Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Iblis gunung Kemukus


__ADS_3

Tidak lama kemudian dari asap tebal itu muncul banyak pasukan yang begitu mengerikan.Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung terbelalak melihat itu, merinding bulu kuduk mereka melihat kemunculan para mahluk itu.


Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung mundur beberapa tindak ke belakang saking terkejutnya.


"Itu mahluk apa sebenarnya Paman kenapa wujud mereka sangat menyeramkan begitu"tanya Arya Lembayung dengan merasa ngeri.


"Mereka adalah pasukan iblis di gunung Kemukus yang berhasil aku tundukkan ,aku dan mereka sudah saling mengikat kontrak, jadi kalian berdua tidak usah takut karena mereka tidak akan menyerang kalian "jawab Ranapati menjelaskan.


Pasukan iblis gunung Kemukus segera berlutut di hadapan Ranapati siap menerima perintah darinya.


"Ada perintah apa tuan ku memanggil hamba "ucap salah satu mahluk yang paling besar.


"Untuk sementara ini tidak ada tugas untuk kalian,maksud aku memanggil kalian adalah untuk mengenalkan kalian berdua kepada dua orang ini "jawab Ranapati sambil menunjuk ke arah Arya Lembayung dan Guruh Sujiwo.


"Baik tuan "ucap pemimpin iblis itu.


"Sekarang pergilah kalian "perintah Ranapati kepada mereka.


Mendengar ucapan Ranapati itu kemudian mereka pun lenyap seketika,Guruh Sujiwo menggelengkan kepalanya dia merasa kagum dengan pamannya itu.


Guruh Sujiwo merasa yakin bisa menang untuk melawan sekte langit setelah melihat para pasukan yang di bawa oleh pamannya Ranapati.Harapan untuk segera balas dendam kepada Jaka yang tadinya hanya khayalan sekarang menjadi semakin nyata.


Arya Lembayung masih berdiri terpaku walaupun para mahluk itu sudah lenyap dari tadi, melihat itu Ranapati langsung menepuk pundak Arya Lembayung dan seketika itu ia pun sadar dan menatap ke arah Ranapati.


"Sungguh sangat menyeramkan paman"ucap Arya Lembayung dengan wajah masih diliputi rasa takut.


"Tidak jauh beda dengan ku , waktu pertama aku melihat mereka aku juga sempat mengalami ketakutan seperti mu lembayung"ucap Ranapati.


"Lalu kapan kita akan berangkat ke sekte langit paman"tanya guruh Sujiwo.


"tentu saja secepatnya Guruh Sujiwo,kita akan buat mereka menyesal karena telah menghancurkan sekte ini"ucap Ranapati.


Matahari pun beranjak naik tinggi sinarnya pun mulai panas menyengat kulit, Ranapati , Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung kemudian , memutuskan untuk menguburkan para murid murid yang telah tewas itu.


Sejurus kemudian perkejaan itu pun mereka selesaikan tepat tengah hari di saat matahari lagi panas panasnya.


Guruh Sujiwo memandangi makam para muridnya itu, dalam hatinya ia bersumpah akan membalas setiap tetesan darah muridnya dengan kematian para murid sekte Langit.


Guruh Sujiwo kemudian beranjak dari situ dan menyusul Ranapati dan Arya Lembayung yang lebih dahulu sudah naik di atas punggung kudanya.


"Sujiwo aku tahu kau sedih dengan kematian para murid mu , sebaiknya cepat naik kuda mu dan ikut dengan aku"ucap Ranapati.


"Kita mau kemana Paman"tanya guruh Sujiwo.


"Tentu saja kita ke sekte Api angin untuk meminta bantuan Kalapati "jawab Ranapati.


Mendengar itu timbul keraguan pada hati guruh Sujiwo dengan niat pamannya itu,ia tidak yakin kalau Kalapati mau membantunya.


"Apakah paman yakin dia mau membantu kita"tanya Guruh Sujiwo.


"Kenapa tidak kalau dia berani menolak ku , akan aku ratakan sekte itu dengan tanah "ucap Ranapati.


Mendengar perkataan pamannya itu guruh Sujiwo pun cepat cepat naik ke atas kudanya, melihat Ranapati dan Arya Lembayung sudah jalan guruh Sujiwo langsung menggebah kudanya.


Namun di saat kuda mereka baru berjalan beberapa langkah saja, mereka harus menghentikan kudanya itu setelah di hadapan mereka berdiri seorang gadis dan seorang laki-laki tua yang sudah berumur enam puluh tahunan.


"Kusumawati"ucap Arya Lembayung menyebut nama gadis itu.Arya lembayung segera turun dari kudanya, begitu juga dengan Guruh Sujiwo dan Ranapati mereka segera turun dari kudanya setelah mengenali mereka berdua.


"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan sesepuh Jaya Kusuma dan Kusumawati di sini sungguh suatu kebetulan"ucap guruh Sujiwo seraya memberikan hormat padanya.


"Angin apa yang membawa sesepuh datang kemari bukan kah sesepuh sedangkan mengasingkan diri"ucap Ranapati.


Jaya Kusuma menghembuskan nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya kemudian menatap kepada Ranapati.


"Terpaksa aku keluar dari pengasingan ku , karena mendengar kabar dari cucu ku kalau sekte Api angin telah di serang seseorang dan kini sudah hancur berantakan"ucap Jaya Kusumawati

__ADS_1


Ranapati, guruh Sujiwo dan Arya Lembayung langsung terkejut mendengar itu, mereka tidak menyangka kalau nasib sekte Api angin juga sama dengan nasib sekte Petir api.


"Kapan kejadian itu terjadi sesepuh"tanya guruh Sujiwo.


"kejadian itu terjadi....mmmm...kalau tidak salah kemarin waktu aku pulang dari tempat kakek "jawab Kusumawati .


"Ya kemarin seperti yang cucu ku bilang "tambah Jaya Kusumawati.


Ranapati terdiam mendengar penjelasan dari Kusumawati,ia dapat menebak bahwa kejadian itu pasti saling terkait dan mungkin terjadinya kejadian itu juga dalam waktu yang bersamaan.


"Apakah sesepuh tahu bahwa sekte petir api juga sama seperti sekte Api angin,kini keadaannya porak-poranda tidak karuan bahkan,nasib ayah juga tidak tahu bagaimana keadaannya"ucap Guruh Sujiwo.


Jaya Kusuma dan Kusumawati terkejut mendengar perkataan Guruh Sujiwo itu karena kejadiannya hampir bersamaan.


"Siapa sebenarnya yang telah melakukan perbuatan keji seperti itu, baru kali ini aku melihat ada pembantaian sekejam ini"ucap Jaya Kusuma.


"Bagaimana kalau kita membahas masalah ini di sana sesepuh, supaya lebih leluasa dan tidak terkena panas matahari yang menyengat ini"ucap Ranapati sambil menunjuk ke arah pohon besar yang rimbun daunnya.


Jaya Kusuma pun mengangguk setuju , kemudian mereka berlima berjalan menuju ke bawah pohon besar yang rindang itu.


Tidak lama kemudian mereka berlima pun sudah sampai di bawah pohon yang di tunjuk Ranapati tadi.


Setelah dari mereka masing-masing mengambil tempat duduk pembicaraan pun di mulai kembali.


"Menurut sesepuh siapa yang harus bertanggung jawab atas hancurnya sekte Api angin itu"tanya Ranapati.


"Saya tidak dapat menuduh siapa pun dalam kejadian ini, selama aku mengasingkan diri aku tidak tahu Kalapati menyinggung sekte mana, cuma Kusumawati lah yang tahu gerak gerik Kalapati selama ini"ucap Jaya Kusuma.


"Bagaimana menurut mu Kusumawati "tanya Ranapati.


"Setahu saya ayah tidak pernah menyinggung sekte mana pun, kecuali sekte langit paman"jawab Kusumawati.


"Tidak salah lagi paman pasti ini perbuatan Jaka, bukankah waktu itu tetua Kalapati juga ikut menyerang ke sana "ucap guruh Sujiwo dengan yakin seyakin-yakinnya.


Kusumawati langsung tersentak perasaannya mendengar Guruh Sujiwo menyebut nama Jaka,ia tidak tahu apakah hubungan Jaka dengan hancurnya sekte Api angin dan sekte petir api.


Guruh Sujiwo kemudian menjelaskan pada Kusumawati siapakah sebenarnya Jaka itu sehingga ia harus bertanggung jawab atas hancurnya kedua sekte itu.


Kusumawati langsung terkejut dan tidak menduga kalau Jaka adalah tetua sekte langit, namun Kusumawati tidak langsung percaya begitu saja dengan pernyataan dari Guruh Sujiwo itu sebelum dirinya membuktikan sendiri.


"Benar apa yang di katakan oleh ayah barusan Kusumawati bahwa Jaka dan sekte langitlah yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini"tambah guruh Sujiwo.


Kusumawati dan Kakeknya saling beradu pandang mereka berdua masih bimbang karena Jaya Kusuma tidak ingin salah dalam mengambil tindakan.Dalam hatinya Jaya Kusuma tidak percaya kalau sekte langit berbuat keji dengan melakukan pembantaian kejam seperti itu.


"Tadinya saya berniat untuk ke sekte api angin untuk meminta bantuan dari Kalapati untuk menyerang sekte langit,tapi tanpa di duga kami bertiga bertemu kalian di sini,"ucap guruh Sujiwo.


"Bagaimana menurut mu sesepuh apakah akan ikut dengan kami untuk menyerang sekte langit"ucap Ranapati.


"Aku pikir kalian bertiga terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan menuduh sekte langit, setahu saya sekte langit itu pembela kebenaran jadi tidak mungkin kalau mereka berbuat sekeji itu "ucap Jaya Kusuma.


"Tapi kami harus menuduh siapa lagi sesepuh"ucap Guruh Sujiwo.


"Cobalah berfikir dengan akal sehat kalian, jangan sampai kalian menyesal di kemudian hari dengan menuduh tanpa bukti dan saksi , sebaiknya kalian selidiki dan cari tahu dulu apa benar mereka yang melakukan itu, jika benar mereka aku juga tidak akan segan segan untuk langsung turun tangan menyerang ke sekte langit "ucap Jaya Kusuma mengingatkan mereka bertiga.


Guruh Sujiwo memandang ke arah Ranapati seperti ingin minta pendapat dari pamannya yang sedang duduk dengan melipat kedua tangannya itu.


Ranapati menarik nafas dalam-dalam ia membenarkan perkataan dari jaya Kusuma itu, tapi jika menilik dari perkataan Guruh Sujiwo yang mengatakan bahwa sekte petir api tidak mempunyai sengketa dengan sekte kain kecuali sekte langit sudah di pastikan bahwa merekalah pelakunya.


"Kami bertiga tetap dengan pendirian kami sesepuh kalau sekte langitlah yang harus bertanggung jawab atas penyerangan itu"kata Ranapati dengan tegas.


Jaya Kusuma menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ranapati itu, menurutnya salah bertindak dalam masalah ini akan berakibat fatal.


"Jika itu mau kalian silahkan aku dan Kusumawati akan melakukan penyelidikan lebih dulu sebelum bertindak"ucap Jaya Kusuma.


"Apa boleh buat kalau begitu ,ayo Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung kita berangkat "ucap Ranapati.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan kata permisi Ranapati langsung pergi begitu saja dari hadapan jaya Kusuma.


Mereka bertiga menggebah kudanya dengan cepat hingga dalam waktu sekejap saja mereka hilang dari pandangan jaya Kusuma dan Kusumawati.


"Lalu apa tindakan kita selanjutnya kakek"tanya Kusumawati.


"Kita pergi ke sekte bintang Utara kusuma aku ingin melihat Terpasura teman ku "jawab kakeknya.


"maaf kakek aku lupa mengatakan kepada kakek, bahwa tetua Terpasura sudah meninggal beberapa bulan lalu bersama dengan hancurnya sekte itu"ucap Kusumawati.


Jaya Kusuma terperanjat mendengar penjelasan cucunya itu selama di dalam pengasingan ternyata sudah banyak kejadian yang tidak ia ketahui.


Jaya Kusuma tidak menyangka kalau Terpasura yang umurnya jauh lebih muda darinya meninggal lebih dulu.


...Setelah mendengar penjelasan dariKusumawati seperti itu jaya Kusuma punmembatalkan niatnya dan mengajak Kusumawati pergi ke arah timur menuju ke sekte langit.Jaya Kusuma dan Kusumawati kemudian berkelebat pergi meninggalkan tempat itu....


...----------------...


... ...


Setelah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik ketiga Senopati iblis yang terdiri dari Karadurga, Kumbara dan Jaran Lejong terlihat sudah tiba Kota Toba.Kota Toba adalah kota yang menghubungkan antara Benua Utara dan benua timur.Sebuah kota yang cukup besar dan sangat ramai karena kota itu merupakan persinggahan para pedagang atau pun orang orang yang dalam perjalanannya menuju ke benua Utara maupun timur biasanya mereka akan mengambil istirahat di kota itu untuk melepaskan lelah.


Begitu juga dengan ketiga orang itu yang berniat menunda perjalanannya untuk beristirahat sejenak melepaskan lelah di kota itu.


Rupanya setelah berhasil menghancurkan tiga sekte besar di benua Utara mereka melanjutkan perjalanannya ke benua timur.


Jaran Lejong yang berjalan paling depan segera menuju ke sebuah kedai , dengan langkah penuh keangkuhan dan kesombongan jarang Lejong masuk ke dalam kedai itu.


Melihat itu Karadurga dan Kumbara tidak banyak tanya dan mengikutinya dari belakang.


Jaran Lejong menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan itu dan mendapati tidak ada satu pun kursi yang kosong karena sudah penuh oleh pengunjung.


"Sialan , sepertinya aku harus mengusir mereka secara paksa"gumam Jaran Lejong.


"Ada apa Jaran Lejong kenapa muka kelihatan marah begitu"tanya Kumbara yang saat itu sudah berada di belakangnya bersama dengan Karadurga.


"Lihat kakang tempat ini sudah penuh dengan kecoak kecoak itu"jawab Jaran Lejong.


Karadurga tampak kesal dengan Jaran Lejong yang di rasa tidak bisa mengatasi persoalan sepele itu.


"Minggir Jaran Lejong"ucap Karadurga kemudian ia menerobos masuk ke dalam kedai itu.


"Dengar kalian semua, jika ada yang ingin hidup cepat tinggalkan kedai ini karena kami bertiga ingin makan"teriak Karadurga dengan suara lantang.


Para pengunjung kedai itu segera menoleh ke arah datangnya suara tadi dan mereka melihat seorang wanita dengan berpakaian serba hitam dengan rambut di ikat ekor kuda yang wajahnya sangat cantik.


"Haii... nona kalau mau makan ya tinggal makan tidak perlu mengusir kami segala"ucap salah seorang pengunjung kedai itu.


Karadurga langsung mendidih darahnya melihat ada orang yang berani menyepelekan kata katanya.


"Kurang ajar beraninya kau tidak mengindahkan peringatan ku"ucap Karadurga dengan marah.


Tanpa banyak kata Karadurga langsung mengacungkan ibu jarinya dan selarik sinar pun meluncur deras ke arah orang pengunjung kedai tadi tak ayal lagi orang itu pun langsung roboh tak bernyawa lagi.


Melihat itu para pengunjung kedai yang lain pun ketakutan dan segera berhamburan keluar karena tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti orang itu dan tidak lama kemudian kedai itu pun kosong cuma tinggal satu orang yang masih tinggal di orang itu adalah Dewi Racun.


Tahu masih orang ada yang belum pergi Karadurga tidak memperdulikannya dan segera mengambil tempat duduk.Jaran Lejong dan Kumbara pun segera mengambil tempat duduk di kanan dan kirinya Karadurga.


Dengan wajah ketakutan disertai keringat dingin pelayan kedai segera buru buru menghampiri Karadurga .


"Nona dan tuan tuan mau pesan apa "tanya pelayan itu dengan tubuh gemetaran.


"Cepat sajikan semua makanan yang enak untuk kami bertiga dan jangan lama-lama "ucap Jaran Lejong.


"Baik tuan "ucap pelayan itu dengan segera berlalu.

__ADS_1


Dewi Racun menggelengkan kepalanya melihat sikap dari Karadurga yang sangat memuakkan itu.


__ADS_2