Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Sekte Mawar merah


__ADS_3

Hari itu tepat tengah hari ketika sang surya berada di titik tertinggi tidak seperti biasanya, di puncak Gunung petir sama sekali tidak kelihatan awan putih menggantung. Sinar matahari yang tidak terhalang menebar terik mulai dari puncak sampai ke lereng bahkan kaki gunung.Angin tidak sedikitpun berhembus udara terasa panas luar biasa dan kesunyian mencekam hampir di setiap penjuru.


Terlihat seekor alap alap terbang mengitari gunung itu seakan akan sedang mencari mangsa untuk makan siangnya.


Pohon pohon hijau nampak tertata rapi bak lukisan yang agung di sekitar gunung itu.


Tepat di puncak gunung itu terdapat bangunan megah laksana istana yang yang berdiri sudah ratusan tahun lamanya itulah Sekte Langit.


seorang paruh baya berdiri menatap tajam pada sekumpulan orang-orang yang sedang berlatih ilmu Kanuragan, sesekali orang itu menganggukkan kepalanya sesekali juga tersenyum , dia lah Paksi Darma yang saat itu sedang mengawasi para murid sekte Langit yang sedang berlatih.


Panas teriknya matahari siang itu tidak menghalangi niat para murid yang sedang berlatih di halaman depan sekte ,dari raut wajah mereka nampak terlihat penuh dengan semangat jiwa muda yang bergelora.


Di sana sini tampak terdengar bunyi gemerincing suara pedang beradu satu sama lain,sesekali terdengar benturan ledakkan tenaga dalam yang semakin membuat suasana semakin panas.


Itulah suasana latihan di sekte Langit siang itu yang telah kedatangan beberapa penghuni baru seperti Lestari, Arini Sinta dan Bagus Dento.


Setelah melakukan seleksi pemilihan murid oleh sesepuh Paksi Darma dan sesuai anjuran dari Jaka yang merupakan tetua sekte, Sinta dan Arini di berikan latihan khusus oleh Narantaka dan akan di jadikan pasukan mata mata, sedangkan lestari dan Bagus Dento sebagai pasukan pencari jejak.


Jaka dan Paksi Darma sudah mengamati bakat para pendatang baru itu, sehingga Paksi Darma langsung turun tangan sendiri untuk membimbing mereka.


Di hari yang lain di sebuah ruangan yang luas serta indah dan bersih Jaka terlihat sedang berbincang-bincang dengan sesepuh Paksi Darma, dalam pembicaraan itu berkali-kali jaka terlihat mengerutkan keningnya, sepertinya ada sesuatu hal yang membuatnya harus berfikir keras.


"Sesepuh Paksi aksi Darma mulai saat ini seluruh orang orang di sekte ini aku minta untuk selalu waspada dan hati hati"ucap Jaka tiba-tiba.


Paksi Darma mengerutkan keningnya


mendengar perkataan Jaka itu.


"Apakah karena sekte ini terlibat dalam peperangan kemarin sehingga tetua berkata begitu"ucap Paksi Darma, mencoba menebak arah pembicaraan Jaka.


"Benar,aku yakin ada sekte besar di balik penyerangan sekte kumbang merah kemarin itu "ucap Jaka dengan serius.


"Apakah kita perlu meningkatkan penjagaan tetua "tanya Paksi Darma.


"Tidak.. tidak perlu sampai seserius itu saya kira ,tapi cukup waspada saja "ucap Jaka.


"Dan perlu ku sampaikan untuk saat ini , jangan menerima murid baru untuk sementara demi keamanan "ucap Jaka menambahkan.


"Jika itu yang tetua pesan kan , baiklah saya akan laksanakan semua perintah tetua "ucap Paksi Darma.


"Sesepuh , untuk beberapa hari ke depan seperti nya aku harus meninggalkan sekte ini"ucap Jaka.


"Memang ada apa tetua, bukan kah semua sudah ada di sini"ucap Paksi Darma dengan terkejut.


"Ratih dan teman temannya memang semua sudah ada di sini,aku berencana untuk pergi ke kampung halaman ku sesepuh ,yah... untuk sekedar melepas kangen, sudah lama aku ingin ke sana dan mungkin ada hal yang baru di sana"ucap Jaka.


"Jika itu keinginan tetua aku tidak bisa mencegahnya, namun ada satu hal yang harus tetua ketahui , yaitu tentang sekte mawar merah yang kini sudah mulai bangkit lagi "ucap Paksi Darma.


"Sekte mawar merah , kenapa aku baru tahu sesepuh coba kau jelaskan pada ku"pinta Jaka merasa tertarik.


"Baiklah "ucap Paksi Darma sambil membetulkan posisi duduknya.


"Begini tetua, sekte mawar merah adalah sekte yang di pimpin oleh seorang wanita yang bernama Nyai Konde Mas, sekte itu kini di kabarkan sedang menyebarkan teror di mana mana , untuk itu kalau nanti tetua bertemu dengan seorang wanita cantik harap tetua hati hati jangan sampai terkena bujuk rayunya itu pesan saya tetua "ucap Paksi Darma mengkhawatirkan tetuanya itu, karena mudah sekali akrab dengan para wanita.


"Apa hubungannya dengan ku sesepuh, kenapa kau bicara begitu "tanya Jaka , karena dirinya merasa di sindir.


"Maaf tetua, jujur saja aku khawatir dengan tetua yang mudah bergaul dengan para wanita,jadi untuk keselamatan tetua sebaiknya kali ini untuk berhati-hati "ucap Paksi Darma.


"Baiklah sesepuh Paksi Darma ,akan ku ingat semua perkataan mu,tapi kamu tidak mengolok olok aku yang bukan bukan kan tentang wanita"ucap Jaka sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"tidak.... tidak...aku tidak berani tetua "ucap Paksi Darma dengan tercekat karena di kira menyindir Jaka.


"Oh ya tetua, Arini dan Sinta sudah saya masukkan untuk ikut kelompok mata mata sesuai yang tetua perintahkan"ucap Paksi Darma.


"Bagus Paksi Darma,aku ingin mereka di berikan pelatihan yang cukup untuk bekal tugas mereka nanti "ucap Jaka.


"Tetua tidak perlu khawatir,selain pelatih mata mata, mereka juga akan aku berikan pelatihan sebagai pembunuh yang dapat bergerak senyap serta sulit di lacak "ucap Paksi Darma.


Jaka mengangguk kan kepalanya mendengar penjelasan dari Paksi Darma itu.


Jaka percaya bahwa kualitas murid murid sekte Langit tidak ada yang mengecewakan, karena ia sudah bisa membuktikan sendiri , contohnya Melati yang selalu bisa menyelesaikan tugas yang jaka berikan dengan baik.

__ADS_1


"Kurasa begitu lebih baik sesepuh Paksi Darma, karena tidak lama lagi kita mungkin akan menghadapi musuh yang sangat kuat"ucap Jaka.


"Jadi tetua sudah memperhitungkan semua itu"tanya Paksi Darma.


"Benar ,karena itu kau bimbinglah semua murid murid dalam berlatih "ucap Jaka.


"Tetua jangan khawatirkan itu semua, akan saya lakukan yang terbaik untuk sekte ini "ucap Paksi Darma.


"Kalau begitu, secepatnya aku harus segera berangkat ku serahkan tanggung jawab sekte ini pada mu"ucap Jaka sambil melangkah keluar.


"Tapi melati tetap ikut dengan tetua kan"tanya Paksi Darma memastikan keikutsertaan melati.


"Ya tentu saja "ucap Jaka.


"Baiklah kalau begitu aku bisa tenang di sini sambil menunggu tetua kembali "ucap Paksi Darma, sambil menatap kepergian Jaka.


Setelah berbincang bincang dengan Paksi Darma tentang maksud kepergiannya itu jaka segera melangkah keluar sekte langit .


Jaka melesat cepat meninggalkan sekte langit langit dengan di ikuti melati di belakangnya, kemana pun Jaka pergi Melati selalu menyertainya, karena melati mempunyai tugas khusus yaitu menjaga sekaligus melindungi keselamatan tetua Sekte.


Walau pun melati adalah seorang wanita tapi kemampuannya sudah tidak perlu di ragukan lagi , untuk menjadi petugas keamanan tetua sekte dia sudah menjalani latihan khusus dan penempaan fisik dan kekuatannya yang setara dengan para pendekar pilih tanding bahkan bisa juga dikatakan sudah masuk kelas pendekar tanpa tanding (pendekar yang sulit di cari tandingnya).


Jaka mempercepat langkahnya slaaaap..... slaaaap.... karena sepertinya ia sudah tidak sabar ingin segera cepat sampai di tempat yang di tujuannya, melati pun demikian ia juga mempercepat langkahnya setelah melihatnya jaka mempercepat gerakannya.


Setelah cukup lama berjalan kemudian mereka berdua tiba di sebuah desa yang kelihatan sangat sepi, karena tidak terlihat satu orang pun di sana.


Jaka menghentikan langkahnya sambil menyapukan pandangannya ke sekitar desa itu.


Dalam hatinya Jaka bertanya tanya kenapa di desa yang sebesar ini tidak ada penduduk satu pun.


"Melati apakah kau merasa aneh dengan desa ini"ucap Jaka serasa berjalan dengan pelan pelan.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan desa ini tetua"ucap Melati sambil memperhatikan keadaan di sekitar desa itu.


"Sepertinya begitu Melati,mari kita cari tahu ada apa dengan desa ini, kenapa tidak ada tanda tanda adanya para warga,kemana perginya mereka semua "ucap Jaka dengan penasaran.


"Tetua saya menemukan ini "ucap melati sambil memperlihatkan benda yang di temukan nya tadi.


"Bunga mawar..., apakah menurut mu hilangnya para penduduk desa ini berhubungan dengan mawar ini, Melati "ucap Jaka.


"mmmm.......ya...ya ... benar juga apa kata mu melati"ucap Jaka langsung teringat dengan perkataan Paksi Darma sebelum pergi.


"Kalau begitu ayo kita telusuri lebih dalam desa ini siapa tahu kita dapat petunjuk yang lainnya "ucap Jaka seraya berjalan .


"Baiklah tetua "ucap melati.


Jaka dan Melati segera menelusuri desa itu , suasana yang sepi dan lengang terasa menyelimuti di segala penjuru tempat di desa itu, mereka berdua terus melanjutkan langkahnya sampai memasuki gang gang di seluruh desa itu namun keadaan tetap sama seperti di tempat lain.


"Sepertinya tidak ada petunjuk lain selain bunga mawar tadi tetua"ucap melati setelah menjelajahi seluruh tempat itu.


"kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan,ku rasa kita sudah banyak membuang waktu di tempat ini"ucap Jaka.


Merasa tidak menemukan petunjuk apa pun , Jaka memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya yaitu menuju ke desa Sekaten.


Desa Sekaten adalah desa di mana jaka dan ibunya pernah tinggal di tempat itu serta juga dengan ayahnya waktu dia masih kecil.


"Melati , apakah kau pernah mendengar tentang sekte Mawar merah"ucap jaka di sela sela perjalanannya.


"Benar tetua,"jawab Melati singkat.


"Apakah menurut mu sekte mawar merah ada hubungannya dengan kejadian di desa yang baru saja kita lewati melati "tanya Jaka.


"Mereka patut di curigai tetua, jika melihat bunga mawar yang kita temukan tadi "ucap Melati.


Jaka merenungkan perkataan melati itu, memang tidak ada salahnya jika sekte mawar merah di curigai.


Ketika Jaka dan Melati sedang berjalan itu dari arah depan mereka terlihat iring-iringan prajurit yang mengawal sebuah tandu dengan pengawalan yang sangat ketat oleh orang orang berkuda dan berjalan kaki yang jumlahnya sekitar dua ratusan orang.


Para pengawal berkuda itu terlihat kekar dengan wajah penuh ketegasan dan sepertinya mereka itu bukan orang orang biasa.


"Sepertinya ada rombongan kerajaan tetua "ucap Melati setelah memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh penunggang kuda di depan tandu itu

__ADS_1


"Sepertinya begitu ,tapi dari kerajaan mana mereka melati "ucap Jaka, tidak mengerti.


"Kalau tidak salah, menurut saya mereka dari kerajaan Sangguling jika di lihat dari bendera tetua "ucap Melati.


"Kerajaan Sangguling... bukan kah kerajaan itu yang sekarang sedang berseteru dengan kerajaan Tataran Melati "ucap Jaka.


"Benar tetua "ucap melati.


Tidak lama kemudian iring iringan rombongan itu pun lewat di hadapan Jaka dan Melati, Jaka memperhatikan tadu yang di bawa rombongan itu.


"Sepertinya dalam tandu itu membawa seorang putri "ucap Jaka, setelah iring iringan itu berlalu dari hadapannya.


"Kenapa tetua bisa berkata begitu, padahal kan tandu itu tertutup rapat "tanya melati.


Jaka tercekat mendengar ucapan melati itu,ia tidak menyangka jika melati akan berkata seperti itu.


"Aku cuma menebak saja dari bau harum wangi tadi melati"ucap Jaka beralasan.


Melati menggelengkan kepalanya dengan sikap tetuanya itu.


"Sudah lah kita tidak perlu membahas soal itu"ucap Jaka kemudian melakukan perjalanan nya.


Sesaat kemudian sampailah mereka berdua di desa Sekaten, keadaan di desa itu sekarang sudah banyak yang berubah tidak seperti sepuluh tahun yang lalu,hal itu membuat Jaka bertanya tanya.


"Apakah ini desa tetua waktu kecil , kenapa sepi sekali"tanya melati , ketika melihat jaka berdiri mematung dengan tatapan mata memandangi ke seluruh penjuru desa itu.


"Benar melati inilah tempat kelahiran ku waktu kecil,aku benar benar tidak menyangka kalau sekarang sudah menjadi seperti ini"ucap Jaka menjelaskan.


"Melati ayo ikut aku "ucap Jaka, seraya melangkah, namun tiba-tiba bruuuk... seorang anak muda menabraknya dari arah sampingnya karena terburu-buru.


"maaf kan saya tuan"ucap anak muda itu setengah ketakutan.


"Tidak apa apa,lain kali hati hati"ucap Jaka.


"Baik tuan"ucap pemuda itu.


"Tunggu ada yang mau saya tanyakan pada mu"ucap Jaka ketika pemuda tadi mau pergi.


"Apakah saudara penduduk asli desa ini"lanjut Jaka.


"Benar tuan saya penduduk asli desa ini"jawab anak muda itu.


"Aku ingin tanya sesuatu pada saudara, boleh minta waktunya sebentar"ucap Jaka.


"Silahkan tuan mau tanya apa"ucap pemudanya itu.


"Apakah saudara tahu rumah Darsiman"tanya Jaka.


Mendengar pertanyaan Jaka itu pemuda tadi tampak pucat dan gemetaran seperti terkena sesuatu.


"Tuan ada hubungannya apa dengan tuan Darsiman"tanya pemuda itu dengan gelisah tak menentu.


Jaka dan melati merasa heran dengan sikap pemuda di hadapannya itu.


"Tuan ada hubungan apa dengan tuan Darsiman"ucap pemuda tadi mengulangi pertanyaannya.


"Dia teman lama ku"ucap Jaka berbohong karena sebenarnya Darsiman adalah pamannya.


Mendengar pengakuan Jaka itu pemuda tadi jadi gemetaran setengah mati.


"Kenapa saudara begitu ketakutan mendengar saya adalah temannya Darsiman"tanya Jaka.


"Apakah tuan tidak tahu kekejaman tuan Darsiman"tanya pemuda itu.


"Memangnya apa yang telah di lakukan oleh dia sehingga membuat saudara begitu ketakutan"tanya Jaka, dengan rasa penasaran sekali.


"Begini tuan , Darsiman sekarang adalah orang yang paling di takuti bahkan di segani di kampung ini , karena dia sekarang menjadi kaki tangan sekte mawar merah"ucap pemuda itu.


Jaka dan Melati langsung tercekat mendengar sekte mawar merah di sebut oleh pemuda di hadapannya itu.


"Kenapa sekte mawar merah begitu di takuti apa yang telah mereka lakukan pada desa ini"tanya Jaka.

__ADS_1


"Tuan bisa lihat sendiri keadaan di desa ini yang begitu sepi,itu semua ulah Darsiman dan sekte mawar merah yang menangkap seluruh penduduk untuk di jadikan budak"ucap pemuda itu.


"Apa....jadi ternyata benar, ini semua ulah sekte mawar merah "ucap Jaka.


__ADS_2