
Mendengar perintah dari ki Balung Waja itu Para pasukannya segera menyiapkan dirinya dengan membawa senjatanya masing-masing ada yang membawa pedang , tombak dan panah.
Melihat para pasukannya yang berjumlah ratusan orang sudah siap itu, tidak menunggu lama ki Balung Waja segera memberangkatkan mereka.
Ki Balung Waja melesat cepat dengan ilmu ilmu terbangnya dengan di ikuti oleh Sinjung Wanara berserta Ratu racun dan Dewi racun juga para pasukan di belakangnya.
Ki Balung Waja berniat membuat mimpi buruk malam itu pada sekte bintang Utara karena telah berani menyinggung dirinya sekaligus untuk memberikan peringatan pada orang orang di sekte itu atas perbuatan salah satu muridnya yang bernama Jaka yang telah berani melukai anak dan cucunya itu.
Di malam yang penuh cahaya bintang dan sinar rembulan itu terlihat segerombolan orang melesat cepat bagaikan kelelawar yang sedang mengejar mangsanya.
Walau pun dengan remang cahaya bulan tidak membuat kesulitan orang orang itu untuk menembus malam.
Melihat gerakan gerakan mereka yang lincah dan gesit bisa di pastikan kalau orang orang itu sudah sangat terlatih dan berilmu tinggi.
Ki Balung Waja langsung berhenti di sebuah pohon yang menjulang tinggi ketika samar samar melihat pergerakan seseorang yang tidak jauh dari hadapannya itu.
Melihat Ki Balung Waja berhenti di atas pohon Sinjung Wanara segera menghampirinya begitu juga dengan Ratu racun dan Dewi racun.
"Ada apa Balung Waja kenapa berhenti"tanya Sinjung Wanara.
"Lihat itu "ucap ki Balung Waja sambil menunjuk ke arah depannya.
"Siapa mereka, kenapa mereka dari arah sekte bintang Utara Balung Waja"tanya Sinjung Wanara.
"Entahlah aku juga tidak tahu,apa mungkin mereka itu para pasukan sekte bintang Utara,lalu mau apa mereka menuju ke arah selatan"ucap Balung Waja.
"Jumlah mereka banyak sekali Kakang Wanara"ucap Ratu racun.
"Benar Nyai, sebaiknya kita jangan menampakkan diri dulu, karena kita tidak tahu siapa mereka itu "ucap Sinjung Wanara.
"Kau benar kita akan melanjutkan perjalanan setelah orang orang itu berlalu "ucap ki Balung Waja memperingatkan.
"Baiklah "ucap Sinjung Wanara.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya orang orang yang tidak di kenal itu pun berlalu dari hadapan mereka.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan "ucap ki Balung Waja.
"Baiklah mari kita lanjutkan perjalanan kita "ucap Sinjung Wanara.
mereka berempat segera melesat cepat dengan diikuti oleh para pasukan di belakangnya.
Dalam kepala keempat orang itu bertanya tanya tentang orang orang yang lewat tadi.
Kalau siang hari mungkin mereka bisa mengetahui tentang orang orang itu.
Setelah menempuh perjalanan sekian lama akhirnya Ki Balung Waja dan seluruh pasukannya pun sampai di sekte bintang Utara.
Mereka dibuat terkejut setelah melihat pemandangan yang tidak biasa di sekte itu ki Balung Waja dan seluruh pasukannya mendapati api besar berkobar kobar di hadapan mereka,api itu terlihat melahap seluruh bangunan bangunan yang ada.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi di sekte ini "ucap ki Balung Waja ketika melihat keadaan sekte bintang Utara telah porak-poranda di makan api.
"Pasti ini perbuatan orang orang tadi Balung Waja"ucap Sinjung Wanara.
"Tidak salah merekalah pelakunya,kau tunggu di sini aku akan coba melihat lihat keadaan di dalam"ucap ki Balung Waja.
"Tidak Balung Waja ,aku ikut dengan biarlah mereka berdua yang tinggal di sini"ucap Sinjung Wanara sambil menoleh ke arah ratu racun dan Dewi racun.
"Kalian berdua tinggal di sini aku dan Sinjung Wanara aku masuk ke dalam"ucap Ki Balung Waja.
"Kalian hati hati karena apinya begitu besar" ucap Ratu racun memperingatkan.
"Tentu saja kami akan berhati-hati,ayo Balung Waja kita masuk ke dalam "ucap Sinjung Wanara.
Kedua orang itu segera melompat ke dalam dengan menerobos kobaran api yang semakin besar itu,bau sangit tubuh terbakar menyelimuti tempat itu.
"Sepertinya baru saja terjadi pembantaian Balung Waja"ucap Sinjung Wanara ketika melihat banyaknya mayat para murid bergelimpangan dan ceceran darah di tempat itu.
"Dapat di pastikan tidak ada yang selamat di tempat ini Sinjung Wanara, sebaiknya kita cepat keluar dari sini, Angga saja dendam kita sudah selesai"ucap Ki Balung Waja.
"Kalau begitu ayo kita cepat tinggalkan tempat ini"ucap Sinjung Wanara segera melesat meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana keadaan di dalam sana kakang"tanya Ratu racun , ketika Sinjung Wanara sudah tiba di hadapan mereka.
"Tidak ada yang tersisa satu pun Nyai, semua orang telah terbakar bersama kobaran api itu"ucap Sinjung Wanara.
"Cepat kita tinggalkan tempat ini"ucap Balung Waja kepada para pasukannya.
"Ayo Nyai kita tinggalkan tempat ini"ucap Sinjung Wanara.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi mereka segera melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Tidak berapa lama setelah mereka pergi datang lah Jaka dan Dewi pandan Arum di sekte bintang Utara rupanya mereka berdua baru saja menyelesaikan latihannya.
Dewi pandan Arum terkejut setengah mati melihat keadaan di sekte itu, begitu juga dengan Jaka .
"Guru...!!!"teriak Dewi Ganda Arum.
"Kakek guru.."teriak Jaka langsung melompat ke dalam dengan tidak menghiraukan kobaran api yang menyala nyala itu.
Dewi pandan Arum pun segera melesat masuk ke dalam menyusul Jaka.
"Kakek guru ....!!teriak Jaka.
Jaka berlari menyusuri setiap ruang di tempat itu untuk mencari Terpasura.
"Guru.... guru..."teriak Dewi Pandan Arum, sambil berlari menerobos kobaran kobaran api.
braaak.... Jaka mendobrak pintu kamar yang terbakar dengan kakinya, dalam ruangan itu ia melihat sosok seorang yang tergeletak pingsan,ia segera mendekati orang itu, betapa terkejutnya setelah tahu orang itu adalah kakek gurunya yaitu Terpasura.
"Kakek guru"ucap Jaka segera menggendong Terpasura dan membawanya keluar.
"Dewi cepat keluar aku sudah menemukan kakek guru"teriak Jaka.
Mendengar teriakkan dari Jaka itu Dewi pandan Arum pun segera melesat keluar menyusul Jaka.
"Kakek guru...."ucap Jaka segera menyalurkan tenaga dalamnya untuk memperlancar pernafasan kakek gurunya itu.
Namun ketika Jaka akan menyalurkan tenaga dalamnya itu ia terkejut mendapati punggung Terpasura ada bekas pukulan lima jari yang sudah menghitam.
"Pukulan tapak iblis"gumam Jaka setelah mengenali bekas pukulan itu, tanpa pikir panjang lagi ia segera menyalurkan tenaga dalamnya
"Bagaimana keadaan guru Jaka"tanya Dewi Pandan Arum dengan penuh kecemasan.
"Entahlah Dewi aku akan berusaha untuk menyelamatkannya "ucap Jaka
Setelah Jaka menyalurkan tenaga dalamnya itu sesaat kemudian Terpasura pun sadar dari pingsannya.
"Ja..ka.."ucap Terpasura dengan suara yang lemah sekali.
"Kakek guru jangan banyak bicara dulu ,aku akan coba mengobati mu "ucap Jaka
"Guru......!! jangan berkata seperti itu pasti kami dapat menolong mu guru"ucap Dewi Pandan Arum dengan berlinang air mata.
"Terima..lah gulungan ini Jaka dan aku titipkan Dewi Pandan Arum pada..mu , jagalah dia.............
"Guru.... jangan tinggalkan aku!!!"teriak Dewi Pandan Arum dengan histeris, begitu melihat Terpasura terkulai lemas dengan menutup matanya.
Jaka menundukkan kepalanya dalam dalam,ia merasa sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa sekte bintang Utara dan kakek gurunya itu.
"Kakek guru aku berjanji pada mu ,akan aku bangun lagi sekte bintang Utara ini untuk menjadi sekte terkuat di seluruh benua "ucap Jaka dalam hati.
"Dewi mari kita kubur kan jasad guru "ucap Jaka ,ia lalu membawa kakek gurunya itu sedikit menjauh dari tempat itu.
"Tunggu Jaka biarkan aku menatap wajah guru untuk yang terakhir kalinya "ucap Dewi Pandan Arum.
Dewi pandan Arum tak kuasa membendung air matanya saat memandangi wajah tua itu, bagi dirinya Terpasura bukanlah sekedar guru, ia sudah menganggap gurunya itu sebagai orang tuanya karena sejak kecil sampai besar dialah yang merawat dirinya.
Air mata dewi Pandan Arum semakin deras ketika teringat semua kenangan saat bersama gurunya itu.
Bayangannya saat dia kecil di marahi gurunya melintas di dalam kelopak matanya ,ia kena marah gurunya akibat dari kenakalannya sendiri, bayangan saat gurunya merawat dia saat sakit pun juga melintas dalam benaknya, pokoknya setiap kejadian yang pernah ia alami bersama gurunya itu teringat semua oleh Dewi pandan Arum di hadapan wajah tua yang kini sudah terpejam itu.
"Apakah sudah cukup Dewi"tanya Jaka dengan nada pelan karena merasa sangat sedih.
Dewi pandan Arum hanya mengangguk kan kepalanya menjawab pertanyaan Jaka itu.
Jaka lalu melanjutkan langkahnya dan baru berhenti setelah sampai di bawah sebuah pohon beringin besar .
"Bagaimana kalau kakek guru kita kubur kan di sini Dewi"tanya Jaka.
Dewi pandan Arum kembali menganggukkan kepalanya, seakan ia tidak berselera untuk membuka mulutnya.
Jaka kemudian sedikit mengerahkan tenaga dalamnya lalu melepaskan pukulannya ke tanah blaaaar .....!!! terciptalah sebuah lubang berukuran sedang untuk menguburkan jenazah gurunya itu.
Jaka segera memasukkan tubuh kakek gurunya itu ke dalam lubang.
tak lama kemudian acara penguburannya itu pun selesai.
Dewi pandan Arum terlihat bersimpuh cukup lama di atas makam gurunya itu ada perasaan tidak rela di hatinya jika harus meninggalkan makam itu.
__ADS_1
Melihat sikap Dewi Pandan Arum itu Jaka tidak berani menegurnya, karena ia tahu bagaimana perasaan yang Dewi Pandan Arum alami saat ini, kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya sangatlah berat , karena Jaka pernah mengalami hal itu saat ayah dan ibunya pergi meninggalkannya.
Tanpa terasa malam pun sudah berganti menjadi pagi, ketika terdengar kokok ayam bersahutan, tapi hal itu sepertinya tidak di rasakan oleh Dewi pandan Arum yang masih terlihat bersimpuh di hadapan makam gurunya itu.
Melihat Dewi Pandan Arum duduk bersimpuh semalam itu Jaka lalu menghampirinya,ia khawatir kenapa kenapa dengan gadis itu.
"Dewi sudah relakan kakek guru biar pergi dengan tenang"ucap Jaka sambil mengusap usap pundak gadis itu.
Namun gadis itu tetap diam seribu bahasa, sepertinya tidak mendengar perkataan dari Jaka itu.
"Dewi.... Dewi..."ucap Jaka seraya menggoyang goyangkan tubuhnya, namun alangkah terkejutnya dia melihat Dewi Pandan Arum langsung terjatuh dan pingsan.
Jaka kemudian menempelkan tangannya pada kening Dewi Pandan Wangi yang tengah pingsan itu.
"Suhu tubuhnya panas sekali, rupanya kematian kakek guru membuatnya syok "ucap Jaka lalu membawa Dewi Pandan Arum pergi dari situ.
Hancurnya sekte bintang Utara langsung menjadi buah bibir di kalangan setiap orang terutama di kalangan para tetua sekte, mereka tidak menyangka kalau sekte bintang Utara musnah begitu saja tanpa di ketahui siapa pelakunya .
Siang itu di sekte Api angin Kalapati juga sedang memperbincangkan hal itu bersama Kalawuni dan Kusumawati.
Kabar tentang hancurnya sekte bintang Utara benar benar membuat Kalapati sangat terkejut.
"Aku tidak menyangka kejadian yang begitu buruk menimpa Sekte itu ayah, menurut ayah siapa pelaku di balik penyerangan itu"tanya Kusumawati.
"Entahlah Kusumawati ayah juga tidak tahu siapa pelakunya,tapi kalau saya pikir pikir mungkin ini ada hubungan nya dengan...
"Maksud ayah kejadian itu berhubungan dengan Guruh Sujiwo dan Arya Lembayung begitu "ucap Kusumawati.
"Bisa jadi begitu Kusumawati "ucap Kalapati.
"Lalu bagaimana menurut Paman tentang pendapat ayah itu "tanya Kusumawati kepada Kalawuni yang dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.
"Kemungkinan begitu Kusumawati jika kita lihat dari kejadian kemarin"ucap Kalawuni singkat.
"Tapi menurut ku terlalu berlebihan kalau sampai sekte Petir api membantai seluruh murid murid di itu paman"ucap Kusumawati.
"Sudahlah kita tidak perlu membahas masalah itu Kusumawati"ucap Kalapati.
"Memangnya kenapa ayah, bukan kah paman Terpasura adalah sahabat ayah"ucap Kusumawati.
"Ya aku tahu itu,aku tidak mau membahas masalah itu karena aku ingin melupakan Terpasura, biarlah di pergi dengan tenang"ucap Kalapati.
Di saat mereka bertiga sedang berbincang-bincang itu datanglah seorang pengawal dengan tergopoh-gopoh menghadap.
"Lapor tetua ada seseorang yang menitipkan ini untuk tetua"ucap pengawal itu sambil memberikan sebuah gulungan kepada Kalapati.
Kalapati segera meraih gulungan dari tangan pengawal itu dan kemudian membukanya.
Kalapati tampak tersenyum melihat isi gulungan itu , sepertinya dia mendapatkan sesuatu yang sangat penting.
"kalawuni lihat ini "ucap Kalapati sambil menyerahkan gulungan itu.
Kalawuni pun langsung membuka gulungan itu, raut wajahnya tampak senang setelah melihat isinya.
"Sebaiknya kita cepat bertindak Kakang"ucap Kalawuni.
"Ya kau pergilah dan bawa orang orang terbaik kita"ucap Kalapati.
"Baik kakang aku berangkat dulu"ucap Kalawuni lalu pergi meninggalkan Kalapati dan Kusumawati.
"Memangnya ada apa ayah, kenapa kalian berdua terlihat begitu senang "tanya Kusumawati.
"Nanti kau akan tahu sendiri Kusumawati "ucap Kalapati kemudian pergi meninggalkan Kusumawati sendirian.
"Sungguh menyebalkan sikap ayah dan paman itu, sebaiknya aku pergi saja ke sekte bintang Utara untuk melihat keadaan di sana"ucap Kusumawati.
Setelah berkata seperti itu Kusumawati pun langsung melesat pergi menuju ke arah sekte bintang Utara.
Di Sekte petir Api Ki Balung Waja dan ketiga tamu juga tidak henti hentinya membicarakan tentang kejadian di sekte bintang Utara semalam itu.
Mereka sangat penasaran siapakah yang melakukan pembantaian di sekte bintang Utara itu.
"Mengenai siapa yang telah menghancurkan sekte itu tidaklah terlalu penting,yang penting dendam ku sudah ada yang membalaskannya"ucap Ki Balung Waja.
"Tuan benar , kita tidak perlu buang buang tenaga untuk melihat kehancuran sekte bintang Utara itu"ucap Ratu racun.
"Ternyata dewa berpihak pada mu Balung Waja, buktinya sebelum kita ke sana sekte itu sudah ada yang menghancurkannya"ucap Sinjung Wanara.
"Kau benar Wanara, haaaa....haaa.."ucap ki Balung Waja dengan tertawa terbahak bahak.
__ADS_1