Sari itu karena ia sedang asik melihat ke arah melati dan Ratih.
"Sapta... Sapta Darma"ucap Nawang Sari berulang ulang.
Deess.... !!!Nawang Sari pun memukul punggung Sapta Darma karena saking kesalnya.
"aduuh...ada apa Nawang Sari"ucap Sapta Darma.
Nawang Sari menatap tajam kearah Sapta Darma seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Makanya kalau ada orang bicara itu di dengar kan"ucap Nawang Sari dengan rasa kesal.
"Iya maaf...maaf tadi saya lagi memperhatikan secara cermat jadi aku tidak mendengar waktu kamu bicara tadi"ucap Sapta Darma .
"Dengar Sapta Darma ,apakah kita perlu maju lagi untuk mendekati mereka"tanya Nawang Sari mengulangi perkataannya tadi.
"Baiklah ayo"ucap Sapta Darma.
Di saat mereka mau bergerak maju tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kehadiran Dewi Pandan Arum diantara Ratih dan melati itu, sehingga mereka pun segera membatalkan niatnya itu.
"itukan Dewi Pandan Arum , jadi rupanya mereka berdua itu teman temannya "ucap Sapta Darma.
"Kebetulan kalau begitu, kita tidak perlu repot-repot untuk mendekati mereka"ucap Nawang Sari.
"Iya Nawang,jika Dewi Pandan Arum ada di antara mereka berarti peta harta Karun itu sekarang pasti ada di tangan Dewi Pandan Arum,aku yakin itu"ucap Sapta Darma.
"Sebaiknya ayo kita pergi dari sini dan kita laporkan pada tetua Kalapati bahwa peta itu sekarang di sini "ucap Nawang Sari.
"Baiklah "jawab Sapta Darma.
Kemudian orang itu pun pergi dari situ dengan hati hati , walau pun jarak mereka berjauhan mereka perlu melakukan itu karena mereka tahu bahwa kemampuan Dewi Pandan Arum sangat tinggi sehingga sikap hati hati memang di perlukan.
Setelah di rasa aman Sapta Darma dan Nawang Sari pun mempercepat langkahnya menuju ke tempat di mana kudanya mereka ikat dan bergegas kembali ke sekte Api angin.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam lihat lah matahari sudah mulai tenggelam "ucap Dewi Pandan Arum mengingatkan.
"Benar apa kata Dewi Ratih ayo kita kembali ke sekte sekarang "ucap melati.
"Kalian berdua kembalilah dulu aku masih ingin menikmati matahari tenggelam "ucap Ratih sambil menatap rona merah di ufuk barat sore itu.
"Baiklah kalau begitu, ayo Dewi kita kembali "ajak melati.
Akhirnya melati dan Dewi pandan Arum pun meninggalkan Ratih sendirian di tepi sungai.
"Seandainya ada si bodoh di sini pasti suasananya akan lain,tapi aku merasa sekarang ini semakin jauh saja dari dia"ucap Ratih masih asik menatap kearah matahari yang sedikit demi sedikit mulai tenggelam itu.
Ratih merasa jauh dari Jaka itu bukan tanpa alasan karena semenjak kehadiran Dewi Pandan Arum di sekte langit semenjak itu pula Ratih jarang sekali bersama sama dengan Jaka ,karena Jaka lebih sering pergi dengan Dewi Pandan Arum ketimbang dirinya,
Pernah suatu hari ia berfikir bahwa Dewi Pandan Arum akan merebut Jaka darinya, tapi kemudian ia membuang pikiran seperti itu jauh jauh, karena ia sadar bahwa Jaka adalah tetua sekte yang berhak di miliki oleh semua orang termasuk Dewi Pandan Arum dan Ratih sadar akan hal itu.
Huuuuff... terdengar Ratih mengambil nafas panjang ,seperti ada sesuatu yang menyumbat di dalam dadanya saat ini ,yang terasa sesak karena suatu perasaan yang dia sendiri tidak tahu perasaan apa itu.
Ketika matahari sudah benar benar tenggelam Ratih pun segera beranjak dari tempat itu.
Namun tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang datang menghampirinya dan.....
__ADS_1