
Kalapati langsung berkelebat meninggalkan Jaka sendirian di halaman depan.
Begitu sampai di dalam Kalapati langsung memanggil mereka.
"Sapta Darma dan Nawang Sari keluarlah"teriak Kalapati.
Namun tidak ada sahutan dari mereka berdua, hal itu membuat Kalapati langsung naik darah.
Sapta darma dan Nawang Sari cepat keluar "ulang Kalapati.Namun tetap saja tidak ada jawaban
"Maaf tetua Sapta Darma dan Nawang Sari sudah pergi ketika pemuda itu datang"ucap salah seorang muridnya.
"Apa...!!! kurang ajar rupanya mereka takut pada Jaka"ucap Kalapati, kemudian langsung berkelebat kembali menemui Jaka.
Mengetahui Ratih tidak ada di sekte Api angin Jaka segera mengalihkan perhatiannya pada sekte Petir Api.Ia yakin bahwa Ratih di sana.
"Maaf Jaka ternyata mereka berdua sudah pergi sejak tadi tanpa sepengetahuan ku"ucap Kalapati.Ketika sudah sampai di hadapan Jaka.
"Kalau begitu biarlah akan aku urus mereka lain kali"ucap Jaka kemudian melesat pergi.
Kalapati merasa lega setelah Jaka pergi meninggalkannya,ia segera menghampiri Kalawuni yang tergeletak pingsan itu dan segera menyuruh beberapa muridnya untuk membawa Kalawuni masuk ke dalam .
Tidak lama setelah itu tabib pun datang untuk mengobati luka lukanya.Melihat luka yang di alami Kalawuni sang tabib pun menggelengkan kepalanya karena luka itu sangat parah.
Kalawuni bisa dikatakan beruntung karena tidak terkena langsung oleh pukulan Jaka itu sehingga nyawanya masih bisa tertolong.
Di ruangan tengah Kalapati duduk termenung seorang diri hanya di temani dua buah botol tuak di atas mejanya, pikirannya masih teringat akan kejadian siang tadi.
Ia tidak menyangka kalau Jaka murid Terpasura adalah tetua sekte langit yang terkenal itu.
Mengetahui kenyataan itu Kalapati merasa posisi sekte Api Angin sebagai sekte terkuat akan segera tergeser oleh kebangkitan sekte bintang Utara yang di dalamnya ada Jaka di sana.
Pusing memikirkan hal itu Kalapati kemudian mengambil botol tuaknya lalu minum sampai mabuk.
Sementara itu perjalanan jaka ke sekte Petir api tidak memerlukan waktu yang lama karena jarak kedua sekte itu saling berdekatan.
Ketika Jaka sampai di sana suasana sekte itu tampak sepi lenggang ,tidak ada kegiatan sama sekali yang di lakukan oleh para murid hanya terlihat beberapa murid saja yang berlalu lalang.
Melihat suasana sepi itu Jaka yang saat itu berdiri di atas pintu gerbang segera turun.
Jaka berjalan sambil mengedarkan pandangannya menyapu tempat itu kemudian melihat dua orang berlari menuju ke arahnya.
"Berhenti...!!"teriak salah satu orang itu.
Jaka pun segera menghentikan langkahnya dan menatap kedua orang itu.
"Siapa kamu "tanya orang itu .
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku ,di mana tetua kalian guruh Sujiwo dan Ki Balung Waja cepat suruh mereka keluar, kalau tidak akan aku hancurkan tempat ini sampai rata dengan tanah"ucap Jaka.
"kurang ajar ..!!! teriak salah satu orang itu.
Jaka langsung mencengkram leher orang yang berteriak tadi itu , hingga membuatnya membuatnya susah bernafas.
"Lepaskan dia hiiiiaaaat.... temannya langsung menyerang, Jaka langsung menyambut orang itu dengan memberikan tendangan hingga membuatnya jatuh tersungkur seketika.
"Cepat suruh guruh Sujiwo dan ki Balung waja Keluar"tanya Jaka dengan melotot tajam kepada orang yang di cengkram itu.
"Ba...ik tuan"kata orang itu .
Jaka kemudian melepaskan cengkeramannya karena merasa kasihan pada orang itu.
Kedua orang itu langsung berlari masuk kedalam dengan rasa ketakutan.
Ki Balung Waja yang saat itu sedang duduk di halaman belakang merasa heran melihat dua muridnya berlarian seperti di kejar setan.
"Ada apa dengan kalian kenapa ketakutan seperti itu"tanya ki Balung Waja.
"Ada seorang pemuda yang mencari sesepuh dan tetua dia sedang menunggu di depan"ucap salah satu murid itu dengan terengah-engah.
"Seorang pemuda siapa dia"tanya ki Balung Waja.
"Dia tidak memberi tahu siapa namanya sesepuh dan dia mengancam akan menghancurkan tempat ini "ucap muridnya itu.
"Lancang sekali dia berkata seperti itu "ucap Ki Balung Waja.
Ki Balung Waja langsung bangkit dari duduknya dengan mengepalkan jari jarinya, ia sangat marah mendengar orang itu mau menghancurkan kediamannya.
Ki Balung Waja segera melesat menuju ke depan untuk melihat orang yang berani berkata lancang itu.
__ADS_1
Begitu sampai di depan, muka Ki Balung waja seketika menjadi pucat pasih mengetahui orang yang datang itu adalah Jaka,ia cemas kalau Jaka tidak terima dirinya menyerang sekte langit waktu itu.
"Kita bertemu lagi Balung Waja"ucap Jaka dengan tenang.
"Tidak ku sangka hari ini aku mendapatkan kunjungan dari tetua sekte langit"ucap Ki Balung Waja dengan bersikap tenang sebisa mungkin.
"Hmm...dengus Jaka.
"Angin apa kira kira yang membuat tetua sudi datang kemari"tanya Ki Balung penuh selidik.
"Dengar Balung Waja kedatangan ku ke sini karena menyangkut keselamatan seseorang yang sangat berharga dalam hidup ku,dia adalah seorang gadis yang bernama Ratih"ucap Jaka, sambil menatap mukanya ingin tahu bagaimana reaksinya mendengar itu.
"Aku tidak mengerti apa maksud tetua "tanya Ki Balung Waja.
"Kemarin Ratih hilang dari sekte bintang Utara dan aku mencurigai kalau kamu dan Guruh Sujiwo ada di balik hilangnya Ratih itu Balung Waja"ucap Jaka menjelaskan.
"Tunggu dulu...!!! atas dasar apa tetua menuduh saya seperti itu "ucap ki Balung Waja .
"Tentu saja karena kau pernah datang ke sekte langit untuk memburu peta itu Balung Waja "ucap Jaka.
"Walau pun begitu tapi aku dan guruh Sujiwo tidak pernah melakukan hal pengecut seperti itu .Kalau tetua tidak percaya silahkan geledah tempat saya ini"ucap Ki Balung Waja mempersilahkan dengan suka rela Jaka menggeledah seisi rumahnya.
Jaka terdiam sejenak mendengar pengakuan dari Ki Balung Waja itu, kalau dia memang menculik Ratih pasti dia akan langsung menanyakan tentang peta itu dan memperketat penjagaan, tapi dia tidak melakukan hal itu.
Jaka menarik nafas panjang kemudian timbul rasa bimbang dalam hatinya antara percaya dan tidak pada ucapan Ki Balung Waja,tapi jika di lihat dari sorot matanya Ki Balung Waja sepertinya tidak mengandung kebohongan.
"Baiklah aku percaya pada mu Balung Waja"ucap Jaka,seraya membalikkan badannya bermaksud meninggalkan tempat itu.
Tetapi ketika Jaka akan pergi dari tempat itu tiba-tiba muncul seseorang berbadan besar berdiri di depannya dengan jarak lima tombak.
"Balung Waja lama tidak jumpa..."ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di depannya dengan tersenyum menyeringai.
Ki Balung Waja langsung terkejut begitu mengenali orang yang baru datang itu.
"Kau.....kau...kau...,ki Balung Waja tidak dapat bisa berkata dengan lancar karena saking terkejutnya.
"Kau pasti terkejut dengan kedatangan ku kemari Balung Waja"ucap orang itu.
"Siapa dia Balung Waja, kenapa kau ketakutan seperti itu "ucap Jaka dengan heran.
"Dia adalah Senopati iblis Kumbara "ucap Ki Balung Waja.
"Apa tujuan mu datang ke tempat ku Kumbara, aku tahu kau pasti punya maksud tidak baik "tanya Ki Balung Waja.
Bagaikan disambar petir Jaka mendengar orang yang bernama Kumbara menyebut nama tengkorak iblis.,Jaka menggigit bibirnya serta mengepalkan tangannya bertanda kemarahannya sudah memuncak.
"Jadi rupanya kau yang telah menghancurkan sekte bintang Utara malam itu biadab"ucap Jaka dengan rasa marah.
"Benar, tuan ku bermaksud menghancurkan seluruh Sekte di benua ini tanpa terkecuali hari ini"ucap Kumbara.
"ini benar benar gawat kalau itu sampai terjadi "batin ki Balung Waja.
"Semua para murid bersiaplah Kalian semua "teriak Ki Balung Waja kepada seluruh murid muridnya.
"Haaa.....haaa...haaa... kerahkan yang kau punya Balung Waja"teriak Kumbara dengan tertawa terbahak bahak.
sejurus kemudian para murid murid itu sudah berbondong bondong menuju kearah depan dengan memegang senjata masing masing di tangannya.
"Kau harus membayar atas terbunuhnya tetua Terpasura Kumbara"ucap Jaka.
Hiiiiaaaat ...Jaka langsung melesat menyerang Kumbara yang ada di depannya ,namun ketika serangan jaka hampir mengenainya Kumbara tiba-tiba lenyap dari hadapannya.
"Kurang ajar"maki Jaka,lalu mengedarkan pandangannya dan mendapati Kumbara melayang di atasnya.
"Rupanya kau sudah tidak sabar untuk menjemput kematian mu anak muda"ucap Kumbara sambil menatap Jaka dalam dalam..
"Hati hati tetua"teriak ki Balung Waja sambil waspada.
"Seraaaaang.....!!!!"teriak Kumbara.
Seketika itu muncullah pasukan yang begitu menyeramkan tubuhnya kecil, kukunya tajam ,dengan dua taring di mulutnya dalam jumlah yang cukup besar hingga memenuhi seluruh tempat itu.
Ki Balung Waja dan Jaka terkejut melihat kemunculan pasukan yang banyak itu, apa lagi dengan wujud yang begitu menyeramkan,para pasukan itu langsung bergerak menyerang ke arahnya.
"Tidak akan ku biarkan kalian mengacak acak tempat tinggal ku ini.Seraaaaang...."teriak Ki Balung Waja memberikan komando kepada seluruh muridnya.
Dalam sekejap pertarungan pun langsung terjadi di tempat itu , sreet.... kressss.... ... terdengar suara pedang menembus badan dengan di ikuti erangan kematian.
Ki Balung Waja dengan senjata tombaknya langsung mengamuk begitu melihat banyaknya para murid berjatuhan.
__ADS_1
Jaka yang semula berniat menghadapi Kumbara harus mengalihkan perhatiannya setelah melihat pasukan Ki Balung Waja terdesak.
Duuuaaarrr.... duuuaaarrr.. duuuaaarrr... pasukan Kumbara seketika hancur menjadi berkeping-keping,setelah pukulan Guntur seribu yang Jaka lepaskan menghantam para pasukan itu.
kemudian dengan jurus sepuluh langkah malaikatnya Jaka bergerak cepat menyerang para pasukan itu dess....dess.... dalam sekejap saja puluhan orang pun tewas di tangan Jaka.
Jeritan melengking tinggi ketika pedang pasukan Kumbara kembali memakan korban.
Hiiiiaaaat.....ki Balung waja melemparkan tombaknya wesss.... tombak itu meluncur deras bagaikan anak panah.Akh......!! terdengar jerit kematian dari para pasukan Kumbara setelah badannya tertembus oleh tombak Balung Waja itu.
Melihat sepak terjang Jaka dan Ki Balung Waja itu Kumbara malah tersenyum menyeringai, seperti dia tidak merasa khawatir dengan para pasukannya walau banyak yang mati di tangan mereka.
Haaa....haaa...serang terus.. habisi mereka semua "teriak Kumbara kepada para pasukannya.
Duuuaaarrr.... duuuaaarrr..... duuuaaarrr.... Jaka kembali melepaskan pukulannya membuat puluhan orang pun langsung terkapar.
Para murid sekte Petir Utara terus berjatuhan mereka tampaknya mereka bukanlah lawan dari pasukan Kumbara itu.
"Tetua sepertinya percuma saja kita membunuh mereka, karena jumlah mereka sepertinya tidak berkurang sama sekali"teriak Ki Balung Waja kepada Jaka.
"Benar Balung Waja mahluk macam apa sebenarnya mereka ini"jawab Jaka sambil terus melancarkan serangannya.
Ki Balung Waja mengerahkan kekuatannya hiiiiaaaat...... hiiiiaaaat......!!!! wuusss....... sebuah pukulan dengan kekuatan besar langsung menerjang para pasukan Kumbara duuuaaarrr...........!!! musnahlah sebagian besar dari pasukan itu.
"Huuuuh..... huuuuh.......nafas ki Balung Waja tersengal-sengal setelah melepaskan pukulan dengan tenaga besar..
"Apa.....!!!!"ki Balung terperanjat begitu melihat pasukan yang telah hancur itu kembali berdiri.
Dees.... sebuah pukulan tiba-tiba menghantam ki Balung Waja tanpa ia sadari kedatangannya.
Gedebuuuk.....!!!!
Ki Balung Waja pun terjatuh dengan terluka bagian pundaknya.
"Akh... kurang ajar kau Kumbara"maki Ki Balung Waja.
Melihat balung Waja terjatuh para pasukan itu langsung menyerangnya, sepertinya mereka merasa mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya.
"Celaka orang tua itu , Jaka langsung bergerak cepat sambil melancarkan pukulannya.
wuuuuus....duuuaaarrr...... duuuaaarrr.. pasukan yang berusaha menyerang Ki Balung Waja pun langsung hancur berkeping-keping, namun kembali utuh seperti semula.
Jaka langsung menyambar tubuh Ki Balung Waja yang tergeletak itu dan langsung membawanya menjauh dari pertarungan itu.
"Balung Waja kau masih bisa bertahan"tanya Jaka.
Ki Balung Waja menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Jaka itu.
Para murid sekte Petir api pun tewas semua di tangan para pasukan itu, yang masih hidup dalam peperangan itu hanya Jaka dan Ki Balung Waja saja.
"Menyerahlah kalian berdua dan serahkan nyawa kalian dengan suka rela karena hari ini adalah hari di mana seluruh sekte di benua Utara ini akan di hancurkan"ucap Kumbara.
"Seluruh sekte di benua Utara di hancurkan apa maksud dari ucapannya itu "ucap Jaka sambil membalut luka ki Balung Waja.
"Gawat tetua sepertinya hari ini ada gerakan serentak untuk menghancurkan seluruh sekte di benua ini"ucap Ki Balung Waja.
"Jangan jangan sekte Api Angin dan sekte bintang Utara saat ini juga sedang di serang "ucap Jaka dengan khawatir pada keselamatan seluruh muridnya yang ada di sekte bintang Utara.
"Sepertinya memang begitu tetua"ucap Ki Balung Waja terlihat kesakitan.
Jaka kemudian berdiri setelah selesai membalut luka Ki Balung Waja itu,ia menatap tajam pada Kumbara dan seluruh pasukannya yang sedang bergerak menuju ke arahnya.
"Terima serangan ku Kumbara, hiaaaaat.... Jaka mengerahkan kekuatannya hingga badannya sampai bergetar beberapa kali.
Merasakan kekuatan Jaka yang begitu besar para pasukan iblis itu menghentikan langkahnya ,karena merasa tertekan dengan kekuatan Jaka itu.
"Kekuatan macam apa ini kenapa tekanannya begitu kuat"ucap Kumbara sambil mengerahkan kekuatannya untuk menekan balik kekuatan Jaka itu.
"Terimalah ini, pukulan badai seribu Guntur hiiiiaaaat... wuuuuus....jaka melepaskan pukulannya lalu duuuaaarrr..... ledakan besar menghantam seluruh pasukan itu hingga membuat mereka bercerai berai ,Kumbara pun juga tidak luput dari serangan itu ia pun juga ikut terpental.
Halaman depan sekte yang semula rapi dan indah kini menjadi begitu berantakan disana sini. Semuanya terlihat kacau sekali akibat pukulan yang Jaka lepaskan tadi.
Pasukan Kumbara yang tadi hancur menjadi berkeping-keping terlihat bergerak gerak menyatu kembali .
"Biadab, kurang ajar siapa pemuda itu "maki Kumbara mendapati tubuhnya terasa sakit semua.
Kumara bangkit berdiri berniat membalas serangan Jaka tadi , tetapi sudah tidak mendapati Jaka dan Ki Balung Waja lagi di tempat itu.
"Kurang ajar aku telah di pecundangi mereka, kalian semua cepat hancurkan tempat ini sampai rata"teriak kumbang dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
Para pasukannya langsung bergerak begitu mendengar seruan dari Kumbara itu, mereka segera mengobrak abrik seluruh bangunan yang ada di situ hingga rata.
Setelah melepaskan pukulan badai seribu Guntur Jaka langsung melesat pergi dari situ dengan membawa Ki Balung Waja,ia langsung meluncur ke sekte bintang Utara karena khawatir dengan keadaan di sana.