
Setelah merasakan hawa pedang yang begitu mengerikan Sindu kemudian melesat ketengah pertempuran untuk membantu Rawa Candra dan dua Algojo gundul.
Hiaaat...... Sindu segera melepaskan pukulannya wuuuuus...... mengetahui adanya serangan mendekat Jaka mengayunkan pedangnya wes....sebuah sinar keluar dari pedang itu lalu duuuaaarrr...... pukulan sindu berhasil di tangkisnya.
"Jangan biarkan orang ini kabur ,kita harus dapat membunuh dia"ucap Sindu memberi perintah.
"Lalu bagaimana dengan Brawijaya guru"tanya Rawa Candra.
"Orang ini lebih berbahaya daripada dia ,kita bereskan orang ini agar suatu saat dia tidak jadi batu sandungan"ucap Sindu.
"Baiklah jika seperti itu "ucap Rawa Candra.
Rawa Candra, Sindu dan Dua Algojo gundul segera mengepung Jaka , namun hal itu tidak membuat Jaka panik apa lagi gentar.
Hiiiiaaaat...dua Algojo kembali menyerang Jaka,Rawa Candra tidak mau ketinggalan juga segera ikut menyerang.
Traaang... terdengar pedang Jaka berbenturan dengan tombak Dua Algojo, wes...Rawa Candra menyambar jaka dengan jurus tangan apinya.
Jaka memiringkan badannya menghindari jurus itu, kemudian bersalto di udara menghindari tusukan tombak Dua Algojo.
Slaaap.... slaaaap... wusss..... Sindu bergerak cepat menyerang Jaka, mengetahui kedatangan Sindu yang tiba-tiba Jaka langsung menyiapkan pukulan bidadari kesunyian, hingga duuuaaarrr....benturan tenaga dalam pun tak terhindarkan .
Jaka terpental lima tombak kebelakang hampir jatuh, sedangkan Sindu hanya mundur dua langkah.
Menyadari perbedaan kekuatan yang begitu jauh jaka pun memutuskan untuk mundur dari pertarungan itu.
"Kalau aku melanjutkan pertarungan ini lebih lama, sepertinya aku akan mengalami kerugian "ucap Jaka dalam hati.
Sebenarnya Jaka belum mengeluarkan semua jurus jurusnya, entah mengapa ia bermaksud menyudahi pertarungan itu.
Rawa Candra dan Dua Algojo kembali maju menyerang Jaka, begitu juga dengan Sindu berkelebat cepat ke arahnya.
Melihat mereka maju serempak Jaka segera melepaskan pukulannya wuuuuus...... duaaarr.... pukulan itu membuat Sindu dan yang lainnya terpaksa menghindar.
Setelah melepaskan pukulan itu , Jaka langsung meninggalkan mereka dengan menggunakan jurus sepuluh langkah malaikat dan lenyap dari tempat itu.
"Kurang ajar kemana dia"ucap Rawa Candra.
"Sialan cepat sekali menghilangkannya orang itu"ucap Sindu.
"Sekarang bagaimana guru"tanya Rawa Candra.
"Kita kembali ke Sekte kumbang merah, tetua sekte harus mengetahui hal ini"ucap Sindu.
"Apakah kita tidak mencoba mencari orang itu guru"tanya Rawa Candra.
"Tidak perlu itu hanya akan buang buang tenaga saja, tapi kita perlu menyelidiki sekte Elang Putih apakah orang itu ada hubungannya atau tidak dengan sekte itu"ucap Sindu lalu berkelebat pergi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Brawijaya sampai di Sekte Elang putih dengan nafas tersengal sengal.
Arini dan Ratih segera berlari menghampiri ayahnya setelah melihat keadaan ayahnya seperti itu.
"Ayah apa yang terjadi , kenapa pakaian ayah kotor sekali dan bercak darah "tanya Arini penasaran.
"Tiga tetua Sekte telah tewas di hutan itu "ucap Brawijaya dengan tertunduk lesu.
Arini dan Ratih terkejut bukan main mendengar perkataan ayahnya itu.
"Kenapa itu bisa terjadi ayah "tanya Arini.
"Ini semua perbuatan orang orang Sekte Kalajengking hitam Arini "ucap Brawijaya.
", Bukankah sekte itu sudah hancur beberapa tahun silam "ucap Arini.
"Benar apa kata mu sekte itu sudah hancur tapi rupanya orang orang sisa dari sekte itu sudah menggalang kekuatan untuk balas dendam kepada para sekte yang dulu menyerangnya "ucap Brawijaya.
"Lalu tentang dua orang berpakaian hitam itu , apakah mereka orang sekte kalajengking hitam ayah "tanya Ratih.
"Ayah selama ini telah salah menilai orang itu Ratih,tadi orang berpakaian hitam lah yang telah menyelamatkan ayah"ucap Brawijaya.
"Apakah ayah yakin bahwa orang itu bukan dari sekte kalajengking hitam "ucap Arini.
"Kalau orang itu dari kalajengking hitam ayah tidak akan selamat sampai sini Arini "ucap Brawijaya .
",Lalu orang yang berpakaian hitam itu sekarang bagaimana ayah "tanya Ratih dengan cemas.
"Entah lah ayah tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang , semoga saja ia tidak apa "ucap Brawijaya.
Mendengar perkataan ayahnya itu Ratih segera pergi dari situ dan menuju ke kandang kuda untuk mencari Jaka.
Arini dan Brawijaya saling melempar pandang melihat Ratih pergi begitu saja tidak tahu kenapa.
"Kira kira orang yang berpakaian hitam itu siapa ayah"tanya Arini.
"Mmmm...ayah tidak tahu siapa orang itu tapi dari nada bicaranya memang tidak asing seperti yang kau katakan waktu itu"ucap Brawijaya.
"Jadi orang itu benar Jaka Ayah "tanya Arini.
"Mustahil kalau dia ,jaka tidak pernah berlatih ilmu Kanuragan , sedangkan orang itu ilmunya sangat tinggi "ucap Brawijaya.
Di kandang kuda Ratih mencari cari Jaka, namun tidak menemukannya,ia kemudian ke kamarnya tapi tetap saja tidak ada.
__ADS_1
"Jaka.....!!!"teriak Ratih.
",Jaka....", teriak Ratih lagi.
Ratih pun menangis menyangka Jaka sudah mati di hutan Sunyi.
"Mengapa kau menangis Ratih"ucap Jaka tiba-tiba.
"Jaka "ucap Ratih langsung berlari memeluknya tanpa sadar.
"Dasar tukang kuda bodoh,aku sangat mengkhawatirkan mu bodoh"ucap Ratih sambil memeluk jaka dengan erat.
"Aku baik-baik saja ,apa yang kamu khawatir kan "ucap Jaka dengan santai.
"Kata ayah kamu berhadapan dengan orang orang kuat,jadi aku khawatir kamu kenapa kenapa "ucap Ratih.
"Ratih...mau sampai kapan kamu memeluk aku seperti ini kalau ada yang lihat bagaimana "ucap Jaka menyadarkan Ratih.
Ratih langsung sadar atas perbuatannya itu dan langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf Jaka aku tidak sengaja"ucap Ratih sambil memalingkan mukanya karena merasa malu.
"Ratih cepat ikut aku ,ada sesuatu yang akan ku perlihatkan pada mu"ucap Jaka sambil menarik tangan Ratih.
"Ada apa Jaka seperti penting sekali"ucap Ratih .
"Ini... lihatlah aku menemukan tumbuhan api ungu"ucap Jaka sambil menunjukkannya pada Ratih.
"Wah....dengan ini berarti kamu sudah punya dua Jaka"ucap Ratih.
"Kamu benar Ratih,kita bisa pergi ke Sekte Langit dengan adanya ini"ucap Jaka.
"Baiklah kapan kita akan berangkat ke sana"tanya Ratih.
"Lebih cepat lebih baik Ratih, karena aku ingin menjadi lebih kuat "ucap Jaka teringat pertarungan dengan Sindu tadi.
"Baiklah bagaimana kalau besok kita berangkat "ucap Ratih.
"Baiklah , tapi kau harus minta izin dulu sama ayah dan ibu mu "ucap Jaka.
"iya juga,tapi kalau aku minta izin pada ayah pasti dia akan tanya dari mana aku mendapatkan tumbuhan api ungu ini jaka"ucap Ratih.
"Kalau begitu ,kau bilang saja mau ketemu kakek mu dan akan tinggal di sana untuk sementara waktu, bagaimana "ucap Jaka.
"Kita berbohong dong Jaka "ucap Ratih.
"Terpaksa dari pada rahasia kita terbongkar "ucap Jaka karena tidak punya cara lain.
Ratih terdiam memikirkan usul Jaka itu, setelah sekian lama berfikir akhirnya Ratih pun setuju.
"Kalau begitu kita harus bersiap siap dari sekarang supaya besok kita dapat langsung berangkat "ucap Jaka.
"Baiklah kalau "ucap Ratih lalu meninggalkan Jaka.
"Ternyata di luar sana terdapat orang orang berilmu dan kuat aku tidak boleh hanya berdiam diri di tempat ini, bagaimana pun aku harus berkelana ke dunia luar "ucap Jaka sambil mengepalkan tangannya.
Malam itu juga Ratih membicarakan pada ibu dan ayahnya bahwa ia ingin pergi ke lembah ketenangan karena sudah sangat rindu pada kakeknya .
Mendengar itu Brawijaya dan Sumirah heran tiba tiba Ratih ingin pergi ke lembah ketenangan karena biasanya ia tidak pernah mau kalah diajak ke sana karena beralasan suasana nya terlalu sepi.
"Kalau ayah dan ibu tidak mengizinkan ya sudah Ratih tidak akan memaksa ayah dan ibu untuk memberikan izin"ucap Ratih seolah olah tidak butuh.
"Baiklah ayah akan izinkan kamu ke sana nanti kakak mu yang akan mengantarkan"ucap Brawijaya.
"Tidak mau kalau sama kak Arini , terlalu cerewet dan banyak aturan"ucap Ratih.
"Ahem.... siapa yang tadi bilang aku cerewet dan banyak aturan "ucap Arini sambil melirik ayahnya.
"Sudah.. sudah kalian berdua jangan ribut, kalau kamu tidak mau pergi dengan Arini apa kamu mau pergi sendiri Ratih"tanya ayahnya.
"Aku ingin pergi dengan Jaka ayah"ucap Ratih.
"Apa dengan jaka .. kalau di perjalanan ada bahaya apa dia bisa melindungi mu "ucap Arini.
"Apa pun yang terjadi pokoknya aku ingin pergi dengan Jaka Ayah "ucap Ratih kukuh dengan perkataannya.
"Dengar Ratih, perjalanan ke lembah ketenangan itu tidak dekat dan penuh bahaya "ucap Brawijaya ayahnya.
"Kalau pergi sama Jaka tidak boleh ya sudah Ratih batal tidak jadi ke sana "ucap Ratih dengan cemberut.
"saya pikir tidak masalah kalau dia pergi dengan jaka kakang , walaupun dia tidak bisa ilmu Kanuragan tapi dalam berkuda dia cukup pintar dan tangkas ,jadi dalam perjalanan dia tidak akan merepotkan Ratih dan saya yakin Ratih akan aman bersama jaka "ucap Sumirah ibunya,ia berkata seperti itu karena sudah tahu rahasia Jaka secara diam-diam.
Brawijaya termenung mendengar perkataan Sumirah istrinya itu ,ia mempertimbangkan baik dan buruknya jika Ratih pergi bersama Jaka, bukannya dirinya tidak percaya sama jaka tapi karena Jaka tidak mempunyai apa apa itulah yang menjadi beban pikiran dirinya .
"Baiklah kalau begitu ayah izinkan kamu pergi dengan jaka"ucap Brawijaya dengan berat hati.
Ratih sangat gembira mendengar ayahnya mengizinkan ,lalu ia pergi ke kamarnya.
Sepeninggalan Ratih, Arini protes pada ayahnya karena mengizinkan Ratih pergi dengan Jaka, namun Brawijaya ayahnya tidak menggubrisnya hingga Ratih pun merasa kesal dengan sikap Ayahnya.
Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya akhirnya Jaka dan Ratih pun pergi meninggalkan Sekte Elang Putih menuju ke Sekte Langit.
__ADS_1
Dalam hidupnya ini adalah pengalaman pertama bagi Jaka dan Ratih melakukan perjalanan yang cukup jauh ,karena biasanya Jaka hanya pergi ke hutan mencari rumput, sedangkan Ratih kebanyakan berdiam diri di rumah.
Sementara itu di Sekte angin berhembus Sanjaya terlihat sangat gembira sekali, setelah Sinta dapat sembuh dari penyakitnya.
Sanjaya tidak menyangka bahwa pemuda yang bersama Ratih mempunyai kemampuan untuk mengobati Sinta.
Sinta yang saat itu sudah sembuh dari penyakitnya pagi itu ,sedang berbincang bincang dengan ayahnya berbicara tentang orang yang menyelamatkan hidupnya itu.
"Ayah seperti aku harus menemui orang itu untuk mengucapkan rasa terima kasih"ucap Sinta.
"Ya , memang kau harus melakukan hal itu kita tidak boleh melupakan orang yang telah berbuat baik pada kita"ucap Sanjaya.
"Kakak tidak perlu khawatir ,aku bersedia kok mengantar kakak ke sekte Elang Putih"ucap Lestari tiba tiba muncul dari dalam.
"Coba ayah dan lestari ceritakan siapa orang yang mengobati saya itu, apakah dia salah satu murid dari sekte itu"tanya Sinta.
"Saya juga kurang tahu tentang itu Sinta adik mu lah yang lebih tahu karena kemarin dia bersamanya ke mari"ucap Ayahnya.
"Tari cepat cerita kan tentang orang itu"pinta Sinta.
"Ya..ya baiklah "uca lestari sambil membetulkan posisi duduknya, kemudian lestari menceritakan tentang dia bertemu Jaka hingga akhirnya mengobati kakaknya.
"Jadi orang itu bernama Jaka,berarti dia murid dari Sekte itu Tari karena bersama dengan Ratih"tanya Sinta.
"Soal Jaka murid Sekte itu aku tidak tahu pasti kakak, karena aku tidak bertanya soal itu padanya"ucap lestari
"Kalau begitu , bagaimana sekarang kalau kita ke sana"ucap Sinta.
"Untuk saat ini ayah tidak mengizinkan kalian untuk pergi kemana mana "ucap Ayahnya Sanjaya , setelah mendengar perkataan Sinta tadi.
"Kenapa ayah, bukan kah tadi ayah bilang kita tidak boleh melupakan orang yang telah berbuat baik kepada kita"tanya Sinta.
"Iya benar, tapi untuk sekarang ini keadaan lagi tidak menentu setelah terbunuhnya tiga tetua Sekte"ucap Sanjaya.
"Tiga tetua Sekte terbunuh, kapan itu terjadi ayah"tanya Shinta.
"Mmmmm....baru baru ini "ucap ayahnya sambil mengelus jenggotnya.
"Siapa pelakunya ayah"tanya Lestari.
"Orang orang dari sekte kalajengking hitam Tari "ucap Ayahnya.
"Bukankah sekte itu sudah hancur beberapa tahun lalu, kenapa tiba-tiba mereka muncul lagi"ucap Sinta terkejut.
"Sepertinya akan segera terjadi sesuatu dalam waktu dekat ini"ucap Sanjaya.
maksud ayah akan terjadi perang begitu" ucap Lestari.
"Sudahlah , kita jangan terlalu memikirkan hal itu, sebaiknya kalian berdua lebih giat lagi dalam berlatih supaya kalian bertambah kuat "ucap ayahnya.
"Baik ayah "ucap lestari dan Sinta.
Setelah adanya berita tentang munculnya orang orang dari sekte kalajengking hitam Sanjaya akhirnya memutuskan untuk melatih anak dan murid muridnya lebih keras lagi.
...--------------...
... ...
(DI LAIN TEMPAT)
Sindu dan Rawa Candra terlihat memasuki sebuah bangunan yang megah dan besar.Di kiri dan kanan bangunan itu terdapat pohon pohon besar yang daunnya rimbun sekali.
Ternyata itu adalah Sekte Kumbang merah yang merupakan sekte tempat Sindu dan Rawa Candra berasal.
Mereka berdua menghentikan langkahnya ketika memasuki aula ruangan itu kemudian membungkukkan badannya sambil memberikan hormat pada seorang yang kira kira umurnya lima puluh tahunan,dia adalah tetua Sekte kumbang merah yang bernama Banjar Samudra.
Melihat kedatangan mereka berdua Banjar Samudra mengembangkan senyum di bibirnya di sertai tatapan mata penuh dengan kehangatan.
"Hormat kami berdua tetua sekte" ucap Sindu dan Rawa Candra.
Banjar Samudra mengangguk menerima hormat mereka berdua dan melambaikan tangannya mengisyaratkan mereka duduk.
"Aku merasa senang dengan hasil kerja kalian beberapa waktu lalu karena telah berhasil membunuh tiga tetua Sekte sekaligus "ucap Banjar Samudra.
"Terima kasih atas pujian tetua "ucap Sindu.
"Sindu aku sangat tertarik sekali dengan pedang yang kau sebut kan kemarin, menurut mu apakah kau bisa melacak keberadaan pedang itu"ucap Banjar Samudra.
"Sulit tetua, karena orang yang berpakaian hitam kemarin itu sepertinya bukan dari sekte Elang Putih "ucap Sindu.
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan begitu, bukan kah orang itu yang menyelamatkan Brawijaya "ucap Banjar Samudra.
"Memang benar tetua,tapi dalam pertempuran kemarin aku tidak melihat dia menggunakan satu pun jurus jurus dari sekte Elang putih "ucap Sindu.
"Benar apa yang guru katakan tetua, orang hitam itu saya kira bukan murid sekte itu"ucap Rawa Candra.
Banjar Samudra tampak berfikir mendengar perkataan dari Sindu dan Rawa Candra itu.
"kira kira siapa orang misterius itu"ucap Banjar Samudra dalam hati.
"Untuk sementara kita lupakan dulu mengenai orang itu,aku ingin fokus ke rencana awal kita untuk menyerang Sekte Elang Putih "ucap Banjar Samudra.
__ADS_1
"Rawa Candra kau pergilah menemui kakang Jalatunda dan berikan surat ini padanya "perintah Banjar Samudra.
"Baik tetua "ucap Rawa Candra, kemudian mengambil surat itu dari tangan Banjar Samudra.