Jurus Pembelah Langit

Jurus Pembelah Langit
Rencana


__ADS_3

Setibanya di sekte langit sesepuh Paksi Darma langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar begitu melihat semua pasukan pulang dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun.


"Hormat kami sesepuh"ucap melati, Ratih, Sinta, lestari dan Arini.


"Bangunlah kalian semua aku tahu, kalian dapat menjalankan tugas yang diberikan oleh tetua dengan baik"ucap Paksi Darma.


"Kalian cepat beristirahat lah dan ingat nanti malam kalian semua harus berkumpul di ruang pertemuan karena ada sesuatu hal yang harus aku sampaikan "ucap Paksi Darma.


"Baik sesepuh "ucap mereka serentak.


"Tetua sepertinya memilih orang orang yang tepat dengan adanya mereka generasi sekte langit selanjutnya pasti akan gemilang "gumam Paksi Darma sambil menatap kepergian mereka berlima.


Pada malam harinya sesuai perintah Paksi Darma, melati Ratih dan yang lainnya pun segera memenuhi panggilan Paksi Darma itu.


sesampainya di ruangan pertemuan itu mereka sudah mendapati Paksi Darma dan Narantaka yang sudah menunggunya ,namun mereka tidak melihat adanya Jaka di tempat itu.


Paksi Darma segera mempersilahkan melati dan teman temannya untuk duduk di kursi yang telah di siapkan.


Ratih mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan itu sepertinya ada yang dia cari, setelah sekian lamanya memandangi tempat itu namun tetap tidak menemukan apa-apa dengan rasa sedikit ragu akhirnya ia mengutarakan ganjalan yang ada di hatinya itu kepada paksi Darma.


"Maaf sesepuh saya mau bertanya di manakah tetua Jaka kenapa tidak hadir dalam pertemuan ini"tanya Ratih dengan memasang muka kecewa.


"Oh, tetua saat ini sedang pergi bersama dengan Dewi Pandan Arum Ratih mengenai kemana dia aku sendiri tidak tahu karena dia hanya bilang mau pergi sebentar"ucap Paksi Darma.


"Kurang ajar kemana perginya si bodoh itu awas,kalau nanti dia kembali"ucap Ratih dalam hati dengan penuh ancaman.


"Berhubung semuanya sudah berkumpul aku mulai saja pertemuan ini,aku mengundang kalian semua ke sini karena ada sesuatu yang penting yang ingin ku sampaikan yaitu sebentar lagi kita akan mengadakan penyerangan ke kerajaan Serigala api "ucap Paksi Darma.


"Kapan itu sesepuh"tanya Ratih.


"Secepatnya karena kita sudah lihat sendiri bagaimana sepak terjang mereka yang ingin menghancurkan sekte Elang Putih dan sekte angin berhembus,kita tidak bisa membiarkan hal itu terus berlanjut bisa bisa mereka semakin merajalela "ucap sesepuh Paksi Darma.


"Apakah jumlah pasukan kita cukup sesepuh, bukan kah untuk menyerang ke sana membutuhkan pasukan yang besar "ucap melati.


"Kau benar melati tapi kita tidak sendirian, masih ada Sekte bintang timur, sekte Elang Putih dan juga sekte angin berhembus "ucap Paksi Darma menerangkan.


"Tapi itu masih belum cukup sepertinya sesepuh, karena pasukan mereka jauh lebih banyak dari kita walau pun beberapa sekte sudah bergabung "ucap melati.


"Maka dari itu aku mengumpulkan kalian di sini, tidak lain karena ingin mencari jalan keluar dari dari masalah itu "ucap Paksi Darma.


"Bagaimana kalau kita menyerang mereka satu persatu sesepuh dengan demikian kita bisa mengurangi kekuatan mereka sedikit demi sedikit "ucap Sinta.


"Saya setuju dengan pendapat Sinta itu sesepuh, itulah cara terbaik bagi kita untuk melemahkan mereka "ucap Arini.


"Aku sudah memikirkan cara itu , dengan bergerak menyerang secara bersamaan atau dengan kata lain kita membuat kekacauan di seluruh kerajaan kerajaan pendukung kerajaan serigala api itu untuk membuat mereka panik"ucap Paksi Darma.


"Kalau begitu kita harus membagi pasukan kita menjadi beberapa kelompok sesepuh"ucap Sinta.


"Benar Sinta dengan kita membuat kelompok maka kita bisa menyerang mereka secara serentak di tempat yang berbeda-beda ,


misalnya kelompok Ratih menyerang pos di sebelah selatan kerajaan Tataran, kelompok melati menyerang di pos sebelah Utara kerajaan Serigala api dan yang lainnya,


kita lakukan penyerangan dalam waktu sekali serang walau pun di tempat yang berbeda-beda "ucap Paksi Darma menjelaskan secara detail.


"Dengan adanya kerusuhan di setiap pos pos tentu akan menyibukkan mereka"ucap Arini


"Ya itu lah tujuan kita "ucap Paksi Darma.


"Soal membuat kerusuhan sesepuh bisa serahkan soal itu pada ku"ucap Ratih.


"Baiklah, rencana ini secepatnya akan segera kita jalankan "ucap Paksi Darma.


Pembahasan mengenai rencana penyerangan itu terus berlanjut sampai tengah malam.


Walau pun mereka masih terbilang muda tapi cara berfikir mereka sungguh luar biasa, karena pendapat pendapat mereka membuat Paksi Darma menemukan jalan keluar dari permasalahan yang selama ini ia sendiri tidak tahu bagaimana mencari menyelesaikannya.


Malam itu selesai pertemuan Sinta terlihat sedang memandangi langit malam yang penuh bintang dari balik jenderalnya yang terbuka.


Di balik wajah gadis itu seperti tersimpan suatu permasalahan yang selama ini di pendamnya.


Berkali-kali ia terlihat berjalan mondar mandir di ruangan kamarnya seakan ada kegelisahan yang sedang ia rasakan.


Tak lama kemudian ia pun melangkah keluar dari kamar lalu menoleh ke kanan dan kiri mengawasi keadaan.


Setelah di rasa aman ia segera berkelebat cepat meninggalkan tempat itu.


Di udara malam yang dingin dan gelapnya suasana Sinta terus berjalan melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat, dengan ilmu ringan tubuhnya yang mendekati taraf sempurna Sinta dapat bergerak cepat tanpa meninggalkan bunyi sekecil apa pun, Dan tidak berapa lama kemudian ia pun menghentikan langkahnya ketika sampai di depan sebuah bangunan.


Kemudian ia melangkah mendekati pintu bangunan yang berada di depannya itu , namun ia seakan ada rasa ragu untuk mengetuknya.


Dan kemudian tanpa di ketahui kehadirannya mendadak seseorang meneriakinya .


"Siapa itu...!!!"tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakangnya.


"Celaka"ucap Sinta


Ia langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu dengan berkelebat cepat wesss....


"Tunggu... jangan lari..." teriak orang itu.


Kemudian orang itu segera melesat mengejarnya,ia pun tanpa mengalami kesulitan yang berarti dalam mengejarnya hingga akhir orang itu mendarat tepat di hadapan Sinta.


"Sinta...."ucap orang itu yang tidak lain adalah Jaka dengan wajah terkejut.


"Ada apa malam malam begini ada di luar Sinta"tanya Jaka.


"Tuan sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada mu tapi...


"Katakanlah ada apa Sinta"ucap Jaka.


Sinta kemudian berlutut di hadapan Jaka.


Jaka merasa heran dengan sikap dari Sinta yang tiba-tiba berlutut.


"Bangunlah sinta apa yang kau lakukan dan ada apa katakan pada ku"ucap Jaka.


Kemudian sinta pun mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya pada Jaka.


Jaka mengerutkan keningnya mendengar perkataan dari Sinta itu , kemudian ia menganggukkan kepalanya.


Jaka dan Sinta pun akhirnya terjadi perbincangan di malam itu.


Namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka itu dia lah Arini yang merupakan teman sekamarnya Sinta.


"Jika kau ingin bergabung dengan kami berdua jangan hanya bersembunyi di situ keluarlah"ucap Jaka.


Dengan perasaan malu mau tidak mau akhirnya Arini pun menampakkan dirinya.


"Arini jadi kau belum tidur"ucap Sinta dengan terkejut.


"Maafkan aku tetua bukan maksud ku ingin mencuri pembicaraan tetua dengan Sinta.


"Tidak apa-apa Arini duduklah kemari bersama kami "ucap Jaka


"Baik tetua "ucap Arini kemudian ia segera mengambil tempat duduk di dekat Sinta.

__ADS_1


"Jadi kau telah mendengar semua percakapan kami berdua Arini "tanya Sinta.


"Ya dia dengar semua karena dari tadi ia sudah mengikuti mu"ucap Jaka.


"Maaf Sinta soalnya tadi kamu keluar dengan tiba-tiba jadi karena ingin tahu,aku terpaksa mengikuti mu"ucap Arini.


"Kalian berdua tidak perlu berdebat, soal permintaan Sinta tadi , baiklah aku akan mengabulkan untuk berlatih di tempat ku"ucap Jaka.


"Kalau begitu saya juga minta pada tetua untuk juga mengizinkan ku berlatih di tempat tetua "pinta Arini.


"besok pagi kalian berdua bisa masuk ke tempat ruangan itu selama yang kalian mau"ucap Jaka.


"Terima kasih tetua "ucap Arini.


"Saya juga mengucapkan terima kasih pada tetua "ucap Sinta.


"ya, berhubung sudah larut malam cepatlah kalian kembali ke kamar kalian "ucap Jaka.


Setelah berkata seperti itu Jaka kemudian berkelebat meninggalkan mereka berdua.


Keinginan Sinta untuk berlatih di tempat Jaka bukan tanpa alasan,ia bertekad untuk menjadi lebih kuat lagi, karena ia merupakan penerus bagi sekte angin berhembus,selain itu karena sebentar lagi sekte langit ingin melakukan penyerangan ke sekte serigala Api, jadi dia ingin lebih kuat lagi.


Keesokan paginya seperti yang sudah Jaka katakan Arini dan Sinta pun langsung bergegas menuju ke tempat latihan Jaka.


Sementara itu setelah menerima sebuah peti mati yang berukuran sedang, Sanca Buana dan seluruh para Senopatinya merasa sangat terkejut begitu melihat isi dalam peti itu.


Terlebih lagi Nyai Konde Mas, Wardana, Paronwaja, Wulung Kuning dan Petung Gede mereka berlima langsung terperanjat melihat kepala kepala itu.


Darah mendidih dan kobaran api dendam segera menyala di tubuh mereka.


Nyai Konde mas meminta menyerang balik pada pada Sanca Buana saat itu juga, begitu juga dengan Paron Waja dan yang lainnya.


Paronwaja terlihat mengepalkan tangannya melihat potongan potongan kepala itu, rasanya ingin mengamuk saat itu juga jika tidak ada Sanca Buana di tempat itu.


Wajah Merah padam juga di tunjukkan oleh Wardana melihat murid kesayangannya mati begitu sangat tragis.


"Saya mohon pada tuan Sanca Buana untuk segera memerintahkan untuk memerangi mereka secepatnya "ucap Paronwaja.


"Benar tuan saja kami ingin secepatnya membalas sakit hati kami ini atas perbuatan mereka itu "ucap Wulung Kuning.


"Kalian semua bodoh dan bodoh,ini akibatnya kalau kalian meremehkan lawan kalian "ucap Sanca Buana dengan kemarahan.


Kelima Senopati itu cuma menundukkan kepalanya mereka tidak berani menatap muka Sanca Buana yang sedang marah itu.


"Seandainya kemarin tidak melakukan hal yang begitu ceroboh pasti kita sudah menghancurkan sekte itu"ucap Sanca Buana.


"Tapi kami tidak mengira kalau sekte langit akan ikut campur dalam penyerangan ini tuan"ucap Sanca Buana.


"Cukup kau tidak perlu membela diri, semua itu tidak ada gunanya, kalau Gusti prabu tahu tentang kegagalan ini mau taruh di mana muka ku"ucap Sanca Buana.


Kelima orang Senopati itu semakin menundukkan kepalanya dalam dalam.


Mereka berlima mengakui bahwa ini adalah kebodohan mereka sendiri, seandainya waktu itu mereka berlima ikut mungkin keadaan tidak akan seburuk itu,tapi nasi sudah menjadi bubur.


"Dengarkan semua mulai saat ini tujuan kita adalah sekte langit, masalah sekte yang lain kita kesampingkan dulu "ucap Sanca Buana.


"Baik tuan Sanca "ucap mereka berlima.


"Aku tidak mau dalam penyerangan sekte langit nanti ada yang berbicara dan bertindak bodoh seperti dalam penyerangan kemarin "ucap Sanca Buana.


Kelima orang Senopati itu merasa di telanjangi oleh kata kata Sanca Buana itu, ingin marah tapi percuma mereka tidak punya hak untuk itu di hadapannya.


Setelah terbunuhnya sambar nyawa, pembunuh emas dan pembunuh Perak nyai Konde Mas secara diam-diam menyuruh beberapa orang muridnya untuk pergi ke sekte langit untuk selalu mengawasi keadaan di sekte itu.


Beberapa hari kemudian


Dalam kepergiannya kali ini Ratih membawa perbekalan uang yang begitu banyak, karena ia bermaksud untuk pergi ke rumah pelelangan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka bertiga pun tiba di kota bintang timur.


"Yang ku suka dari kota ini selalu ramai dan tidak pernah sepi dari siang sampai malam"ucap Ratih setelah melihat keadaan di kota bintang timur itu.


"Tentu saja Ratih selain letaknya dekat dengan sekte bintang timur juga merupakan kota terbesar di benua ini"ucap Jaka.


"Tetua benar, walau pun sekte langit masih satu benua dengan sekte bintang timur dan sekte terbesar tapi masih kalah ramai jika di bandingkan dengan kota ini"ucap melati.


"Ya mungkin yang menyebabkan kota ini ramai salah satunya adalah para pembuat senjata itu, kalian lihat di sana sini terdapat banyak orang yang menjual bermacam-macam senjata "ucap Jaka.


"Eh... Jaka bagaimana kalau kita melihat lihat dulu senjata senjata di sini siapa tahu ada yang cocok untuk aku pakai "usul Ratih.


"Kalau kamu tertarik baiklah ayo kita lihat lihat senjata apa saja yang ada di kota ini "ucap Jaka.


Kemudian mereka bertiga pun menghampiri seorang penjual di pinggiran jalan itu.


Melihat kedatangannya tiga orang yang masih muda itu ,di penjual senjata tampak tersenyum ramah menyambut mereka bertiga.


"selamat datang tuan muda dan nona nona, apakah tuan muda perlu senjata, di sini banyak pilihan yang tuan dan nona bisa pilih"ucap penjual itu dengan penuh keramahan.


"Kami ingin lihat lihat dulu paman, kalau ada yang menarik dan cocok pasti kami akan membelinya"ucap Jaka.


"Kalau begitu silahkan kalian lihat lihat dulu"ucap penjual senjata itu.


Di tempat itu terdapat berbagai jenis senjata mulai dari keris, pedang, tombak,busur panah serta anak panahnya, golok ,pisau bahkan senjata rahasia seperti suriken,jarum,pisau dan banyak lagi yang lainnya.


Namun dari sekian banyaknya jenis senjata itu yang ada di tempat itu cuma satu yang membuat melati tertarik yaitu sebuah jarum bercabang dua.


"Paman jarum bercabang dua ini berapa harganya"tanya melati.


"Oh itu cuma tujuh puluh uang perak nona "ucap si penjual.


"Kenapa murah sekali jarum ini , tidak sampai satu keping uang emas "ucap melati dalam hati.


"Apa tidak terlalu murah paman "ucap Jaka yang saat itu berdiri di samping melati.


"tidak tuan muda,laku saja sudah untung buat saya karena cuma barang ini yang tidak pernah di lirik oleh para calon pembeli"ucap si penjual.


""Apakah kamu tertarik dengan jarum bercabang itu melati"tanya jaka.


"Sepertinya ia tetua"ucap melati.


"Apakah tuan juga bersedia memperbanyak jarum ini"tanya melati.


"Benar nona,nona butuh berapa batang nanti akan saya buatkan"ucap si penjual itu.


"Aku minta tuan buat kan aku seribu batang , bagaimana tuan"tanya melati.


"Baiklah , nona bisa ambil ke sini tiga hari lagi "ucap si penjual.


"Tapi aku minta Jarum jarum itu di buat dari bahan yang berbeda tuan,dua ratus batang jarum biasa, empat ratus batang terbuat dari perak dan empat ratus batang dari terbuat dari emas"ucap melati.


"maaf nona,tapi harga tidak sama dari masing masing bahan itu "ucap si penjual.


"Soal harga paman tidak perlu di pikiran, yang penting buat kan aku jarum jarum itu dengan kualitas terbaik "ucap melati.


"Baiklah nona "ucap si penjual.

__ADS_1


Sementara itu Ratih masih terlihat memilih milih senjata yang tersedia di situ kemudian pandangannya tertuju pada sebuah pisau yang berukuran sebesar jari.


Ia pun lalu mengambil pisau itu dan memperhatikannya baik baik, sepertinya ada rasa ketertarikan pada pisau itu.


"Jadi kau juga tertarik dengan senjata rahasia Ratih"tanya Jaka.


"Tentu saja melati saja punya kenapa aku tidak"ucap Ratih.


"Di sekte kan banyak Ratih"ucap Jaka.


"Aku tahu tapi tidak ada yang seperti ini jaka, coba kau lihat baik-baik"ucap Ratih lalu memberikan pisau itu kepada jaka.


Jaka lalu memperhatikan pisau pemberian dari Ratih itu,ia memperhatikan dengan cermat di setiap sisi pisau itu.


"Barang yang bagus Ratih, kalau kau suka belilah"ucap Jaka.


"Berapa untuk harga pisau ini tuan "tanya Ratih.


"Dua keping emas nona"ucap si pembeli.


"Baiklah, tapi aku minta pada tuan untuk memperbanyak pisau menjadi dua ratus buah, bagaimana "tanya Ratih.


"Dengan senang hati nona "jawab penjual itu.


"Lalu kapan pisau pisau itu akan siap tanya Ratih.


"Aku janji kan pada nona ini tiga hari, jadi untuk pisau ini pun juga tiga hari bagaimana"ucap si penjual.


"Baiklah "ucap melati kemudian membayar sejumlah uang kepada penjual itu.


"Kamu tidak ingin membeli sesuatu jaka"tanya Ratih.


"Tidak, karena aku rasa tidak membutuhkannya Ratih lebih baik ayo kita bergegas melanjutkan perjalanan kita "ucap Jaka.


Karena sudah tidak ada lagi barang yang di beli mereka bertiga lalu meninggalkan tempat penjualan senjata itu.


Di saat mereka sedang menuju ke sekte bintang timur itu mereka melewati rumah lelang Atmaja dan kebetulan hari itu sedang ada acara pelelangan, Ratih yang dari rumah sudah mempersiapkan uang banyak tidak menyia nyiakan kesempatan itu.


"Jaka,melati bagaimana kalau kita lihat acara pelelangan itu, mungkin ada barang bagus"ucap Ratih.


"Itu terserah keputusan tetua saja Ratih,aku menurut saja "ucap melati.


"Bagaimana menurut mu Jaka "ucap Ratih.


"Baiklah sepertinya menarik "ucap Jaka.


"Kalau begitu ayo cepat nanti kita melewatkan barang barang bagus"ucap Ratih dengan tampak bersemangat sekali.


Di dalam rumah pelelangan Atmaja itu sudah penuh sesak dengan orang orang, Ratih dan Melati yang sudah pernah mengikuti acara pelelangan itu tidak kaget tapi beda dengan Jaka yang baru pertama kali mengikuti acara itu.


Setelah berjalan berdesakkan akhirnya mereka bertiga pun sampai di barisan paling depan.


...----------------...


Ternyata kedatangan Ratih ketempat itu lumayan beruntung karena barang utama dalam pelelangan baru saja di keluarkan.


Namun ketika barang itu di keluarkan tidak ada kesan yang menarik bagi Ratih, sehingga ia pun memutuskan meninggalkan tempat pelelangan itu.


lalu mereka bertiga mempercepat langkahnya agar segera sampai ke sekte bintang timur.


"Berhenti kalian..!!!!"teriak seseorang yang tiba-tiba menghentikan langkahnya mereka bertiga.


Jaka, Ratih dan melati segera membalikkan badannya dan melihat dua orang wanita yang satu memegang tongkat dan yang satu memegang pedang.


Mereka berdua adalah Dewi racun dan Ratu racun.


"Oh rupanya kamu wanita racun mau apa kau menghentikan perjalanan kami"ucap Ratih.


"Heh... tentu saja untuk menyelesaikan masalah kita beberapa waktu lalu itu gadis kecil"ucap Dewi racun.


"Kebetulan kalau begitu, majulah kau sekarang"ucap Ratih.


"Kurang ajar sombong sekali kamu"ucap Dewi racun dengan melotot tajam.


"Dewi biar aku yang urus anak kecil ini"ucap Ratu racun.


"Baiklah bibi silahkan"ucap Dewi racun.


Melihat wanita berpedang itu maju Jaka pun segera bertindak karena tidak ingin terjadi apa-apa pada Ratih.


"Ratih minggirlah biarkan aku yang melayani wanita itu bermain main"ucap Jaka.


Ratih pun segera pindah ke belakang tubuh Jaka.


"Sekarang silahkan kalau Nyai mau bermain main ,aku akan menemani Nyai satu jurus saja Karena saat ini aku sedang terburu-buru"ucap Jaka.


"Kau terlalu lancang anak muda sebut nama mu karena pantang bagi ku untuk membunuh orang yang tidak aku ketahui namanya "ucap Ratu racun.


"Dengar baik baik Nyai nama ku ,jaka kelana "ucap Jaka dengan nama lengkapnya.


"Heeh...bagus kalau begitu aku senang mendengarnya "ucap Ratu racun, kemudian ia langsung menyerang Jaka yang berdiri di hadapannya itu.


Ratu racun menyerang cepat dengan pukulannya wes...wes...namun Jaka masih tetap berdiri di tempatnya dengan terlihat santai melihat ratu racun menyerangnya.


Jaka menggerakkan badannya dengan mengambil satu langkah ke belakang untuk menghindari pukulan pukulan itu.


Ratu racun mempercepat gerakannya wes.. wes..wes.. namun tetep saja pukulan tangannya itu tidak dapat menyentuh tubuh Jaka sedikit pun.


Hati Ratu racun panas seketika karena tidak ada satu pun dari serangannya yang dapat mengenainya.


kemudian ia melompat menjauhi Jaka lalu melepaskan pukulannya wuuuuus....... duuuaaarrr.....


Meledaklah tempat di mana Jaka berdiri itu setelah pukulan Ratu racun menerjangnya.


"Akhirnya dia mampus juga bibi"ucap Dewi racun.


"Haaa... haaa.... haaa... rasakan itu"ucap Ratu racun.


Dess...... akh..... tiba-tiba sebuah pukulan mengenai Ratu racun,ia pun terpental jauh ke depan.


"Bibi....!!!"teriak Dewi racun segera menghampirinya.


"Akh.....huek.. Ratu racun pun memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Pergilah kalian dari hadapan ku , cepat....!!!!"teriak Jaka.


"Kau tunggu saja pembalasan dari sekte racun jaka"ucap Dewi racun segera membawanya pergi dari tempat itu.


Setelah perginya dua wanita itu Jaka lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke sekte bintang timur.


Dalam perjalanan menuju ke sekte bintang timur itu diam diam Ratih dan Melati mengagumi jurus yang Jaka mainkan itu.


Tak lama kemudian mereka bertiga pun sampai di sekte langit, setiba di sana Ratih di kejutkan dengan kehadiran ayahnya di tempat itu.


Melihat Ratih datang bersama Jaka dan Melati Brawijaya segera memberikan hormat padanya begitu juga dengan Sanjaya yang saat itu juga sudah di sana.

__ADS_1


Rawa Candra dan Pranaraja juga tidak ketinggalan langsung memberikan hormat padanya .


__ADS_2