
Malam yang begitu sunyi Arini nampak terjaga tidak bisa memejamkan matanya padahal pagi sudah mulai akan tiba,di atas ranjangnya ia hanya bolak-balik ke sana kemari entah apa yang dia pikirkan nya.
Lama tidak tak bisa memejamkan mata Arini yang merasa bosan sejak tadi di dalam kamar kemudian melangkahkan kaki keluar untuk mengusir rasa bosannya.
Tak lama kemudian ia pun sampai di halaman depan dan mendapati beberapa orang murid sedang berjaga jaga.
"Nona Arini rupanya belum tidur "sapa salah penjaga padanya.
"belum mengantuk kang"ucap Arini.
"Kebetulan di sana Tetua Jaka dan nona Sinta juga belum tidur, mungkin nona bisa ke sana Ikut ngobrol"ucap penjaga itu.
"Tidak kang ah,aku takut nanti menganggu mereka berdua "ucap Arini kemudian mengambil tempat duduk agak jauh dari penjaga itu, namun ia memperhatikan tempat di mana Jaka dan Sinta berada.
"Kira kira mereka sedang membicarakan apa ya..."ucap Arini dengan penasaran.Namun ia tidak berani mencuri dengar pembicaraan mereka dan membiarkan dirinya larut dalam kesendirian.
Tidak jauh dari sekte Elang Putih pasukan yang dipimpin oleh Jalatunda sudah mulai bergerak .
Dalam barisan itu terlihat orang orang kuat seperti Sindu, Dua Algojo, Pamulang dan Jalatunda sendiri.
Jalatunda dan Sindu terlihat begitu bersemangat sekali dalam penyerangan kali ini,karena sebentar lagi dapat menghancurkan sekte Elang Putih.
Dalam benaknya Jalatunda sudah tergambar kemenangan yang gemilang, karena ia sudah mengetahui tentang kekuatan sekte itu.
Begitu pula dengan Sindu yang tidak sabar ingin secepatnya mendapatkan hadiah dari tetua Agung setelah menghancurkan sekte Elang Putih.
Angan angan kedua tetua sekte itu sungguh terlalu tinggi, karena menganggap sekte Elang Putih dapat dengan mudah di hancurkan.
heyaa....heyaaa... terdengar para pasukan memacu kudanya,debu debu pun berterbangan karena saking banyaknya para pasukan yang melintasi jalan itu.
Malam sudah mulai pagi ketika kokok ayam terdengar , Jalatunda segera menghentikan pasukannya untuk beristirahat.
"Berhenti.......kita beristirahat di sini menunggu pagi"teriak Jalatunda,Semua pasukan langsung berhenti mendengar teriakkan Jalatunda itu.
Jalatunda mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu, lalu ia turun dari kudanya setelah tempat itu di rasakan aman.
Sindu yang tidak jauh dari Jalatunda segera mendekat padanya sambil memberikan kantong air dari perbekalannya.
"Kakang minumlah kau pasti haus"ucap Sindu.
"Terima kasih Sindu punya ku masih banyak kau simpan saja"ucap Jalatunda menolak pemberian dari Sindu.
"Kakang sebaiknya kita melakukan penyerangan pada sore hari supaya para pasukan dapat beristirahat dengan cukup" ucap Sindu.
"Benar, sebaiknya begitu jangan sampai pasukan kita kelelahan di saat pertempuran nanti"ucap Jalatunda.
Kemudian mereka berdua mengambil tempat duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan .
Tidak lama kemudian sinar matahari pun muncul dari timur menyinari bumi, sementara para pasukan Jalatunda masih tertidur karena kelelahan.
Di saat Jalatunda sedang mengistirahatkan pasukannya itu tanpa mereka sadari dua pasang mata mengintai mereka.
Dua pasang mata itu tidak lain adalah Rawa Candra dan Banjar Samudra , yang dari kemarin sudah mengikuti mereka secara diam-diam mereka berdua mempunyai dendam setinggi langit pada kedua pemimpin pasukan itu.
"Rawa Candra, bagaimana kalau kita lebih dekat lagi"tanya rawa Candra.
"Jangan , ku rasa dari sini sudah cukup dekat "ucap Rawa Candra sambil memperhatikan pasukan itu.
"Candra bukan kah mereka sebentar lagi mereka sampai di sekte Elang Putih kenapa mereka malah berhenti di sini "ucap Banjar Samudra.
"sepertinya mereka menunggu siang untuk melakukan penyerangan "tanya Rawa Candra.
"Apakah sekte Elang Putih tidak menyadari kalau mereka akan di serang hari ini "tanya Banjar Samudra.
"Kenapa kamu bilang begitu Banjar Samudra "ucap Rawa Candra balik bertanya.
"Karena tidak ada tanda tanda dari pergerakan sekte Elang Putih sejauh ini, menurut ku inilah saat yang tepat bagi sekte Elang Putih untuk menyerang mereka, disaat mereka sedang kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh"ucap Banjar Samudra.
"Seandainya mereka tahu pasti mereka akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang mereka "ucap Rawa Candra.
Baru saja Banjar Samudra dan Rawa Candra selesai mengatakan itu tidak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan, Seraaaaang.......!!!!!!!! maju...... hancurkan sekte kumbang merah.
"Kau dengar itu Banjar Samudra"ucap Rawa Candra.
"Ternyata mereka sudah siap dari tadi, baguslah kalau begitu"ucap Banjar Samudra.
"Aku yakin Jalatunda pasti kebakaran jenggot mendapatkan serangan dadakan seperti ini"ucap Rawa Candra.
"Kapan kita bergerak Rawa Candra"ucap Banjar Samudra.
"Tunggu waktu yang tepat,kita juga harus memberikan kejutan pada Jalatunda dan Sindu, Banjar Samudra"ucap Rawa Candra.
__ADS_1
""Kau benar , aku ingin melihat bagaimana reaksi muka mereka setelah melihat aku ada di dalam pertempuran ini"ucap Banjar Samudra
Pasukan sekte Elang Putih berbondong bondong berhamburan menyerang pasukan Jalatunda yang saat itu sedang beristirahat.
Pasukan Jalatunda seketika menjadi panik, mendapatkan serangan dadakan itu, mereka buru buru bangun dan mengambil senjata mereka yang tergeletak.
"Sekte Elang putih datang menyerang.....!!!"teriak salah satu dari pasukan sekte kumbang merah.
"Apa...!!!! rupanya mereka sudah mengetahui pergerakan kita Sindu"ucap Jalatunda.
"Kau benar kakang, cepat kita bersiap siap untuk memberikan pelajaran kepada mereka"ucap Sindu.
"persiapkan diri kalian musuh datang"teriak Pamulang kepada seluruh pasukan sekte Es.
Jalatunda yang melihat pasukan sekte Elang Putih berbondong-bondong mendekat ia segera melepaskan pukulannya ke arah mereka untuk menghambat pergerakan pasukan sekte Elang Putih itu wuuuuus........ duuuaaarrr..... ternyata pukulan kiriman Jalatunda telah di tangkis seseorang dialah Melati yang menangkis pukulan itu.
Berkat kerja keras melati yang melakukan pengintaian , akhirnya pasukan Sekte Elang Putih dapat memberikan kejutan pada pasukan sekte kumbang merah.
Jalatunda tercekat setelah pukulannya dapat di tangkis oleh seseorang.
"kurang ajar rupanya ada juga orang di sana yang mematahkan pukulan ku"ucap Jalatunda sambil mengepalkan tangannya.
"Kenapa jadi begini kakang"Sindu dengan wajah keheranan.
"Aku tidak menduga malah kita yang di serang lebih dulu "ucap Jalatunda dengan geram.
"Karena keadaan sudah begini mau bagaimana lagi mari kita hancurkan mereka semua kakang"ucap Sindu langsung berkelebat ke tengah tengah pertempuran.
Melihat Sindu sudah bergerak Jalatunda pun tidak mau ketinggalan dan segera menyusulnya.
Sindu langsung mengamuk di pertarungan itu, pasukan Sekte Elang Putih dan angin berhembus tidak luput dari pukulan, hingga dalam beberapa kejap saja puluhan bahkan ratusan orang terbaring tak bernyawa.
Di tangan Sindu para pasukan sekte angin berhembus dan sekte Elang Putih bagaikan seekor semut yang dapat dengan mudah di bunuhnya.
Jalatunda, Pamulang serta Dua Algojo juga tidak kalah kejam dengan Sindu mereka bertiga layaknya sedang pesta melakukan pembunuhan.
Brawijaya dan Sanjaya yang lagi sibuk menghadapi pasukan sekte kumbang merah segera mengalihkan perhatian begitu melihat Jalatunda dan teman temannya melakukan pembantaian pada murid muridnya.
Kedua tetua sekte itu segera melesat arah Jalatunda dan Sindu untuk mencegah mereka melakukan pembantaian lebih lanjut, namun Dua Algojo gundul dan Pamulang segera menghadang langkah mereka.
Melihat keadaan yang begitu buruk Ratih langsung berkelebat menuju di tempat Jalatunda berada.
Melihat kedatangan seorang wanita Jalatunda menyunggingkan senyumnya serta memandang Ratih sebelah mata.
Ratih menebaskan pedangnya ke kiri dengan cepat, namun Jalatunda dengan mudah menghindarinya, Ratih mempercepat gerakannya dengan gencarnya terus menyerang nya, namun Jalatunda masih saja bisa menghindarinya.
biar pun serangan itu tidak mengenai Jalatunda secara langsung tapi sudah cukup untuk membuatnya berhati-hati.
Jalatunda benar- benar merasa terkejut tidak menyangka bahwa gadis muda di depannya mempunyai jurus pedang yang begitu kuat.
sementara itu Sanjaya dan Brawijaya yang menghadapi dua Algojo gundul dan Pamulang di paksa harus bekerja keras untuk menghadapi serangan serangannya.
Sanjaya masih untung mendapatkan lawan yang seimbang di banding dengan Brawijaya yang melawan Dua Algojo yang kekuatannya sedikit di atasnya.
Dalam pertempuran itu pasukan sekte kumbang merah makin lama makin terdesak setelah rawa Candra dan Banjar Samudra tiba tiba terjun ke tengah pertempuran dan langsung mengamuk di situ.
"Sinduuuuuuu.......hari ini juga kau harus mati di tangan ku.!!!!!!! "teriak Rawa Candra, kemudian ia melepaskan pukulannya ke arah pasukan sekte kumbang merah Wuuuuus..... wuuuuus..... wuuuuus.... duuuaaarrr..... duuuaaarrr..... duuuaaarrr....para pasukan sekte kumbang merah pun meregang nyawa seketika.
Akibat dari pukulan kemarahan Rawa Candra tadi pasukan kumbang merah yang menjadi korban tidak main main banyak nya.
"Kurang ajar siapa yang telah berani berbuat seperti itu pada pasukan ku "ucap sindu langsung melesat mencari orang yang berteriak-teriak memanggil dirinya.
tidak lama kemudian Sindu pun melihat Rawa Candra sedang menghabisi pasukannya.
"Rawa Candra apa maksud mu menghabisi pasukan sekte kumbang merah"tanya Sindu.
"Haaa......haaa....haaa.... Sindu orang yang bermulut busuk hari ini aku akan membuat perhitungan dengan mu atas terbunuhnya ayah ku dan hancurnya Sekte kalajengking hitam"ucap Rawa Candra.
"Kenapa kau berkata seperti itu pada ku Rawa Candra, bukankah yang membunuh ayah mu adalah Brawijaya"ucap Sindu.
"Kau jangan menuduh orang lain Sindu kau lah yang telah meracuni Barda waktu itu"ucap Banjar Samudra tiba tiba.
"Kau ada di sini Banjar Samudra "ucap Sindu dengan terkejut.
"Rupanya kau yang telah menceritakan semua kejadian itu padanya "ucap Sindu.
"Kau benar Sindu "ucap Banjar Samudra.
"Haaa...haaa..,ayah mu pantas mati rawa Candra karena tidak pantas orang lemah seperti dia menjadi pemimpin sekte "ucap Sindu.
Rawa Candra langsung mengepalkan tangannya begitu mendengar ucapan dari sindu itu, kemudian ia bergerak sangat cepat
__ADS_1
slaaap..... slaaaap....Hiiiiaaaat...... dessss........ braaak.....Rawa langsung menggunakan kecepatannya kemudian langsung memukul sindu hingga membuatnya terlempar.
Sindu langsung mengeluarkan darah dari mulutnya setelah menerima pukulan itu.
Banjar Samudra sangat terkejut melihat kecepatan Rawa Candra itu,ia tidak mengira kalau Rawa Candra memiliki kekuatan seperti itu.
"Akh..... kurang ajar kau Rawa Candra"ucap sindu kemudian berdiri sambil menatap Rawa Candra penuh dengan kemarahan.
Di belakang pasukan sekte Elang Putih Jaka dan sesepuh Paksi Darma tampak masih belum turun tangan , karena pasukan sekte Elang Putih terlihat mendominasi.
"Tetua orang yang sedang bertarung dengan Ratih itulah yang bernama Jalatunda"ucap sesepuh Paksi Darma sambil menunjuk kearah pertempuran.
"Baiklah Jalatunda biar aku yang urus , sesepuh dan seluruh murid sekte Langit tahan diri dulu , karena berkat dua orang itu sekte Elang Putih dapat menguasai keadaan"ucap Jaka sambil menunjuk pada Rawa Candra dan Banjar Samudra.
"Jika itu perintah tetua , baiklah"ucap sesepuh Paksi Darma.
"Melati kau bantu paman Brawijaya sepertinya dia tidak akan mampu menghadapi dua orang gundul itu"ucap Jaka.
"Baiklah tetua"ucap Melati kemudian melesat ke arah Brawijaya.
Kemudian Jaka segera melesat menuju ke tempat di mana Jalatunda berada.
Sesaat kemudian jaka pun tiba di tempat Jalatunda yang sedang bertarung dengan Ratih.
Melihat Ratih terdesak tanpa pikir panjang jaka segera bertindak membantu Ratih.
"Ratih minggirlah biarkan aku yang melawan dia"ucap Jaka.
"Baiklah,aku serahkan dia pada mu"ucap Ratih.
Setelah mendengar perintah Jaka itu Ratih segera menyingkir dari pertarungan itu.
"Jalatunda aku lawan mu"ucap Jaka dengan tenang.
"Baiklah jika kau menginginkan kematian,akan ku berikan pada mu tanpa rasa sakit"ucap Jalatunda.
"Buktikan jika kau mampu"ucap Jaka.
Jalatunda langsung bergerak cepat slaaaap menyerang Jaka, mendapatkan serangan yang tiba tiba itu Jaka juga bergerak cepat menghindarinya.
"kemampuan mu boleh juga bocah"ucap Jalatunda segera menyerang Jaka kembali.
Hiiiiaaaat.... Jalatunda segera mengeluarkan pukulan tapak es nya wes... wes.....jaka mengindari pukulan itu ,ia merasakan sambaran pukulan Jalatunda itu menimbulkan hawa sangat dingin pada tubuhnya,dapat di pastikan kalau mengenai tubuh pasti dapat membuat jantung jadi beku seketika.
Jalatunda langsung mencecar Jaka dengan pukulan pukulan esnya, tapi Jaka selalu berkelit menghindarinya.
Jalatunda makin lama makin geram karena tak satu pun dari serangannya dapat mengenainya.
Walaupun Jalatunda bertangan satu namun tidak mengurangi kedahsyatan serangannya itu.
Para pasukan yang terkena pukulan nyasar Jalatunda seketika itu langsung terkapar menjadi bongkahan es.
Melihat kejadian itu Jaka segera menyiapkan jurus bidadari kesunyian.
Plaaak...... kedua tangannya mereka bertemu ,Jalatunda dan jaka sama sama tersentak mundur masing masing lima langkah ke belakang.
Jalatunda merasa terkejut dengan pemuda di depannya itu karena dapat mengimbangi tenaga dalamnya.
"Siapa kau sebenarnya cepat katakan"ucap Jalatunda dengan penasaran.
"Heh...kau tidak perlu tahu siapa aku , hari juga aku akan memotong satu lagi tanganmu Jalatunda"ucap Jaka.
"Kurang ajar...!!!umpat Jalatunda.
Hiiaaaat..Jalatunda mengerang kuat kuat...hawa dingin di tempat itu makin lama makin menjadi sangat kuat hingga membuat tempat itu menjadi sedingin es.
"Mundur kalian semua....!!!!"teriak Jaka pada seluruh pasukan sekte Elang Putih.
Bagi yang terlambat mundur naas bagi mereka karena seketika itu juga langsung membeku menjadi es.
Jaka segera mengeluarkan jurus Pencakar langitnya untuk membentengi dirinya, seketika itu hawa panas pun menyelimuti tubuhnya sehingga tidak terpengaruh oleh kekuatan dingin yang di keluarkan oleh Jalatunda itu.
"Apa hubungannya anak ini dengan sekte langit"batin Jalatunda setelah mengetahui jurus yang Jaka gunakan.
Tidak mau terus memikirkan tentang Jaka Jalatunda lalu menyerangnya wuuuuus.... bongkahan es dengan jumlah yang banyak keluar dari kedua tangannya.
Tubuh Jaka melayang ke atas sembari mengirimkan pukulan pada bongkahan bongkahan es itu blaaaar..... blaaaar..... dan hancur lah semua es es itu.
Jalatunda segera melesat cepat menyerang jaka dengan jurus tapak es nya hiiaaaat.... wes...wes... namun tidak juga mengenai sasaran karena dengan gerakan yang sangat cepat jaka menghindarinya.
Blaaaar... blaaaar..... serangan tapak es Jalatunda hanya melewati tubuh Jaka.
__ADS_1
Karena serangannya tak satu pun mengenai dapat mengenai Jaka ,Jalatunda segera mengeluarkan pedang andalannya .