
Setelah tinggal tiga hari tiga malam di sekte es akhirnya Rawa Candra kembali ke sekte kumbang merah dengan penuh kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang di harapkan.
Dalam perjalanan pulang itu Rawa Candra dihentikan oleh seorang pria tua dengan membawa sebuah tongkat di tangannya.
"Tolong berhenti tuan!!! ucap pak tua itu.
"Ada apa pak tua menghentikan perjalanan ku "ucap Rawa Candra.
"Tuan , tolong antarkan aku ke rumah , karena rumah ku sangat jauh di ujung sana "ucap orang tua itu.
"Aku sedang buru buru orang tua dan tidak punya waktu untuk mengantarkan pak tua "ucap Rawa Candra menolaknya.
"Tolonglah tuan ,aku tidak sanggup untuk berjalan sejauh itu "ucap orang tua tadi.
"Dengar pak tua kamu dari sana saja mampu sampai sini, kenapa sekarang kamu tidak mampu untuk kembali ke sana "ucap Rawa Candra bercampur setengah marah.
"Apakah kau tidak pernah mempunyai ayah tuan sehingga berkata seperti itu pada orang yang lebih tua"ucap orang tua itu.
Seketika itu Rawa Candra pun teringat dengan kata kata ayah ," ingat Candra hormati lah orang yang lebih tua dan jangan bersikap kasar padanya"begitulah kata ayahnya kepada dirinya.
"Baiklah pak tua cepat naik"ucap Rawa Candra.
"Terima kasih tuan"ucap orang tua itu kemudian naik ke punggung kuda .
Setelah orang tua itu naik Rawa Candra segera melarikan kudanya menuju rumah orang tua.
"Siapa nama tuan apakah aku boleh tahu"ucap orang tua itu.
"Buat apa pak tua ingin tahu nama ku"ucap Rawa Candra , seolah menolak memberi tahu.
"Kalau tuan tidak mau mengatakan,aku tidak akan memaksanya"ucap orang tua itu.
"Rawa Candra nama ku"ucap Rawa Candra .
"Pak tua sendiri siapa dan dari mana"tanya Rawa Candra,namun tidak ada jawaban dari orang tua tadi.
"pak tua kenapa diam"ucap Rawa Candra.
"pak tua....pak...tua , namun tetap saja tidak ada jawaban, hingga akhirnya ia pun menoleh ke belakang betapa terkejutnya Rawa Candra setelah tidak mendapati lagi orang tua di belakangnya.
Rawa Candra kembali di buat terkejut setelah tahu bahwa dirinya ada di depan mulut gua.
"Anak mudah masuk ke dalam gua aku tinggalkan semua barang milik ku di sana ,ku wariskan semuanya untuk mu"ucap orang tua tadi.
"Kamu di mana pak tua"teriak Rawa Candra sambil mencari keberadaannya, namun dia tidak menemukannya.
"Ke mana pak tua itu"ucap Rawa Candra bertanya tanya.
"Baiklah aku ingin tahu ada apa di dalam gua"ucap Rawa Candra kemudian masuk ke dalam gua di depannya.
Di dalam gua itu ia melihat sebuah kerangka manusia dengan posisi sedang duduk bersemedi, Rawa Candra pun mendekati kerangka itu di atas pangkuan kerangka manusia itu ia melihat sebuah gulungan, tanpa berfikir lama Rawa Candra segera mengambil gulungan itu dan membukanya.
"Bagi siapa pun yang menemukan gulungan ini berarti dialah penerus ku ,aku tinggal kan jurus jurus ku di dinding gua ini setelah kau pelajari semua jurus itu kamu pergilah ke Sekte bintang timur , tapi sebelum kau pelajari jurus itu , kubur kan tubuh ku agar aku mendapat kesempurnaan.
"mmm ....rupanya orang tua tadi sudah meninggal sejak lama,dan mewariskan semua jurus jurusnya pada ku"ucap Rawa Candra,
"Dia tadi menyebut sekte bintang timur ,apa pak tua ini dari sekte itu "batin Rawa Candra.
Karena tidak mau pusing memikirkan asal usul pak tua itu kemudian ia segera menguburkan kerangka jenazah pak tua itu seperti pesannya.
Setelah selesai menguburkan jenazah pak tua yadi Rawa Candra segera memperhatikan dinding dinding gua itu ,di sana ia melihat berbagai macam gambar gerakan orang sedang memainkan sebuah jurus.
"Sepertinya inilah jurus yang dimaksudkan oleh pak tua tadi , baiklah akan saya coba pelajari "ucap Rawa Candra.
Sejak saat itu Rawa Candra tinggal di gua itu sampai berhari-hari untuk mempelajari semua jurus jurus yang pak tua tinggalkan.
...----------------...
Malam itu langit tampak cerah bintang berkelap-kelip tersenyum menyambut malam , namun sayang sang bulan terlihat muram karena terhalang oleh sang awan.Sang bayu pun juga tidak mau berpangku tangan dia bertiup pelan seolah mengejek sang bulan yang tidak bersinar terang.
Di remang cahaya bulan itu terlihat sesosok pemuda sedang bersemedi dengan menaruh dua tangannya di atas paha dia adalah Jaka yang sedang menyempurnakan jurus Pencakar langit serta mempelajari jurus Pembelah Langit.
Jaka bersemedi karena menemukan kesulitan dalam mempelajari jurus yang terakhir yaitu jurus pembelah langit,Ia berharap dapat petunjuk dari semedinya itu.
Di tengah semedinya itu tiba-tiba muncul bayangan ayahnya tersenyum dengan melambaikan tangan lalu kemudian pergi dan menghilang,lalu muncul bayangan ibu yang juga tersenyum kemudian memeluknya setelah itu ia pun melambaikan tangan kemudian pergi.
"ayah....ibu..... jangan tinggalkan jaka sendirian, Jaka ingin ikut bersama kalian "ucap Jaka , tanpa sadar ia pun meneteskan air mata, setelah itu lalu muncul Dewi kebahagiaan bersama dengan seorang pria kemudian tersenyum padanya.
"Jaka kuatkan hati mu jangan terpengaruh oleh ilusi ilusi yang menggoda mu"ucap Dewi kebahagiaan.
"Jaka ,aku tahu kau mengalami kesulitan dalam mempelajari jurus Pembelah Langit ini, sesungguhnya kesulitan yang kau alami bukanlah karena rumitnya jurus ini ,tapi karena pikiran mu lah yang belum terbuka "ucap pria di samping Dewi kebahagiaan.
lalu dari ujung jari tangan pria itu muncullah seberkas sinar yang kemudian sinar itu meluncur ke kening jaka dan masuk ke dalamnya kepalanya.
"Jaka kami berdua titipkan masa depan sekte langit pada mu lindungi lah sekte ini dengan kekuatan mu"ucap pria yang di samping Dewi kebahagiaan.
"ingat pesan kami jaka"ucap ucap Dewi kebahagiaan dan pria itu kemudian mereka pun menghilang.
Setelah dua orang itu pergi jaka pun membuka matanya dan tanpa ia sadari ternyata hari sudah pagi.
"Ternyata hari sudah mulai siang,ayah..ibu...dan Dewi kebahagiaan mereka muncul dalam semedi,mmm....lalu siapa orang yang bersama Dewi itu , pasti dia adalah suaminya tetua sekte yang terdahulu"ucap Jaka dalam hati.
Jaka merasakan ada sesuatu yang beda dengan dirinya, karena badannya terasa lebih ringan dan pikirannya juga terasa jernih.
Dalam pikirannya Jaka merasa ada gambaran jurus Pembelah Langit yang ia pelajari, kemudian ia melihat gulungan itu dan memperhatikannya baik baik, setelah lama memperhatikan gulungan itu jaka pun lalu tersenyum .
"Baiklah akan ku selesaikan hari ini juga jurus ini"ucap Jaka,lalu mengerahkan tenaga dalamnya dan menggelar kuda kuda.setelah itu Jaka menggerakkan tangannya kanannya ke samping sambil membungkuk kan badannya dan mengikuti semua gerakan gerakan dalam gulungan itu,tak lama kemudian ia pun sudah mulai hafal gerakan gerakan jurus Pembelah Langit itu.
Dengan bersemangat Jaka terus memainkan jurus itu dengan gerakan gerakan yang makin lama makin cepat wes....wes...sambaran gerakan tangan jaka membuat udara sekitarnya berubah menjadi panas , hiiiiaaaat...... braaak.... tangan Jaka menghantam sebuah pohon besar kraaaak...pohon besar pun tumbang seketika, merasa belum puas dengan pohon besar Jaka kemudian mencobanya untuk memukul batu sebesar gajah hiiiiaaaat.... braaak.... batu itu pun pecah berkeping-keping .
__ADS_1
"Masih belum cukup" ucap Jaka kemudian ia mengerahkan tenaga dalamnya sampai ke puncak batas hiiiiaaaat... hiiaaaat.... wuuuuus.... Jaka memukul dua batu besar sekaligus duuuaaarrr... duuuaaarrr..... dalam waktu sekejap dua batu pun hancur seketika.
"Akhirnya benar benar sudah sempurna jurus ini,aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika jurus Pencakar langit di gabungkan dengan jurus ini pasti kerusakan yang di timbulkan lebih parah lagi"ucap Jaka.
"Baiklah akan coba jurus ini "ucap Jaka,lalu mengeluarkan pedangnya.
"Baiklah saya akan mencoba jurus Pembelah Langit dengan menggunakan pedang awan ini"ucap Jaka.
Hiaaat.... wuusss jaka berkelebat cepat di hutan tempat latihannya itu,
Jaka memainkan jurus Pembelah Langit dengan pedangnya sreeng....wes... wes....jaka mempercepat gerakannya dengan memutar pedangnya,udara di sekitarnya pun menguap menjadi sangat panas , hiiiiaaaat duuuaaarrr.... duuuaaarrr.... kraaaak...braaak....braak....braak...pohon pohon bertumbangan.
Huuuuuf.....haaaaah.... terdengar Jaka mengambil nafas panjang setelah begitu banyak mengeluarkan tenaga dalamnya.
"Benar benar luar biasa jurus ini,sungguh di luar dugaan , menggunakan pedang atau tangan kosong hasilnya sama sama luar biasa"ucap Jaka.
"Karena jurus ini menggunakan pedang,ku nama kan jurus ini jurus pedang pembelah Langit"ucap Jaka.
Jaka pun menyandarkan dirinya pada sebuah batu dengan tubuh di penuhi keringat.
"Jaka...kamu baik baik saja"ucap Ratih tiba-tiba datang begitu mendengar ledakan yang sangat besar.
"Aku tidak apa-apa Ratih cuma sedikit lelah"ucap Jaka.
"Jaka apa ini semua perbuatan mu"ucap Ratih, ketika melihat banyak pohon bertumbangan seperti di landa topan.
"Iya, memang kenapa Ratih "ucap jaka.
"Apakah ini benar perbuatan Jaka yang aku kenal, benar benar mengerikan "ucap Ratih dalam hati, seakan tidak percaya pada Jaka yang sekarang.
"Ratih kenapa diam"tanya jaka .
"Tidak apa-apa ,oh ya jaka tidak terasa rupanya kita sudah lama di sini"ucap Ratih.
"Kau benar Ratih aku mersa kangen sama si putih kira kira sedang apa ya sekarang"ucap Jaka teringat kuda putih yang di rawatnya.
"Pasti sekarang ini si putih sedang makan"ucap Ratih.
"kamu tahu dari mana Ratih kalau si putih sedang makan"tanya Jaka.
"ya tahulah kan sore begini biasanya kuda di beri makan"ucap Ratih kemudian pergi meninggalkan jaka karena hari sudah mulai petang.
"benar juga , kenapa aku bodoh sekali "ucap Jaka segera beranjak menyusul ratih.
Setelah dapat menguasai jurus Pencakar langit dan jurus Pembelah Langit dengan sempurna jaka pun kemudian menemui tetua Paksi Darma dengan di temani oleh Ratih.
Jaka memasuki ruangan tetua Paksi Darma berada,tapi saat itu ia tidak menemukannya.
"Kemana tetua Paksi Darma biasa dia berada di sini"ucap Jaka.
"Mungkin sedang keluar kali Jaka ada urusan"ucap Ratih.
"Baiklah aku temani kamu di sini menunggu tetua "ucap Ratih kemudian duduk di dekat Jaka.
"Oh ya Ratih, aku ingin tahu bagaimana hasil latihan mu sampai saat ini"tanya Jaka sambil menoleh ke arah jendela.
"Maju pesat kata tetua Paksi Darma "ucap Ratih.
"Baguslah tidak sia sia kita ke sini "ucap Jaka sambil tersenyum.
"Jaka setelah ini , bagaimana kalau kita latih tanding ,sekalian kau nilai di mana kekurangan dari jurus jurus ku "ucap Ratih.
"Baiklah, akan ku turuti keinginan mu"ucap jaka.
Disaat Jaka dan Ratih sedang berbincang-bincang itu datang lah Narantaka, rupanya ia dari tadi ia mencari Jaka ke sana kemari.
"Rupanya kalian di sini"ucap Narantaka.
"memang ada apa kakang "tanya Jaka.
"Tetua sudah menunggu mu di aula Jaka "ucap Narantaka.
"memangnya sedang ada apa di aula kakang "tanya Jaka,
"Sudah jangan banyak tanya tetua dan para sesepuh sekte lainnya juga sudah berada di sana"ucap Narantaka.
"Ratih kita ke aula"ucap Jaka ,lalu ketiga orang itu pun segera pergi menuju ke aula.
Saat itu di aula sudah berkumpul para sesepuh sekte dan para murid murid pun juga sudah berada di sana, sepertinya akan ada pengumuman penting yang akan di sampaikan hari itu.
"Ternyata sudah banyak orang di sini, kenapa aku tidak tahu"ucap Jaka begitu sampai di aula.
"Dasar bodoh, makanya kalau bangun pagian dikit supaya tidak ketinggalan berita penting"ucap Ratih sambil menyikut perut Jaka.
"Aduuuh, memangnya kamu sudah tahu Ratih"Tanya Jaka,
"Aku sudah tahu dari kemarin waktu aku menemui kamu"ucap Ratih.
"Kok kamu tidak memberi tahu aku soal ini Ratih"tanya Jaka.
"Saya mau beri tahu kamu tapi lupa gara gara kamu tanya si putih jadi aku ke ingat ayah dan ibu"ucap Ratih.
"Kalau kamu sudah rindu sama ayah dan ibu kita bisa pulang bersama sama Ratih "ucap jaka.
"Sudah jangan bicara terus acaranya mau di mulai "ucap Ratih , mereka berdua pun akhirnya tidak banyak bicara lagi.
"Dengarkan baik baik oleh kalian semua,bahwa hari ini aku mengumpulkan kalian semua karena ada pengumuman penting yang harus aku sampaikan "ucap Paksi Darma
Hari ini Sekte Langit akan di pimpin oleh tetua yang baru sesuai dengan tradisi di sekte ini ,Bagi orang yang menguasai jurus Pembelah Langit adalah akan menjadi tetua di sekte ini"ucap Paksi Darma.
__ADS_1
Jaka langsung terkejut mendengar perkataan Paksi Darma itu,ia tidak menyangka akan begini jadinya.
Jaka pun seketika gelisah dan tidak tenang, ingin rasanya ia lari dari tempat itu, Ratih yang di samping Jaka merasa heran melihat jaka gelisah seperti itu.
"Kamu kenapa sih jaka seperti kucing mau beranak saja"ucap Ratih.
"Aku tiba tiba ingin ke belakang Ratih sudah tidak kuat"ucap Jaka berbohong.
"Iiiih kamu jorok ah"ucap Ratih.
Namun di saat jaka mau ke belakang tiba tiba"semua beri hormat pada tetua Sekte Langit yang baru kita yaitu Jaka"ucap tetua Paksi Darma, sambil menekuk lutut nya memberikan hormat kepada jaka , begitu juga dengan para sesepuh Sekte yang lain, tidak ketinggalan para murid juga memberikan hormat pada Jaka.
Kejadian itu benar benar membuat Ratih sangat terkejut, Jaka si bodoh tukang kuda di pilih menjadi ketua sekte .
"Bangun... bangun.... kalian jangan begitu saya tidak pantas untuk memimpin sekte ini"ucap Jaka merasa tidak enak.
"Kalau tetua jaka tidak mau jadi pemimpin sekte ini kami semua akan berlutut selamanya "ucap tetua Paksi Darma.
"Aduh kalian ini bikin susah saja,Ratih kamu juga ikut ikutan berlutut "ucap Jaka kebingungan.
"Kalau tetua Jaka masih tidak mau jadi pemimpin sekte ini aku juga akan berlutut selamanya "ucap Ratih.
"Kau ini sama saja keras kepala seperti mereka "ucap Jaka.
Setelah melihat mereka berlutut begitu lama akhirnya jaka pun mengalah.
"Baiklah ,aku bersedia menjadi tetua sekte ini, kalian semua cepat bangun "ucap Jaka dengan kesal.
"Terima kasih tetua"ucap mereka serempak.
Kemudian semua orang yang ada di situ pun segera bangun setelah mendengar perintah dari Jaka itu.
Jaka kemudian melangkah menuju ke tengah aula kemudian menatap ke sekeliling orang orang yang yang ada di situ.
"Dengar kan semua, saat ini juga aku akan merubah peraturan sekte langit dalam pemilihan murid baru , ujian memukul lonceng mulai hari ini saya hapus dan di ganti dengan pertarungan satu lawan satu antar calon murid, bagaimana menurut mu tetua Paksi Darma "ucap Jaka.
"Saya setuju dengan keputusan tetua,tapi untuk saat ini jangan panggil saya tetua lagi panggil saja saya sesepuh ,tetua Jaka"ucap Paksi Darma.
Mendengar itu para murid pun bersorak dan sangat mendukung keputusan jaka itu.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan pada kalian selanjutnya kalian boleh bubar dan melanjutkan latihan kalian"ucap Jaka.
Semua murid dan para sesepuh pun akhirnya bubar meninggalkan aula , sesepuh Paksi Darma, Narantaka dan Ratih yang masih tetap di aula.
"Sesepuh Paksi saat ini juga kau gantikan aku untuk pimpin sekte ini karena aku dan Ratih mau ke Sekte Elang Putih untuk menyelesaikan suatu urusan"ucap Jaka.
"Baik tetua, tapi biar lah Narantaka ikut untuk mengawal tetua"ucap Paksi Darma.
"Tidak perlu sesepuh Paksi, biarlah dia di sini untuk membantu mu karena urusan di sini jauh lebih merepotkan"ucap Jaka.
"Tapi tetua ini sudah menjadi tradisi sekte ini tetua"ucap Paksi Darma.
"Merepotkan sekali tradisi sekte ini aduuuh..."ucap Jaka sambil menepuk jidatnya.
"Sesepuh Paksi biarlah aku yang mengawal tetua biarlah Narantaka tetap di sini"ucap seseorang tiba-tiba muncul dari balik tembok.
"Melati kau sudah kembali"ucap Paksi Darma dengan gembira.
"Benar sesepuh"ucap Melati
"Hormat saya tetua"ucap Melati sambil berlutut.
"iya...ya bangun lah melati"ucap jaka.
"terima kasih tetua "ucap melati lalu bangun.
"Sekarang tetua tidak bisa menolak lagi, biarlah melati ikut dengan tetua untuk melindungi tetua dalam perjalanan "ucap Paksi Darma.
"Ternyata jadi tetua sekte bener bener tidak enak"ucap Jaka dalam hati.
"Baiklah,ayo Ratih sekarang kita berangkat ke sekte Elang Putih "ucap Jaka.
"Baik tetua "ucap Ratih.
"Kamu lagi ikut ikutan seperti mereka, jangan panggil aku tetua aku lebih suka kau memanggil aku jaka saja"ucap Jaka.
"Baiklah bodoh"ucap Ratih, Kemudian Jaka, Ratih dan melati pun segera meninggalkan Sekte Langit.
...----------------...
Sementara itu di Sekte Elang Putih Brawijaya segera mengirim beberapa orang murid untuk pergi ke lembah ketenangan untuk memastikan keberadaan Ratih di sana atau tidak.
Brawijaya merasa sangat khawatir dengan Ratih karena sudah lama sekali tidak pulang ke Sekte Elang Putih.
Sumirah yang melihat kekhawatiran di mata suaminya segera mendekati nya.
"Kakang tenangkan diri mu aku yakin Ratih pasti baik baik saja"ucap Sumirah.
"Ya itu yang aku harapkan Sumirah aku tidak mau terjadi apa apa pada Ratih anak ku,kalau aku tahu begini kemarin aku melarang dia pergi bersama Jaka"ucap Brawijaya, menyesali keputusannya.
"Ayah tenang saja kalau nanti aku bertemu dengan jaka,akan aku hajar dan ku cincang cincang dia karena tidak bisa melindungi Ratih"ucap Arini dengan marah.
"Benar yang nona Arini bilang tetua jika sesuatu terjadi pada nona Ratih,kita harus menghukum jaka si tukang kuda itu"ucap Bagus Dento.
"Kalian ini bagaimana sih , kenapa Jaka terus yang kalian salah kan"ucap Sumirah membela Jaka.
"Kenapa ibu tiba tiba membela Jaka "ucap Arini dengan heran.
"Ya karena Jaka tidak bersalah Arini"ucap Sumirah.
__ADS_1
"Sudah sudah tidak perlu berdebat lagi tentang jaka bosen aku mendengarnya"ucap Brawijaya.