Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Keputusan Ki Balung Waja


__ADS_3

"Tapi jarak dari sini ke sekte langit jauh sekali tetua,apa lagi malam malam begini sungguh sangat bahaya"ujar Ki Balung Waja seakan tidak setuju dengan niat Jaka itu.


"Aku tahu itu Balung Waja, mengingat Sekte langit dalam bahaya aku benar benar tidak tenang "jawab Jaka dengan suara parau.


"Menurut saya keadaan di sekte langit tidak seperti yang tetua pikir kan saat ini"ujar Balung waja.


"Kenapa kau sampai berfikir begitu kalau di sana tidak terjadi apa-apa Balung waja"tanya Jaka sambil menatap ke arahnya.


"Karena sasaran pasukan iblis itu saat ini adalah di benua Utara saja tetua, jadi untuk benua timur kemungkinan masih baik baik saja "terang Ki Balung Waja.


Jaka merenungkan perkataan dari Balung waja itu,ia merasa kalau dirinya terlalu terbawa kecemasan yang berlebihan.


Jaka juga membenarkan perkataan ki Balung Waja memang benar berbahaya sekali jika melakukan perjalanan dalam suasana yang gelap gulita seperti ini,.Jaka menghembuskan nafas panjang semangatnya untuk kembali ke sekte langit seketika mengendur.


"Sebaiknya besok pagi saja kita pergi ke sekte langit Balung Waja"


Balung Waja mengangguk pelan mendengar itu perkataan Jaka itu


Jaka kemudian mengambil sebatang kayu di perapian lalu berjalan mengitari sekte bintang Utara yang sudah hancur itu.


Dengan obor di tangannya ia dapat melihat samar betapa banyaknya mayat yang berserakan di sekitar tempat itu, tangan Jaka mengepal kuat melihat kekejaman yang pasukan tengkorak iblis lakukan.


Langkah Jaka kemudian sampai pada sebuah lubang yang cukup besar ia dapat menebak bahwa lubang besar itu akibat sebuah pukulan dari seseorang.Jaka berdiri terpaku sambil mengamati keadaan di situ.


"Melihat bekas lubang ini aku yakin disinilah tempat Melati dan Dewi pandan Arum bertarung"desis Jaka.


kemudian Jaka melanjutkan langkahnya sampai keluar sekte untuk mencari Melati dan Dewi pandan Arum.


Di depan perapian ki Balung Waja tampak sedang memegangi lukanya yang semakin membaik .ia sungguh kagum dengan pil yang jaka berikan kepadanya karena dalam waktu singkat saja ia sudah tidak merasakan sakit lagi.


"Selain ilmunya tinggi sepertinya dia juga ahli dalam bidang pengobatan sungguh bakat yang luar biasa, sangat beruntung sekte langit bisa memiliki seorang tetua seperti dia.Sangat berbahaya dan mengerikan akibatnya Jika sekte Petir api berani berurusan dengan dia "batin Ki Balung Waja.


Bukan tanpa alasan Balung Waja berfikir seperti itu,sebab dia tahu persis sejauh mana tingkatan ilmu yang di miliki oleh anaknya Guruh Sujiwo, sangat beda jauh jika di bandingkan dengan Jaka saat ini.


Ki Balung Waja menolehkan kepalanya ke arah kanannya begitu mendengar suara langkah kaki mendekatinya, ternyata Jaka yang datang dengan membawa Seseorang di pundaknya.


setelah sampai di perapian Jaka menurunkan orang itu dengan pelan pelan dan menyandarkan pada tumpukan kayu bekas dinding.


"Siapa wanita itu tetua"tanya Ki Balung.


"Dia Dewi Pandan Arum teman ku Balung Waja"jawab Jaka sambil memeriksa keadaannya.


Jaka kemudian memasukkan sebutir pil ke mulut Dewi Pandan Arum dengan pil itu Jaka berharap dia cepat siuman.


"Tetua temukan dia di mana "tanya Balung Waja.


"Aku temukan dia di sana didekat lubang besar bekas pertarungan Balung waja,tapi aku belum menemukan keberadaan melati "jawab Jaka sambil membersihkan bekas darah di bibir Dewi Pandan Arum.


"Beruntung dia masih hidup tetua"ucap Ki Balung Waja.


" sepertinya para pasukan itu mengira kalau Dewi sudah mati lalu meninggalkannya Balung Waja , untuk sementara kau jagalah Dewi karena aku akan melanjutkan pencarian untuk menemukan melati , mungkin dia juga ada di sana", Setelah berkata seperti itu Jaka kemudian pergi menuju ke tempat yang tadi.


"Aku masih bisa di katakan beruntung dari pada wanita yang bernama Dewi ini, luka ku tidak separah yang dia alami"ucap ki Balung Waja.


Sementara itu, dengan pelan dan hati-hati Jaka menyusuri tempat di mana Dewi Pandan Arum di temukan tadi ia merasa yakin kalau melati juga berada di tempat itu.Nyala obor di tangan Jaka terlihat bergoyang goyang tertiup angin , walau pun tiupan api itu tidak kencang tapi sangat berpengaruh pada nyala api itu.


Jaka terus berjalan dengan menajamkan penglihatannya dengan bantuan obor di tangannya ia berharap dapat menemukan keberadaan Melati.

__ADS_1


Setelah lama mencari Melati di tempat itu, tidak juga menemukannya lalu Jaka berpindah ke tempat lain dan tanpa ia sadari ternyata dirinya sudah keluar agak jauh dari sekte bintang Utara.


"Di mana melati apakah dia sudah mati atau di bawa para pasukan itu"gumam Jaka. merasa putus asa karena tidak menemukan nya.


Jaka kemudian ia menancapkan obornya itu, Jaka menghembuskan nafas panjang untuk melepaskan rasa lelahnya.


Pandangan Jaka menyapu tempat di sekitar obor itu lalu tanpa sengaja ia melihat sebuah benda panjang tergeletak di situ, Jaka kemudian memungut benda panjang itu yang tidak lain adalah sebuah pedang.Jaka mengamati pedang itu dengan cahaya obornya.


"ternyata ini pedang milik Melati, pasti dia berada di sekitar sini", dengan penuh harapan kemudian segera melakukan pencariannya kembali.


Dengan pandangan ke bawah Jaka menyusuri dan mengelilingi kembali tempat itu sampai tak terasa ia sudah mengitari tempat itu lama sekali.Rasa kekecewaan terlihat di wajahnya karena tetap saja tidak menemukan keberadaan melati di tempat itu.


Jaka akhirnya meninggalkan tempat itu dan kembali ke perapian dengan membawa rasa kekecewaan di hatinya.


Malam semakin gelap udara mengalir pelan terasa dingin menyapu kulit ,di sudut halaman depan sekte bintang Utara terlihat nyala api yang melambai lambai tertiup angin,tak lama setelah itu sekelebat bayangan datang di tempat itu.


Balung Waja segera menoleh kepada orang yang baru datang tersebut, melihat raut wajahnya muram Balung Waja bisa mengerti apa yang terjadi.


Balung Waja kemudian berkata,


"Sebaiknya tetua lanjutkan pencarian itu besok pagi, tetua beristirahatlah dulu semenjak dari sekte petir api aku lihat tetua belum beristirahat sedikit pun.


"Kau benar Balung Waja,aku akan melanjutkan mencari melati besok pagi".


Jaka kemudian memeriksa Dewi Pandan Arum yang masih belum sadarkan diri itu, melihat luka luka pada tubuhnya ,ia tahu bahwa Dewi Pandan Arum pasti tekena pukulan yang cukup kuat hingga membuatnya seperti itu.


"Kalian tunggu saja pembalasan dari ku tengkorak iblis"desis Jaka.


"Ada yang ingin aku katakan pada mu"ucap Balung Waja tiba-tiba.


"Katakan saja Balung waja ada apa"jawab Jaka sambil menambahkan kayu bakar ke perapian.


Jaka tersentak mendengar keputusan ki Balung Waja itu , Jaka menatap ki Balung Waja dalam dalam.


"Kenapa kamu bisa mengambil keputusan seperti itu Balung Waja, bukankah sekte Petir api bisa di bangun kembali, lalu apa kata Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung jika mereka tahu kalau sesepuh sekte petir api menjadi pengawal ku"ucap Jaka sambil membuang mukanya ke arah lain.


Ki Balung Waja mengambil nafas panjang mendengar perkataan Jaka itu,ia tidak perduli dengan status dirinya yang merupakan sesepuh dari sekte petir api, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah mengikuti orang yang di anggap pantas dan di kaguminya.


"Aku tidak memikirkan hal itu lagi tetua,sebagai apa pun posisi ku di sekte Petir api aku sudah bulatkan tekad dan niat ku untuk mengikuti tetua, mengenai Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung mereka pasti dapat mengerti setelah aku menjelaskannya "ucap Ki Balung Waja.


"Tapi.....


"Saya mohon pada tetua untuk tidak menolak nya"


Ki Balung waja kemudian berlutut di hadapan Jaka dengan kepala tertunduk dengan harapan Jaka mau menerima keputusannya itu.


Melihat kesungguhan dan keikhlasan Ki Balung waja Jaka pun tidak kuasa lagi untuk menolaknya.


"Jika itu kemauan mu apa boleh buat baiklah aku bersedia jika kau mau tetap bersama ku Balung Waja, karena untuk menghadapi tengkorak iblis orang orang seperti dirimu sangat dibutuhkan "ucap Jaka yang akhirnya mengabulkan permintaan Ki Balung Waja itu.


Dengan perasaan gembira Balung Waja pun mengucapkan terima kasih pada Jaka,ia berjanji akan mengabdi dirinya pada Jaka dan sekte langit.


Karena malam semakin larut dan tidak ada yang di bicarakan lagi mereka berdua akhirnya tertidur .


Keesokan paginya setelah memeriksa luka Dewi Pandan Arum dan ki Balung Waja Jaka segera mencari melati kembali.


...----------------...

__ADS_1


Matahari mulai naik sepenggalah sinarnya hangatnya mulai terasa , angin bertiup sepoi-sepoi menyapa dedaunan dan rumput rumput yang basah karena air embun.Di pagi yang menjelang siang itu terlihat tiga sosok orang berdiri terpaku dengan muka penuh ketegangan melihat pemandangan yang tidak biasa di hadapannya.Tiga sosok itu tidak lain adalah Guruh Sujiwo, Arya Lembayung dan Ranapati.


Melihat dari pakaian yang mereka kenakan tampak lusuh penuh debu dan keringat pastilah mereka baru saja menempuh perjalanan yang sangat jauh.Dan benar saja mereka baru tiba di sekte petir api setelah menempuh perjalanan sehari semalam dari puncak gunung Kemukus.


Ketiga orang itu kemudian melangkah kan kakinya untuk memeriksa seluruh tempat itu, dalam hati mereka bertanya siapa yang telah memporak-porandakan sektenya itu.


Ranapati menghentikan langkahnya dengan pandangan menyapu ke seluruh penjuru.Sementara Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung masih terus menjelajahi tempat itu untuk mencari ayah dan kakek mereka.


"Sungguh perbuatan biadab dan tidak mengenal kemanusiaan"desis Ranapati melihat banyaknya murid yang tewas mengenaskan.


Kemarahan Ranapati terlihat jelas di matanya dengan kehancuran sekte itu, karena di situlah dia lahir dan tinggal sampai besar bersama dengan kakaknya Ki Balung Waja.


Sesaat kemudian Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung menghampiri Ranapati yang masih berdiri terpaku ditempatnya.


"Paman kami berdua tidak menemukan keberadaan ayah"ucap guruh Sujiwo.


"Apakah kalian sudah mencari Kakang di seluruh reruntuhan itu "tanya Ranapati.


"Sudah paman, bahkan kami sudah berulang kali mengitari tempat ini"kata Arya Lembayung.


"Apakah Kakang Balung Waja masih hidup dalam peperangan itu dan saat ini dia sedang bersembunyi untuk menyembuhkan dirinya "gumam Ranapati.


"Menurut kalian siapa yang telah menyerang dan menghancurkan tempat ini"tanya Ranapati dengan kemarahan yang tertahan.


Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung tidak segera menjawab pertanyaan pamannya itu, mereka berdua terlihat sedang berfikir siapa kira kira yang mampu mengalahkan kakeknya itu.


Setelah lama berfikir Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung akhirnya mengambil keputusan kalau yang menyerang kakeknya itu pastilah jaka dan seluruh pasukan sekte Langitnya.


Karena selain Sekte langit kakek tidak pernah menyinggung sekte lain,hal itulah yang menjadi pemikiran Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung.


"Aku yakin kalau ini adalah perbuatan sekte langit paman ,mereka dendam karena waktu itu kami telah menyerang mereka "ucap Arya Lembayung.


"Saya sependapat dengan Arya Lembayung,ini pasti perbuatan Jaka dan seluruh pasukannya aku bisa jamin itu paman"imbuh guruh Sujiwo.


"Kurang ajar ,secepatnya kita harus membuat perhitungan dengan mereka ",Ranapati mengepal kencang mendengar penjelasan dari Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung itu.


Rasa dendam dan benci seketika hadir dan tumbuh subur di hatinya kepada Jaka dan sekte Langitnya.Rasa dendam itu tidak akan hilang sebelum dirinya menghancurkan sekte langit menjadi rata dengan tanah.


"Dengarkan kalian berdua, mulai sekarang aku akan hadir kembali di dunia persilatan, yang tadinya hanya sekedar ingin membantu kalian balas dendam saja setelah itu kembali ke gunung Kemukus, saat ini aku putuskan untuk membantu kalian membangun dan memperkuat sekte ini "ucap Ranapati.


Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung merasa senang mendengar keputusan pamannya itu, dengan hadirnya dia maka orang akan berfikir dua kali jika mau berurusan dengan mereka.


Ranapati adalah seorang pendekar yang kesaktiannya diatas para tokoh tokoh tuan dunia persilatan, ilmu yang di milikinya dapat di sejajarkan dengan Paksi Darma bahkan bahkan untuk saat ini biasa lebih tinggi lagi setelah lama menempa dirinya dengan menyepi di gunung Kemukus.


Sekte Petir api pernah merajai dan menjadi sekte terkuat pada masa lalu, waktu itu jabatan tetua masih di pegang oleh Ki Balung waja yang didampingi oleh Ranapati.Pada waktu itu semua sekte di benua Utara akan berfikir seribu kali jika ingin berurusan dengan sekte Petir api.Bahkan sekte Api angin yang sekarang menjadi sekte terkuat di benua Utara dulu harus tunduk di bawah kaki Ki Balung Waja.


Tapi beberapa tahun kemudian setelah Ranapati dan ki Balung Waja mundur dari dunia persilatan dan posisi tetua di gantikan oleh Guruh Sujiwo perlahan lahan posisi sekte petir api mulai tergeser oleh sekte Api angin.


Alasan Ranapati dan Balung Waja mundur dari dunia persilatan adalah karena mereka ingin menenangkan diri dan menjauhi hiruk-pikuknya dunia persilatan yang penuh dengan darah dan pembunuhan.


"Untuk menyerang sekte langit kita memerlukan banyak pasukan paman karena di sana banyak terdapat orang orang kuat"ujar guruh Sujiwo mengingatkan adik ayahnya itu.


"Tanpa kau beritahu pun aku sudah paham dengan keadaan di sekte langit guruh Sujiwo"ucap Ranapati sambil memandangi puing-puing reruntuhan di depannya.


"Apakah paman bermaksud untuk meminta bantuan pada sekte lain "tanya Arya Lembayung yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka berdua.


"Tidak lembayung apa kamu pikir selama di gunung Kemukus aku hanya berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa, coba kalian lihat ini"

__ADS_1


Ranapati kemudian menyentil kan ujung jarinya tiba-tiba asap tebal muncul dan memenuhi tempat itu. Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung memandang tanpa berkedip pada asap tebal di depannya , mereka ingin tahu apa yang di lakukan oleh pamannya itu.


__ADS_2