
"Nona Melati...!!"Teriak Arini begitu melihat Melati terjatuh terkena pukulan api Kalapati.
"Aku tidak apa apa Arini fokus lah pada lawan mu,kau tenang saja aku tidak akan bakal kalah darinya"ucap melati seraya berdiri kembali.
"Kalapati terima serangan ku"teriak melati, kemudian ia langsung menyerang kembali, Melati menerjang dengan ganas, traaaaang
... traaaaang melati memainkan pedangnya dengan cepat , Kalapati di buat tersurut beberapa langkah ke belakang.
tidak mau di desak terus Kalapati segera memutar badannya ia berhasil lolos dari desakan melati itu kemudian dengan cepat memberikan sebuah tendangan pada melati dess.... melati terhuyung huyung ke dapan setelah punggungnya terkena tendangan Kalapati itu.
"Matilah kau....!!!"teriak Kalapati sambil melompat dengan mengayunkan pedangnya, Melati segera memiringkan badannya merasakan adanya serangan dari arah belakangnya,ia lalu melompat setinggi setengah tombak seraya memberikan tendangannya pada Kalapati dess.... bruuk Kalapati pun terjatuh cukup keras.
"keparat kurang ajar"maki Kalapati.
Ia segera bangkit kembali kemudian kedua orang itu lalu bertarung habis habisan, jurus andalan yang mereka miliki pun segera mereka keluar kan.
Tidak jauh dari Melati bertarung Arini dan Kalawuni pun juga terlibat pertarungan sengit.
Arini menggenggam pedangnya erat erat jurus bayangan seribu pedang pun langsung ia mainkan.
Permainan pedang Arini dalam sekejap saja langsung mengurung pergerakan Kalawuni hingga membuatnya hanya bisa bertahan dan terus menghindar.
Dalam hatinya Kalawuni memaki maki, karena tidak menyangka gadis yang masih muda yang menjadi lawannya itu mempunyai ilmu pedang yang begitu kuat.
Kalawuni menangkis serangan pedang Arini traaaaang... traaaaang..... terlihat percikan bunga api di antara kedua pedang itu.
Arini semakin cepat memainkan jurus bayangan seribu pedangnya dan akhirnya sreet.... sreet.. crash.. goresan pedang Ratih berhasil menggores kedua paha Kalawuni sehingga membuatnya mengaduh kesakitan.
Arini langsung melompat sambil memutar badannya dan dess.... sebuah tendangan yang cukup keras berhasil mengenai punggungnya hingga membuat Kalawuni jatuh terjerembab .
Rasa sakit akibat tendangan itu menjalar di sekujur tubuhnya di tambah dengan goresan pedang Arini hingga membuat darahnya seketika mengalir deras dari kedua pahanya itu.
"Kalawuni...!!!"teriak Kalapati bergegas menghampirinya.
"Kurang ajar kau terima pembalasan ku"teriak Kalapati dengan tatapan nanar penuh kemarahan pada Arini.
Kalapati langsung bergerak menyerang Arini namun tiba-tiba muncullah Paksi Darma di samping Arini yang sedang bersiap menyambut serangan Kalapati itu.
Paksi Darma langsung menyambut serangan Kalapati itu desss....... benturan langsung pun tak terhindarkan dan dalam benturan tersebut ternyata Paksi Darma lebih unggul hingga Kalapati pun langsung terpental dan jatuh di dekat Kalawuni.
"Kau harus berlatih seratus tahun lagi Kalapati untuk bisa bertindak sewenang-wenang di sini"ucap Paksi Darma.
Kalapati meringis kesakitan sambil memegangi dadanya, ternyata dia masih belum bisa menyamai kekuatan orang tua itu meski pun dirinya telah berlatih cukup keras.
"Kalapati cepat pergi dari sini bawa dia sebelum aku berubah pikiran"ucap Paksi Darma dengan tatapan tajam.
Melihat keadaan yang kurang menguntungkan itu terpaksa Kalapati harus mundur dengan keadaan terluka.
"Akan aku ingin kejadian ini Paksi Darma, tunggu pembalasan ku"ucap Kalapati Kemudian langsung melesat pergi dengan membawa Kalawuni.
"Untung sesepuh datang tepat waktu"ucap Arini dengan perasaan lega.
"Aku tidak menyangka , akan kedatangan tokoh tokoh dari benua Utara ,ada apa sebenarnya melati "tanya Paksi Darma.
"orang orang itu datang karena peta harta Karun sesepuh "ucap Melati.
"Peta harta Karun "gumam Paksi Darma,
"Sebaiknya cepat pulihkan tenaga kalian "ucap Paksi Darma kepada Arini dan melati kemudian ia langsung melesat ke arah pertarungan lain.
Melihat Kalapati meninggal sekte langit si tongkat gila pun tampak panik dan berusaha ingin kabur dari situ, melihat kepanikan di wajah si tongkat gila Ratih mengambil kesempatan untuk menyerangnya .
Hiaaat .... dengan jurus pedang seribu bayangan Ratih langsung menyerang dengan ganasnya,si tongkat gila memutar tongkatnya dan bunyi dengung tongkat itu semakin terdengar keras.
traaang.... traaaaang..... tongkat dan pedang saling berbenturan , Si tombak gila menarik tongkatnya kemudian menyapukan tongkatnya pada kaki Ratih,
dengan gerakan yang gesit Ratih melompat setinggi satu tombak menghindari sabetan tongkat yang mengancamnya itu.
kemudian ia melepaskan sebuah pukulannya wuuuuus....si tongkat gila langsung memutar tongkatnya kembali untuk menghalau serangan Ratih itu duuuaaarrr.... pukulan Ratih itu pun meledak dan gagal mengenainya.
,tapi itu belum berakhir karena Ratih yang baru saja mendarat itu lalu dengan cepat melemparkan senjata rahasianya sebuah pisau kecil ke arahnya.
Craaab.... !!! pisau itu langsung bersarang di kepalanya tanpa bisa ia hindari karena saking cepatnya, si tongkat gila pun langsung roboh ke tanah dengan mata melotot.
"Huuuuh akhirnya mati juga kau di tangan ku , ternyata latihan yang aku jalani selama ini tidak sia sia", ucap Ratih merasa puas dengan hasil latihannya melempar pisau selama ini.
Melihat si tongkat gila sudah mati Ratih segera berkelebat menuju ke arah Sinta yang terlihat kesulitan menghadapi ratu racun dan Guruh Sujiwo.
"Dasar tidak tahu malu bisanya main keroyok"ucap Ratih ketika sudah sampai di tempat itu.
"Ratih"ucap Sinta dengan perasaan lega.
"Kau lagi , kebetulan kita bertemu lagi di tempat ini"ucap Ratu racun.
"Jadi kalian sudah saling kenal "tanya Sinta kepada Ratih.
"Benar di kota bintang timur aku dan wanita racun itu hampir bentrok "ucap Ratih .
"Guruh Sujiwo mari kita hajar anak anak ingusan ini"ucap Ratu racun dengan rasa geram.
Di saat mereka bersiap akan mulai bertarung tiba-tiba duuuaaarrr.... duuuaaarrr..... duuuaaarrr sebuah pukulan langsung menghantam tempat dimana ratu racun dan Guruh Sujiwo berdiri, kedua orang itu langsung terpental seketika tapi pukulan itu tidak membuat mereka berdua terluka, karena itu cuma pukulan peringatan saja.
"Berhenti kalian semua..!!!"teriak seseorang yang melepaskan pukulan itu.
Pertarungan di tempat itu pun langsung berhenti seketika setelah terdengar teriakan yang begitu menggelegar menggetarkan jiwa.
Semua orang segera menoleh ke sumber suara itu dan mereka melihat seorang pria dan wanita yang tidak lain adalah Jaka dan Dewi pandan Arum.
"Tetua "ucap bisik Sinta begitu melihat kedatangan Jaka.
__ADS_1
"Ada apa ini Ratih mengapa kacau sekali tempat ini"tanya Jaka merasa heran.
"Ini semua ulah mereka Jaka"ucap Ratih sambil menoleh ke arah Guruh Sujiwo dan Ratu racun.
"Rupanya kalian lagi ,apa kalian belum puas dengan pelajaran yang telah ku berikan pada kalian waktu itu"ucap Jaka dengan wajah kesal.
"Kebetulan hari ini aku bertemu dengan mu Jaka ,aku akan membalas perbuatan mu yang kemarin"ucap guruh Sujiwo.
"Ya aku juga masih mempunyai dendam dengan mu Jaka atas perbuatan mu waktu di kota bintang timur waktu itu"ucap Ratu racun.
"Tetua sudah kembali"ucap Paksi Darma ketika melihat Jaka di tempat itu.
"Benar sesepuh,aku heran kenapa orang orang itu sampai di sini"ucap Jaka.
Mendengar Paksi Darma menyebut tetua pada Jaka Guruh Sujiwo dan Ratu racun pun langsung terperanjat .
"Pantas saja kemarin aku dapat di kalahkan olehnya ternyata dia adalah tetua sekte langit"ucap guruh Sujiwo.
"Kalau kalian ingin menyelesaikan urusan yang kemarin mari kita selesaikan sekarang juga,"tantang Jaka pada mereka berdua.
Guruh Sujiwo dan Ratu racun saling beradu pandang seolah olah minta pendapat karena rasa keragu raguan langsung merayap di hati mereka setelah mengetahui status Jaka adalah tetua sekte langit.
Tak lama kemudian ki Balung Waja dan Sinjung Wanara pun bergabung dengan Guruh Sujiwo dan Ratu racun.
"Bagaimana menurut mu ayah,dia lah orang yang telah melukai ku dan Arya Lembayung"ucap guruh Sujiwo.
"Lapor tetua Bagus Dento terluka para karena orang tua yang bersenjata dua tombak itu"ucap melati yang tiba-tiba datang bersama dengan Arini.
"Kurang ajar beraninya kalian melukai bagus Dento, kalian harus mempertanggung perbuatan kalian itu"ucap Jaka dengan nada tinggi.
"Tentu saja aku akan bertanggung jawab dan aku menantang mu Jaka, karena aku juga akan menuntut balas atas perbuatan mu yang telah melukai Arya Lembayung dan Guruh Sujiwo"ucap Ki Balung Waja.
"Baiklah mari kita selesaikan sekarang juga"ucap Jaka.
"Tunggu dulu aku juga menuntut balas atas perbuatan mu waktu itu yang telah melukai istri ku"ucap Sinjung Wanara.
"Baiklah aku tidak keberatan kalau kalian maju berdua"ucap Jaka.
"Jaka aku akan membantu mu "ucap Dewi Pandan Arum.
"Tidak Dewi kau baru saja sembuh tidak perlu buang buang tenaga,aku rasa sendirian sudah cukup untuk menghadapi mereka berdua"ucap Jaka.
" Kalau begitu Kita mulai"ucap ki Balung Waja.
"Sesepuh bawa mereka semua untuk menjauh dari sini"perintah Jaka.
Paksi Darma langsung memerintahkan semua pasukannya menyingkir dari tempat itu, begitu pula dengan Guruh Sujiwo juga melakukan hal sama pada pasukannya.
Di tempat itu yang tersisa hanyalah tiga orang yaitu Jaka,ki Balung Waja dan Sinjung Wanara.
"mari kita mulai"ucap Jaka.
Sinjung Wanara langsung menyapu kedua kaki Jaka ,tapi dengan sigap Jaka segera bersalto ke udara sehingga dua kali serangan Sinjung Wanara tidak berhasil mengenainya.
"Kurang ajar dia begitu meremehkan ku , dari tadi hanya menghindar saja"maki Sinjung Wanara.
Ki Balung Waja langsung bergerak dengan sepasang tombak pendeknya dua tombak itu meluncur kearah kepala Jaka.
Jaka segera menekuk setengah badannya ke belakang menghindari tusukan tombak itu,lalu dengan cepat mengirimkan tendangannya wes....tapi tidak mengenai sasaran karena ki Balung Waja dengan mudah menghindarinya.
Sinjung Wanara bergerak cepat menyerang Jaka dari arahnya belakang dengan senjatanya yang berupa cambuk.
Cambuk yang berwarna hitam dengan gagang berbentuk kepala ular kobra berdengung melayang mengancam tubuh Jaka.
Tidak ingin cambuk itu mengenai tubuhnya Jaka langsung membuang tubuhnya ke kiri,
namun baru saja ia lolos dari serangan cambuk milik Sinjung Wanara itu,ki Balung Waja langsung menerjangnya kembali weess.... dengan tusukan tusukan tombaknya ia mencoba untuk mendesaknya,
tidak ingin terus menghindar dan jadi sasaran bulan bulanan mereka berdua Jaka kemudian mengeluarkan pedang awan naga Petirnya.
Sekejap saja hawa pedang di tangan Jaka membuat Ki Balung Waja dan Sinjung Wanara terperanjat karena merasakan tekanan tenaga dalam yang begitu kuat pada pedang itu.
"Pedang macam apa itu kenapa memiliki hawa yang begitu menakutkan"ucap guruh Sujiwo.
"Guruh Sujiwo bagaimana kalau kita bantu mereka "ucap ratu racun.
"Baiklah ,tapi tunggu waktu yang tepat Nyai"ucap guruh Sujiwo seperti merencanakan sesuatu.
"Arini dan Sinta merasa kagum dengan pedang milik Jaka itu ,hawa membunuh yang di keluarkan pedang itu sangat menakutkan.
"Aku baru kali ini melihat pedang tetua itu Arini"ucap Sinta dengan menatap pedang di di genggaman tangan Jaka.
"Aku juga pertama kali ini melihat pedang itu Sinta,hawa pedang itu membuat aku merinding"ucap Arini.
Pertarungan terus berlanjut di antara ketiga orang itu, setelah Jaka mengeluarkan pedangnya ki Balung Waja dan Sinjung Wanara tampak berhati-hati karena mereka merasakan hawa pedang yang begitu sangat mengerikan.
Selama berpetualang di rimba persilatan baru kali ini bagi mereka mendapati pedang yang mengeluarkan hawa semacam itu.
Cambuk Sinjung Wanara menari-nari seperti ular kobra yang mematok mangsanya, begitu juga dengan kedua tombak ki Balung Waja.
Blaaaar... blaaaar..... sabetan cambuk Sinjung Wanara terdengar menggema karena di lambari dengan tenaga dalam.
Jaka berjumpalikan menghindari sambaran cambuk itu,ia kemudian melepaskan pukulan badai nya menerjang karangnya wuuuuus....
tapi serangan itu tidak berguna di hadapan cambuk Sinjung Wanara, karena pukulan itu lenyap seketika oleh sabetan cambuk itu.
"Apa cuma itu kemampuan tetua sekte langit hah...!!!"ejek Sinjung Wanara.
Jaka tidak memperdulikan perkataan Sinjung Wanara itu, karena ia sibuk berkelit menghindari serangan dari Ki Balung Waja yang datang padanya.
__ADS_1
Hiiiiaaaat.... traaaaang....kedua tombak ki Balung Waja berbenturan dengan pedang milik Jaka, getaran hebat langsung di rasakan oleh nya.
kedua tangan ki Balung waja terasa pegal-pegal padahal sebelum benturan itu terjadi ia sudah mengerahkan tenaga dalamnya secara besar besaran, tapi ternyata masih kalah kuat dengan kekuatan yang Jaka miliki.
Ki Balung Waja melompat satu tombak dari Jaka kemudian ia melemparkan kedua tombaknya, kedua tombak itu melesat cepat dengan berputar putar bersiap merobek robek tubuh Jaka, lalu dengan sigap Jaka menangkis tombak itu dengan pedangnya .
"Ku kembalikan senjata mu orang tua"teriak jaka,traaaaang...... tombak pun langsung terpental dengan meluncur cepat kembali kepada ki Balung Waja.
"Sialan"desis Ki Balung waja melihat kedua tombak meluncur deras kearahnya,dia tidak berani menangkap tombaknya yang meluncur deras itu dan jleeeb... jleeeb tombak itu akhirnya menancap di depannya.
Ki Balung waja lalu melepaskan pukulannya wuuuuus..... wuusss... wuuuuus...!!
Dengan jurus sepuluh langkah malaikat nya Jaka bergerak cepat menghindari serangan itu,kemudian memberikan tendangan yang cukup keras pada padanya deess.... hingga akhirnya ia terjatuh sampai berguling guling beberapa kali.
"Aaakh..."keluh ki Balung waja ketika merasakan sesak pada dadanya.
"Ayah....!!!"teriak Guruh Sujiwo dengan rasa khawatir.
Hiiaaaat.... weesss.... Sinjung Wanara mengarahkan cambuknya ke arah Jaka wes.. wesss....
.. Jaka bergerak cepat menghindarinya dengan jurus sepuluh langkah malaikat nya..
braaak..... terdengar bunyi cambuk menghantam tanah tempat Jaka berpijak, merasa serangan nya gagal Sinjung Wanara langsung menarik cambuknya kemudian menyabetkan kembali cambuknya itu pada Jaka .
Tidak mau hanya menghindar Jaka segera menangkis cambuk itu dengan pedangnya traaaaang... kraaaak...... cambuk naga milik Sinjung Wanara pun seketika putus menjadi dua.
Sinjung Wanara langsung terperanjat tidak percaya melihat senjata pusakanya bisa patah , padahal cambuk itu terbuat dari kulit naga yang sudah berumur ribuan yang sulit di patahkan oleh senjata apa pun tapi hari ini kenyataan berkata lain.
"Biadab... !!.kau harus menebus senjata pusaka ku dengan nyawa mu.
Sinjung Wanara langsung merentangkan tangannya kemudian menyatukan kedua telapak tangannya lalu dengan mulut komat Kamit membaca mantra,dari telapak tangannya kemudian muncul asap putih yang makin lama makin tebal.
Ki Balung Waja yang mengetahui ajian yang akan di keluarkan oleh Sinjung Wanara itu segera menjauhi tempat itu.
"Rasakan ini pukulan kobra beracun hiiiiaaaat..... wuusss.... gumpalan asap hitam yang mengandung hawa panas menerjang Jaka.
Di saat yang bersamaan dengan Sinjung Wanara melepaskan pukulannya rupanya jaka juga telah menyiapkan pukulan andalannya yaitu pukulan jurus Pembelah Langit.
Jaka pun kemudian melepaskan pukulannya itu dan duuuaaarrr..... sebuah jeritan seketika terdengar menggema dari mulut Sinjung Wanara setelah pukulan pembelah langit yang Jaka lepaskan mampu menembus pukulan kobra beracun miliknya tak ayal lagi ia terjatuh dengan dada berlubang terkena pukulan pembelah langit.
Ki Balung Waja terkejut bukan main melihat sahabat karibnya tewas dalam waktu sekejap.
"Jurus Pembelah Langit yang legendaris kenapa aku bisa melupakan hal sepenting itu"ucap Ki Balung Waja.
Rasa gentar mulai merayapi hati dan pikiran ki Balung Waja ia merasa kesaktiannya tidak cukup untuk melawan ilmu yang Jaka miliki.
Melihat suaminya tewas di depan matanya Ratu racun langsung bertindak gelap mata ia langsung melesat cepat ke arena pertarungan .
"Kakang Wanara"teriak Ratu racun .
Ia langsung melepaskan pukulan beracun ke arah Jaka wuuuuus.... mengetahui serangan itu Jaka kembali menggunakan jurus sepuluh langkah malaikat untuk menghindarinya.
blaaaar...... duuuaaarrr... pukulan Ratu racun pun gagal mengenai Jaka.
"Cukup Nyai.. hentikan serangan mu"ucap Jaka seperti ada rasa malas menghadapi wanita itu.
Ratu racun yang sudah gelap hati dan gelap mata kembali melancarkan serangannya kepada Jaka ,pukulan pukulan dahsyat yang mengandung racun pun ia keluarkan.
wuuuuus..... wuuuuus.... wuuuuus.... dengan pedang di tangannya Jaka menangkis semua serangan itu blaaaar..... blaaaar... blaaaar....!!!
"Cukup Ratu racun hentikan serangan mu, jangan paksa aku menurunkan tangan kejam pada mu"teriak Jaka.
Tapi perkataan Jaka itu tidak ia dengar kan malah serangan wanita itu semakin membabi buta.
wuuuuus.... wuuuuus.... wuuuuus.... duuuaaarrr.duuuuuar.......
"Bibi hentikan..."teriak Dewi racun,ia khawatir dengan keadaan bibirnya yang seperti orang kesurupan itu ia lebih khawatir lagi jika sampai Jaka membunuhnya.
"Sialan, serangan nya semakin gila saja, kalau begini aku tidak punya pilihan"ucap Jaka sambil terus menangkis serangan serangan itu.
"Kau harus mati di tangan ku Jaka"teriak Ratu racun dengan kemarahan yang menjadi jadi.
Ki Balung Waja merasa bimbang antara melanjutkan pertarungan atau mundur, tapi baginya keselamatan lebih penting masalah balas dendam bisa belakangan , akhirnya ia pun memilih mundur .
Blaaaar...... blaaaar..... blaaaar.......!!! Ratu racun belum mau berhenti sebelum bisa membunuh Jaka dengan tangannya sendiri.
"Matilah kau...Jaka.. hiaaaaat.....ratu racun meluncur dengan sebilah pedang di tangannya dengan sangat cepat.
Karena sudah kesal Jaka pun tidak mau menghindar lagi dan memilih untuk menyelesaikan pertarungan itu.
"Jurus tiga pedang hiaaat..."teriak jaka dengan melemparkan pedang awan naga petir nya , pedang itu meluncur deras menyambut kedatangan Ratu racun setelah jaraknya tinggal lima tombak pedang awan naga petir itu langsung berubah menjadi tiga bilah pedang.
Ratu racun terperanjat melihat tiga pedang yang muncul tiba-tiba di depannya,ia ingin menarik kembali serangannya tapi sudah tidak mungkin akhirnya ia terpaksa menangkis pedang pedang itu namun tidak satu pun dari tiga pedang itu dapat ia jatuhkan dan akhirnya jlaaab....jlaaab....jlaaab ketiga pedang itu pun menancap pada tubuhnya.
"Bibi....!!!"teriak Dewi racun dengan histeris ia langsung berlari ke arah bibinya itu.
"Bibi....bibi...."teriak Dewi racun, namun ratu racun sudah sudah keburu meninggal.
Dewi racun mencoba mencabut pedang yang ada di tubuh bibinya itu, namun tangannya terasa terbakar ketika menyentuh pedang itu.
Dewi racun pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk mencabut pedang itu.
"Apakah kau juga akan melanjutkan pertarungan ini"tanya Jaka.
"Tidak jaka ,aku minta pada mu untuk mencabut pedang pedang itu dari tubuh bibi ku "pinta Dewi racun.
"Pedang awan naga petir kembalilah"ucap Jaka, ketiga pedang itu pun langsung melayang kembali kepada Jaka kemudian lenyap begitu saja.
"Sekarang bawa mereka pergi dari sini , jika suatu saat nanti kau ingin balas dendam kau boleh cari aku"ucap Jaka langsung melangkah menuju ke dalam.
__ADS_1
Dewi racun pun segera pergi dari situ dengan membawa mayat paman dan bibinya , sementara itu ki Balung Waja beserta pasukannya sudah dari tadi meninggalkan tempat itu secara diam-diam.